Meet You Again

Meet You Again
Penyesalan



"Mamah, Dunda mey bobo?"


Gadis kecil itu akhirnya bertemu dengan orang yang di sebut matmahnya Bunda Miya.


"Bunda sakit Sayang" sahut Wita.


"Miya, sama Papah yuk ke tempat Kakek." Ajak Fatur. Dia sengaja memberikan waktu untuk Wita bersama Mey, meskipun Mey masih tak sadarkan diri Fatur yakin Wita pasti ingin bercerita banyak kepada sahabatnya itu.


Kala itu hanya sang Ayah yang menunggui Mey, sang Ibu sedang pulang ke rumah. Sudah tiga hari sejak Mey koma, kedua orang tuanya itu bergantian merawat sang anak di rumah sakit.


Melihat Juwita begitu sedih menatap anak gadisnya, sang Ayah permisi keluar. Sama seperti Fatur, Ayah ingin memberikan waktu dan ruang untuk Juwita berbincang bersama Mey.


Yah, meskipun hanya Juwita saja yang bisa terus bercerita. Siapa tau dalam komanya Mey dapat mendengar apa yang di katakan orang-orang di sekitarnya.


"Mamah Fatur sangat menyesali perbuatannya kepadamu Mey, makanya bangun dong. Kamu harus lihat betapa sedihnya dia melihat kamu terbaring seperti ini."


"Katanya dia nggak akan menjadi penghalang kalian untuk bersama lho, seneng kan kamu. Cieee yang sudah dapat lampu hijau buat jadi mantu" ada kesedihan di setiap kata-kata Juwita. Sangat berharap sahabatnya itu dapat bangun kembali.


"Aku juga bawa anak ku lho, dia panggil kamu Bunda. Kamu pasti suka deh sama Miya, dia anak yang ceria Mey" ujarnya lagi. Jemarinya menggenggam erat jemari sang sahabat yang tertidur begitu lelap.


"Aku mohon cepatlah sadar Mey, hatiku sangat sakit melihat kamu nggak berdaya kayak gini" isak tangis Juwita ita menggema di ruangan itu, dan Wita pun tenggelam dalam kesedihannya.


Tak terasa sudah banyak waktu terlewati, sudah waktunya Wita dan Miya pamit pulang. lambaian tangan Miya menjadi tanda perpisahannya bersama Fatur. Sebelum pergi gadis kecil itu mengecup kedua pipi Mey"Dunda...iyya puwang ya. pay-pay."


Di sudut ruangan lain, Mega masih belum berani berhadapan langsung dengan Mey. Meskipun gadis itu tak akan tau akan kedatangannya, Mega masih sangat merasa malu menghadapinya secara langsung.


"Fatur, Mamah nggak akan menjadi penghalang kalian lagi." Tatapan Fatur malah terasa menyakitkan baginya. Kedua mata itu menatapnya tajam, menusuk relung hati terdalamnya.


"Mamah benar-benar menyesal, tolong jangan menatap Mamah dengan pandangan seperti itu Nak" sejak Mey koma sikap Fatur kepadanya sangat menyakitkan. Sang putra jadi jarang bicara, namun membalas rasa sakit di hatinya dengan tatapan menghujam, nan menyakitkan hati Mega pula.


"Pah" lirih Mega kepada Baskoro.


"Papah bisa apa Mah?. Mey bagaikan malaikat penolong Papah, sangat nggak adik jika Papah membela Mamah dalam hal ini" Baskoro yang masih menggunakan kursi roda sebenarnya sangat ingin menemui Mey, dia sangat ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada gadis baik hati itu.


"Semoga Tuhan punya rencana yang indah untuk mu Mey" doanya dalam hati.


"Pah, rutin minum obatnya ya. Jangan sia-sia kan pengorbanan Mey" ucap Fatur lirih sebelum dia meninggalkan kediaman Baskoro.


Seperti biasa sebelum pergi dia selalu mencium tangan kedua orang tuanya. Dalam duka dan rasa kesal terhadap Mega ,Fatur tetap berusaha menjaga rasa hormatnya kepada kedua orang tua.


Kabar komanya Mey sampai kepada Mr.Arata.


Big bos itu langsung terbang ke Indonesia. Kali ini Kotaro juga turut hadir bersamanya. Di sanalah dia bertemu dengan Fatur dan mengungkapkan niatnya untuk berinvestasi kepada Trifam. Tentu saja hal itu membawa angin segar bagi Trifam Company.


"Mey memegang kendali besar dalam bisnis ini" ujar Mr.Arata.


