Meet You Again

Meet You Again
[S1] 6. Pilihan terakhir



...Happy reading...


"Bu, Rani pergi dulu ya tahun depan Rani baru pulang, ibu jangan sedih ya" ucapku memeluk ibu, walaupun dia sering mengomeliku tapi aku tetap menyayanginya.


"Iya Ran hati-hati ya nak, doa ibu selalu menyertaimu" sanggah ibuku, ku lepaskan pelukannya dan mulai menatap matanya yang mulai berbinar aku tak sanggup menatap matanya terlalu lama dan membuatku malah tak tega untuk pergi dari sisinya sebentar.


"Yah, Rani pamit ya doain supaya lulus dan bisa jadi orang sukses" ucapku beralih ke ayah dan menyalaminya.


"Aamiin nak, jaga diri baik-baik ya, jangan telat makan dan jaga kesehatan ya" ucap ayah mengingatkan sambil mengelus puncak kepalaku.


"Siap komandan" ucapku meletakan tangannya didepan dahi seperti orang yang sedang hormat kepada komandan perang.


Aku mulai melangkah berlalu menuju ruang tunggu bandara, kulihat mata ibu yang mulai berembun seakan bayi kecilnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Aku mengalihkan pandanganku kedepan, lututku bergetar dan tubuhku terasa lemah merasa tak tega meninggalkan ibu dalam kurun waktu yang cukup lama.


Kumantapkan langkahku mengedarkan pandangan mencari bangku kosong untuk kududuki menjelang jam keberangkatanku. Aku temukan satu kursi kosong dipojokan disamping dinding kaca dan dihadapanku terdapat kaca pembatas yang menampakkan lapangan terbang.


"Tenang bu Rani ga akan lama, dan Rani janji ga bakal ngecewain kalian. Rani bukan tidak pantas belajar di Universitas itu, tapi Rani lebih pantas mengajar disana. Rani terlalu suci untuk diajar oleh manusia kotor seperti mereka" aku mengguman sambil mengelus secarik kertas digenggamanku yang bertuliskan nomor kursi dan jam keberangkatanku.


...***...


"Mbak kita sudah sampai di tempat tujuan" ucap salah satu pramugari berusaha membangunkanku, aku terbangun dari tidurku selama perjalanan aku hanya mendengar lagu tanpa ku rasa aku telah tiba ditempat tujuan.


"Oh iya mbak," jawabku sambil mengucek mataku, aku berusaha mengedarkan pandangan, aku menatap malas kearah sekeliling kabin yang sudah sepi, penumpang yang lain sepertinya sudah turun dari beberapa waktu yang lalu.


Aku mulai beranjak dari kursi ku dan mencari letak ranselku, dan kutemukan hanya tersisa ranselku saja di bagasi kabin. Ku raih ransel tersebut dan berjalan gontai menyusuri anak tangga pesawat.


Setelah kakiku menyentuh tanah ku lihat disekitarku orang-orang mengenakan rompi petugas berlalu-lalang melewatiku.


Plak


"Aduh" aku meringis sambil memegangi pipi kananku yang baru saja ku tampar, rasanya seperti mimpi saja dan aku benar-benar tak percaya akan sampai di lingkungan asing ini.


Bagaimana aku tak berfikir demikian untuk ikut kemah di kabupaten tetangganya saja ibuku sudah melarang keras agar aku tidak ikut, dan aku juga tidak pernah ikut study tour dan kegiatan sejenisnya. Dan sekarang rasanya aku merasa menjadi narapidana yang baru keluar dari penjara, namun penjaraku tak memiliki jeruji seperti di lapas tahanan.


Drrtt drrrtt drrttt


"kak Nada" gumamku dan buru-buru kuangkatnya telpon darinya.


"Dek Ran udah sampe? Kakak di depan pintu keluar terminal A."


"Iya kak otw otw"


Aku menyusuri setiap lorong terminal tersebut mencari pintu keluar terminal A yang dimaksud oleh kak Nada, aku menemukan seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan pakaian keamanan. Aku mencoba bertanya padanya dan Ia memberikan petunjuk padaku dan menunjuk kearah lorong dihadapanku.


Drrtttt drrrttt drrttt.


"Iya kak iya ini udah deket pintu keluar kak sabar ya" ucapku sambil mengeret koperku dan melangkah menuju lorong yang dimaksud petugas keamanan tadi.


Dilihatnya seorang perempuan berumur awal dua puluhan berdiri sambil memegang hp dan jarinya menari diatas layar hp tersebut. Mengenakan jeans hitam dan baju kaos biru muda, persis seperti petunjuk kak Nada tadi agar aku mudah untuk menemukannya.


"Kak Nada" sapaku pada perempuan itu dan melangkah mendekatinya.


