
Dengan malas mey bersandar di muara pintu kamar mandi.
Fatur nampak ketawa-ketiwi bercanda dengan Ibu di meja makan. Seperti Ibu adalah orang tuanya, ada rasa kesal juga rasa iri menggerogoti relung hati. Kenapa Ibu begitu mudah menerima kehadiran Fatur, sedangkan Mega..., ah! sudahlah!.
"Maunya apa sih ni cowokk!!" mengerang Mey sambil lewat di hadapan mereka.
"Cepetan Mey!!. Ini udah siap nasi gorengnya" si Ibu baru ketemu udah akrab aja sama si duda. Saking kesalnya Mey sampai nggak bisa menjawab perkataan Ibu.
Brak!!. Pintu kamar di tutup rapat. Saat itu dia melirik jam di meja hias..07:15.
"Buseettttt!!" terpekik gadis ini ngacir ke dapur lagi.
"Ibu, masukin kotak bekal aja. Ini sudah jam tujuh lewat. Sebelum jam delapan Mey sudah harus masuk kantor, Bu!." Usai berceloteh cepat, Mey buru-buru kembali ke kamar lagi.
"Bocah sengklek" Ibu mengomel. Baru juga hendak mengemas nasi goreng ke dalam kotak bekal, terdengar lagi suara riuh kaki gadis itu.
"Punya Fatur juga, Bu. Enggak usah kasih timun, nggak bakal di makan" dan dia ngacir ke kamar lagi.
Fatur hanya bisa tertawa melihat kelakuan Mey pagi ini. Dia seperti anak kecil yang mondar-mandir, buru-buru mau berangkat sekolah.
"Sudah lama Nak Fatur pacaran sama Mey?."
"Dia orangnya cuek lho. Tapi sepertinya ngerti banget sama kebiasaan kamu" tanya Ibu.
"Sudah lama banget, Bu" ada desah putus asa dalam suara Fatur.
"Ibu baru tau kalau Mey selama ini udah punya pacar. Ibu minta maaf ya sama sikapnya. dulu dia nggak judes begitu, sikapnya berubah setelah balik dari Jepang" si Ibu nggak nyadar tuh kalau Fatur-lah penyebab anak gadisnya berubah drastis.
"Enggak lah, Bu. Saya mah mau dia seperti apa pun akan tetap suka kok" begitulah kata-kata manis yang di lontarkan Fatur. Membuat emaknya si Mey jadi makin greget sama calon mantu.
Nggak berapa lama Mey muncul dan bergegas mengambil kotak makan"Kunci mobil di mana ya, Bu?. Ada liat nggak?."
"Mana Ibu tau, kamu sih sembarangan" celingukan mencari-cari.
"Aku aja yang anterin, entar pulangnya aku jemput" bener-bener hoki si Fatur hari ini. Niat hari hanya ingin bertemu, eh punya kesempatan untuk mengantar dan menjemput sang gadis pujaan hati.
"Enak aja!!, enggak ah" buru-buru Mey balik ke kamar. Mencoba mencari kunci mobilnya.
"Nanti telat lhooo, udah hampir jam delapan" Fatur sengaja membuat Mey terdesak.
"Aisshh!" terdengar gadis ini mendesis"Ya udah, buruan!!buruan!!" Mey salim tangan Ibu terus langsung ke depan.
Mengikuti apa yang Mey lakukan, Fatur pun mengambil tangan Ibu dan mencium punggung tangannya. Sungguh, senyumnya nggak pernah tenggelam pagi ini.
"Hati-hati ya Nak Fatur!!" ujar Ibu dari teras rumah..
"Siap Ibu" Fatur melambaikan tangan, udah seperti perpisahan Romeo dan Juliet aja. Sedangkan Mey udah seperti banteng yang di colok hidungnya.
"Kamu-----, puas kamu?!" giginya bergerutuk menatap horor kepada Fatur.
"Selow Sayang, selow. Ini nggak sepenuhnya salah aku ya."
"Kalau kamu nggak nyuekin aku, aku nggak bakal nekat ke rumah kamu" sambil fokus menyetir si Fatur coba menenangkan si banteng betina yang marah.
"Ponsel----, aish ponsel aku!!" Mey kesal sekali.
"Kenapa ponselnya?".
"Ketinggalan di kamar, tadi aku simpen di bawah bantal."
"Di bawah guling" lanjut Mey.
"Di bawah selimut juga" bibirnya hampir lecet di gigitin melulu karena kesal.
