Meet You Again

Meet You Again
[S1] 12. Tidak nyaman



...Happy reading...


"Hai Rani, masih ingat aku?" Sapa Kusuma dan memposisikan untuk duduk disampingku. Aku merasa tak nyaman karenanya dan menggeser pantatku untuk menjauhkan dudukku darinya.


"Ya" jawabku singkat dan kembali memfokuskan diri untuk menonton penampilan pentas seni dari kelompok yang tengah tampil.


"Kamu kelas apa?" Tanyanya lagi dan aku merasa terganggu dengan kehadirannya disampingku, tak bisakah dia menjauh dariku sejujurnya aku risih.


"R.3" jawabku singkat dan tersenyum tipis kearahnya yang mungkin tak bisa dilihatnya ditengah cahaya remang-remang dari sisi api unggun yang mulai padam.


"Dosen walimu siapa?" Tanyanya lagi, dan aku benar-benar jengah untuk kali ini aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Pak Deni Setiawan" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari panggung yang berada disebrang api unggun.


"Cuek banget" ucapnya terdengar kesal, aku tak menggubrisnya dan memilih kembali menikmati tontonanku dan menghayati penampilan kelompok yang tengah tampil.


Kami duduk bersebelahan namun aku tak ingin ada percakapan disela itu tapi malah membuat suasana menjadi canggung. Puluhan menit berlalu namun Kak Kusuma sepertinya tak mau mengangkat suara, kamu saling diam-diaman seperti pasangan yang sedang marahan.


"Ran balik ke home stay yok udah selesai ni pentas seninya" ucap Uci tiba-tiba menarik lenganku dan aku bangkit melengos dihadapannya tanpa berpamitan pada kating yang sepertinya menaruh hati padaku.


...***...


Aku terbangun karena merasakan udara yang begitu dingin hingga menusuk sampai ke tulang. Kuraih ponselku dan ternyata sudah menunjukan pukul 5 pagi. Tak lama terdengar suara para panitia membangunkan para peserta untuk bersiap melanjutkan kegiatan.


Aku merogoh ranselku mengambil handuk dan perlengkapan mandi, aku memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum yang lainnya terbangun dan aku harus ikut mengantre untuk mandi. Belum lagi kalo yang ditunggu mandinya lama bikin hati pegel nungguinnya.


Selesai mandi aku mengenakan pakaian yang sudah ditentukan oleh panitia, yaitu baju kaos kampus dengan celana gelap, kerudung gelap, dan sepatu berwarna gelap. Setelah semua persiapanku sempurna aku, Uci dan anggota kelompok yang lain melangkah ke lapangan pendopo untuk ikut serta dalam kelanjutan acara.


Semua peserta dibariskan sesuai dengan kelompoknya untuk mengikut senam pagi, sarapan dan games pagi. Saat itu salah satu anggota kelompokku kak Putra baru kembali dari toilet dan memposisikan diri untuk duduk, kemudian Uci memberikan roti kepada kak Putra.


Kak Putra tersenyum menatap roti yang berada dihadapannya, tersenyum manis kearah Uci dan Uci tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Anggota kelompok yang lain pun ikutan tertawa karenanya, kak Putra baru hendak membuka bungkusan Roti daann


"Oke mas maju mas" ucap MC tiba-tiba membuat kak putra mengerutkan dahi menatap kami yang masih saja tertawa karenanya.


"Aku?" Ucap kak Putra menunjuk kearah dirinya dan MCnya malah tertawa karenanya.


"Iya kamu yang pegang roti" ulang MC memperjelas maksud dan tujuannya, aku dan yang lainnya masih saja tertawa.


Roti tersebut merupakan bagian dari game saat musik behenti siapa pun yang memegang roti tersebut harus maju dan meletuskan sebuah balon dan melaksanakan hukuman yang sudah tertulis dikertas dalam balon yang diletuskan. Disetiap kelompok akan ada satu perwakilan yang memegang roti tersebut dan akan dihukum sesuai dengan isi kertas yang mereka pegang.


Aku dan anggota kelompokku masih saja tertawa melihat ulah Uci yang menipu kak putra, kasihan namun kak putra bersikap masa bodoh dan malah tertawa didepan semua peserta.


"Tu orang PD banget dah" gumam Uci ditengah kikikannya dan aku mengusap ujung mataku merasa airmataku keluar karena tertawa ngakak akibat ulah Uci.


"Ananda Fathurrahman, apa hukuman yang kamu dapatkan?" Ucap MC sambil melihat papan namanya.


"Ananda Fathurrahman" gumamku membeo sambil mengingat nama yang tak asing dibenakku.


