Meet You Again

Meet You Again
Malam pertama



Subuh pertama di temani sang istri. Wahab mengerjapkan mata ketika alarm otomatis yang telah lama tersetel di dalam dirinya kini berdering.


Namun tak seperti dia yang biasanya. Lengan kanannya terasa berat, bahkan dadanya pun terasa sangat berat.


"Akh!!" pekiknya menahan berat dan kaku di tangan yang tertindih.


Di dapatinya wanita yang kini telah menjadi istrinya, tengah tertidur pulas dengan menjadikan lengannya sebagai bantal. Dan pose tidurnya semakin terasa menggoda ketika Wahab mendapati lengan Wita dengan santainya memeluk erat tubuhnya.


DAG!!


DIG!!


DUG!!


Jantungnya berdetak tak normal.


"Ya Allah, godaan mu indah sekali"pekiknya dalam hati. Sealim apapun, Wahab tetaplah seorang lelaki normal. Penampilan tidur Wita jelas sangat menggoda naluri lelakinya. Di tambah dengan pelukan tak sengaja Juwita, ada rasa sesal di hati Wahab"Kenapa malah datang bulan sih!."


"Juwita...." panggilnya pelan.


"Juwita" tangannya kirinya menepuk pelan pipi sang istri.


"Allahuakbar!. Lembut sekali kulitnya" bisik sang hati ketika jemarinya menyentuh pipi lembut Wita.


"Ngemh?!!" Wita melenguh terbangun. Saat membuka kedua mata, kepalanya mendongak menatap wajah Wahab yang berjarak sangat dekat.


"Astaghfirullah!!. Pak Ustadz!!." Pekiknya terkejut. Juwita bangun dari posisi tidur indahnya, dan langsung berdiri di samping tempat tidur.


Wanita ini mencoba mengumpulkan kembali jiwa-jiwanya yang masih berterbangan di pulau kapuk.


Sembari meregangkan lengannya yang menjadi bantal empuk oleh Wita"Maaf mengagetkanmu" ujarnya.


Pria yang sedari tadi di sampingnya juga bangun dari tidurnya. Dia yang biasa rapi dengan peci putihnya kini nampak dengan rambut hitam legam nan berantakan. Entah mengapa rambut berantakan itu terasa menarik untuk Wita.


"Saya yang seharusnya meminta Maaf Pak Ustadz" seraya mengusap wajah.


Terdengar suara tadarusan dari masjid"Sudah subuh. Pak Ustadz segeralah ke Masjid. Saya akan membersihkan diri dan membantu U.mi di dapur. Wanita muda itu duduk di tepi ranjang mengikat dan rambut panjangnya. Tiba-tiba wahab berucap.


"Aku-----benar-benar menyukaimu. Bolehkah aku menyentuhmu layaknya seorang suami menyentuh seorang istrinya?."


Wita berhenti beraktivitas kemudian berkata"Itu--- Pak Ustadz tahu hukum-hukumnya kan. Kenapa harus meminta ijin dari saya."


"Apa kamu akan ikhlas kalau aku mengambil dan melakukan hak ku?."


Perlahan Wita mengangguk. Mmangnya dia bisa apa. Mengatakan tak boleh di sentuh?. Hello!!, buat apa menikah jika tak ingin di sentuh. Apalagi dengan seorang lelaki bujangan seperti Wahab.


Wahab mendekatinya dan membelai pucuk kepalanya"Terimakasih sudah bersedia menjadi istriku. Aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu" di kecupnya kening Juwita.


Wita kembali merasa heran dengan dirinya sendiri. Kecupan di kening itu terasa begitu menenangkan hatinya. Dia mulai merasa nyaman bersama lelaki yang masih terasa asing baginya sehari yang lalu.


Sebuah senyuman kembali terukir di wajah teduh wahab. Diapun beranjak dari tempat tidur dan menyabet handuk.


"Idih, permisi doang!?" keluh Wita. Ada sedikit perasaan kecewa di hatinya. Semenjak resmi menikah belum sekali pun Wahab berani menyentuhnya lebih dekat. Sejauh ini barulah sebuah kecupan tadi yang Wahab lakukan.


"Ayolah Wita, tau diri dong kamu kan lagi PMS " batinnya kembali berkata-kata.


Dia merapikan tempat tidur dan menunggu Wahab keluar dari kamar mandi, sebab dia juga ingin mandi. Dalam keadaan seperti sekarang sangat nggak nyaman kan kalau nggak langsung bebersih.


"Kamu nggak keberatan tinggal di sini?" tanya Wahab selesai mandi.


"Maaf, kalau bisa saya maunya di Villa saja Pak Ustadz. Boleh kah??."


