Meet You Again

Meet You Again
[S1] 9. Gara-gara Ratna



...Happy reading...


"Saya rasa cukup untuk perkuliah pada hari ini, selamat siang" ucap laki-laki tua itu kemudian berlalu meninggalkan kelas.


"Siang pak" saut anak-anak lainnya, suasana kelas langsung berubah 360 derajat, semua mahasiswa berhamburan meninggalkan kelas bertanda kelas siang itu telah usai.


Aku dan Ratna berjalan menelusuri hall aku melihat benner yang berdiri di sepanjang hall, Namun tak ada yang menarik perhatianku sama sekali. Aku lebih suka duduk berdiam diri bersama buku-buku atau kertas gambar dari pada bekumpul dan berpendapat dalam melaksanakan acara.


"Ran kamu ikut UKM apa?" Tanya Ratna yang tengah berjalan beriringan denganku.


"Ga minat lah mending rebahan aja dikos" jawabku seadanya dan terus melangkah kan kaki melewati hall.


"Yeeeh jangan gitu ikut organisasi itu perlu biar kamu ga jadi mahasiswa kupu-kupu, ikut BEM geh" ucap Ratna menyarankan dan memberhentikan langkahnya, akupun berhenti juga karenanya.


"Ga mau lah ribet, nanti aku harus ngorbanin kelas juga demi ikutan yang begituan" jawabku malas dan tak bersemangat.


"Udah lah daftar aja, aku juga daftar jadi anggota BEM kok" ucap Ratna, tiba-tiba ditariknya tanganku ke arah stand pendaftaran anggota BEM, dan aku mengeret kakiku melangkah malas mengikutinya.


"Kak mau daftar" ucap Ratna, dan penjaga stand menyodorkan selembaran kertas dan tak lupa pula dengan pulpennya.


"Apa sih aku ga ikutan kamu aja" ucapku kepada Ratna sambil mutarkan bola mataku. Ratna memperhatikan gerak gerikku, matanya memasang tatapan tajam kearahku.


"Aku udah daftar tauu, tinggal kamu ni" ucap Ratna mengulurkan selembaran kertas pendaftaran beserta pulpennya.


"Ga mau" jawabku melipat tanganku didepan dada. Tanpa memperdulikanku Ratna meletakan kertas tersebut diatas meja dan mulai menuliskan namaku dikolom pendaftaran.


"Ratnaaa" teriakku tak terlalu keras, dan mencubit lengannya. Dan dia menoleh kearahku mengelus lengannya ku cubit tadi.


"Udah ga papa ada aku kok yang ikut kamu ga sendiri" ucapnya mencoba menenangkanku, namun bukan itu jawaban yang aku butuhkan.


"Ya udah deh semoga aja aku ga kepilih" ucapku kepadanya sambil tersenyum kecut kearahnya dan Ratna menatapku sinis.


"Ga boleh gitu, kalo kamu ga serius tes wawancaranya awas aja, aku ga mau temenan sama kamu lagi" ucap Ratna mencoba mengancamku, namun aku tak terusik dengan ancamannya tersebut.


"Hemm" seseorang berdehem dari belakangku, aku kaget karenanya dan beranjak beberapa langkah dari posisiku semula.


"Udah belum, minggir gantian" ucap lelaki yang sepertinya sudah sedari tadi berdiri di belakangku menunggu giliran untuk mendaftar, namun aku dan Ratna malah mengobrol didepan stand.


Aku merasa pernah melihat lelaki tersebut tapi dimana ya? Aku juga lupa entah dimana. Tingginya lumayan wajahnya juga masih fresh, biar kutebak mungkin kami satu angkatan.


"Ya udah silahkan" ucapku dan menarik lengan Ratna, kemudian berlalu meninggalkan hall melangkah menuju cafetaria, mencari sesuatu untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan.


...***...


Aku dan Ratna duduk di pos kambling di suatu desa yang letaknya agak jauh dari perkotaan, terik matahari membasahi wajahku, keringat bercucuran dipunggungku. Akupun akhirnya memutus untuk berjalan mencari warung disekitar yang bisa mengobati dahagaku.


Setelah dahagaku hilang aku kembali duduk dipos tersebut, aku tengah menunggu dua orang yang tak kunjung datang dari tadi. Kulihat layar ponselku menunjukan pukul 14.20, aku mulai bosan dan sesekali menendang batu kerikil disekitarku.


"Mana si mereka Rat lama banget" keluhku kepada Ratna menunggu dua sosok yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.


"Ga tau lah padahal nanti jam 16.30 kita ada wawancara seleksi anggota BEM lagi" sanggah Ratna sembari mengingatkanku, sontak aku teringat dan merasa tak ingin waktu berlalu dengan cepat. Tak mengapa aku menunggu lebih lama disini agar aku tidak perlu capek-capek ikut test wawancara.


"Ya udah deh ga papa lama-lama" ucapku tersenyum semeringai dan menatap kearah Ratna.


"RANI" serga Ratna dengan mata yang melotot seolah-oleh ingin keluar dari sarangnya.


