
...Happy reading...
Aku baru saja tiba dibandara dikota tempat tinggalku, aku sengaja tak mengabari ibu ataupun ayah, semester dua berlalu begitu saja tanpa keistimewaan dan hatiku masih beku seperti bongkahan es.
Kuseret koperku dan melangkah untuk meninggalkan gedung bandara, kupesan gocar dari aplikasi ojol yang terinstal diponselku. Aku duduk disalah satu bangku dipinggiran gedung sambil menunggu gocar pesananku datang.
Kupakaikan headset ketelingaku menatap langit biru yang tampak cerah hari ini, ku alunkan lagu sesuai dengan yang kudengarkan. Seseorang berjalan kearahku mungkin ia hanya lewat, namun tiba-tiba ia berhenti tepat dihadapanku.
"Rani?" Tanya seseorang berdiri dihadapanku, aku menongak keatas menatap sosok yang sering kali menawariku untuk pulang bersama sewaktu kuliah.
"Kak Kusuma?" Gumamku sambil melepaskan headset dari telingaku, aku benar-benar tak tahu bahwa kami sebenarnya tinggal dikota yang sama namun mengapa ia menyembunyikannya.
"Sendirian?" Tanyanya dan memposisikan untuk duduk disampingku, aku menggeser dudukku agar jarak antara kami tetap terjaga.
"Iya, lagi nungguin gocar" jawabku melepaskan headset ditelingaku yang satunya dan memasukkannya kedalam tas selempangku.
"Rani Indiani Putri bukan?" Tanya seseorang dari mobil hitam berhenti didepanku, aku mengangguk dan membereskan barang-barangku agar tak ada yang tertinggal.
"Iya pak, aku duluan ya kak" ucapku berpamitan, kak Kusuma melambaikan tangannya kearahku, aku tersenyum menatapnya dan aku berlalu dari bandara menuju ke rumahku. Aku belum mengabari ayah maupun ibu hitung-hitung kejutan untuk kepulangan pertamaku.
Aku sudah tiba dirumah, dan menurunkan semua barang-barangku, ku ketuk pintu namun tak ada jawaban, kuulangi lagi dan tetap sama. Kuraih ponselku didalam tas dan mencoba untuk menghubungi ibuku, berkali-kali ku coba tapi tak diangkat, akhirnya kuputuskan untuk menghubungi ayah.
"Ayah dimana?" Tanyaku secepat mungkin setelah mendapat tanpa bahwa telefon sudah tersambung.
"Masih dikantor Ran kenapa?" Tanya ayah dengan santainya, padahal anaknya sedang menggembel didepan rumahnya.
"Ibu dimana?" Tanyaku lagi dan duduk dikursi teras sambil menyilangkan kakiku.
"Ga tau" jawab ayah tak mau tahu, aku kesal dengan jawaban tak bersalah darinya, untung saja ia ayah kesanganku kalau tidak sudah kujahit mulut menyebalkannya itu.
"Ayah, Rani kebelet pipis, seriusan Rani nanya Ibu dimana?" Tanya lagi dengan selembut mungkin agar ayahku tak tersinggung dengan ucapanku.
"Tinggal ke toilet" jawab ayah singkat, yang benar saja aku makin kesal dengan jawabannya, batal sudah batal kejutanku kalau begini ceritanya.
"Rani dirumah, Rani ga bisa masuk, Ibu ga ada dirumah, rumah dikunci, dan Rani kebelet" cerocosku panjang lebar, emosiku meluap seketika.
"Oh dirumah .... hah dirumah? Kapan pulang? Kok ga bilang-bilang, harusnya biar ayah jemput kebandara" cerocos ayahku balik, aku memijat dahiku pelan, wajar saja aku sering ngerocos ternyata aku perpaduan antara ember bocor dan botol kaleng.
"Ayah mau balik ga?" Tanyaku selembut mungkin, aku menggeliat kesana kemari seperti cacing kepanasan.
"Ayah otw" jawabnya dan telefon terputus, aku berusaha untuk tetap duduk tenang sambil menunggu ayah tiba.
Mobil hitam terparkir tak bersalah dihalaman rumahku, pengendaranya keluar dan terpana melihatku. Siapa lagi kalau bukan pemegang kunci penjara tanpa jeruji yang tengah ku tunggu.
"Rani sayang kapan berangkatnya kok ga bilang-bilang mau pulang?" Tanyanya tak bersalah dan menghampiriku, ibuku merogoh tasnya dan mengeluarkan kunci rumah.
