Meet You Again

Meet You Again
Ibu terbaik



Hari berangsur malam dan Ben pun pamit pulang. Dia harus ke Cafe agar Jova bisa hadir ke kediaman Mey.


"Pamit pulang ya Bu. Saya harus kembali bekerja" Ben menyalami Wulan dan Khoiril, Ibu dan Ayah Mey.


"Iya, terimakasih sudah datang Nak Ben" ucap Ayah. Ibu Mengusap pucuk kepala Enda dengan lembut.


"Enda di sini aja deh. Entar sama onty ke Cafenya" ujar Kaila. Enda nampak senang berada di kediaman Mey. Lagian kasian juga kalau setiap hari dia hanya bermain-main di Cafe sendirin.


"Enggak onty. Enda ada misi di Cafe" ujarnya menggelengkan kepala.


Ben tersenyum mendengar perkataan Enda.


"Beneran mau di lakuin?."


"Iya dong yah" sahutnya dengan manis.


"Apaan Ben??" rasa penasaran mengusik hati Kaila.


"Nggak kok, dia lagi sibuk sendiri aja. Nggak bakal ganggu kerjaan kita" ucap Ben yakin. Ada sebuah rahasia kecil antara dirinya dan Enda, tentu dia nggak mau membaginya kepada Kaila. Semakin lama bersama hubungan mereka semakin erat, baik Ben atau pun Enda sudah sangat nyaman dan percaya satu sama lain.


Lagian siapa bilang Enda bermain sendirian di Cafe, dia punya cara sendiri untuk mengusir rasa bosannya kok. Dia adalah bocah yang mudah bergaul dan berani menyapa terlebih dahulu, membuat Enda di sukai para pelanggan Cafe.


"Ya sudah, hati-hati di jalan ya Nak Ben" Wulan pun mempersilahkan Ayah dan anak itu untuk pulang.


"Enda mau bawa cemilannya??" tanya Wulan sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi. Dan bukan Ibu wulan namanya kalau nggak berniat membekali tamunya sesuatu saat pulang dari acara makan-makan di kediamannya.


"Makasih nenek, Enda sudah kenyang" dengan sopan anak kecil itu menolak tawaran Wulan. Dia juga mengelus perutnya sambil memamerkan senyum lebar.


Panggila baru yang di dapat sang istri membuat Ayah spontan menggoda Wulan"Nenek!!" celetuknya.


"Emang apa yang salah dengan sebutan Nenek??" alis Wulan menukik naik mendengar khoiril seakan mengejek kepadanya. Lagian kayak dia nggak bakal di panggil Kakek juga nantinya, gerutu Wulan dalam hati. Dia memanyunkan mulutnya saat melihat Ayah.


Gelagat merajuk Wulan terlihat jelas, Ayah jadi nggak enak hati"Ya enggak sih. Tapi ujung-ujungnya emang bakal di panggil Nenek sih ya" ujar Ayah lagi. Ucapan Ayah malah bikin Ibu semakin sewot.


"Mari Nak Ben, Bapak antar sampai depan" dan dengan wajah tak berdosa Ayah beralih kepada Ben dan Enda.


Wulan melipat kedua lengannya di dada"Oh, ngajak gelud si ayah."


"Bu...masa Ayah di ajak gelud!" hardik Mey.


"Jangan mulai deh. Ibu udah terlalu millenia di mata temen-temen Mey."


"Lah, emang jadi emak-emak millenia tu bedosa?, kaga kan!!" si Ibu ngotot. Dirinya sadar sih kalau sudah tua. Tapi nggak pake di ejek juga sama si Ayah kan!.


"Tau nih si Mey, Ibu kamu oke lho. Andai saja Mamah aku se-humble emak kamu ini" untung saja ada Lian yang nambahin gelora percaya diri Wulan semakin melonjak naik. Hingga rasa kesalnya kepada Ayah netral kembali.


"Nak Fatur, kamu malu bakal punya mertua seperti Ibu??" Wulan beralih pada masalah emak-emak milenia. Fatur yang sedari tadi nyengar-nyengir di pojokan ikut terseret dalam argumen mereka.


"Enggak lah Bu. Ibu mah the best" si calon mantu bisa banget menarik simpati calon mertua. Dengan tampang meyakinkan dengan mantap dia memuji Wulan.


"Riuh bener'' tegur Ayah yang datang dari teras.


"Lihat kan, nggak peka kan Ayah. Atau Ibu aja nih yang sensian" Mey mendekati Ayah dan menceritakan perihal Ibu panjang lebar.


"Emang Ayah salah ngomong??" ujar Ayah melirik Ibu dengan senyuman.


