
Ciuman berakhir ketika tangan Fatur mulai bergerilya. Berusaha menyusuri setiap lekuk tubuh wanita ini. Kelenjar aneh itu mulai mengusik jiwa, bukan hanya Fatur bahkan Mey pun mulai menginginkan bukan sekedar ciuman. Di saat seperti ini lagi-lagi kilas balik kekejaman Mega kepadanya, yang dengan paksa memisahkan dirinya dengan sang putra membuat gadis itu kembali tersulit emosi.
Memaksa melepaskan diri di saat Fatur mulai menikmati"Aku harus segera pulang" bergegas meninggalkannya, tanpa menoleh kebelakang sekali pun.
Hasrat itu mulai mencuat dan Fatur ditinggalkan begitu saja"Ck! Jepang oh Jepang, apa dia belajar menarik ulur hasrat pria di sana! dia mempermainkan hasrat ku seperti sedang bermain layang-layang" mengeluh di saat wanita itu sudah tidak ada di hadapannya, rasanya sia-sia saja.
Sementara Memey, gadis itu bibirnya, nampak berantakan lipstik yang terpoles di sana. Ciuman yang hampir membuatnya tenggelam dalam kubangan cinta, cinta yang masih tertahan karena dendam.
Baru beberapa langkah Mey meninggalkan apartemen Fatur, mobil milik Mega singgah di parkiran. Beruntung mereka nggak bertemu, kalau enggak kepala Fatur semakin di buat pusing.
Nggak perlu waktu lama kini, Mega telah sampai di depan pintu apartemen milik Fatur. Berkali-kali wanita paruh baya ini menekan bel namun sang putra enggan untuk membukakan pintu. Bukan nggak tau akan kehadiran sang Ibunda, dia melakukan hal itu pun etelah mengintip dari monitor mini di dalam sana.
Jika Fatur adalah seorang pria yang pantang menyerah, tentu saja sang Ibunda juga begitu jika. Seperti banyaknya jalan menuju Roma, Mega tentu nggak kehabisan akal. Ketika daun pintu itu enggak terbuka, wanita ini menekan nomor ponsel putranya.
Selalu dijadikan kambing hitam oleh sang kekasih, Fatur menyalahkan Mega atas kacaunya hubungan mereka. Di sela emosi yang mulai melonjak naik itu, seketika terbesit bagaimana pengorbanan seorang Mega saat melahirkannya. Hati yang semula panas perlahan sejuk kembali, Jemarinya mulai mengetik sebuah pesan untuk Mega.
"Sorry, Mah. Fatur lagi pengen sendiri" dia sempat mengetik pesan ini namun berakhir d draf pesannya saja. Serba salah, keadaan akan semakin gaduh kalau Mega tahu bahwa dirinya memang berada di dalam sana, dan dengan sengaja nggak ingin berjumpa. Menulikan kedua telinga, akhirnya Fatur membiarkan saja.
Lama kelamaan Mega pun menyerah. Sembari menggerutu meninggalkan apartemen anak semata wayangnya. Entah seberapa besar rasa bencinya terhadap Mey, hingga dia menutup rapat-rapat pintu hati dari nya. Tekad itu begitu kuat, meskipun dia tahu akan sangat sulit menentang hubungan mereka berdua. Dia cukup tahu sedikit saja senyuman dari gadis itu sudah mampu membuat sang putra bahagia. Namun tetap saja, sangat sulit untuk menerimanya.
Gelenyar aneh yang tak tersampaikan, membuat Fatur gemas terhadap sikap Mey, dan berguling guling di tempat tidur"Kamu sangat pandai memancing hasrat ku! setelah mulai bangkit kamu meninggalkan ku begitu saja!. Awas saja, lain kali aku nggak akan melepaskan dirimu" isi pesannya kepada Mey.
Telihat kesedihan pada bola mata Mey ketika membaca pesan itu"Maaf, aku tau kamu tersakiti, tapi hatiku lebih sakit. Setiap kali dekat denganmu, bayangin Mamah mu melempar cek itu di wajahku masih segar dalam ingatan" berucap lirih.
"Bangunkan seribu candi dalam satu malam, maka aku akan memberikanmu ciuman lagi" balas Mey mencoba menghibur Fatur.
Benar saja, Fatur terbahak di kamarnya.
"Kamu bisa bercanda juga, besok ke sini lagi ya."
"Enggak!" balas Mey singkat dan jelas.
Jawaban itu membuat senyum di wajahnya pudar, sekitar berganti bibir yang mengerucut. Dia sadar sedang di terbangkan ke langin nan tinggi, dia juga sadar telah di hempaskan ke dasar bumi, namun karena cinta Fatur nggak menjadikan itu masalah, asalkan bisa berjumpa dengannya.
