
...~ Aku di sini merindukanmu,...
...Sekarang, di luar jendela sang hujan kembali turun lagi....
...Mataku kembali terasa ingin menangis lagi,...
...Tak tau dimana kini kau berada....
...Rindu, masih terus memelukku,...
...Terlalu banyak perasaan namun tak ada espresi yang bisa mewakilinya....
...Hal yang ingin ku katakan,...
...Aku tak tahu harus memulainya dari mana~...
...Lian...
...β£β£β£...
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah satu bulan mereka menjalani hari-hari tanpa Kaila. Entah berapa banyak kejadian yang telah mereka lewati tanpa Kaila, termasuk moment bahagia kabar kehamilan Jovana, juga kabar resmi berpacarannya si duda Ben dan bu guru cantik Nana.
Meski telah mengerahkan segala usahanya dalam membangun kembali mahligai rumah tangganya bersama Ben, namunΒ Andara akhirnya harus menyerah dengan keputusan Ben.
"Maaf Andara, rasa itu sudah lama mati. Rasa itu telah lama pergi bersama langkahmu meninggalkanku beberapa tahun silam. Jika kamu memang menginginkan kami bahagia, tolong berbesar hatilah dengan keputusanku" ujar Ben di sudut kedai makanan cepat saji, yang berada di depan Cafe ceria.
Andara mengantupkan mulutnya rapat-rapat. Ya!, dia harus menuai hasil dari kerakusannya di masa lalu. Demi menjalani kehidupan yang lebih baik dia tega meninggalkan Ben yang kala itu baru merintis karir sebagai karyawan biasa di sebuah restoran.
"Aku mohon An! bukan hanya aku, Enda juga sudah sangat cocok dengan Nana. Aku mohon lepaskan kami berdua" pinta Ben mencoba terus meyakinkan mantan istrinya tersebut.
Sebenarnya Nana memanglah gadis yang baik, sifat dan kelakuannya sangat pantas dengan kerudung yang dia kenakan. Seorang wanita lemah lembut, perhatian dan juga solehah. Lelaki mana yang nggak akan tertarik kepadanya. Dia juga berhati besar, dengan ikhlas dia menerima kehadiran Andara, bahkan tinggal bersamanya di kos-kosan selama sebulan ini.
Garis senyum mulai melengkung di wajah manis Andara"Hufhh!!. Kayanya kamu lebih tertarik sama gadis dari pada janda."
"Hei!! jangan ngomong gitu dong" elak Ben ikut tersenyum. Dia menyadari sepertinya Andara telah merelakan dirinya.
"Semoga langgeng ya, sekarang nggak usah ngebahas masa lalu dan hubungan kita lagi. Aku udah lapar, habis ini aku mau ke tempat sahabatku."
"Dia menawari aku pekerjaan di kantornya, sebentar lagi aku bakal jadi wanita karir lagi. Awas aja kalau kamu memohon mau balik sama aku ya!!" canda Andara lagi.
Ben terkekeh dengan ocehan sang mantan istri"Iya deh yang bakal sibuk di perkantoran lagi. Sebuah kehormatan nih bisa makan siang sama emak-emak berkarir" sahut Ben mulai menyentuh makan siangnya sambil membalas kelakar Andara.
"Wanita karir Ben!!" koreksi Andara dengan wajah sedikit meradang.
"Hahaha, jangan sok imut. Ini wajah kamu beberapa tahun lalu yang berhasil menjebak ku dalam cinta, kan?. Sorry sekarang udah nggak mempan!!" ujar Ben mengejek Andara.
"Dasar duda!."
"Dasar janda" Ben masih saja terkekeh.
Mereka terus saja saling ejek, nggak terasa beban di hati perlahan telah sirna. Mereka telah memilih jalan masing-masing namun tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk Enda, sang buah hati mereka.
...ππππ...
Kehidupan terus berlanjut. Di sela-sela jadwal padatnya kesana kemari mengurusi penjualan produk-produk Trifam, Lian menyempatkan diri terus mencari keberadaan sang kekasih hati.
Tak terasa waktu meloncat begitu jauh, Jovana melahirkan anak perempuan. Sedangkan Mey dan Fatur belum juga di karunia momongan.
"Ngiri deh Yang, Vino udah menimang buah hati" Mey menunduk setelah membaca pesan yang Jova kirim di aplikasi berwarna hijau. Foto seorang bayi mungil dia kirimkan kepada Mey dengan caption"Hai tante Mey yang cantik, aku menunggu kado sambutan dari kalian."
"Sabar!!! Tuhan lagi nyiapain si kembar buat kita" setelah melihat foto buah hati pasangan mesum, Fatur meletakan ponsel Mey dan mengusap pucuk kepala sang istri.
"Sorry, aku tau Mamah sama Papah kamu udah kebelet pengen menimang cucu juga kan."