"Iya yah iya. Bukan cuman Ibu kok, Ayah juga bakal di panggil Kakek kan nantinya" balas Ibu berusaha tenang. Benar kata Mey, Ibu kalau sudah sama Ayah pasti kalem. Mungkin inilah yang di namakan power of love.


''Wuuu!!" yang muda-muda meng-uwu kan tingkah Ayah dan Ibu. Diam-diam Kaila mengambil pelajaran dari pasangan ceria ini. Ternyata benar kata Jova, kita nggak bisa menilai sebuah pernikahan tanpa harus mencoba menjalaninya. Di tengah nelangsanya memikirkan permintaan Vivi untuk segera menikah. Kaila tiba-tiba teringat dengan Juwita. Lengannya menarik ujung kemeja Fatur.


"Ng?" Fatur menoleh pada Kaila dengan raut wajah penuh tanya.


"Wita pengen nemuin Miya sama Mey" bisiknya.


"Nanti aja, jangan sekarang. Aku sudah habis-habisan kalian kerjai tadi" Fatur balas berbisik.


"Hehehhe, ya sorry deh. Itu kan demi kebaikan kamu juga."


Kaila hanya bisa nyengir cengengesan kepada Fatur, mengingat ulahnya membuat Fatur benar-benar panik tadi.


Waktu telah menunjukan pukul tujuh malam ketika Jova dan Vino akhirnya hadir di kediaman Mey.


"Jadi ini pengantin barunya?.x


"Sudah basi bu, sudah jamuran malah"baru datang Vino sudah bicara ngawur. Melihat dari wajah ramah tamah kedua orang tua Mey, Vino yakin mereka pasangan yang mengasikan.


"Makanya pake pengawet biar nggak jamuran" dan benar saja kan, ucapan Wulan membuktikan kebenaran terkaan Vino. Mereka terkekeh mendengar candaan yang di lontarkan Wulan.


Setelah saling memperkenalkan diri, mereka beralih pada kisah Vino mengejar  Jova, sampai akhirnya menikah. Semua cerita hidup mereka di buka habis oleh Vino.


"Kamu ke sini mau curhat apa mau makan makan?" tanya Lian..


"Emaknya Mey humble banget, Panci. Beda jauh sama anaknya." Ucapan Vino di sambut cibiran oleh Mey.


"Si Ibu tebar pesona banget hari ini!!'' gerutunya.


"Cemburu?."


"Ih, kaga!!" kali ini Mey kembali mengerling tajam kepada Fatur.


"Hehebe, galak banger. Besok malam keluarga aku ke sini ya."


Mey terdiam mendengar ucapan Fatur. Dia masih perlu waktu untuk berpikir"Nanti aku omongin sama Ibu sama Ayah dulu."


"Kita ngomong di teras aja, boleh??."


"Malu Tur!" bisik Mey.


Gerak gerik mereka tertangkap pandangan Ayah.


Fatur begitu ingin berbicara bedua dengan Mey, namun anak gadisnya terlihat menggeleng kepada Fatur.


"Kalian lanjutin deh, Ayah mau ngomong sama Fatur" si Ayah sekalinya ngomong to the poin banget deh.


"Aha, naik ke meja hijau kamu tuh" celetuk Vino.


"Hus!!" Jova mencubit lengannya.


"Jinak dong, nggak liat muka Fatur udah mau beku begitu."


Lian nyengir.


"Jangan senang dulu kamu bro, abis ini kamu bakalan nyusul kan. Tante Vivi udah curcol sama Bunda" hardik Vino.


Kabar permintaan Vivi agar Lian dan Kaila segera menikah telah sampai kepada Siska, sang kakak atau lebih tepatnya Bundanya Vino.


"Kamu yakin ingin meminang Mey?." Pertanyaan Ayah mempercepat detak jantung Fatur. Kepalang tanggung Fatur menjawab dengan mantap, sekalian aja dia mengutarakan segala keinginannya.


"Ayah kembalikan kepada Mey lagi, kalau dia bersedia Ayah akan memberi restu" ujar Khoiril.


Ada perasaan lega di hati keduanya. Fatur akhirnya dapat merasakan ketenangan. Penantiannya selama ini akan segera membuahkan hasil, sedikit lagi dia akan memiliki Mey, seutuhnya.


Dan dari sudut pandang Ayah"Akhirnya anak gadis bapak laku juga." Heh!!Fatur terperangah melihat Ayah tertawa geli.


"Mey sempat di juluki bujang lapuk oleh para tetangga di sini Nak. Dan Ibu selalu membela Mey dengan gagah berani. Siapa pun yang menyebar gosip yang aneh aneh tentang Mey, Ibu akan langsung menyemprot pelakunya."


Fatur tertawa mendengar prilaku Wulan, sejatinya dia memang Ibu terbaik. Patut di acungi jempol.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.