Meet You Again

Meet You Again
[S1] 3. Cerita kita



...Happy reading...


Riris menghampiriku dan melontarkan godaanya yang membuat pipiku merona. "Pandang-pandangan, senyum-senyuman seakan dunia milik berdua, padahal yang berdiri disini semuanya manusia" ejek Riris sambil menyinggingkan senyum jahilnya untuk menggodaku dan Doni.


Doni tersenyum malu dan menundukan kepalanya, dan tangannya mengusap tengkuknya yang menandakan dia sedang tersipu malu.


"Pindah yok udah sore ni" ucap Tania yang datang entah dari mana, aku mengedarkan pandanganku ke penjuru alun-alun mencari sosok kedua temanku yang lainnya, namun tak ada satupun dari mereka yang memperlihatkan dirinya.


"Tunggu yang berdua itulah" sahut Riris masih sibuk melihat tanda tangan yang tergores diseragamnya. Tania mengangguk ringan dan berjalan kearah sepeda motor kami yang terparkir.


Doni menoel bahuku untuk berpamitan dan menunjuk kearah teman-temannya, aku mengiyakan dengan mengangguk kearahnya.


"Kalo mau balik nanti hubungi aku, biar diantar" ucapnya berlalu dariku, aku dan Riris mengekori Tania kearah sepeda motor kami yang terparkir dipinggir alun-alun.


"Ran janjimu, katanya mau gambar dipunggung ku" ucap Riris yang tiba-tiba menyodorkan punggungnya kepadaku. Aku membuka tutup botol cat tersebut dan mulai membentuk tulisan dipunggungnya.


"Sempurna" gumamku melihat hasil karyaku diseragam Riris, Tania tertawa sampai terpingkal-pingkal menatap punggung Riris namun Riris hanya merespon dengan tatapan bingung.


"WTF, Rani ih bikin ngakak aja" seru Tania ditengah tawanya, aku hanya tersenyum tipis menatap Riris sambil menahan tawaku yang pecah melihat ekspresi wajahnya.


"Ran jangan aneh-aneh, kau bikin tulisan apa dipunggungku!" Teriak Riris mulai geram sambil melontarkan tatapan tajam kearahku. Tawaku lepas seketika karena amarahnya, wajahnya memerah seperti kepiting rebus, lubang hidungnya kembang kempis menahan emosinya yang meluap-luap.


"Woee Ris kasar banget punggungmu bisa juga ngomong kasar ya" singgung Sania dan diiringi tawa Siska yang membahana.


"Gila sih, ga mulutnya ga punggungnya pinter semua" ucap Siska sambil menahan tawanya.


"Raanniii! Ganti gak tulisannya!" Perintah Riris meraih tanganku yang masih memegang cat.


"Iya iya, sini" ucapku menahan tawa dan membenahi tulisan 'WTF' yang cukup besar dipunggung Riris.


Aku mundur beberapa langkah dari Riris menandakan aku sudah selesai dengan kegiatanku dipunggungnya.


"Apa bacanya Sis?" Sergahnya kearah Siska dan menatap jengah kearahku dan yang lainnya.


"Riris" jawab Siska singkat sambil menggulir layar ponselnya.


"Udahkan, ayok pindah" ajakku dan melangkah kesepeda motorku.


Kami sudah berkeliling dan sekarang adalah cafe kelima yang kami datangi karena sedari tadi cafe yang kami pilih tak memiliki kursi lagi untuk menampung pengunjungnya.


Riris melangkahkan kaki dan kami mengekor dibelakangnya, memesan minuman dan beberapa cemilan ringan untuk kami santap selagi mengobrol nanti.


Aku memilih duduk di tepi jendela melihat-lihat banyak siswa yang berkeliaran dengan seragam yang sudah disoret-coret sepertiku.


"Silahkan kak" ucap pelayan yang mengantarkan pesanan kami dan meletakannya diatas meja panjang dihadapanku.


Pelayan itu menjauh bersama dengan nampang yang digenggemnya barulah kami membuka obrolan konyol malam itu.


"Ran kamu sama Doni baik-baik aja kan?" Tanya Sania tiba-tiba, aku mengangguk ringan mengisyaratkan semuanya baik-baik saja dan tadi aku juga sempat menandatangi seragamnya.


"Riris sama Satria gimana?" Tanya Tania dengan senyuman menggoda.


"Weeiiss bacot" sergah Riris melemparkan tatapan sinis kearah Tania.


"Terima aja Ris, Satria udah lama suka sama kamu" Rayu Sania sambil menyuapi kentang goreng yang ada dihadapannya


"Weh weh ada cogan tuh" ucap Siska dan semuanya menoleh kearah tujuan jari telunjuk Siska.


Laki-laki itu mengenakan kaos berwarna putih dan dibalut dengan jaket jeans diluarnya, mengenakan jeans hitam sobek-sobek pada bawahannya. Ia menyusap rambutnya kebelakang membuat keempat temanku sesekali menegak air liurnya.