"Iya sih, om Hermanto pasti lagi mamerin cucunya ke Papah nih" sahut Fatur nyengir.
Fatur diam sejenak, dia menyusun rencana dalam otak kecilnya"Kita jalan-jalan yuk."
"Malah ngajak jalan!" Mey cemberut.
"Keliling dunia Sayang" ujar Fatur.
"Beli aja bola dunia, tinggal muterin tu bola aja kan kitanya" dari nada dan ucapannya, sekarang sudah jelas Mey sedang merajuk. Tapi Fatur bisa apa?. Memang dia bisa bikin anak dalam sekejap?. Hello!! ini Fatur bukan Pak Tarno yah. Eh! Pak Tarno juga nggak bisa bikin anak instan sih. Yah intinya semua perlu usaha, gitu aja sih!!.
...ππππ...
Selepas mengirim pesan pada Mey, Jova ingin berbagi kebahagiaan kepada Lian namun mengingat sikap Lian yang sekarang pendiam Jova jadi bingung.
"Gimana cara ngasih kabar gembira ini ke Lian ya Sayang."
"Huumm, itu anak sensi banget sekarang. Udah kayak kaca retak aja. Ingat kan pas dia tau kamu hamil, dia langsung menitiskan air mata, terkenang Kaila. Kalau si Kaila ada sekarang mereka udah punya anak juga, mungkin" balas Vino lagi.
Jova meletakan ponselnya di nakas, dia ikut membantu Vino mengemasi pakaian si Baby. Hari ini mereka udah bisa pulang sebab dia melahirkan secara normal. Dan seperti perkiraan Fatur, si Ayah Hermanto begitu bahagia dengan kehadiran sang cucu. Dia terus saja meminta sang dokter mengijinkan mereka pulang. Perawatan dan segala macam keperluan tentang Jova bisa di bereskan di rumah kan.
"Ngebet banget sih Yah!!, Jova masih perlu penanganan dokter" ujar Bunda. Si Ayah saking nggak sabaran buat ngajakin si cucu pulang, dia sampai hampir melupakan sang menantu yang baru saja berjuang mempertaruhkan nyawanya.
"Dedenya aja dulu yang pulang, Jova sama Vino biar di sini aja sampai Jova pulih."
"Egois banget sih Yah!!, pengen jambak rambut Ayah deh rasanya!!" sentak Bunda kesal.
"Hahaha sabar Pak Hermanto, besok deh, saya usahakan mereka sudah bisa pulang" ujar Pak Dokter. Dan benar saja sang Dokter menepati janjinya. Hari ini mereka pun sudah bisa kembali ke rumah, namun bukan ke flat yang mereka tempati selama ini. Atas perintah Ayah Hermanto Jova dan Vino akhirnya kembali ke kediaman Vino yang sebenarnya.
π¨ : "Selamat ya Vin atas kelahiran dedenya. nanti sebelum ke bandara aku sempatin mampir deh" Lian mengetik pesan pada Vino. Kabar mereka telah di karuniai seorang anak jelas sudah tersebar ke kalangan pemimpin Trifam. Cucu pertama dari Hermanto salah satu pendiri dari perusahaan tersebut.
π© : "Kamu mau kemana?."
π¨ : "Jepang."
π© : "Mau gantiin Melinda?."
π¨ : "Iya."
π© : "Udah di pikir matang matang Li?? Jepang jauh lho."
π¨ : " Mikir apaan lagi Vin?? bukan cuman matang, udah gosong pikiran aku. lagian siapa bilang Jepang itu dekat Vino???"
π© : "Candaan kamu garing Nci!!, jadi sedih aku-nya."
π¨ : "Jan sok melow, hati aku kejang-kejang nih".
Balasan Lian cukup menggambarkan bahwa dia mulai membaik. Se-enggaknya dia udah bisa di ajak bercanda.
Selepas berbalas pesan sekitar dua jam kemudian Lian bertandang ke kediaman Ayah Hermanto. Miris rasanya melihat bayi mungil pasangan mesum, namun ini bukan akhir dari segalanya. Nia harus melanjutkan hidup dan berusaha memulihkan hati.
Dia mengajukan diri untuk menggantikan Melinda di Jepang, sebab Melinda akhirnya menemukan jodohnya di sana.
"Mey pergi ke sana ketika terpuruk"
"Melinda juga pergi ke sana ketika di campakan Papah, malah sekarang dia dapat move on dari Papah dan bakal menikah dengan orang Jepang"
"Semoga Jepang juga memberikan kebahagiaan padaku" hal itulah yang memantapkan Lian pergi ke Jepang, meskipun sebenarnya dia ke sana sekedar melarikan diri dari kenyataan hidup tanpa Kaila.
To be continued..
~~β‘β‘ Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya guys.
Salam anak Borneo.