"Dia bahkan sudah mengirim hasil penelitiannya tentang produk kalian. Bagaimana jika kita langsung mengadakan rapat tentang hal ini" dengan pelan Mr.Arata berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia kepada Fatur. Meskipun sesekali terbata-bata namun setiap perkataannya dapat di pahami.


"Itu sangat bagus Mr, besok pagi kami akan menyambut kedatangan anda di perusahaan" sahutnya dengan senyum ramah.


Sekali lagi Mey menyelamatkan keluarganya. Tinggal selangkah untuk menjalin kerjasama bersama Mr.Arata. Dengan begitu Trifam Company akan berdiri kokoh kembali.


"Aku sempat berniat menjodohkan Mey dengan anak sahabatku, dengan tegas namun sopan Mey menolak niat baik ku itu. Ternyata kamu alasannya" tatap Mr.Arata kepada anak muda di hadapannya.


Fatur tergerak untuk mengungkit bagaimana kehidupan Mey di negeri orang itu. Dia pun menanyakan bagaimana langkah awal sang kekasih di sana.


"Seperti pisau dapur yang hanya bisa memotong sayuran, Mey terus mengasah diri hingga menjadi pedang Samurai, yang dapat menghabisi musuh dalam sekali tebasan" pria paruh baya itu mulai menceritakan perjuangan Mey bertahan di negerinya.


"Dalam kurun waktu yang cepat dia dapat menguasai dua bahasa asing sekaligus" tambahnya.


"Pantas saja bahasa jepangnya sangat lancar Mr" sahut Fatur.


"Kamu pernah mendengar dia berbahasa Inggris?? "tanyanya kepada Fatur.


"Belum Mr"


"Hehehe. Terus terang saya sangat suka mendengarnya. Lagaknya bagaikan orang barat asli, dengan logat amerika kekinian, dia juga banyak di gemari klien-klien saya lho" kenangnya lagi.


"Terus bagaimana dengan anak sahabat Mr yang akan di jodohkan dengan Mey?." Ada rasa penasaran yang menggebu, tentang pria Jepang yang nyaris merebut kekasihnya itu.


"Namanya Tendo Watanabe. Usianya lebih muda dari Mey, namun sepak terjangnya dalam dunia bisnis cukup di perhitungkan."


" Kala itu dia kalah berdebat dengan Mey dalam sebuah rapat, hal itulah yang membuat dia jatuh hati kepada Mey" dengan tenang dan santai pria paruh baya itu terus bercerita panjang lebar kepada Fatur.


Fatur semakin penasaran, tanpa menyela dia mendengarkan cerita Mr.Arata dengan seksama.


"Hahaha, kau tegang sekali" goda Mr.Arata.


"Hehehe, perjalan cinta kami sangat berliku liku Mr. Sungguh sebuah keberuntungan besar dia kembali kepada saya" pria muda itu tersipu mendapat guyonan dari seorang big bos.


"Jadi Mr, apakah mereka pernah menjalin hubungan?, atau jalan bersama di akhir pekan mungkin" pertanyaan Fatur semakin membuat Mr.Arata terkekeh.


''Tuan, calon menantu anda membuat hati saya geli. Maaf jika saya berisik ya" godaan demi godaan terus di layangkan Mr.Arata kepada Fatur.


Ayah Mey ikut tertawa mendengar percakapan mereka. Dari tadi sang Ayah hanya duduk manis di samping Mey, mendengarkan obrolan mereka sambil memijat jemari-jemari kecil Mey.


"Sepertinya pria jepang itu cukup menarik juga Mr" goda Ayah Mey pula.


Sontak Fatur menekuk wajahnya. Tingkahnya semakin membuat mereka tertawa.


Di tengah tawa mereka, kedua mata Mey sebenarnya sudah terbuka beberapa saat yang lalu. Tepat saat sang Ayah ikut mentertawakan tingkah Fatur.


Namun tak satupun dari mereka menyadari hal itu.


"Jadi gimana Mr, mereka sempat jalan bareng nggak??" Fatur sudah melupakan rasa malunya terhadap Ayah Mey, juga terhadap Mr.Arata.


"Ya jelas dong, mereka bahkan sering makan malam bersama" sahut Mr.Arata penuh semangat. Kemungkinan besar mereka sudah berpacaran" ujarnya lagi dengan senyum di kulum.


"Bohong!" ujar Mey pelan. Suaranya sangat pelan namun dapat mereka dengar dengan jelas.


"Kamu sudah bangun?" pekik Mr.Arata.


Ayah Mey langsung menekan tombol pemanggilan perawat. Nggak lama kemudian Dokter dan perawat bergegas ke kamar inap Mey dan memeriksanya lebih lanjut.


To be continued


~~♡♡ happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.