Meet You Again

Meet You Again
[S1] 41. Lagi kasmaran



...Happy reading...


"Sorry Tiw bisa gak jangan terlalu dekat denganku" ucap kak Nanda lembut.


"Lagiankan tadi kamu kendaraan sendiri" ucap kak Nanda lagi.


"Ya maksudku pulang, jalannya bareng ke parkiran" Ucap Tiwi tertunduk lesu.


"Iya jalannya bareng ke parkiran tapi ga perlu nempel-nempel gitu" ucap Yuli kesal.


"Udah Yul" ucapku.


"Lah bukannya kamu kesel sama Tiwi?" bisik Yuli.


"Iya tapi jangan terlalu keliatan, ga enak diliatin sama yang lain" bisikku ke Yuli.


"Kalian ngomongin apa sih bisik-bisik?" Tanya kak Nanda.


"Ran pulang ga?" tanya kak Uncum menghampiriku, membuat mata kak Nanda langsung memicing tajam bagai silet.


"Rani pulang sama aku!!!" ucap kak Nanda langsung menarik lenganku keluar dari sekre.


"Bentar kak pakai sendal dulu" ucapku berhenti diambang pintu, karena sangking kesalnya kak Nanda sampai lupa mengenakan sendalnya.


"Oh iya lupa" ucap kak Nanda dan buru-buru mengenakan sendalnya kemudian kembali menarik lenganku.


"Kak jangan tarik-tarik, aku pulang bareng kakak kok tenang aja" ucapku menenangkan, barulah kak Nanda melepaskan lenganku dan aku bisa berjalan bebas seperti biasanya.


"Maaf Ran udah buat kamu dongkol tadi, aku sama Tiwi gak punya hubungan apa-apa kok" ucap kak Nanda meyakinkanku.


"Iya kak" ucapku.


"Kamu percaya kan?" tanya kak Nanda.


"Iya aku percaya buktinya dipantai kemarin kakak lebih milih pergi bareng aku dari pada sama dia, tapi aku minta kalo bisa kakak jangan terlalu dekat sama dia ya" ucapku lembut.


"Iya kamu tenang aja" balas kak Nanda.


"Jalan dulu yok masih jam 9 kok" ajak kak Nanda.


"Boleh, nanti aku minta Adel atau Lesi buat bukain gerbang" ucapku.


"Kalo ga dibukain tidur dirumahku aja" goda kak Nanda, aku mencubit pinggang dan dia meringis.


"Kalo mau sekamar juga boleh" bisiknya.


"Kaaak" teriakku.


Kami tiba diparkiran dan kami melaju meninggalkan parkiran kampus menuju sebuah caffe tempat dimana aku berlajar berdua waktu itu dengan kak Nanda. Kalo dulu aku ke sana untuk menanyakan materi kuliah tapi sekarang aku ke sana untuk berkencan dengannya.


***


Kami tiba dicaffe, kak Nanda menggenggam tanganku dan masuk menuju antrian untuk memesan menu.


"Udah makan?" tanya kak Nanda.


"Udah" ucapku, tak lama kemudian cacing diperutku berbunyi, kak Nanda langsung menatapku sinis.


"Hehehe Belum" jawabku cengengesan.


"Mau pesen apa?" tanya pegawai tersebut sambil menghadap ke monitor dihadapan kami.


"Nasi goreng sama es teh aja kak" ucapku.


"Samain aja kak, jadinya Nasi goreng 2 sama es teh 2" ucap kak Nanda.


"Oke, silahkan menunggu ya nanti pesanan akan segera kami antar" ucap pelayan tersebut menyerahkan balok kayu bertulis angka nomor antrean kami.


Masih sama, kakak Nanda lagi-lagi memilih bangku dipojokan sama seperti waktu itu, aku mengikutinya dari belakang dan memilih duduk didepannya.


"Ran, aku mintak maaf ya soal yang dipantai" ucap kak Nanda.


"Yang mana?" tanyaku bingung karena terlalu banyak hal yang terjadi pada waktu itu.


"Waktu Tiwi minta dianterin beli sepatu, sebenarnya aku bukan jadiin kamu pelarian biar ga ketemu dia. Tapi aku emang pengen jalan sama kamu hari itu" tutur kak Nanda panjang lebar.


"Iya kak gak papa kok, semuanya udah berlalu" balasku.


Aku menoleh kearah kaca terlihat kilat mendadak muncul secara tiba-tiba, aku reflek pindah ke kursi disamping kak Nanda. Kebetulan kami diduduk dikursi yang memuat kapasitas untuk empat orang.


"Kenapa?" tanya kak Nanda.


"Aku takut kilat" ucapku lemah dan menghadap kak Nanda tanpa berani menoleh kearah luar jendela.


"Tenang kakak bakal jagain kamu" ucap kak Nanda mengelus rambutku.