"Aku ga liat" ucapku tiba-tiba tersadar dengan perbuatan kami, aku mengasap jus mangga dan mengalihkan pandanganku dari laki-laki yang menjadi santapan teman-temanku malam ini.


"Ayolah Ran, lupakan Doni sejenak, ini mangsa bening banget dah" gumam Riris merayuku tanpa mengalihkan pandangannya. Laki-laki itu memposisikan untuk duduk dimeja yang terletak tidak jauh dari kami.


"Astaga, Doni!" Teriakku yang kaget karena Doni secara tiba-tiba menempelkan wajahnya pada kaca disampingku. Dia melambaikan tangan kearahku dan aku membalasnya kemudian dia menunjuk kearah teman-temanku dan aku hanya mengangkat bahuku.


Doni beranjak dari depan kaca berjalan kearah pintu masuk, biar kutebak dia akan mendatangiku. Dan yang benar saja selang beberapa waktu dia sudah berada diruangan yang sama denganku namun dia tidak menghampiriku dan memilih duduk bersama laki-laki santapan teman-temanku.


Riris mengerutkan dahinya kearahku, meminta jawaban kepadaku mengapa Doni bisa bersama dengan laki-laki itu.


"Mungkin teman lamanya" ucapku singkat dan kembali mengasap jus mangga tanpa mengalihkan pandanganku dari Doni.


"Kayaknya dia bukan angkatan kita deh, mana mungkin laki-laki itu melewatkan kejadian menyenangkan yang terjadi cuma sekali seumur hidupnya" ucap Tania yang meraih kentang goreng milik Sania, Sania menepisnya dan menatap tajam kearah Tania.


"Pesen sana jangan ambil punyaku" sunggut Sania jengah, dan Tania mengejeknya dengan menirukan gerak mulutnya seperti Sania.


"Seriusan kamu ga kenal Ran?" Tanya Riris dengan jelas dan tegas, matanya menyorot tajam kearahku seakan ia tak puas dengan jawabanku.


"Ga percaya amat dah, aku ga kenal, seriusan" bujukku meyakinkan Riris sebisaku.


"Emangnya kenapa sih?" Tanyaku arah penasaran.


"Mana tau bisa jadi koleksi" ucap Riris dengan senyum semeringai. Sahabatku yang satu ini bukan hanya sebagai pentolan geng kami tapi juga badgirl sekolahku, walaupun demikian ia juga banyak menyumbangkan prestasi untuk disekolahku. Lomba Futsal putri, Volly, Cantur, dan dia juga anak paskibraka tingkat provinsi.


Riris dan Siska aktiv dibidang non-Akademik sedangkan Aku dan Tania lebih ke Akademik, kami menyukai belajar dari pada harus berpanas-panasan dilapangan. Jangan tanyakan Sania, dia tak menyukai keduanya, karena sejak SD dia hanya mengilai para artis korea dan dan seputarnya.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, kulirik arlogiku yang melingkar dipergelangan tangan sudah menunjukan pukul sembilan sepertinya aku harus segera pulang jika tak ingin mendengar ibuku mengomel lagi.


"Gaes aku pulang duluan ya" pamitku, dan mereka pun sepemikiran, kami berpisah dicafe malam itu. Aku menghampiri Doni dan menoel bahunya lembut.


"Don aku mau balik" ucapku, Doni meraih jaketnya dan mulai beranjak dari kursi.


Laki-laki dihadapanku tersenyum menyeringai kearahku membuatku bergidik ngeri melihat tatapannya.


"Pacarku, jangan macem-macem" peringat Doni kepada laki-laki itu dan dia hanya ber-oh ria. Kami melangkah meninggalkan cafe dan berjalan kearah sepeda motorku mulai melajukannya dan diiringi Doni di belakangku.


Aku ingin menanyakan mengenai laki-laki tadi tapi aku takut Doni salah paham kepadaku dan malah menuduhku menyukainya. Jadi kupikir lebih baik ku lupakan saja untuk menghindari pertengkaran yang tak diinginkan.


Kami sampai didepan rumahku dan aku memarkirkan sepeda motorku digarasi, sedangkan Doni langsung berpamitan pulang kepadaku, ku yakin dia tak langsung pulang mungkin nongkrong dulu dengan teman-temannya.


Aku melangkah masuk kedalam rumah, lampu-lampu sudah dimatikan menandakan bahwa sepertinya orang tuaku sudah tidur. Aku merogoh kantongku meraih ponselku untuk mendapatkan cahaya yang bisa mengantarkanku kekamar.


Aku tiba dikamarku, mengganti pakaianku dan membasuh wajahku ke toilet, aku bercermin memandang diriku. Tak terasa perjuanganku tiga tahun ini telah berakhir dengan begitu manis pada malam hari ini.


Aku menaiki ranjang dan memposisikan diriku untuk tidur, tak sabar menunggu hari esok yaitu pengumuman kelulusan SNMPTN, ku harap aku lulus diuniversitas pilihanku hanya itu saja.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...terimakasih sudah membaca***...