Meet You Again

Meet You Again
Retak



Mobil hitam Lian terparkir di halaman Fit and Fesh Samuel. Beberapa anak baru gede memandang kagum kepadanya. Mereka senyum-senyum mencoba bertegur sapa dengan si pemilik wajah rupawan itu.


Merasa di senyumin cabe-cabean, Lian yang ramah tamah balas senyum kepada mereka. Sungguh Lian sangat pandai membuat bocah-bocah ini terpesona.


"Aduh bang manis banget" dengan centil para biji terong mulai membuka obrolan.


"Apanya yang manis?" Lian belum mengerti kemana arah obrolan mereka.


"Senyuman abang, manis pake banget."


"Duh, meleleh deh hati abang. Jangan di goda-goda dong, abang nggak kuat iman nih, takut meleleh" balas Lian nggak kalah centil.


Para gadis gadis itu cekikikan, rupanya abang ini sangat ramah sekali.


''Lian!!" seru Rani yang baru saja memarkir mobil di arah yang berlawanan.


Dengan senyuman pula Lian melangkah mendekati Rani.


"Yahh, sudah ada yang jinakin" keluh gadis-gadis.


"Memangnya abang singa pake di jinakin?" sempat-sempatnya Lian menyahut perkataan mereka.


Rani memperhatikan interaksi Lian dan gadis-gadis muda itu""Ahaaam, dasar biji cabe kecentilan amat" gumamnya"Ayo aku, cuss!!" seru Rani sambil berjalan masuk ke dalam.


Lian diam-diam mengintip aksi Rani yang dengan leluasa berolahraga menggunakan bermacam alat, sangat kentara bahwa gadis ini sudah terbiasa dengan alat-alat tersebut.


Dan bodynya, nggak kalah sama body Crystal Fx brooo. Bener sih yang dia bilang kemarin, otot perutnya juga nggak kalah berbentuk seperti Lian.


Trtttt!!..Trttt!!, Kaila Calling. Sialnya Lian meninggalkan ponselnya di dalam mobil. Berkali-kali Kaila menghubungi namun nggak kunjung mendapat jawaban.


Kaila menggeram menaham amarah"Kemana sih si Lian!?."


Ibu jari Kaila kembali menari di atas layar ponsel. Mengetik dengan cepat kata-kata yang akan membuat kedua mata Lian melotot terkejut.


"Bagus!! dua hari nggak nongol di Cafe. Pesan ku nggak di balas, aku telepon nggak di angkat. Kamu udah bosan sama aku?, atau ngambek gegara ngebet kawin?, atau....KAMU SELINGKUH?" begitulah bunyi pesan dari Kaila.


Dan tentu saja masih tak ada jawaban dari sang empu ponsel, dia kan lagi olah raga sama cewek cantik. Hahaha.


...****...


"Sayang, janji ya cuman tiga hari. Awas aja kalau lebih." Genggaman tangan Fatur begitu enggan melepas jemari kekasihnya.


"Jangan mewek, Tur!. Malu di liatin orang."


"Aku nggak malu. Tuh banyak kok yang nggak rela melepas kepergian orang tersayang kayak aku gini."


"Tapi nggak pake air mata buaya begini. Malu sama otot!" bukannya sedih, Mey malah merasa lucu dengan tingkah pria tinggi tegap di hadapannya ini.


Nggak kebayang kalau kepergiannya beberapa tahun lalu ke Jepang di antar oleh Fatur. Bisa banjir bandara karena air mata kesedihan si Fatur.


Saat itu anggilan keberangkatan pun terdengar. Membuat hati Fatur semakin merana.


"Yang, kamu beneran balik ya" Fatur benar-benar kayak anak kecil kali ini.


"Iya Iya Iya!" ujar Mey sambil tersenyum.


"Papah kamu di jaga baik-baik ya, jangan merenung sendirian di rumah. Entar kesambet kamunya!." Pesan sang gadis di angguk Fatur.


Sementara itu Lian masih bercengkerama dengan Rani dan beberapa orang baru yang di kenalkan Rani. Ada Donny, sang instruktur bertubuh kekar. Wah, Lian sangat iri dengan otot-otot Donny.


Ada Miska si cewek manis berambut hitam sebahu, mengingatkan Lian dengan Kaila, si kekasih galaknya.


Eh, Kaila??"Alamak!!" Lian bergegas mencari cari ponselnya di dalam tas.


"Kenapa Lian??" tanya Rani yang melihat kepanikan Lian membongkar isi tasnya.


"Ponsel aku Ran, di mana ya??" jawabnya sibuk mencari-cari.


Rani segera menghubungi nomor Lian, dan hening. Nggak terdengar Ring tone dari ponsel Lian di tempat itu.


Pria itu cepat cepat mengemasi barang barangnya dan"Aku balik duluan ya, aku lupa ada janji" dia bergegas keluar tanpa menunggu jawaban mereka.


Rani mengejar sampai ke parkiran"Nanti kasih kabar ya" serunya kepada Lian.


"Yoi" sahut Lian. Dan Rani pun kembali masuk ke dalam.


Lian menghela nafas lega, ternyata benda yang di carinya tertinggal di dalam mobil. Namun nampaknya dia akan kembali panik ketika membaca pesan dari kaila. Ada 28 panggilan tak terjawab, 27 dari kaila dan sisanya dari Rani yang tadi ikut mencari ponselnya.