"Ran kamu kenapa?" Teriak ibu yang sepertinya masih melongo didepan pintu sedari aku berlarian masuk kerumah, tak kuhiraukan pertanyaannya.
Aku keluar dari toilet dan menghempaskan tubuhku diatas sofa, ibuku mengerutkan dahi. Aku bangkit dan memeluknya, ia malah tersenyum sinis kearah aku dan melontarkan tatapan yang tak dapat kuartikan.
"Niatnya tadi Rani pengen ngasih kejutan aja buat ibu sama ayah, eh malah Rani yang ga bisa masuk ke rumah" ucapku mengerucutkan bibir dan melepaskan pelukanku dari ibu.
"Waktunya ga tepat, kasian banget anak ibu" ucapnya sambil menarik ujung hidungku lembut. Langkah berderap mendekat kearah kami yang tengah duduk disofa.
"Rasain makanya pulang bilang-bilang" ejek ayah tersenyum miring kearahku. Aku menyilangkan tanganku didepan dada ibuku mengangkat alisnya kearahku.
"Tadi Rani telefon ayah, karena ibu ga angkat telefon dari Rani" jawabku tanpa menunggu pertanyaan dari ibu. Ibu meraih ponselnya dari dalam tas dan mengecek beberapa panggilan dariku dn tersenyum meringis menatapku.
"Bersih-bersih dulu gih, biar seger" ucap ibu menyarankan, aku mengangguk mengiyakan dan bangkit dari sofa, kemudian melangkah kekamarku.
Mataku berat sekali rasanya tak sanggup menungguku untuk mandi sebentar saja, kuputuskan merebahkan kembali punggungku dikasur dan tanpa kusadari aku tertidur begitu saja.
...***...
"Kak Lara" sapaku kepada pekerja diperpustakaan kota, aku melangkah mendekatinya dan bersalaman dengannya.
"Rani, kakak udah kangen banget" ucapnya menyalamiku dan kemudian memelukku. Aku tersenyum dan mengikuti langkahnya kesalah satu meja baca terdekat.
"Ibu sama ayah sehat?" Tanyanya, kak Lara ini merupakan tetangga lamaku namun ia pindah sewaktu aku masih SMP, jadi ia mengenal keluargaku sedikit banyaknya.
"Iya kak sehat kok. Rani main ke sini bosan liburan cuma dirumah aja" ucapku tersenyum kearahnya, ia mengangguk pelan. Seseorang menghampirinya dan kak Lara bangkit dari duduknya, mungkin ada urusan mendesak sehingga dia harus pergi.
"Kakak tinggal dulu ya Ran" ucapnya kemudian berlalu dariku, aku bangkit dari dudukku dan melangkah kesalah satu lorong buku, aku meraih sebuah komik doraemon yang sepertinya edisi terbaru karena bukunya masih terlihat rapi.
Kuraih buku itu dan memilih kursi ditempat biasa aku menyendiri sewaktu SMK, tempatnya agak terpojok dan berhadapan pada pohon rindang dan memperlihatkan orang berlalu lalang dibawahnya. Setiap sore taman disamping perpustakaan ini memang ramai dikunjungi para anak muda untuk menghabiskan waktu.
Tanpa ku sadari tatapanku mendarat pada seseorang yang tengah membaca diujung meja panjang yang juga ku singgahi. Ia fokus sekali pada bacaannya tanpa menyedari sepasang mata sedang memperhatikannya.
"Doni" gumaman keluar tanpa sengaja dari mulutku, benar tebakanku dan Doni menoleh kearahku dan kami saling bertatapan cukup lama tanpa sepatah katapun keluar dari mulut kami berdua.
"Dek ayok balik, katanya pengen roti bakar?" Ucap seseorang menghampirinya, aku bingung dengan panggilan yang sematkannya pada Doni. Padahal aku tau Doni anak tunggal, dan mana mungkin ayahnya mengadopsi anak orang, karena baginya Doni saja sudah cukup merepotkan.
"Ehem, aku duluan" ucapnya bangkit dari duduknya dan menepuk punggung orang yang tengah berdiri dibalik rak buku untuk berbalik, aku penasaran dengan wajahnya karena aku tak sempat melihatnya. Aku mengangguk pelan mengiyakan walaupun kutahu Doni tak dapat melihatku.
Kutatap punggung Doni dan laki-laki itu hilang dari balik rak-rak buku yang sudah tersusun rapi, aku kembali pada komik dihadapanku dan melanjutkan bacaanku.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...