
Ben tertegun mendapat surat cinta dari sang malaikat kecil. Ungkapan cinta yang tulus dari seorang Enda meluruhkan air matanya.
"Ayah kok nangis?" tanya Enda yang mendapati sang Ayah terisak, setelah membuka amplop berwarna biru langit yang dia berikan.
"Kamu pintar merangkai kata-kata Sayang. Ayah jadi terharu." Ujar Ben. Dia merengkuh tubuh kecil Enda dan memeluknya erat.
"Bu guru Nana yang ajarin Enda, Ayah" jelas Enda.
Dan kebetulan saat itu Nana sedang berada di dekat mereka. Sembari menyalami anak-anak yang satu persatu meninggalkan sekolah, bersama orang tua yang menjemput mereka.
"Bu Nana" mengacungkan jempol, Enda memberi kode.
Ben melirik tingkah Enda yang begitu akrab dengan Nana"Ayolah Enda, Ayah punya hati yang normal" keluh hati Ben.
Tersenyum hangat itulah balasan Nana.
"Selamat ulang tahun Pak Ben" ujar Nana yang kini sudah berada di hadapan mereka berdua.
"Terimakasih Bu Nana" sahutnya dengan senyuman.
Enda tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Otak kecil piciknya mencari-cari alasan agar sang Ayah dan Bu Nana menghabiskan waktu bersama di luar waktu sekolahnya.
"Ayah masakannya enak lho Bu" celoteh. Enda. Ni anak nggak ada angin nggak ada hujan tetiba mau membahasa cita rasa masakan sang Ayah.
"Jelas dong Enda. Kan Ayahnya Enda Koki terhebat" sahut Nana.
"Bisa aja bu Nana. Saya kebetulan aja kok jadi koki" sahut Ben tersenyum tipis"Bisa aja ni bocah" gumam hati Ben sambil melirik Enda. Sedangkan Enda balas melirik nakal kelapa Ben.
Ben sempat menyerngitkan kening mendapati kedipan nakal Enda. Hayooo, sang anak ngasih kode keras tuh. Minta mamah baru nih kayaknya.
"Beneran enak kok Pak Ben. Kemarin siang saya sama temen-temen makan siang di restoran tempat Pak Ben bekerja."
"Sebenarnya saya sudah lama merasa penasaran dengan rasa masakan anda. Enda selalu memuji masakan Ayahnya. Reaksi dia ketika bercerita kepada saya saja sudah terlihat begitu nikmat, gimana dengan masakan anda yang sebenarnya" lanjut Nana lagi.
"Waduh, saya jadi malu Bu. Enda suka berlebihan lho kalau ngomong. Jangan di percaya deh" si duda merendah banget nih. Jelas-jelas masakan dia emang top markotop kok. Buktinya si Lucas masih mengincar dia buat balik ke restoran, meskipun sudah bertahun-tahun menghilang dari dunia dapur restoran.
"Beneran Pak Ben. Cumi asam manisnya menu masakan Pak Ben kan?" tanya Nana lagi. Ni cewek lama-lama bucin juga nih sama si duda. Gegara si Enda tingkat keponya terhadap Ben mendadak meningkat nih.
"Hehe, ya Bu" jawab Ben senyam-senyum.
"Ayo makan sama-sama di rumah Enda. Kan Ayah ulang tahun. Harus makan-makan dong kita" ternyata begini rencananya si kecil.
Ben kaget dengan ucapan Enda.
Nana juga kaget. Emang dia siapa sih sampai di undang ke acara makan-makan di rumah mereka.
"Terus yang masak siapa?" tanya Ben.
"Enda kan belum besar Ayah. Emang harus Enda ya yang masak?" Enda balik bertanya.
"Yang ulang tahun siapa?" tanya Ben lagi.
"Ayah kan. Emang Enda yang ulang tahun?" ngejawab terus ni bocah.
"Atauu---" Enda melirik kepada Nana.
Kedua mata Nana berputar dengan alis naik"Ibu?" ujarnya dengan nada bertanya.
Enda mengangguk dengan tawa manisnya.
"Aduh Pak Ben, kalau saya yang turun ke dapur bisa hancur dapurnya Pak Ben. Selama ini aja saya seringnya makan di luar. Kalau laper di larut malam saya cuma bisa masak mie instan. Makanya stok mie instan saya nggak pernah kosong di kos-kosan pak."
Ben dan Enda tergelak tawa. Melihat Ayah dan Anak itu mentertawakannya Nana jadi tersipu malu"Ya elah, nasi kebuka deh kartu As aku!" pekik hatinya.
"Tinggal sama Enda aja Bu. Biar nggak makan mie instan terus" enak bener ni anak ngomongnya. Di kiranya Nana anak kucing, main ngekor tinggal di rumah orang.
"Enak aja" sahut Ben"Bisa di amuk warga kalau Bu Nana tinggal sama kita" Ben jadi nggak enak hati sama ucapan Enda.
"Bukan mahrom. Nggak boleh tinggal bareng" jelas Nana.
Enda begong"Apa itu mahrom?."
