
...**Di langit yang engkau tatap......
...ada rindu yang aku simpan dengan rapat**...
...🌹🌹🌹🌹...
Meninggalkan kisah Jovana dan Vino, mari kita kembali lagi pada kisah Mey dan Fatur.
Pagi yang indah di kediaman yang sederhana. Semilir angin pagi dan sejuk bersatu dengan kicau burung yang saling bersahutan. Suasan pagi yang sangat indah dan menenangkan. Menenangkan?? oh tidak!!.
Seorang gadis dengan rambut berantakan, nampak masih bermalas-malasan di atas tempat tidur seraya memainkan sang gawai. Bunyi notifikasi pesan yang masuk, membuat jemari berhenti berselancar, dan fokus pada pesan tersebut"Sayang, jangan menghindar terus dong. Ini minggu ke dua kamu diemin aku" pesan itu datang dari Fatur. Duda muda yang sedang di jauhinya, meski hati selalu merindukannya. Ck! Mey menjadi kesal, hatinya bahkan berdebar sekedar menerima pesan darinya.
Gawai nggak berdosa itu melayang indah di tempat tidur, ditumpuk dan ditimpa dengan bantal-bantal dan guling, bahkan ditambah dengan selimut dan bed cover super tebal di atasnya.
"Duhai otak!!, bisa nggak sih berhenti mikirin si duda itu. Ayo dong, Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan anak si Nyonya Mega galak" melengus, Mey meninggalkan tempat tidur. Keluar dari kamar tanpa memasuh wajah terlebih dahulu. Sangat berantakan, juga nampak lusuh, seperti itulah penampilan Mey pagi ini.
"Huaaahhaamm!!"kemaren di Jepang hati aku biasa aja deh. Bertahun-tahun nggak ketemu malah makin kuat akunya" terus bergumam sendiri sembari membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral.
"Sudah bangun apa masih ngigo?" seorang wanita berwajah mirip dengan Mey, menegur kelakuan aneh anak gadisnya yang baru bangun tidur.
Tanpa menggubris omongan Ibunya, Mey berlalu ke teras depan. Masih berwajah kesal Mey duduk di ujung teras menghadap sinar mentari.
"Kamu kenapa sih Mey, nggak kerja kamu??" seorang pria berwajah teduh juga berkomentar dengan kelakuan anak gadisnya. Belum sempat Mey menyahut perkataan Ayah, kedua matanya memelotot.
"Selamat pagi om" anjiirr, anaknya Mamah Mega main nongol aja, dan dengan santainya menyapa Ayah.
Dengan tatap penuh tanya Ayah melempar senyum kepada Fatur"Iya, pagi juga. Siapa ya?." Jelas dong Ayah kebingungan. Ini cowok tiba-tiba nongol, sok ramah pula.
"Saya teman dekat Mey, pak" seraya mengulurkan tangan, menyalami Ayah.
Semakin kaget dong Ayah, nggak ada angin nggak ada hujan si gadis yang di bilang tetangga bujang lapuk, taunya di samperin cowok ganteng super keren. Di pagi buta!!.
"Oh, silahkan duduk, tapi Ayah harus buru-buru berangkat kerja nih."
"Saya anterin ya, Pak."
"Makin ngelunjak ini cowok" gumam Mey pelan, tentu di iringi tatap matanya dingin.
"Nggak usah, saya naik motor sendiri aja."
"Ibu, ada temennya Mey nih. Bawain minum Bu" keramahan Ayah semakin membuat Fatur ngelunjak.
"Terimakasih, Pak. Nggak usah repot." Fatur memang pandai mengambil hati orang tua, dia bersikap kalem di depan Ayah Mey. Ayah menepuk pelan pundak Fatur, dan sejurus kemudian dia pun segera berangkat pergi bekerja.
Fatur tersenyum menatap Mey, bukan karena takut dengan tatapan dingin gadis itu. Melihat tampilan sang kekasih sekarang jelas saja Fatur tertawa.
Dia baru bangun tidur, nggak cuci muka, rambut berantakan. Di tambah piyama karakter Pikachu, kuning nge-jreng yang dia kenakan membuatnya seperti anak kecil. Apalagi dengan postur tubuhnya yang memang sedikit mini.
Namun bukan Mey namanya kalau nggak cuek bebek. Setelah salim tangan Ayah, Mey duduk di kursi teras menghadap Fatur"Ngapain ke sini?."
"Galak amat, baru bangun tidur juga" senyum lebar terukir naik di wajah Fatur.
Senyum si duda ini sangat menawan, namun bagi Mey hal itu biasa saja.Gadis yang diledek ini malah mengusak-usak matanya seperti bocah dan juga menyugar rambutnya dengan jemari, membuatnya semakin berantakan.
