Meet You Again

Meet You Again
[S1] 5. Orang Dalam



...Happy reading...


Aku baru saja meninjakan kaki dirumah Sania dan menyapa kakaknya, aku menanyai keberadaan Sania kemudian kakaknya mempersilahkan aku untuk menemuinya dikamar. Aku mengetuk pintu beberapa kali barulah disahuti oleh pemilik kamar tersebut.


"Masuk aja" teriaknya dari dalam, aku meraih kenop pintu dan melangkah masuk kekamarnya.


"Rani" gumamnya agak terkaget, aku memang tidak mengabarinya kalau aku mau main kerumah.


"Gimana SNMPTNmu" tanya ku basa basi untuk membuka percakapan, yang sebenarnya aku sudah tau jawabannya. Apa yang bisa diharapkan dengan nilai peringkat akhir.


Sania hanya menggeleng lemah, aku sudah tau jawabannya 'tidak lolos' walau dia tidak memberikan isyarat kepadaku.


"Ikut SBMPTN?" Tanyaku kemudian memposisikan diri untuk duduk ditepi ranjangnya.


"Iya, kalau kali ini aku pasti lulus di Universitas yang satu itu" ucap Sania dengan percaya dirinya padahal aku tau bahwa Sania merupakan salah satu siswa yang kepintarannya bisa dikategorikan rada kurang.


"Kok gitu?" Tanyaku sambil mengerutkan dahi mengisyaratkan bahwa aku bingung dengan penuturannya.


"Iyalah rektornya oom ku kok" jawab Sania lantang, dan seketika hatiku mendidih ingin rasanya kulayangkan sebuah tamparan dipipinya yang blak-blakan mengatakan tindakan kotor tersebut.


Aku hanya tersenyum tipis kearahnya, sebenarnya aku ingin segera pulang saja karena berada disekitarnya hanya akan membuatku muak saja. Tapi aku bisa apa aku baru saja tiba beberapa menit yang lalu, setidaknya aku harus menahan hatiku untuk sedikit lebih lama disini dan nanti langsung bergegas pulang.


***


Lima hari sejak aku berkunjung ke rumah Sania, dan tepat dihari ini hasil ujian SBMPTN akan diumumkan di website seperti SNMPTN kemarin. Dan aku mengetahui bahwa Sania memang lulus di Universitas yang sama dengan Doni, Padahal aku tau betapa bodohnya dia dan bantuan orang dalam memang mengerikan.


Aku duduk melamun menghap kejendela, jendela yang menghadap kejalanan sehingga aku bisa melihat orang-orang yang melewati jalan depan rumahku. Di halaman rumahku juga ada pohon mangga yang memiliki daun yang rimbun, aku menatapnya dengan seksama dan terhanyut dengan semua lamunanku.


Beribu kali aku berfikir bagaimana bisa PTN tersebut menolakku yang biasanya juara kelas, padahal aku mengisi lembar jawaban dengan penuh hati-hati agar jawabanku banyak yang benar. Dan aku menoleh kearah laptop yang terletak diatas meja memperlihatkan halaman web dengan latar merah yang berisi tulisan yang memuakan, melihat latarnya saja aku sudah bisa menebak bahwa aku ditolak lagi dari PTN.


***


Aku mengaduk-ngaduk nasi dihadapanku, dan manatapnya tak berselera, ternyata hal tersebut mengundang tanya dari ayahku.


"Kok ga dimakan Ran?" tanya ayahku lembut dan aku mulai menyuapi seujung sendok makananku ke mulut.


"Yah Rani pengen banget loh kuliah di kampus ayah dulu, Rani pengen jadi dosen biar bisa sekalian S2 disana, atau mana tau nanti dapat biaya siswa bisa kuliah diluar negri" aku bersuara dengan nada memelas untuk membujuk ayahku.


"Boleh, boleh banget malah kalo mau kuliah disana" Ayah menyetujui, rasanya aku tak perlu memohon untuk hal seperti ini kepada ayah, dia memang paling mengerti dengan keinginanku.


Ibunku yang sedari tadi hanya mendengarkan, merasa tak terima bahwa ayah mengabulkan permintaanku tanpa syarat. Hal tersebut membuat ibu melontarkan tatapan ngeri kepada ayah.


"Yah apa ga terlalu jauh kuliah sampai ke Kampusmu dulu? Rani kan perempuan setinggi apapun pendidikannya ujung-ujungnya bakal ke dapur juga" ibuku menyela tak terima, sontak aku membulatkan matanku. Aku tak menyangka saja ibu bisa berfikir sesempit itu.


"Bu, aku tau aku perempuan tapi aku ga mau lelakiku nanti menikahiku dan meremehkanku hanya gara-gara aku cuma tamatan SMK" tuturku mengutarakan pendapat, namun sepertinya ibu tetap teguh pada pendiriannya.


