
Keputusan Ayah Hermanto sungguh nggak bisa ditawar lagi, meski sedih pria paruh baya itu tetap mengatakan kepada sang putra, untuk segera angkat kaki dari kediaman mereka.
Jova menunggu Vino yang masih berkemas di kamarnya. Wanita ini nggak punya keberanian menunggu Vino di dalam rumah. Udara malam yang dingin terasa lebih cocok dengan tubuhnya yang masih terasa panas karena bertemuan tadi. Dirinya yang biasa galak dan lugas kali ini mencit setelah bertemu dengan kedua orang tuaku sang kekasih.
"Pulang-pulang bawa brondong. Malah di serahin seutuhnya pula. Di ancam jangan sampe di tinggalin, aku mimpi apa sih sampe ketiban Vino behini" Jova menggosok-gosok ujung sepatunya di atas tanah.
"Jadi....kami akan benar-benar menikah? dengan aku yang lebih tua dan dewasa di sini?" gumamnya lagi. Sempat merasa terbebani dengan keputusan telak Ayah Hermanto, setelah berpikir panjang sudut bibir Jovana menukik naik, wanita ini tersenyum kecil. Setelah ditela'ah lebih dalam, mungkin dengan menikah gunjingan para tetangga kepadanya akan berhenti.
Selagi Jova bergumam sendiri di samping mobil, Vino hampir selesai mengemasi barang-barangnya. Nggak lupa laptop dan beberapa alat elektronik juga berniat dia bawa. Rasanya akan mubajir apabila barang-barang berharga itu dia tinggalkan di kediaman ini.
"Nggak akan aku tinggalin kalian di sini" Vino berucap pada barang-barang itu. Kesal karena secara tidak langsung di buang oleh sang Ayah, dia berniat membawa apa saja yang mampu di bawa malam ini.
Ingin memeriksa kesiapan sang putra meninggalkan kediamannya"Semua barang ini mau kamu bawa??" ujar Ayah Hermanto saat melihat hampir tak satupun yang tersisa di kamar Vino. Vino menghancurkan perkataan sang Ayah, seolah tak mendengar ucapan itu.
Melirik Vino"Kenapa nggak sekalian kamarnya aja yang di bawa ke rumah, Jova."
"Maunya sih gitu Ayah, kalau bisa. Sayangnya hal itu mustahil. Kecuali kalau Vino punya peliharaan jin dari timur tengah" terdengar merajuk. Rasa kesal dan lucu bercampur satu dalam diri Hermanto. Tingkah Vino benar-benar seperti anak kecil.
Berjalan mendekati perabotan yang telah dikemas oleh Vino"Ini televisi besar Mau dibawa juga??. Memangnya semuanya bisa kamu bawa sekalian."
"Iya dong. Ini semua kan barang-barang Vino, ini semua di beli sama uang gaji Vino. Kalau ditinggalkan di sini, Ayah yakin akan merawatnya untuk Vino?."
"Ya enggak lah. Mending di jual, jadiin duit" sahut Ayah cuek memilih perabot miliknya.
"Ayah!! kok semuanya mau dijual?!. Vino ini mau menikah, tapi kenapa harus dibuat sengsara seperti ini?!" sungguh emosi itu mati-matian di tahan, namun sang Ayah begitu getol memancing amarahnya.
"Gantung aja Vino Yah!" seraya mengulurkan kabel mouse pada Hermanto.
Tersenyum nakal Hermanto dengan cepat melingkarkan kabel mouse ke leher Vino"Yakin mau di gantung dengan kabel ini?. Lagak mu Vin! pake merajuk segala!."
"Ayah jahat. Sama anak sendiri kok kejam banget."
"Besok aja suruh orang mengangkut semuanya. Malam ini kamu bawa barang seperlunya aja dulu. Ayah nggak sekejam itu kamu kok Vin!!."
Suasana hening untuk beberapa saat, kemudian..."Ayah, maafin Vino."
"Huh!,basi. Sudah telat. Sana buruan pulang ke rumah kamu" Hermanto mendorong pelan tubuh Vino, agar segera pergi menjumpai Jovana di luar.
"Jaga diri baik-baik ya. Maaf ayah nggak bisa membiarkan kalian menikah dengan pesta yang meriah" tiba-tiba Ayah bersikap melunak kepada Vino.
