
"Wit malam ini acaranya".Ucap papah Subroto sembari duduk di ruang tengah.dia melepas lelah setelah lumayan lama menyetir dari kota ke perkampungan ini.
"Acara apa Pah" Wita hadir di hadapan sang Papah dengan segelas Air putih yang di pinta Papahnya barusan.
"Nikahan kamu sama Wahab!"
Kedua mata wita membulat.keningnya menyerngit.dia terkejut..
"Tapi Pah..nanti malam??hari ini pah??".Dia berusaha mencari jawaban pasti dari perkataan sang Papah.
"Kata kamu kan terserah Papah." Pria paruh baya itu menenggak minumannya sembari berjalan ke mobil yang dia parkir di halaman Villa mereka.
"Nih kamu kasih kabar Mamah kamu.Papah udah omongin sama Mamah kamu sih, tapi mending kamu ngomong lagi deh."
Juwita meraih ponsel yang di berikan Subroto. Sedangkan Subroto nampak sibuk dengan koper berukuran sedang yang dia ambil dari dalam mobil tadi.
"Ya mas?" sahut Mamah Santi di ujung telepon.
Sebelum memberikan ponsel itu kepada Wita, Subroto terlebih dahulu menekan tombol mantan istrinya.
"Assalamualaikum Mah" ujar Wita
"Akh, calon manten. Waalaikumsalam. Maaf ya Sayang Mamah agak telat hadir ke pernikahan kamu nanti malam. Lendra sakit Nak." Yah, adik tirinya sedang sakit ternyata. Sudah gede padahal, sudah SMA juga. Tapi Wita nggak mau mempermasalahkan itu. Setidaknya sang Mamah akan tetap hadir nantinya.
Setelah selesai berbicara dengan sang Mamah, Wita menyerahkan ponsel sang Papah kepada empunya.
"Kok nggak bilang dari kemarin kalau malam ini acaranya?" tanya Wita sembari duduk di hadapan Subroto.
"Maaf ya Sayang. Bukan maksud Papah nggak mau mengadakan pesta pernikahan besar-besaran buat kamu. Hanya saja besok Papah harus ke Jepang" di tatapnya lekat-lekat wajah sang putri.
"Apa kamu keberatan??."
Wita menggeleng pelan"Enggak sih Pah. Sebenarnya Wita rasa lebih baik begini. Wita malu jika harus di rayakan dengan pesta meriah. Pasti akan banyak tamu-tamu yang datang dan pasti akan ada yang mengulik kembali kisah rumah tangga Wita yang gagal."
Dia jelas nggak mau hal itu terjadi. Mengingat mulut Netizen sangatlah pedas dan tajam. Dia sangat lelah jika harus menjelaskan ini dan itu jika mereka menanyakan hal perpisahannya dengan Papahnya Miya
"Sebenarnya Papah juga mikirin itu. Kamu sudah sangat lelah kan menghadapi dugaan dan cibiran orang-orang. Kalau kamu sudah jelas menikah setidaknya mereka akan tau bahwa Miya mempunyai orang tua yang lengkap."
"Dari dulu selalu Lengkap kok Pah---."
"Tapi bukan dalam sebuah pernikahan lagi kan!" sambar sang Papah.
Wita pun hanya bisa menerima keputusan Subroto. Toh ini memang sudah dia serahkan kepada sang Papah. Dia hanya sedikit kaget, pernikahannya akan terjadi beberapa jam lagi.
"Tau gini aku kan bisa luluran dari beberapa hari yang lalu" gumamnya dalam hati.
"Eh, emang mau ngapain pakai luluran segala??" Wita menepuk keningnya menahan malu pada diri sendiri.
...🍒🍒🍒🍒...
"Apa Nggak pa-pa Bah?. Apa mereka nggak keberatan??."
"Itu permintaan Pak Subroto Mi. Ummi dengar sendiri kan kemarin malam pas kita ke kediaman Pak Subrotot. Buruan deh Ummi sama Wahab cari cincin nikahnya" desak Kyai Ismail.
Sebenarnya keberadaan Wahab sekarang nggak jauh sih. Cuma di Masjid situ aja. Namun mengingat ini sudah hampir sore Kyai buru-buru meminta Khadijah menyusul abangnya ke Masjid.
"Bang Wahab!!..Bang..!!" panggil Khadijah dari pelatar Masjid. Gadis ini hanya celingukan dengan tangan melambai-lambai kepada Wahab.
"Adek kamu tu lho!!" Khoiril yang menyadari kehadiran Khadijah menepuk punggung Wahab, yang sedang menggiring seorang anak mengaji Qur'an.
Wahab memberi respon dengan anggukan kepala kepada Khadijah.
"Lho nggak di suruh masuk Hab bantuin nagajarin ngaji ni lho" pinta Khoiril.
Biasanya mereka bertiga mengajari anak-anak mengaji di Masjid. Namun entah kenapa si syukur nggak datang hari ini.
