Meet You Again

Meet You Again
[S1] 24. Cowok plin-plan



...Happy reading...


Aku sedang merapikan riasan wajahku, aku hanya mengenakan lipcream dan pelembap saja agar tampak lebih natural.


Drrttt


- kak Nanda


Ran, aku udah didepan


Buru-buru aku keluar dari kamarku karena tak ingin membuat kak Nanda menunggu, kuraih Ransel berukuran kecil yang sudah berisikan beberapa buku yang akan menjadi titik sasaran pertanyaanku nanti.


"Ayo" ucapku sambil naik kesepeda motor tersebut dan berlalu meninggalkan kosan. Kami menyusuri gang dan tiba disebuah cafe yang letaknya tak jauh dari kampus.


"Disini aja ya?" Tanya kak Nanda memarkirkan sepeda motornya.


"Iya boleh" jawabku kemudian turun dari sepeda motornya.


Kami masuk ke cafe ini dan menuju meja pesanan, kemudian memesan dua buah minuman serta kentang goreng. Setelah selesai memesan kami keluar dari antrian dan memilih kursi dipaling pojok untuk menjauhi keramaian orang banyak agar aku bisa fokus pada materiku nanti.


"Ran kamu ga ada yang marah kalo kakak ajak ketemu?" ucap kak Nanda tiba-tiba, sambil memperhatikan gerak-gerikku.


"Siapa?" tanyaku sambil mengeluarkan buku panduan belajarku dari dalam ransel.


"Yah siapa gitu? Kayak pacar misalnya" ucap kak Nanda pelan dan ragu-ragu.


"Aku ga tau kak, sejak hari itu aku mulai ga percaya sama yang namanya cinta" jawabku melemah sambil mengeluarkan pulpenku.


"Hari itu? Hari kapan?" tanya kak Nanda tampak penasaran.


"Sudahlah kak lupakan" jawabku kemudian menarik napas panjang.


"Ya udah, mana materi yang mau kamu tanyain ke aku?" ucap kak Nanda pindah duduk kesebelahku yang semula didepanku.


"Oh, i i iya bentar" ucapku agak grogi, sambil membuka buku panduanku dan buku tersebut sudah di tandainya dengan stikynote.


"Nah yang ini loh kak" aku menunjuk pada satu halaman yang sudah kutandai dengan stikynote.


"PPh pasal 21?" tanya kak Nanda sambil membaca judul materi tersebut.


"Iya" jawabku bersemangat.


"Oh itu, PPh 21 itu mengenai pembayaran gaji karyawan cara menghitungnya bla bla bla bla" Nanda menjelaskan panjang kali lebar agar Rani bisa paham dengan penjelasannya.


Tanpa terasa kami telah duduk dini sekitar dua jam, pelajaran yang sebenarnya membosankan menjadi asik saat seseorang yang dirasa istimewa yang mengajariku dengan telaten.


"Ada lagi?" tanyanya sambil menghisap minumannya.


"Itu aja sih kak. Lain kali kalo aku ga paham boleh nanya ke kakak lagi?" tanyaku tanpa ragu.


"Dengan senang hati" jawabnya sambil tersenyum ramah.


kami mengobrol seputar dosen dan cerita mengenai pengalaman kuliah, untuk sekedar pengakraban diri dan berbagi cerita.


"Iya bapaknya yg gemuk itu loh dia dudukkan terus kursi buat dosen itu patah dong karenanya" cerita kak Nanda sambil tertawa lepas.


"Iya poh kak, kok bisa?" tanyaku padanya.


"Iya lah dia tu gendut banget, nah waktu kursi itu patah dia langsung terpental kebelakang ya kami tertawalah satu kelas itu" ceritanya masih semangat menistai dosennya.


"Hahaha, sayang banget aku ga tau orangnya yang mana" jawabku sambil ikut tertawa dengan candaannya.


"Nanti kamu bakal dapat kok kuliah sama dia" ucapnya mengingatkan.


Aku hanya tersenyum, tak biasanya akusebahagia ini tertawa sampai lupa waktu, kami saling diam hingga kugeser layar hp sudah menunjukan pukul 17.00.


"Kak balik yok nanti malam ada rapat lagi kan ya?" tanyaku sekedar memastikan saja.


"Ya udah yok" jawabnya bangkit dari duduknya.


kami membereskan barang bawaan dan keluar dari cafe tersebut, terlihat satu sosok di ambang pintu yang biasa mengusik hari-hariku mematung menatapku dan kak Nanda yang berjalan ke arah pintu sambil tersenyum kecut.


"Kak Uncum?" sapaku mencoba seramah mungkin.


"Hai Ran" sapanya dengan muka getir.


"Sama siapa?" tanyaku lagi.