"Permisi kak ini pesanannya" ucap pelayan menurunkan isi nampannya.


"Makasih kak" ucapku dan pelayan itu berlalu dari meja kami.


"Gangguin orang mesra-mesraan aja" omel kak Nanda, aku meliriknya tajam dan mencubit pinggangnya.


"Ya makanya jangan aneh-aneh" ucapku.


"Udah ayok makan nanti keburu hujan lagi, malah ga bisa balik" ucapku, dan kami sibuk dengan makanan kami masing-masing.


***


Aku baru saja tiba digazebo membawa setumpuk kertas yang lumayan tebal, ya aku membawa LPJ Olim dan Semnas yang baru saja ditanda tangani oleh rektorat.


"Akhirnya, aku tinggal fokus ke bedah soal sama kunjungan industri aja" gumamku.


"Rani!!" sapa Yuli.


"Tadi aku ke rektorat nanyain LPJ kata sekretarisnya udah dibawa sama kamu semua" ucap Yuli langsung duduk disebelahku.


"Ran, Yul" ucap kak Nanda yang tiba-tiba muncul entah dari mana, padahal kami tak pernah janjian untuk bertemua di gazebo, sudah menjadi kebiasaan setiap selesai kelas kami biasa nongkrong disini sambil ngurusin urusan BEM.


"Hai kak" balasku dan kak Nanda mengedipkan sebelah matanya, sedangkan aku hanya tertunduk malu.


"Gimana urusan LPJ udah beres semua?" tanya kak Nanda.


"Udah kak" jawabku, sambil menyerahkan dua bal kertas yang sudah terjilid rapih.


"Oke, nanti aku serahin ke Lilis" ucap kak Nanda.


"Jangan lupa nanti malam ada rapat bedah soal, harus hadir" ucap kak Nanda.


"Iya" "Iya" jawabku dan Yuli berbarengan.


***


- kak Nanda


Ran aku didepan


Buru-buru aku keluar dari kamar dan tak lupa mengunci pintu kamarku.


"Ayok" ajakku dan kami berlalu menuju ke sekre.


Kami melaju ke parkiran dan berjalan berdua menuju ke sekre.


"Kamu suka warna apa Ran?" tanya kak Nanda.


"Warna biru" jawabku.


"Wah sama, jangan-jangan kita jodoh" ucap kak Nanda disela langkah kami, aku hanya tersenyum menatapnya.


"Hai kak Nanda" sapa Tiwi tiba-tiba menyelip berjalan diantara aku dan kak Nanda.


"Gak bisa sehari aja ga ada gangguan" batinku.


"Hai" jawab kak Nanda singkat.


"Kalian barengan berangkatnya?" tanya Tiwi.


"Iya kita barengan" jawabku mencoba mengomporinya.


"Owh" jawab Tiwi tampak kecewa, tanpa terasa langkah kami tehenti karena telah tiba didepan sekre.


Aku duduk bersebelahan dan kak Nanda, sesekali kurasakan tangannya menggenggam tanganku dengan sengaja. Aku hanya tersenyum memandanginya tapi kak Nanda berusaha keras menetralkan senyumnya menjadi seperti orang yang meringis karena menahan senyumnya.


Sesekali kami tertawa tanpa sebab, mengundang beberapa pasang mata memusatkan perhatian kepada kami.


"Kenapa Ran?" tanya kak Uncum di sela rapat.


"Gak" jawabku singkat.


Tanpa terasa sambil bergurau dengan kak Nanda waktu terasa cepat berlalu, ternyata kami sudah dipenghujung rapat. Eka menutup rapat, dan beberapa panitia berhamburan ada yang ingin pulang ada juga yang sedang berkumpul.


"Kak ayok pulang" ajak Tiwi tiba-tiba menghampiri kak Nanda, tanpa melihat tanganku dan tangan kak Nanda masih saling menghenggam berada dibelakang pinggangku.


"Ayok Ran aku anterin pulang" ucap kak Uncum menghampiriku.


"Mending kalian pulang berdua aja, soalnya aku mau pulang bareng Rani" ucap kak Nanda, dan kulihat sekilas Yuli menunjukan jempolnya kearah kami.


"Ayok Ran" ajak kak Nanda melepaskan genggaman tangannya.


Aku dan kak Nanda berjalan menuju ke parkiran berdua, rasanya kali ini lebih indah dari biasanya.


"Boleh digenggam lagi?" tanya kak Nanda


"Tentu" jawabku mengulurkan tanganku untuk digenggam kak Nanda.


"Ran, kamu tahu? aku ga pernah sebahagia ini" ucap kak Nanda, aku hanya terdiam sambil memperhatikannya.


"Kuharap kita terus begini ya Ran" ucap kak Nanda tersenyum kearahku, dan aku membalasnya.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...