"Oooh cowok ransel" gumamku teringat kejadian memalukan tersebut, yang benar saja hanya mengingatnya saja membuatku merasa ingin memasukan wajahku kekantong plastik apalagi saat aku harus berhadapan langsung dengannya.


"Wah cewek-cewek cantik tunjukan pesonamu" ucap MC yang laki-laki sambil tertawa cekikikan menatap peserta perempuan.


"Ya kali kayak ajang pencarian jodoh aja. Panggilannya siapa mas?" Sahut MC yang perempuan menyela ucapan MC yang satunya.


"Biasa dipanggil Nanda" ucap Nanda tersenyum menatap kerahku, ada apa dengan diriku mengapa aku sepercaya diri ini. Mungkin dia melihat Uci atau Yuli, dasar aku ini kenapa.


"Mas nanda silahkan pilih satu perempuan yang ingin kamu rayu" ucap MC memberikan arahan. Nanda mengedarkan pandangannya dan berhenti saat menatap mataku secara seksama.


"Kamu mbak" tunjuknya ke arahku, jantungku dipompa dua kali lebih cepat, memori memalukan kembali berputar dikepalaku, rasanya ingin kusembunyikan wajahku kedalam kantong plastik saja.


"Aku?" Ucapku sambil menunjukkan telunjukku kearahku.


"Bukan, yang disampingmu" ucapnya tersenyum tipis kearahku, seketika aku ingin lenyap saja dari muka bumi ini. Mengapa aku terlalu percaya diri untuk mengajukan diri untuk dirayunya.


Aku melihat kesisi kiriku ada kak Dino dan tidak mungkin dia merayu laki-laki sedangkan dikertas hukumannya meminta merayu perempuan, berati ia akan merayu seseorang disampingku yaitu Uci yang berada di sisi kananku.


"Aku?" Tanya Uci mengulangi sepertiku, namun ia cukup yakin karena perempuan disampingku hanya Uci mana mungkin Nanda merayu kak Dino.


"Iya kamu" ulangnya memperjelas maksud dan arah telunjuknya agar tak terjadi salah paham untuk kedua kalinya. Aku menunduk malu, Uci mulai berdiri dan melangkah kedepan para peserta lainnya.


"Ciiieeee ciiieeeee" sorak sorai meriah dari para peserta yang lainnya, aku tersenyum kecut menatap pandangan yang memilukan.


"Ada apa sih" gumamku menghembuskan nafas kasar, aku menunduk sejenak dan kembali meluruskan pandanganku kedepan.


"Kamu tau ga bedanya kamu sama sprite?" Ucap Nanda tersenyum cengengesan namun Uci terlihat geli dengan ulahnya. Perasaanku tak nyaman, aku bahkan hanya mengenalnya tanpa sengaja karena kesalahan yang tak ku inginkan tapi mengapa aku merasa tak terima dengan pemandangan didepan.


"Mana lah ku tau" jawab Uci dengan logat bataknya, dia orang medan jadi pembawaan gaya bicaranya tampak jelas.


"Ghalak kali lah kau ni dhek" sahut salah satu peserta yang duduk bersama kami membuat tawa peserta yang lain pecah karena yang berbicara merupakan orang yang biasanya berbicara bahasa jawa.


"Lucu kali kau ni mau galak tapi dak bisa" tawa Uci tanpa sadar sambil masih memegang microfon. Peserta yang lainnya ikut tertawa besamaan dengan jawaban Uci.


"Apalah bedanya tadi?" Tanya Uci setelah tawa peserta yang lainnya mereda, dan kembali menghadap kearah Nanda.


"Oh ya, ehhh.. lupa aku" jawab Nanda menggaruk kepalanya yang tampak tak gatal sama sekali. Bisa ku tebak dia sedang bingung memikir kalimat apa yang harus ia lontarkan.


"Eemm macam mana pulaknya kau ni" sanggah Uci menyela sambil tersenyum menyipitkan matanya dan Nanda masih nyaman dengan garukan dikepalanya.


"Oh iya iya aku ingat, ..... Kalo sprite nyagerin kalo kamu ngangenin" ucap Nanda seketika setelah mengingat kalimat yang ingin ia ungkapkan kepada Uci. Hatiku pegal karenanya, ada apa denganku, tolonglah aku bahkan tak tau dia orang macam apa.


"Aaaaa aaa aaaa" teriak peserta yang lain dan membuat beberapa panitia pun ikut tertawa geli karenanya. Kurasa hanya aku yang tersenyum kecut menatap pemandangan yang membuatku merasa benar-benar tak nyaman.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...