Meet You Again

Meet You Again
Pernikahan



Perusahaan Trifam mulai merasakan imbas dari penarikan saham oleh Subroto, Papah Juwita. Tiga pendiri perusahaan mulai mencari solusi yang terbaik agar keuangan Trifam kembali normal. Namun, hal itu bukanlah mudah.


Melihat suaminya yang murung, Mega kembali merasakan kesal terhadap Mey"Coba kalau kemarin gadis kampungan itu memilih perusahaan kita, pasti hal seperti ini nggak akan terjadi" gerutunya di hadapan Baskoro.


Baskoro memejamkan mata, bukannya nolongin mikir si istri malah ngomel-ngomel nggak jelas.


"Mamah semprot aja lagi kali ya, biar bakteri yang bikin resah itu menghilang dari muka bumi ini" celoteh Mega lagi seraya mengipasi diri, dengan kipas kertas berharga mahal.


"Aduh Mamah!, kalau ngomong pake bahasa manusia dong. Papah sudah pusing, jangan di bikin makin pusing. Kalau nggak bisa bantu Mamah diem aja deh" kesabaran Baskoro mulai menipis. Apalagi melihat tampang Mega ketika mencibir Mey, bibirnya meluber ke kiri dan ke kanan.


"Ih!! kok malah Mamah yang di omelin. Papah mikirin jalan keluar sendiri aja!" wanita itu pergi menjauhi suaminya dan pergi ke teras depan. Baskoro menggeleng-gelengkan kepala, sikap Mega sungguh menambah kepala pusing.


Di teras sana terlihat Mega menelpon seseorang"Ada kabar terbaru ??"dia berbicara dengan seseorang di telpon.


"Beberapa hari yang lalu mereka keluar dari apartemen den Fatur bersamaan, nyonya."


Mega menggertakan gigi, bibirnya nyaris luka karena di gigit menahan amarah"Oh!! jadi kalian main kucing-kucingan lagi denganku!?." Gumam sang hati.


"Ikutin terus!, jangan sampai ketahuan ya!!."


Sementara itu di belahan bumi yang lain...


Seorang wanita kurus tinggi sedang menunggu jemputan di pinggir jalan. Dandanannya sangat rapi, rambut yang biasanya dia gerai atau sekedar di ikat biasa kali ini tersanggul indah dan cantik.


Sebuah mobil merah muncul dan berhenti di hadapannya"Ingat ya kak, jangan bikin onar. Aku mohon!!."


Seolah nggak mendengar ucapan orang yang menjemputnya, wanita itu masuk ke dalam mobil dan melepaskan kaca mata hitam yang dia kenakan.


"Kak, please jangan bikin kekacauan ya!" pinta wanita itu lagi.


"Sudah maksa, pake ngatur-ngatur segala" inilah calon mertua Vino, Ibu kandungnya Jovana.


Perlu waktu lama tante Rosa mencari dan membujuknya agar bersedia menghadiri pernikahan Jova dan Vino pagi ini. Setidaknya meski terlihat terpaksa, wanita ini akhirnya bersedia untuk datang.


Di kantor urusan Agama.


Vino sudah datang bersama Ayah dan Bunda, para sahabatnya juga sudah berdatangan. Di sudut ruangan Kaila nampak mendampingi Jova yang terlihat sangat tegang.


"Santai dong, mau menuju ke halal nih"Kaila mengelus-elus pundak Jova.


Hari ini dia sangat berbeda, gaun putih yang dia kenakan sangat pas untuknya. Gaun yang memiliki belahan sedikit rendang dan menampilkan bahunya yang halus mulus, membuat Vino seakan nggak rela.


"Itu tolong di kasih Blazer dulu dong Kailaaa, tubuhnya jangan di umbar-umbar!" ujarnya menunjuk bahu Jova.


Dan dia semakin kaget ketika melihat bagian belakang dari gaun itu, yang menampakan punggung Jova dalam skala lumayan lebar"Aduh Bundaaaaa, kenapa pilih gaunnya yang kurang bahan beginiiii?."


"Salah siapa? amu di suruh temenin pilih gaun malah nggak mau!!" Bunda membela diri.


"Kemarin-kemarin Vino sibuk kejar targer Bund biar pas cuti kerjaannya udah pada kelar" dia sangat sedih memandang tubuh wanitanya yang begitu banyak terekspose hari ini.


"Sayang, kok diem sih? kamu kok pasrah sama pilihan Bunda?."


Jova hanya diam. Tubuhnya di sini tapi pikirannya melayang kemana-mana.


"Jov...!!"


"Jova!!" Kaila memanggil Jova sedikit keras, mengejutkan wanita ini dari lamunannya.


"Ah!!.."matanya mengerjap. Celingukan menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan"Sudah datang tante Rosanya?."