Terdengar suara sepeda motor behenti didekat kami membuatku bengalihkan pandangan dari Ratna, akhirnya tibalah dua orang laki-laki yang kami tunggu sedari tadi, mereka adalah Rahman dan Lian teman satu kelompok mata kuliah ekonomi. Kami di minta untuk mewawancarai usaha UMKM untuk memenuhi tugas mata kuliah tersebut.


"Dandan dulu kah? Kok lama banget" ucap Ratna kesal, belum lagi kekesalannya denganku belum pudar membuatnya ingin melahap dua orang yang cengar-cengir dihadapannya.


"Sabar wey, kami tersesat tadi. Mapnya eror" Lian membela diri, sambil tersenyum jahil kearah Ratna.


"Alah, alasan aja. Ya udah yok buruan" ucap Ratna yang melenggang masuk ke pekarangan rumah entah milik siapa.


Aku, Lian dan Rahman mengekori dari belakang, kami memasuki kawasan industri rumahan tempat pengelolaan kain perca yang dibuat menjadi barang yang memiliki nilai jual. Seperti tas, keset kaki, sendal rumah, dan barang lainnya.


"Ran udah jam berapa sekarang?" Tanya Ratna, sambil membalikkan arah sepeda motornya.


"Jam 16.15" jawabku mengusap layar ponselku yang kemudian ku masukkan ke saku celanaku.


"Ya udah yok buru kita kempus lagi" ajak Ratna dan aku naik kesepeda motor Ratna.


"Ngapain kalian ke kampus?" Tanya Lian dengan kening yang mengerut kearahku dan Ratna.


"Seleksi wawancara anggota BEM" jawab Ratna mulai menghidupkan sepeda motornya.


"Kalian daftar anggota BEM juga?" Tanya Rahman menyela dan nimbrung dari belakangku bersama dengan sepeda motornya.


"Iya, Rani juga" jawab Ratna seadanya, aku menatap jengah kearah Ratna padabal ia sendiri yang memaksaku untuk ikut.


"Ratna yang daftarkan lebih tepatnya" jawabku memutar bola mataku, Ratna menoleh kearahku karena menyadari tingkahku lewat kacaspionnya. Ratna menatapku sinis dan aku tersenyum manis kearahnya, ia tampak bingung malah menggelengkan kepala dan kembali menatap lurus kedepan.


"Yok bareng" ajak Rahman, mempersilahkan Ratna melaju lebih dulu. Ratna mulai melajukan sepeda motornya sedangkan Rahman menggiring dari belakang.


"Aku pulang dulu ya!" teriak Lian berpamit dan membelokan sepeda motornya kearah yang berlawanan dari kami.


...***...


Bla bla bla bla bla, aku telah tiba diruangan wawancara dan mengamati seisi ruangan tersebut sangat berisik, sampai telingaku terasa sakit karena dimana-mana orang berbicara dengan lawan bicaranya. Kami bertiga duduk di kursi tunggu sambil menunggu giliran kami untuk wawancara.


Wawancara ini melewati lima tahapan. Yang pertama wawancara mengenai data diri. Yang kedua wawancara mengenai pengetahuan calon anggota mengenai BEM. Yang ketiga mengenai organisasi yang pernah diikut. Yang kempat wawancara mengenai dunia kerja. Dan yang terakhir mengenai keahlian yang dimiliki calon anggota.


Sekarang giliranku diwawancara, kulepaskan ranselku dari bahu dan kusandarkan dikursiku. Aku melangkah gontai kakiku rasanya gemeteran lantaran aku jarang berbicara dengan lancar apabila bertemu dengan orang baru apalagi untuk wawancara rasanya jantungku berdegup kencang.


Aku menjawab seadanya pertanyaan yang dilontar oleh pewawancara. Aku mendapatkan tanda strip (-) diempat pos wawancara, tamun aku mendapatkan tanda centang pada pos terakhir.


Aku mulai mengerti maksud dari simbol-simbol tersebut, tanda centang bertanda lulus sedangkan tanda minus itu biasa saja. Aku memang memiliki potensi diri dalam menggambar sehingga hal tersebut menarik perhatian beberapa pengurus BEM yang menjaga dipost lima.


Setelah selesai aku kembali kekursiku dan meraih ransel hitam milikku, kemudian berlalu keluar dari ruangan. Sembari menunggu Ratna aku menggulir layar ponselku mengecek sosial mediaku namun tak ada yang menarik, aku memasukan kembali ponselku kesaku dan tak lama Ratna keluar dan kami pulang bersama.


...***...


Drrrttt.


- nomor tak dikenal


Selamat malam kak,


Apakah bisa bertemu sekarang,


Penting!


"Nomor siapa lagi ini" gumamku tak menghiraukan chat dari nomor tersebut. Mungkin hanya spam atau nomor penipu yang membohongi bahwa ibuku ditangkap polisi dan meminta uang tebusan, atau nomor yang meminta diisikan pulsa karena papa lagi tidak bawak dompet.


Drrttt.


Masuk lagi notifikasi aku jengah juga bila yang menghubungiku adalah nomor yang tadi, aku bahkan tak tahu siapa pemilik nomor tersebut.


- nomor tak dikenal


Atau ga kirimkan saja alamat kakak, saya aja yang kesana buat nganterin ranselnya.


Kakak salah bawa ransel.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca***...