"Sendiri" jawabnya cuek.


kak Uncum menatapku dengan muka tak enak, seakan aku sedang terciduk selingkuh padahal kami tak mempunyai hubungan spesial dengan kedekatan kamu selama ini.


"Ayok Ran balik" ajak kak Nanda menepuk bahuku pelan.


"Ran" kak Uncum tiba-tiba menarik tanganku.


"Iya?" aku mengangkat alisnya menunggu jawaban dari kak Ucum yang wajahnya terlihat sangat serius ingin menyampaikan satu hal.


"Ga jadi, lain kali aja" Uncum melepas genggaman tanganku.


"Oke, duluan ya kak" pamitku mengekori kak Nanda dari belakang


"Yok" ucapku duduk dibelakang kak Nanda.


***


Aku menatap cermin dihadapanku, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Uncum tadi mengapa wajahnya seakan ingin menyampaikan suatu hal yang sangat serius.


"RANI" teriak Yuli dari depan pintu kamarnya yang memekakan telinga, membuat Rani melupakan lamunannya.


"Iya" Rani buru buru keluar.


"Ayok berangkat" ajak Yuli berdiri diambang pintu.


Kami menyusuri gang sebelah barat kampus menuju ke Sekretariat untuk melanjutkan rapat yang diadakan pada malam itu.


Rapat malam ini beranggedakan setiap seksi menyampaikan laporannya, seketika aku teringat dengan air mineral yang tak jadi dibeli malam itu, dan malah jadi menemani kak Nanda belanja.


"Kak Nan" panggilku pelan disela-sela rapat yang sedang berlangsung.


"Air mineralnya kita belum beli" ucapku mengingatkan.


"Ya udah besok aja, kamu selesai kuliah jam berapa besok?" tanyanya mencoba mencari waktu kosong agar bisa pergi berdua.


"Jam 15.00" jawabku pelan.


"Ya udah besok aku jemput kita beli air mineral ok?" tanyanya.


"Emm" jawabku menggumam.


***


Usai matkul sore itu aku merogoh ranselku, kuraih ponselku kulihat sudah pukul 15.05, aku duduk di hall menunggu kedatangan kak Nanda.


"Ran, ayok" ajak kak Nanda tiba-tiba datang entah dari manadan menepuk bahuku pelan.


"Emm" aku kaget dan berlalu meninggalkan hall mengikuti langkah kak Nanda.


Sepeda motor melaju menuju swalayan untuk membeli air mineral yang dimaksud semalam. Tiba disana kami langsung menuju tumpukan kardus air mineral dan membeli beberapa dus air mineral.


setelah selesai dari kasir kami langsung keparkiran, tak ada yang spesial dihari ini, aku tak tau apa yang salah sehingga kak Nanda tampak lebih dingin dari pada biasanya, setelah menaruh air mineral tersebut di sekretariat kak Nanda langsung mengantarku pulang.


***


Yuli dan aku sedang bersantai dikamar kosku, kami baru saja menyelesaikan kelas dan langsung menuju kosku.


"Sekarang udah hari selasa Lapinsar hari sabtu, ga kerasa ya Ran udah satu bulan kita jadi pengurus BEM yang kerjanya KuRa-KuRa" Yuli membuka percakapan disore ini.


"Iya Yul padahal rasanya baru kemarin aku mau nangis karena ga kenal siapa siapa di BEM" jawabku sambil ikut rebahan disamping Yuli.


"Hahaha, iya untung ada aku ya" ucap Yuli sepercaya diri mungkin.


"Hilih dasar" aku melemparkan bantal kearah Yuli.


Drrtt


- kak Nanda


Ran, jangan lupa cari sekretaris dan bendahara panitiamu untuk persiapan Olim.


Setelah membaca chat tersebut aku menarik nafas panjang yang sepertinya hal tersebut menarik perhatian Yuli.


"Siapa Ran?" tanya Yuli penasaran.


"Pak bos" jawabku singkat tampak frustasi.


"Kak Nanda?" tanyanya lagi.


"Emm" gumamku mengiyakan.


"Emang dia bilang apa?" tanya Yuli lagi.


"Dia minta aku cepet-cepet cari sekretaris sama bendahara panitia" ucapku menjelaskan.


"Hmm aku juga belum cari sekretaris sama bendahara buat seminar" jawab Yuli ikut frustasi.


"Seminar enak masih lama lah aku tinggal dua bulan lagi" sanggahku membuatku tampak lebih menderita.


"Semangat semangat" ucap Yuli menyuarakan.


"Ya udah aku mau balik dulu mandi" ucap Yuli bangkit dari kasur.


kutatap punggung Yuli hilang dibalik pintu kamarku, aku memikirkan apa salahku mengapa kak Nanda tiba-tiba bersikap dingin denganku padahal kurasa waktu balik dari cafe baik-baik saja.


"dasar cowok plin plan" gumamku berguling-guling dikasur.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...