"Ada halangan mungkin" sahut Wahab.
"Masa Syukur ada halangan masuk ke Masjid Hab, yang bener aja kamu!!."
"Khadijah maksudnya!!" jelas Wahab yang di sambut gelak tawa Khoiril.
"Hus, dengerin pelafalan mereka" ujar wahab.
"Siap pak Ustadz" sahut Khoiril kalem.
wahab melangkah keluar Masjid menemui Khadijah.
"Buruan ke toko emas. Beli cincin nikahnya!."
"Lho??" sahut Wahab bingung.
"Bukannya Abah sama Ummi aja yang nyariin. Abang mah ngikut aja Dek" sahutnya lagi.
"Duh, kalau ngomong pake rem dong De!. Iya nih Abang pamit Khoiril dulu. Jamu gantiin Abang ya!."
"PMS bang." Jawaban Khodijah benar kan. Dia lagi halangan. Pantesan cuit-cuit di depan Masjid aja manggilin Wahabnya.
"Kok mendadak Wahab yang ikut sih Bah" keluhnya ketika balik ke kamar bersiap berangkat mencari cincin nikah.
"Abah lupa, hehehehe" sahut Kyai enteng.
"Kalo Pak Subroto nggak mampir tadi, bsa nggak pake cincin kawin kamu nikah sama Juwita, Hab" tambahnya dengan tertawa kecil.
"Makhlum aja deh Nak, Abah mu itu udah beumur" celetuk Ummi.
"Hemm, bilang aja udah tua Mi" celoteh Khadijah.
"Dek, omonganmu loho!." Tegas Wahab dari dalam kamar.
"Kan bercanda Bang" Khadijah memajukan bibir bawahnya.
"Jangan-jangan Abang bakal sangat disiplin nih nanti sama Mbak Wita. Kan calon istrinya Pak Ustadz tuh" dia masih saja mengoceh kepada sang Abang.
"Nggak gitu juga kali Dek" ujarnya seraya keluar dari dalam kamar. Saat ini Wahab mengenakan Jeans berwarna hitam, dengan kemeja berwana Navy yang di kedua lengannya dia gulung hingga ke siku.
"kalau begini Abang nggak kalah deh sama Papahnya Miya."
Ucapan Khadijah menghentikan langkah Wahab yang berjalan ke arah mobil.
"Hihihi" sadek cengengesan mendapati tatapan tajam sang Abang.
"Ayok Nak" ajak Bu nyai.
"Emang khadijah pernah ketemu Papahnya Miya ya Mi?." Tanyanya penasaran. Hati kecilnya nggak bisa bohong, dia sedikit kepo dengan sosok Fatur sang Papah kandung Miya.
"Dua hari yang lalu ketemu di minimarket paman kamu" sahut Ummi pelan.
"Bah, nggak sekalian ikut?" serunya pada sang suami.
"Wahab udah gede Mi" sahut sang Abah.
perkataan Kyai Ismail mengundang senyum di wajah Wahab"Tau nih Ummi, Wahab bisa kok."
"Iya deh, anak U.mi udah mau nikah gini kok ya" twpuk Bu Nyai di lengan Wahab.
"Assalamualaikum" seru Wahab sembari menyalakan mobilnya.
"Waalaikumsalam. Beli jajanan enak ya Mi" sahut Abah di barengi seruan request cemilan dari khadijah.
Seperginya mereka, Kyai Ismail kini di temani si bungsu Khadijah.
"Kenapa nggak ikut aja tadi, kan bisa pilih sendiri cemilannya."
"Kan Abah nggak nyuruh Khadijah ikut" sahut si bungsu.
"Emang kalo khadijah mau ikut di bolehin?" tanya nya lagi.
"Ya boleh dong" sahut Kyai dan sontak membuat Khadijah kesal.
"Abah mah gitu, coba aja bilang dari tadi. Khadijah sebenarnya pengen beli earphone Bah" rengeknya dengan mulut yang memancung beberapa senti ke depan.
"Hahaha, berarti belum rejeki" jawaban enteng Abah membuat Kjadijah kesal.
"Hati-hati, nanti keluar asap dari kedua telinganya" goda Pak Kyai.
Wajah sang Bungsu memerah.
"Kan, emosi kan!" godanya lagi.
"Gerah Bah!,. Khadijah cari yang dingin-dingin deh" ujarnya beranjak menjauhi Kyai.
"Kemana Nak?" serunya dengan senyuman.
"Wudhu-an Bah!" sahutnya dengan langkah cepat.
Kyai Ismail tertawa melihat tingkah si bungsu. Emang paling suka si Abah menggoda anak bungsunya itu, sekalian melatihnya untuk menahan emosinya sih.
To be continued
~~♡♡Happy reading .jangan lupa like vote dan komen ^,^
Salam anak Borneo.