..........
Vino melepas lelah di kediaman Jova. Sudah empat hari si brondong kinyis-kinyis nggak pulang ke rumah. Dan sang bunda mulai menanyakan di mana dia tinggal. Apesnya, si kucrut Fatur yang galau ketika menerima telpon dari ayah Vino, dengan gamblang mengatakan Vino nggak pernah menginap di kediamannya. Sedangkan Vino selalu bilang menginap di tempat Fatur. Alhasil kejujuran Vino di pertanyakan oleh kedua orang tuanya.
Ponsel itu berdering entah untuk yang keberapa kalinya, ketika Vino keluar dari kamar mandi. Masih mengenakan handuk dia menerima panggilan itu.
"Kamu di mana sekarang??" suara Bunda di ujung telpon. Dia sempat bertanya kepada Lian tentang keberadaan Vino, dan Lian bilang Vino di tempat Fatur, sedangkan Fatur bilang Vino di tempat Lian.
"Di tempat Fatur, Bunda" jawabnya dengan percaya diri. Ketika sang Maha Kuasa ingin menunjukkan sebuah kebenaran di hadapan sang Bunda, maka hal yang gak diinginkan itu pun terjadi.
"Sayang!! hari ini kamu mau di masakin apa nih??" dengan manja dia memeluk Vino dari belakang dan berbisik di telinganya. Telinga yang sedang menerima panggilan sang Bunda.
Seketika wajah Vino menegang. Pemuda ini menutup speaker ponsel dan menutup mulut Jovana"Ini Bunda aku" dia berisyarat pada Jova.
Karena terkejut, Jova terduduk di sofa. Memasang otaknya bekerja lebih cepat, alasan apa yang harus Vino berikan pada dang Bunda kalau bertanya tentang suara wanita yang adalah dirinya??
Dalam keadaan panik Jovana menyalahkan televisi, juga sengaja menyaringkan volume.
"Cewek dari mana? itu suara televisi, Bunda" ujarnya memberikan alasan, dan dengan sangat yakin menekankan bahwa dirinya sedang berada di kediaman Fatur.
"Bohong besar!!, barusan Ayah ngomong sama Fatur, kamu nggak menginap di tempatnya!. Jadi selama ini kamu di mana? kamu membohongi Bunda sama Ayah?."
"Asem si duda!! nggak bisa jaga rahasia!!" gerutu hati Vino. Karena terdesak kepala Vino seketika menjadi pusing. Pikirannya buntu, sudah nggak bisa berkelit lagi.
"Bawa cewek kamu ke sini, S E C E P A T N Y A!!! bentak Bunda. Dan...Tutut !! tut !!, panggilan di tutup.
Jova menutup mulut dengan kedua tangannya" Vino!! gimana nih!!."
Vino kehabisan kata-kata, keasikan nge-teh sih, jadi lupa pulang ke rumah. Akhirnya ketahuan kan tinggal di rumah cewek. Ckckck.
Sementara itu, Lian gelisah menunggu kabar tentang Vino. Meski kerap bertikai Lian peduli lho sama Vino.
Masih bertelanjang dada Vino melakukan Video Call pada nomor Lian"Gila si duda!!!. Nggak punya hati tu orang, aku jadi apes!!" langsung mengomel saat Lian menerima panggilan.
"Woi habis ngapain kamu??.pamer otot segala, geli tau!!"Lian malah nggak nyambung. Tubuh toples Vino membuat bergidik.
"Aku habis mandi. Kamu invite Fatur deh."
"Kenapa nggak kamu aja sih, lagian aku manggil dia juga bakal ketahuan ada kamu nya" Lian ngomel tapi sambil menghubungi Fatur, dan...
Fatur nampak di layar ponsel mereka.
"Kampret kamu duda!!. Kan kemaren aku udah bilang pura-pura tinggal sama kamu" Vino langsung menyemprot Fatur.
"Bikin tantangan dong dalam hubungan kalian" jawab Fatur santai.
"Ampun dah, aku diem aja nih di pojokan. Silahkan kalian berdebat" Lian minggir.
"Jova di suruh bawa kerumah, Tur. Gimana dong, ah kamu bikin masalah."
"Bawa aja, temuin Jova sama om sama tante. Lagian Jova baik kok" masih anteng aja si Fatur, sedangkan Vino kebakaran jenggot.
Sedangkan Jova masih berpikir keras sambil menatap ke luar jendela. Gimana kalau dia mengalami penolakan seperti Mey?.
Bagaimana kalau mereka di paksa berpisah?. Perlu waktu lama hingga akhirnya Jova membuka hati untuk seorang pria. Jova sangat takut terluka lagi.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.