Penampilannya seperti Mey yang dahulu, rambut panjang dengan poni yang menutupi kening. Hanya saja rambutnya nggak lagi berwarna hitam legam. Dan ketika bekerja dia menyisir ke samping poninya. Membuatnya terlihat lebih dewasa.
"kamu masih cantik dengan poni begini" komentar Fatur menatap gadis di hadapannya ini dengan sendu. Matanya menjelajahi gadis yang sangat dia rindukan belakangan ini.
Rasa enggan untuk berbalas tatapan, Mey memalingkan wajah"Enggak takut di ikutin Mamah kamu?."
Saat itu Ibu datang membawa teh hangat untuk Fatur. Sembari berdiri, Fatur menyalami Ibu dan memperkenalkan diri tanpa di minta"Perkenalkan, saya Fatur Bu" sikapnya sangat sopan dan manis.
"Temen kantor Mey, ya??" tanya Ibu.
"Bukan temen satu kantor ,Bu. Kami temen main di luar kantor."
"Anak TK kali main di luar" nada judes Mey membuat Ibu menginjak kaki sang putri.
"Siapa yang temenan, Ibu?. Dia aja nih bertamu tanpa di undang kayak mister Jaelangkung" mulut Mey mencibir ke arah Fatur.
"Lantes nggak ada yang berani ke sini, orang mulutnya lemes begini" balas Ibu membuat Fatur menahan tawa
"Sudah nak Fatur, jangan di ambil hati ya" Ibu duduk di sebelah Mey yang melengus menatap Fatur.
"Sana mandi dulu. Sudah jam berapa ini, nggak ngantor kamu?."
Ibu beralih menatap Fatur''Nak Fatur biar Ibu yang nemenin."
Dengan terpaksa anak gadisnya masuk ke dalam meninggalkan merek, tapi sebelum masuk"Awas aja kalau berani ngomong macem-macem!!. Aku suruh abisin strawbery 10 klo kamu!." Ingatan Mey membuat Fatur semakin tersenyum. Fatur memang nggak suka sama buah Strawberry, atau apapun dengan cita rasa Strawberry. Sebab dia nggak suka rasa asam.
Sesampainya di kamar Mey balik lagi ke depan dengan handuk di bahunya"Ibu, dari pada ngerumpi mending masakin Mey nasi goreng."
"Ibu udah masak yang lain kok buat sarapan."
"Maunya nasi goreng!!" sengaja membuat Ibu sibuk di dapur, biar nggak banyak ngobrol sama Fatur. Si duda senyumnya tadi membuat dia was-was.
"Kamu memang ngerepotin, Mey!!. Baru juga Ibu santai di sini" ujar Ibu bangun dari duduk.
"Tau nih, baru juga mau ngobrol ya, Bu" tingkah Fatur yang sok akrab dengan Ibu membuat Mey semakin geram.
"Awas kamu, aku selesaikan nanti" menyipitkan mata, berusaha menakuti pria yang sebenarnya sangat dia rindukan.
Melihat interaksi mereka berdua membuat Ibu menjadi curiga, jangan-jangan ada hubungan lain diantara kedua bocah ini.
"Jawab jujur, status kalian apa?."
"Temen" Mey menyambar.
"Pacar" Fatur menjawab nggak kalah cepat dari Mey.
Mulut Ibu sontak membulat, tapi nggak lebar-lebar amat sih"Kalian lagi berantem ya?" tatapan penuh kecurigaan Ibu, seakan melucuti seluruh pakaian Mey.
"Memang berantem terus kok, Bu. Kayak sekarang ini" jawab Mey cuek.
"Pacaran kok berantem, Ibu udah seneng lho kamu ternyata ada yang mau, kirain bakal nggak laku" Oh Tuhan yang maha pengasih dan penyayang! batin Mey menjerit mendengar ocehan Ibu.
Fatur sontak ngakak So Hard di hadapan Mey. Namun tatapan membunuh Mey membuatnya cepat-cepat menghentikan tawa.
"Bilangnya mulut Mey lemes, nggak tau nya Ibu lembih lemes. Terserah deh, pokoknya Mey mau sarapan nasi goreng!!" wajah gadis itu benar-benar merah hingga ke daun telinga.
"Yah~~~, Ibu terpaksa masak lagi. Nak Fatur udah sarapan?."
Kepala Fatur dengan ringan menggeleng menjawab pertanyaan Ibu.
"Nanti sarapan sama Mey aja. Nasi goreng mau nggak?, ada sih menu yang lain kalau mau'' si Ibu memang the best deh. Bikin Fatur mengidolakannya.
''Ngerepotin aja Bu" ujarnya malu-malu.
"Nggak pa-pa."
"Samain Mey aja deh, Bu" jadi ini yang di bilang orang malu tapi mau.
Mey belum tau tuh dengan keberuntungan Fatur hari ini. Bakal ribut lagi kalau tau Fatur bakal sarapan bareng dia.
Entah dia harus bahagia atau sedih, nampaknya Fatur di terima dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.