"Kualat sih, pasti habis baca pesan aku tadi kan!. Makanya Kalau aku yang kirim pesan itu di balas. Jangan di cuekin" senyum tipis menghiasi wajah Fatur yang berseri.
Cekit!!!! mobil terhenti mendadak.
"Kok berhenti?!"
"Kita bahas hubungan kita dulu, biar makin jelas" raut serius terlihat jelas di wajah Fatur.
"Sambil jalan, kita ngomong sambil jalan" pinta Mey.
"No!" Fatur geleng-geleng.
"Ayolah Fatur!!." Mey melirik jam tangan"Ya elah, udah jam delapan lewat!!."
Gadis itu menundukan kepala, capeknya baru kerasa"Aku mau nelpon ka Rio, ponselnya ketinggalan" ujarnya menyandarkan diri.
"Sudah deh, ayo ngomong. Aku sudah telat ke kantor, sekalian aja bolos. Paling juga di kirim balik ke jepang gara-gara nggak disiplin waktu."
"Amit-amit" gumam hati Fatur. Dengan terpaksa dia merogoh ponsel di saku kemejanya"Nih, aku punya nomer Rio. Minta ijin atau bilang aja sakit, jadi nggak bisa masuk kerja."
"Apa kata ka Rio kalau aku menelpon pake ponsel kamu?" Mey malas menatap Fatur. Dia lebih memilih menarik napas dalam-dalam, menatap kembali ke luar jendela mobil.
Di luar dugaan Mey.....
"Ka Rio, Mey akan telat sampai ke kantor. Sekarang lagi on the way,ada sedikit kendala di rumah tadi." Fatur ngomong langsung sama Rio. Membuat Mey membulatkan kedua mata.
"Iya, bentaran doang, baru juga di jalan depan rumahnya" ujar Fatur lagi.
"Hemm, oke ka, Thanks ya" dan panggilan berakhir.
Mey menatap khawatir Fatur"Segitunya cemasnya, Rio nggak bakal mati karena cemburu" dengan kesal Fatur melempar ponselnya ke kursi belakang, dan mobil melaju dengan sangat cepat.
"Tur, jangan ngebut. Kan udah ijin."
"Kamu ada rapat mendadak, di tunggu dua puluh menit lagi" bernada datar, tatapannya lurus ke depan. Sepanjang perjalanan fatur hanya diam.begitu juga Mey.
"Kemana Fatur yang cengengesan tadi??" batin Mey bertanya.
Secepat kilat Mey sudah sampai di depan Zaid Company. Fatur keluar dan membukakan pintu. Sebelum membiarkan Mey keluar dari mobilnya, dengan cekatan dia melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Mey. Otomatis tubuh mereka berdekatan, aroma Guess Seduktive tercium manis oleh Mey"Shhitt!!wangi ini lagi." Rutuk sang hati.
Demi menenangkan diri, Mey hampir tak bernafas di hadapan Fatur, dan tanpa memberi jeda Fatur langsung mencium bibis manis Mey sekilas. Membuat
wajahnya merona, cepat-cepat gadis ini turun dari mobil.
"Mey, tentang hubungan kita, meskipun bertahun-tahun berpisah kita nggak pernah mengucap kata putus. Dan sampai detik ini kamu adalah kekasih aku dan aku kekasih kamu. Aku harap kamu akan selalu mengingat hal itu, di mana pun dan kapan pun!!" tatapan tajam Fatur menusuk jantung Mey.
"Nanti sore aku jemput di sini, awas kalau kamu kabur, aku akan menunggu di rumah kamu" semakin kelihatan galak ini cowok, tiba-tiba bersikap tegas.
"Nggak usa-----"
"No!!, aku nggak menerima penolakan kamu" Fatur memotong kata-kata Mey.
Mengambil langka maju mendekati Mey,
mengelus rambutnya dengan lembut. Tak luput dia mengatur rapi poni Mey yang pagi ini nggak sempat dia sisir ke samping seperti biasa.
"Sudah!. Kerja yang benar, jangan telat makan siangnya" ucapannya kembali lembut dan dengan lembut pula dia mengelus pucuk kepala Mey. Membuat rona merah semakin bertambah di wajah gadis kesayangannya itu.
Mey pun meninggalkan Fatur yang masih menatapnya dari belakang. Dan betapa terkejutnya Mey ketika sosok Rio berdiri tegap memandangi mereka, di depan pintu utama Zaid Company.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen.
Salam anak Borneo.