Dan benar saja, Lian panik dan terperangah mendapati pesan singkat Kaila. Singkat namun sangat menusuk hati.


Tut!!tut!!"Sayang" lirih Lian, bibirnya terasa perih karena gigitannya sendiri.


"Oh, masih ingat sama aku?." Jelas Kaila ngambek. Lian menghilang tanpa kabar selama dua hari. Enggak seperti biasanya yang setiap pulang kerja Lian bakal mampir ke Cafe.


"Ponselnya ketinggalan di mobil, Sayang. Sorry."


"Emang kemana kamu, baru pulang ngantor??udah malam begini?."


"Kayak aku nggak ada kendaraan aja. Kamu pulang terus istirahat aja deh. Sudah ya, aku masih ada kerjaan." Kaila hendak menutup panggilan namun....


"Kaila!!" panggil Lian lagi.


Dengan malas kaila menyahut"Apa lagi Lian?."


"Aku kangen, aku samperin kamu ya."


Sejujurnya Kaila juga kangen kali, judes-judes begitu dia sayang banget sama Lian"Iya deh, sini ke Cafe" nadanya pelan, pertanda dia mulai jinak kembali.


Lian pun tersenyum"Aku pulang ke rumah dulu ya" ujarnya sambil menyalakan mobil.


Lian senang banget mendengar nada suara Kaila yang terakhir. Sudah lama dia nggak mendengar Kaila berbicara pelan seperti itu. Akhir-akhir ini bawaannya judes melulu, juteknya nggak ketulungan. Di bilang datang bulan tapi kok berbulan-bulan?.


Sesampainya di rumah Lian bergegas mandi dan langsung ke Cafe. Setelah bersiap diri tentunya.


Seakan menuruti kata hati yang memang sedang rindu, Kaila duduk di meja luar sambil bermain game berkebun di laptopnya.


Tanpa di sadari sosok yang di tunggu memandangnya dari parkiran Cafe"Sayang!" seru Lian.


Kaila menatapnya biasa saja. Dengan manja Lian duduk di samping gadis yang dia rindukan.


"Kemana aja dua hari ngilang? kamunbeneran punya selingkuhan??" tanya Kaila lebih mendalam.


"Sayang!. Kata-kata adalah doa lho!!" ujarnya sambil meletakan ponselnya di samping laptop Kaila.


"Cup!!" secepat itu ciumnya mendarat di pipi Kaila. Wajah gadis ini sedikit merona.


"Udah makan??" tanya Lian.


"Udah, kamu??" Kaila balik bertanya.


"Aku belum makan" berucap seraya melihat ke kedai depan Cafe.


"Mau cemilan nggak?, aku mau pesan makan di seberang."


"Nggak ah, aku udah kenyang, Sayang" Kaila menolak.


Lian pun pergi ke kedai seberang. Saat dia berada di Cafe seberang jalan, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Rani masuk ke ponselnya.


Melihat nama seorang wanita, Kaila penasaran. Secara itu ponsel ada di depan mata, mau nggak mau dia pun tau isi pesan masuk itu.


"Udah ketemu ponselnya?, lain kali kita olahraga bareng lagi ya."


Owh, suasana hati Kaila tiba-tiba memanas. Oho! jadi dia berolahraga sama cewek lain?.


"Ala benar kata-kata akan menjadi doa?, tapi aku nggak mendoakan dia selingkuh kok!!."


"Jadi ini yang namanya Rani" nampak foto Rani sedang berpose di depan Fit and Fresh Samuel.


"Tenang Kaila, tenang. Lagi pengen makan itu orang" gumamnya pada diri sendiri.


Nggak lama Lian datang membawa makanan. Sebisa mungkin Kaila menahan emosi. Senyum-senyum terpaksa ponsel Lian dia letakan di samping berlawanan dengan Lian.


Dan setelah Lian selesai makan"Ini siapa Sayang??" dia memperlihatkan foto Rani di aplikasi gelembung hijau milik Lian.


"Uhuk uhuk!!" sontak Lian terbatuk.


"Duh, pelan-pelan minumnya sayang.


"Temen, Sayang, baru kenal juga" jawabnya setelah keterkejutan itu terkendali.


"Kalian olahraga bareng?."


"Ya, temenan biasa aja, La" sahut Lian lagi.


"Jadi ini alasan kamu ngilang dua hari ini??terus abis ketemu dia kamu nyamperin aku ke sini?." Tanpa basa-basi Kaila masuk ke Cafe, mengambil tasnya.


"Aku balik duluan, sisanya kalian yang urus ya" ujarnya pada Jova dan ben.


"La, Kaila!!" Lian ngikutin langkah cepat Kaila.


Kaila cuek, di raihnya laptop di meja luar dan berjakan ke parkiran, dia berniat langsung pulang.


"Sayang, aku jelasin!!" Lian menarik lengannya.


"Aku capek.!!aku pengen pulang!" dia merasa wajahnya memanas, dan bodohnya dia menangis. Heiii yolah Kaila, itu belum tentu benar. Namun rasa takut kehilangan Lian membuatnya merasa sangat tersakiti.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.