
Suasana taman kota nampak sangat ramai pagi ini. Seperti biasa, kalau pagi minggu para pedagang akan berlomba menjajakan dagangannya. Mulai dari makanan, minuman , sayur, sembako, sampai perabot rumah tangga sekalipun. Taman kota yang memiliki empat ruas jalan itu seketika berubah menjadi pasar.
Seorang pria berlari kecil ke dalam area taman. Keramaian jalanan membuatnya nggak leluasa berlari lagi ini.
Dia memilih menggunakan sarana olah raga umum, yang di sediakan pemerintah daerah di area taman.
"Cari keringat di sini aja deh" gumam nya sambil duduk di Double sit up berwarna kuning. Sempat beberapa kali dia melakukan sit up seorang gadis yang nggak asing baginya datang menghampiri.
"Hai, sudah aku duga. Kamu nggak akan melewatkan olah raga pagi meskipun jalanan di sana di penuhi pengunjung. Makanya aku berinisiatif mencarimu ke sini."
"Hehehe, badan aku pegel-pegel kalau nggak olah raga. Sudah kebiasaan sih. Kamu juga gitu deh kayaknya" Lian kembali melakukan aktivitasnya.
"Iya sih, kalau nggak sempat olah raga pagi , malam atau sorenya aku sempetin mampir ke Gym. Yah cari keringat sedikit lah" ujar Rani sambil memperhatikan Lian.
Pria di hadapannya itu berperawakan bugar. Meskipun mengenakan kaus oblong jumbo, sesekali otot perut itu mengintip ketika dia melakukan sip up.
"Hm, aku sepedaan aja deh. Sudah capek bikin otot kaya kamu."
"Eh, sudak capek?. Memang kamu punya otot?" Lian hampir tergelak mendengar ucapan Rani. Spontan dia menghentikan olah raganya dan duduk kembali.
Rani saat itu mengenakan kaus longgar berwarna hitam, dengan legging pendek se-lutut. Kalau di pandang bentuk tubuhnya memang bagus, tapi nggak mengarah ke pembentukan otot. Begitulah pandangan Lian.
"Ooo, jadi kamu pikir cowok aja yang punya otot perut?. Cewek juga punya kok" sahut Rani cuek menaiki sepeda statis.
"Iya-in aja deh" Lian lanjut olah raga yang lain. Dengan wajah seakan mengejek, dia melempar senyum kepada Rani.
Lagi-lagi senyuman manis itu, salah satu pesonanya yang membuat Rani tertarik untuk mengenalnya lebih dalam.
Merasa di remehkan Rani turun dan mendekati Lian"Aku juga punya ini kali Lian!."
Lian terkaget, wanita yang baru di kenal nya sekitar sebulan ini nggak canggung mencubit perutnya.
"Waw, main cubit aja" Lian balas menarik ujung rambut hitam Rani. Interaksi mereka layaknya pasangan yang yang sedang saling goda.
"Heheheh makanya jangan menilai orang dari penampilan Lian. Aku juga suka olah otot. Awalnya cuman iseng, tapi pas ngeliat hasilnya aku malah ketagihan" lanjut Rani.
"Biasa nge Gym di mana kamu, sepertinya kita nyambung deh. Kapan-kapan nge Gym bareng yuk."
"Nge Gym di Fit and Fres Samuel. Di sana ada sauna nya juga, tempatnya nyaman."
Lian tau tepat itu tapi belum pernah ke sana. Lian jadi tertarik untuk mengenal Rani lebih dekat. Mereka pun semakin larut dalam obrolan mendalam, dari obrolan itu terungkaplah bahwa Rani seorang karyawan bagian pemasaran di perusahaan Zaid. Satu profesi sama Lian nih, makin ngambung obrolan mereka, hingga berlanjut ke rutin nya berbalas pesan.
"Entar sore jadi nge Gym barengnya??" pesan terkirim kepada Rani.
"Iya dong, sampai ketemu di sana ya" balas Rani.
"Wokehh!!."
Seulas senyuman terbit di wajah Lian. Vino yang kebetulan lewat menghampiri meja yang dia tempati di kantin"Bahaya lho kalau senyum-senyum sendiri. Horor tau!."
"Orang senyum ada sebab yang jelas kok" Lian meletakan ponsel dan menyeruput Dalgona nya.
"Jelas dong harus aja alasannya. Kalau kamu senyum tanpa sebab makin bahaya tuh, berarti otak kamu rada-rada gitu"Vino nyengir, Eh kamu lihat iat ayah aku nggak?."