"Buat apa kamu sekolah tinggi Rani? Harusnya kamu bersyukur ibu izinkan kamu kuliah dikota ini!" Tanya ibuku dengan nada bicara yang tak mengenakan, jelas saja aku akan membantah bagaimana bisa di generasi milenial ini Ia hanya menyuruhku sekolah sampai SMK dan langsung kerja.


"Itu tu pikiran ibu kurang terbuka, ya biar bisa didik anak-anak ku nanti, ga kayak ibu yang kerjanya tiap hari ngomel mulu sampai rasanya ingin ku tutup saja telingaku. Lagian kalo aku cuma tamatan SMK gajiku pasti dibawah UMR mana cukup buat menopang biaya hidup" jawabku jengah karena pikiran ibunya tak pernah sejalan denganku, entah bagaimana pola pikirnya aku merasa benar-benar kesal karenanya.


"Sudah, sudah kalo emang mau kuliah disana nanti ayah kabarin kak Nada biar jemput kamu dibandara, sekalian nanti ayah minta tolong carikan kos buat kamu" tutur ayahnya menengahi pertengkaranku dan ibu.


"Yah" ucap ibuku menyela tak setuju, wajahnya memelas seakan tak ingin aku keluar dari penjara tanpa jeruji miliknya.


"Ayah serius?" Tanyaku tak percaya karena ayah bisa bertindak secepat ini.


"Wuaaa, makasih ayaah" aku kegirangan, bangkit dari kursi dan beranjak ke kursi ayah memeluk lehernya tanpa berpikir panjang.


"Rani lepaskan kamu bisa membunuh ayah" perintah ayahnya menepuk lenganku, dan aku segera menyingkirkan tanganku darinya.


"Oh ya maaf yah, Rani cinta sama ayah" ucapku kembali memeluk leher ayahku.


Rani pun melanjutkan makanku tak kusisakan sedikitpun makanan dipiring, aku merapikan meja makan dan mencuci piring. Kemudian melangkah kembali kekamar sambil bernyanyi seperti orang-orang yang sedang kasmaran


"Yah kok kamu mau ngelepas anak bandelmu itu?" Lagi lagi ibunya menunjukan ketidak setujuannya dengan keputusan ayahnya, aku menguping dari ambang pintu pembicaraan keduanya yang sedang membicarakan aku.


"Lah kenapa? dia ga sendiri kok ada Nada (kakak sepupuku yang merupakan anak dari kakak ayah) ada pamannya Rani juga disana, sudah ga usah khawatir dia harus belajar mandiri jangan dibawah ketek kamu terus" ucap ayahnya membela kemauanku, dan aku tersenyum-senyum sendiri mendengar pembelaan ayah.


"Halah ayah nanti dia bikin masalah disana, ayah si ga ngerti perasaan ibu" ucap ibuku mulai kesal.


Bla bla bla bla


Kubantingkan tubuhku ke atas kasur menatap langit-langit kamar sembari membayangkan hal yang aku rasa mustahil akan segera terjadi. Senyuman terukir manis disudut bibirku, membuatku jadi menghalu seperti Sania membayangkan dirinya menikah dengan biasnya.


Drrtttt, suara notif di hpku membuyarkan lamunanku.


- Doni


Malam Rani


Kamu jadinya kuliah dimana?


Aku lulus dan akan kuliah di Universitas yang aku ceritakan kekamu waktu itu.


"Cih, Universitas itu yang rektornya oom Sania, malas banget dah harus kuliah di Universitas yang ga mengedepankan kejujuran, sogok sini sogok sana, punya orang dalem auto lolos" gumamku kesal, dan mulai mengetik balasan chat Doni.


- Rani


Malam juga Don


Belum tau mau kuliah dimana,


Oh selamat ya atas kelulusannya semoga jadi mahasiswa yang baik dan berguna ya.


Drrrtt, kuabaikan notifikasi tersebut walaupun aku tau itu dari orang yang ku cintai tapi karena membahas mengenai kuliah aku rasanya menjadi malas untuk membalas chat tersebut.


"RAANNIII!" teriak ayahnya dari kejauhan, aku yang kaget langsung terduduk diam diatas kasur.


"Iya yah" jawabku setelah selang beberapa detik, aku beranjak dari kasur menuju ke sumber suara yang menyerukan namaku.


"Seminggu lagi kamu berangkat persiapkan segala yang perlu kamu persiapkan, kak Nada juga sudah ayah hubungi jadi nanti sampai di bandara hubungi saja kak Nada" tutur ayah kepadaku, rasanya aku senang sekali bisa bebas dari penjara tanpa jeruji.


"Huuuu ayah baik banget, makasih ayah" ucapku dan memeluk ayahku.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca***...