"Ini semua demi kebaikan kita" ujar Ayah mengimbuhi.
"Vino ngerti kok Yah." Penuh haru Vino memeluk Ayahnya. Namun ada kata-kata yang dia bisikan di telinga sang Ayah hingga membuat Hermanto melepaskan pelukan itu.
"Secepatnya Vino bakal bikin cucu buat ayah, tapi ayah harus membayar mahal kalo mau ketemu sama Vino junior" begitu bunyi bisikan Vino. Hahaha, nggak lupa dia tertawa menatap Ayah.
"Bandel ya bandel aja, berani mengancam Ayah kamu" serangan bertubi-tubi mendarat di tubuh Vino. Nggak tahan dengan serangan Ayah, brondong tunggal ini ngacir membawa koper besar dari hadapan sang ayah.
Di bawah tangga Bunda, sesenggukan menunggu Vino.
"Jangan nangis terus dong Bund, masih satu kota kan kita!!" pelukan Vino menambah sedih hati Bunda.
"Kalau Vino pergi Bunda kesepian ya?" pertanyaan Vino diangguki Bunda.
"Ya udah, bikin adek buat Vino aja, biar Bunda nggak kesepian." Karena ucapan ini Vino kembali mendapat serangan bertubi-tubi, dan kali ini dari Bunda.
Setelah berpamitan Vino pun melangkah keluar dari kediamannya. Melewati gerbang besar rumahnya dan berjalan ke arah mobil yang di parkirnya di seberang jalan.
"Duhai Sis Jovana,tolong pungut aku!!"ujarnya berpura-pura sedih. Padahal dia hatinya benar-benar lara saat ini. Wajahnya seketika terlihat ceria saat Jova mencebik, meski hati nggak bisa di bohongi.
"Nggak lucu, buruan!."
"Barang-barang aku masih banyak di dalam sana" ujar Vino lagi.
"Kan masih bisa di ambil besok, Sayang" lama-lama Jova kehabisan kesabaran menghadapi Vino.
"Iya deh. Tapi kamu jangan marah-marah terus ya. Aku sudah nggak ada tempat lagi nih, sekarang aku hanya punya kamu, tempat bersandar dan berkeluh kesah."
"Lebay banget sih, Vin!!. Sebenarnya yang cewek di sini aku apa kamu sih, dari tadi kamu mewek melulu. Seharusnya aku dong yang sedih" celotehnya.
"Bayangin, aku harus ngurusin kamu setiap hari. Bahkan nggak boleh ninggalin kamu, beban berat banget kan itu!"Jova meletakan koper ke kursi belakang dan duduk di kursi supir.
"Mendingan kamu diem deh. Aku aja yang nyetir, masalah mobil ini ggak pa-pa deh di sita. Kita masih ada mobil aku kok buat kemana-mana, meskipun nggak se-mewah mobil kamu ini."
Vino menatap Jova yang terus mengoceh.
"Aku miskin lho sekarang, Sayang" nampak keseriusan dari kata-katanya.
"Ya kerja dong. Kalau kamu nggak bisa menghasilkan uang tinggal di rumah aja, jadi tukang cuci piring aku!!" sahut Jova sembari menyalakan mobil.
"Biar kamu nggak tajir lagi, kamu masih bisa belajar masak buat aku. Biar aku yang kerja di luar, kamu urusin rumah."
Tersenyum lebar, Vino senang bukan kepalang. Jova punya cara sendiri mengungkap sayangnya kepada Vino.
"Terus kalau aku nggak bisa ngapa-ngapain lagi gimana??"
"Ya udah, diemin aja!. Makan nggak makan terima aja. Bukannya Ayah kamu tadi menyuruh kita untuk menikmati cinta ini."
Hahahah, Vino malah ngetawain Jova. Nampaknya tekanan kedua orang tuannya bukan apa-apa bagi Jova. Sejatinya Jovana memang wanita yang kuat dan tegar.
"Baiklah, aku yakin akan baik-baik saja selama aku sama kamu, Sayang" ujar Vino menatap Jova.
Mobil pun terus melaju di jalanan yang mulai sepi. Pertemuan tadi ternyata memakan banyak waktu. Nggak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22:25.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.