"Nanti kita omongin lagi ya" ujarnya sembari meletakan handuk di jemuran yang terletak di samping jendela. Nampaknya Wahab lumayan mandiri dengan dirinya sendiri.


"Hmm kalo boleh tau emang kenapa nggak boleh ngomong di dalam kamar mandi Pak Ustadz??" teringat hal itu, dia pun bertanya. Juwita yang sekarang memang sedang berada si dalam kamar mandi, hanya saja pintunya belum di tutup.


"Sudah di kasih tau nggak boleh ngomong di kamar mandi kok malah bertanya pas di dalam kamar mandi" tegur Wahab sambil memandang Wita.


"Kayanya rada pecicilan juga ni cewek. Untungnya mau di bimbing" gumam Wahab lagi.


Selesai berpakaian dia menyambar peci putihnya lagi dan segera berangkat ke Masjid.


Menjelang pagi hari Wita sudah menyiapkan sarapan bersama Ummi. Sesekali Ummi menyinggung perihal malam pertama mereka. Enggak secara langsung sih, hanya tanya-tanya biasa aja.


"Gimana Nak tidurnya?. Kerasan nggak tidur di kamar Wahab?."


"Alhamdulillah kerasan kok Ummi" jawab Wita apa adanya.


Abah menatap Bu Nyai dengan bibir tergigit. Abah merasa nyeri dengan ke ingin tahuan Ummi terhadap pasangan pengantin baru ini.


"panggil suami mu di Masjid Nak. Kita sarapan bersama" pinta Abah.


"Iya Bah" Wita sebenarnya enggan beranjak keluar. Biasanya pagi-pagi begini emak-emak rempong akan banyak berkumpul di depan Masjid dengan alibi membeli sayuran.


"Kan, mereka memang sedang di sana kan" pekik hati Juwita. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah maju.


"Biar Khadijah aja Mbak" seakan mengerti dengan keadaannya, Khadijah menawarkan diri untuk memanggil Wahab yang masih berada di Masjid bersama kedua sahabatnya, Syukur dan Khoiril.


"Cie cie, nggak ada angin nggak ada hujan. Tiba-tiba menikah aja kamu Pak Ustadz. Cantik pula istri kamu. Bisa banget memilih pendamping" goda Syukur.


"Di jodohkan" jelas Wahab.


"Aku juga mau di jodohkan kalau calonnya juga sebaik itu, Wahab" ujar Khoril.


"Masalahnya nggak ada yang mau di jodohin sama kamu kan" celetuk Syukur menepuk lengan Khoiril dengan pecinya.


"Belum sampai jodohku kawan" sahut khoiril lagi.


"Bang wahab!!'' panggil Khadijah.


Wajah Syukur memerah ketika berbalik menatap khadijah.


"hahaha, nggak bisa di sembunyikan ya Kur perasaan kamu itu" goda Khoiril. Bukan rahasia lagi kalau Syukur menyukai Khadijah. Tapi dia belum merasa mampu mengkhitbah nya. Lagipula Khadijah masih sekolah.


"Nggan muluk-muluk kok kawan. Siapkan hafalan 30 juz kalau ingin mengkhitbah Adek ku" kata Wahab.


"Berat sekali kawan. Otak ku nggak kuat" sahutan Syukur hanya di balas senyuman oleh Wahab, yang berlalu menemui Adeknya.


"Sarapan Bang."


"Iya, kamu duluan ya. Abang pamit ke mereka dulu" ujarnya.


Khadijah yang tak tau-menau dengan perasaan Syukur, berlalu kembali ke rumah sembari melempar senyum kepada dua sahabat Abangnya.


"Alamak!!!. Auto kenyang aku kawan!!" pekik Khoiril menggoda Syukur.


"Jangan macam-macam kamu" hardik Syukur malu.


"Mau ikutan sarapan?." Tawaran wahab langsung di tolak Syukur. Si Khoiril kalau nggak sama Syukur mana mau dia.


"Bahaya kawan. Bisa zinah mata aku nanti. Ketahuan Pak Kyai bisa di tuntut 30 Juz. Bakal botak rambutku nanti." Mereka tertawa dengan ucapan Syukur.


Wahab pun berlaku kembali ke rumah dan dua sahabatnya itu kembali ke kediaman masing-masing.


Selama sarapan mereka mengobrol banyak. Termasuk permintaan Wita yang kalau di perbolehkan dia ingin tinggal bersama Wahab di kediamannya saja. Tentu saja Wahab yang menyampaikan perihal itu.


Mengingat jarak yang nggak seberapa, sepakatlah mereka bahwa Wahab dan Wita akan tinggal di villa bersama Miya dan para pelayannya.


To be continued...


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like vote dan komen ^,^


Salam anak Borneo.