"Nggak somplak!!" Lian kesal dengan ucapan Vino barusan.
"Ngapain cari om Hermanto?, mau minta jatah?, kan kamu nggak boleh ngadu sama om lagi Ember."
"Beli mobil baru gih" se-enaknya mulut Lian berucap. Dia nggak tau kalau Vino lagi menghemat demi masa depannya sama Jova.
"Mulut kamu nggak ada rem nya kali ya. Kalau cuma ngomong mah aku juga bisa. Kan kamu tau aku sekarang cuma dapat gaji kerja. Uang jajan aku udah di pangkas rata, gimana mau beli mobil, Pancii" gerutu Vino kesal.
Lian meletakan cangkir dalgonanya..
👀👀...
💡!!
"Kredit mobil aja, entar aku gembor-gemborin deh sama tante sama om. Terus aku bakal buka rahasia nih ceritanya, tentang masalah kalian bergilir mobil ini. And Bla Bla Bla...."Lian mulai mengatur strategi.
Vino manggut-manggut mendengarkan rencana per-rencana yang Lian atur. Untuk kali ini mereka berdua nampak akur sekali.
Di sudut lain dalam gedung perkantoran yang megah itu, adalah seorang duda yang sedang bercengkerama melalui Video Call dengan anak semata wayang nya.
"Tantik Papah??" tanya Miya memamerkan dirinya yang sedang mengenakan kerudung berwarna cream milik sang Mamah. Dan tentu saja itu kebesaran untuknya.
"Wuaahhh, cantik sekali anak Papah. Memang Miya mau memakai kerudung?."
"He-em" jawabnya mengangguk lucu.
"biak santik kayak Mamah tuh" ujarnya menunjuk Juwita dengan memanyunkan bibir nya.
Fatur sangat gemas melihat tingkah Miya. Nggak terasa dia mulai sedikit jelas mengucapkan kata-kata. Terbesit kerinduan di hati Fatur. Semenjak kepindahan mereka, dia belum pernah mengunjungi kediaman mereka di pedesaan sana.
"Papah ngomong sama Mamah boleh?" tanya Fatur.
"Oke papah" sahutnya manis dan memberikan ponsel kepada Wita. Setengah berlari dia menghampiri Juwita yang sedang mencampur tanah dengan pupuk di halaman rumah.
"Kenapa sayang" suaranya terdengar pelan.
"Papah Miya" ujarnya menunjukan wajah Fatur di layar ponsel sang Mamah.
Wita tersenyum"Sebentar ya, aku cuci tangan dulu" wanita yang kini mengenakan hijab itu bergegas mencuci tangannya, dan segera menerima panggilan Video Call dari Fatur.
"Oh, jadi ini nih yang bikin Miya pengen memakai kerudung juga" Fatur memulai obrolan.
"Hehehe, aku cuman pelan-pelan berbenah diri Fatur. Gimana kabarmu sama Mey?" yang terbesit di pikiran Wita ketika melihat Fatur hanyalah Mey. Sahabatnya.
Dan Fatur pun menceritakan keadaan mereka kepada Wita. Fatur juga berniat mengunjungi Villa yang mereka tempati di akhir pekan. Dengan senang hati Wita akan menerima mereka.
Mereka?. Iya, Juwita ingin Fatur mengajak Mey bersamanya nanti. Dia ingin mengenalkan Miya kepada Mey. Awalnya Fatur menolak, namun Juwita memohon sangat kepadanya. Juga Kaila, dia juga meminta Fatur mengajak Kaila. Sekalian jalan-jalan. Begitu ujarnya membujuk Fatur.
Fatur menyetujui keinginan Juwita. Namun dia belum berani memastikan mereka akan ikut serta. Mengingat hubungan mereka yang kacau di masa lalu, Fatur ragu akan kesediaan mereka mengunjungi Juwita.
Setelah panggilan selesai, Wita meletakan ponsel di sampingnya dan menatap halaman hijau berpagar kayu, yang mengelilingi kediamannya.
Villa milik keluarganya ini di bangun menggunakan kayu ulin. Berbaur dengan bangunan-bangunan lain di pedesaan kecil itu. Suasana di sana sangat berbanding terbalik dengan keadaan di kota, mereka di sini hidup dengan sederhana, juga penuh nuansa Islami. Hal itulah yang menuntun Juwita semakin mendekatkan diri kepada Allah sang maha pencipta.
To be continued..
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^ terimakasih atas segala dukungannya.
Salam anak Borneo.