Perempuan itu menoleh ke arahku matanya dan mataku saling bertatapan, aku kaget setengah mati melihat wajahnya berbeda jauh dengan kak Nada, ternyata aku salah orang, malunya.


"**** **** **** masak ga inget sama kak Nada sih. Aduh malunya" gumamku mengacak-ngacak rambutku frustasi.


"RAANNIII" Teriak seorang perempuan lainnya yang mengenakan pakaian yang serupa dengan perempuan tadi. Aku mengedarkan pandangan dan menemukan sosok kak Nada berdiri tak jauh dariku.


"Kak Nada" aku berjalan mendekati perempuan itu dan memeluknya sejenak.


"Kak, Rani tadi salah sapa orang lo, malunya" tuturku menceritakan kejadian memalukan yang baru saja terjadi.


"Kok bisa siapa emangnya yang kamu sapa sampai kamu kira orang itu kakak?" Tanya kak Nada sambil menyunggingkan senyum mengejek dan melepaskan pelukannya dariku.


"Itu tu cewek itu" aku menunjuk ke arah perempuan yang menggunakan pakaian yang serupa dengan kak Nada. Kak Nada hanya tertawa memperhatikan wajahku yang merah sudah seperti kepiting rebus.


"Ya sudah kita ke kos sekarang, kakak sudah pesan satu kamar kosong buat kamu tempati, soalnya kakak disini ngekos sama temen kuliah kakak. Ga enak takutnya nanti dia terganggu sama keberadaan kamu, khusus malam ini kakak tidur dikamar kamu karena kakak juga libur besok" tutur kak Nada memberitahuku. Aku berjalan beriringan dengannya tanpa tahu arah.


"Makasih banyak kak udah bantuin Rani dan maafin udah ngerepotin." Ucapku berterimakasih dan menghentikan langkah kami.


"Udah ga papa santai aja" jawab kak Nanda sembari memperhatikan taksi yang akan melewati kami.


"Pak" kak Nada memberhentikan salah satu taksi dan kemudian kami meluncur menuju kosannya.


...***...


Aku menopang daguku menatap malas kearah layar laptopku, dan ini yang ketiga kalinya aku ditolak di oleh PTN, untuk menangis saja air mataku sudah tak mau keluar lagi. Aku sudah muak sekali melihat tulisan berlatar merah di layar laptopku, ingin rasanya kubanting saja laptop itu mengapa tak kunjung memiliki latar hijau untukku.


Akhirnya aku memutuskan Untuk masuk PTS saja, aku coba-coba datang ke salah satu PTS ternama dan akreditasinya juga sudah bagus. Dan untuk program study akuntansi sendiri kampus itu juga sudah terakreditasi A selama hampir dua puluh tahun.


Dan sekarang aku sudah meninjakan kaki di PTS yang ku maksud ku harap kampus ini tak mengecewakan. Semoga saja aku punya peluang disini dan bisa mewujudkan balas dendamku pada Universitas yang telah menolakku SNMPTN dan SBMPTN,


Cara balas dendam terbaik adalah membuat kampus itu menginginkan ku suatu hari nanti, lihat saja kalian akan menyesal karena menolak calon mahasiswa sepertiku.


Kulihat pekarangan kampus tersebut cukup gersang namun memiki beberapa pohon rindang. Halaman kampus yang bersih dan asri juga memiliki bentuk gedung yang khas sekali sedikit minimalis namun tetap tak meninggalkan kesal mendidik di gedung tersebut. Gedung tersebut dibalut cat berwarna abu-abu yang dipadukan dengan warna putih dan memiliki atap yang berwarnah merah maroon.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya seorang laki-laki paruh baya dengan kulit sawo matang berperawakan tinggi menggunakan seragam keamanan.


"Oh iya, pak saya mau tanya tempat pendaftarannya disebelah mana ya?" Tanyaku yang menatap bingung kearah gedung tinggi yang menjulang dihadapanku.


"Mbak dari sini tinggal lurus kemudian belok kekanan, pintu pertama itu ruangannya nggeh?" Ucapnya sampil menunjuk ke arah teras bagian timur gedung tersebut, aku mengangguk paham.


"Terimakasih pak" ucapku pada petugas keamanan tersebut dan mulai melangkah ke teras gedung tersebut dan mengikuti intruksi yang telah diberikan.


Aku masuk keruangan yang bertuliskan 'RUANGAN PENDAFTARAN' diatas ambang pintu tersebut. Aku mengambil nomor antrian pendaftaran dan memilah kursi sembari menunggu nomor antrianku di panggil.


Aku merogoh ranselku, mengulir layar ponselku aku bosan dengan isi beranda media sosialku yang berisi itu-itu saja setiap harinya.


"Nomor antrian 19" ucap operator.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...