Melihat Enda yang kepo abis, mulai memikirkan kata-kata mereka barusan, Ben buru-buru membuyarkan lamunan Enda .
"Udah udah!. Nanti malam jam tujuh Bu Nana kami tunggu di rumah ya" Ben berniat menyudahi obrolan unfaedah mereka. Rasa ingin tau Enda bisa menjebak dirinya dan Nana dalam situasi canggung. ABermula dari jelasin arti mahrom, berlanjut menjadi halal dengan cara menikah. Wooo!!. jangan mimpi kamu Ben!!. mengumpat dirinya sendiri.
"Yah, Bu Nana cantik ya" lolos juga itu pujian dari mulut Enda.
"Iya. Eh, biasa aja?" sang Ayah tergagap.
"Kata Ayah kan nggak boleh bohong" lirik Enda dengan tajam kepada Ben. Dia mendongak sangat tinggi, mengingat sekarang mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri trotoar.
"Iya emang bener kok. Bohong tu bisa bikin dosa" sahut Ben santai. Cuaca siang ini nggak terlalu terik. Dia meninggalkan mobil di rumah dan berjalan ke sekolahan Enda sambil menghirup udaran sejuk. Padahal udah jam sepuluh lho, tapi angin sejuk bertiup dengan sepoi-sepoi. Tadi malam hujan melanda daerah itu hingga subuh menjelang. Mungkin inilah yang membuat sang Matahari masih malu-malu menampakan diri.
"Bu Nana cantik Yah, kok di bilang biasa aja!" Tegas Enda lagi. Si kecil ini begitu ngotot mau ngejodohin Nana sama sang Ayah.
Melihat Enda mulai gusar Ben pun mengalah "Iya deh. Bu Nana emang cantik kok. Apalagi dengan kerudungnya begitu, dia selalu cantik" puji Ben akhirnya.
Enda puas. Dia tertawa bahagia. Ben pun ikutan tertawa mendengar gelak tawa Enda.
"Syukurlah kamu bahagia nak" tanpa mereka sadari Andara mengawasi mereka dari seberang jalan. Dia menatap raut wajah bahagia Enda yang tak pernah dia lihat selama ini.
"Jalan pak" ujarnya pada supir taksi. Ini kali pertamanya menengok Enda setelah beberapa waktu lalu meninggalkannya kepada Ben. Ada luka yang sangat besar dalam hatinya, ketika meninggalkan Enda. Namun dia tak kuasa berbuat apa-apa. Syukurlah keputusannya saat itu nggak menambah derita sang anak. Dia terlihat bahagia tinggal bersama sang Ayah.
...๐๐๐...
Kaila duduk termenung di meja outdor.
"Apa kabar si pelakor ya?" gumanya. Tiba-tiba dia kepikiran sama Riley dan Melinda. Kata Riley sih dia udah mutusin tu cewek. Semoga dia nggak ngibulin Kaila sih ya.
Tring!!. Notifikasi WhatsApp dari ponsel Kaila .
๐ฉ: "Sayang, Kangen."
Kaila tersenyum getir"Nah, ini orang juga harus aku kasih tau kan. Tapi gimana cara ngasih taunya?."
๐จ : "Kangen juga Sayang."
Setelah membalas pesan Lian, Kaila mendekati Jova yang terlihat sedang lengang, sambil melototin sinetron ajab kubur di chanel Ikan terbang.
"Eh, makan siang apaan ya yang enak" ujar Jova ketika Kaila ikutan mantengin sinetron itu.
"Tau nih Va. Lagi bingung nih."
"Mau makan aja bingung. Pesan di depan aja yuk " ajak Jovana.
"Kalau udah niat pesan di depan ngapain tanya aku lagi nyong??" gerutu Kaila.
"Sensi amat, lagi DB? Sahut Jova terkekeh.
"Enggak akh. Duile nonton beginian sampai ngakak. Receh banget humor kamu Va."
"Bodo amit!" saahut Jova cuek.
"Gila tuh La. masa jenazah bisa guling-guling sampai nyungsep ke danau segala. Lebay nih yang bikin cerita" lanjutnya lagi.
"Jangan ketawa-ketawa kamu. Amit-amit nular ke pemirsah lho" sahut Kaila ke counter drink .
Si Kaila kalo ngomong sepatah sepatah doang nih. Jova terlanjur penasaran kan.
"Nular gimana La?."
"Kamu ntar matinya kaya begitu. Mau?."
" Somplak aja. Kira-kira kalau ngomong neng. amit-amit jabang kebo dah" Jova menggetok-ngetok meja cafe sambil komat-kamit ngucapin Naudzubillah berkali kali.
"Hahaha, mbak Kaila nyumpahin tuh" Sari si pegawai Cafe tertawa dengan ucapan Kaila.
"Makanya nonton drakor aja noh kayak si Mey" timpal Kaila lagi .
"Ogah!!" sahut Jova.
To be continued...
~~โกโก Happy reading . Jangan lupa Like , Vote , Fav dan Komen ya teman ^,^ .
Salam anak Borneo.