Belum sempat pertanyaan Jova mereka jawab, kehadiran sebuah mobil berwarna merah di halaman kantor urusan agama membuat Jova bisa bernapas lega. Namun belum puas dia menghela napas, kehadiran sang Ibu membuatnya kembali diam.


Wanita yang melahirkannya kini hadir di hadapannya. Beberapa kali dia datang ke flat Jova hanya sekedar singgah beberapa hari, dan kamudian menghilang lagi tanpa kabar berita.


"Cantik juga" gumam Bunda.


"Jangan bikin ulah ya, Bund" pinta Ayah.


"Ehemm...iya, Yah" ujar Bunda berusaha kalem.


Setelah bersiap sebentar acara pernikahan pun di laksanakan. Mengingat Jova nggak memiliki Ayah dan nggak punya keluarga lain selain tante Rosa dan Ibunya, wali hakim pun turun tangan dalam pernikahan mereka.


Pasangan lain baru sampai di halaman kantor urusan agama ketika para saksi berseru"Wahh, ketinggalan momen berharga kita Tur" ujar Mey sambil memeriksa dandanannya sebelum turun dari mobil.


"Yang penting sah, ayo buruan. Aku mau lihat tampang si Vino" Fatur membukakan pintu mobil untuk Mey, dan mengulurkan tangan pada wanita kesayangannya itu.


Nampak sepasang mata mengamati mereka dari dalam mobil di seberang jalan"Mereka ke kantor urusan Agama Nyonya."


Apaaa!!!! Mega kelabakan. Ngapain mereka ke sana? berani-beraninya Fatur bertindak tanpa ijin dari kedua orang tuanya.


Trrttt!!..trttt!!


Fatur menatap layar ponsel.


"Mamah Calling" dia mengabaikannya dan buru-buru menyapa si pengantin baru.


"Woowoooo yang nge-tehnya sudah halal!!" Fatur menepuk pundah Vino.


Dengan wajah nggak tau malu Vino balas menepuk pundak Fatur"Cieeee...yang bentar lagi halal!!"


"Eh, kata siapa??"Mey melirik Vino.


"Si brondong akhirnya menang ya gayyss" Mey dan Kaila tertawa menggoda Jova.


"Jangan gitu, Fatur bisa bikin kamu mabuk kepayang kan??" goda Vino lagi.


"Yang ada nih si Jova bikin kamu mabuk kepayang!" Mey nggak mau kalah.


"Ih, kalian apa nggak ngiri nih" Jova balik menyerang kedua sahabat itu.


Kaila pura-pura nggak mendengar, Lian sih sudah pernah ngomongin masalah nikah. Tapi Kaila belum ada niat untuk berumah tangga.


Sedangkan Mey malah memanyunkan bibirnya"Perang dunia bakal terjadi kalau kami akhirnya menikah sekarang."


"Di jinakin dong Mey, Bundanya Vino juga galak kali" bisik Jova.


"Yeee, Bundanya Vino mah nggak seberapa. Kamu kayak nggak tau Mega Baskoro aja!" Mey menyahut berkataan Jova sambil mencari cari sosok Fatur.


Dan itu cowok ngilang di antara kerumunan. Sampai seluruh orang bersiap meninggalkan kantor urusan Agama itu, Mey masih sibuk mencari Fatur.


Ah, rupanya lagi ngomong sama seseorang di telpon.


Fatur berdiri di depan gerbang, dia menatap ke belakang dan pandangan mereka bertemu.


"Mamah" ujarnya memberikan isyarat.


Mey langsung menghampirinya"Ini Mamah" ujar Fatur tanpa suara.


"Awas kalau kamu bertindak keterlaluan, Mamah pecat jadi anak kamu!!" Mega berteriak di ujung telepon dan jelas saja terdengar oleh Mey.


Huh, ancaman itu lagi. Mey teringat bagaimana dia mengancam akan membuang Fatur dari anggota keluarga, beberapa tahun lalu. Gadis itu jadi kesal, emosinya memuncak. Spontan dia merampas ponsel Fatur dan..."Ancaman itu udah basi tante. Tante udah pernah mengancam saya seperti itu hingga akhirnya saya memilih pergi meninggalkan Fatur." Tanpa jeda Mey mengoceh pada Mega di hadapan Fatur.


"Saya nggak akan mundur lagi tante!!. Ancaman itu nggak akan berpengaruh lagi untuk saya!!"


Jelas Fatur terkejut. Jadi ini alasan Mey meninggalkannya beberapa tahun lalu..


"Kamu memang gadis nggak tau malu, nggak tau diri" caci Mega di ujung telpon.


"Kamu pikir ini hanya sebuah ancaman??"


Saat itu kemarahan Mey semakin menjadi"Silahkan buang Fatur, justru saya akan sangat senang tante. Dengan begitu Fatur akan benar benar menjadi milik saya!!"


Dan.... Tut tut tut!! Mey memutus panggilan sepihak.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.