
Berbeda dengan Vino yang girang bukan kepalang. Jova malah semakin bingung ketika mendengar kabar dari si brondong kinyis kinyis. Diajak untuk ketemu kedua orang tuanya?, kepergok memacari anak mereka saja sudah membuat Vona gemetaran. Bagaimana dengan langsung menemui mereka. Jova nggak yakin tubuhnya akan baik-baik saja, dia pasti akan tegang dan bermandi keringat saat itu.
"Ya Tuhan!!! gila aja sekali kepergok langsung pengen dikawinin" batin Jova. Memikirkan hal itu sudah membuat kepala Jova berdenyut, Apalagi benar-benar menikahi si brondong itu. Dia memang mencintainya tapi tingkahnya sangat petakilan, Jova nggak yakin rumah tangga mereka akan berjalan dengan aman dan damai.
Lagipula, meski sudah memasuki usia menikah Jova, masih merasa belum siap. Apalagi jika keluarga Vino tau bahwa dia nggak memiliki Ayah. Oh Tuhan, bisa-bisa nasib nya akan lebih parah dari Mey. Sebab, orang tua mana yang mau menikahkan anaknya dengan wanita tanpa Ayah. Tentu tingkah laku Ibunya di masa lalu sangat dipertanyakan, apakah dia perempuan baik-baik atau...
Sungguh, terjebak dalam situasi seperti ini sangat menyesakan baginya.
Flasback beberapa tahun silam.
Seorang gadis pekerja **** yang menjalin hubungan terlarang dengan suami orang. Kekayaan si lelaki yang berlimpah telah membutakan mata hati.
Mira, nama gadis itu. Dia tinggal di sebuah apartemen mewah yang di berikan sang kekasih. Perlahan dia meninggalkan pekerjaan utamanya dan fokus hanya kepada sang kekasih. Memenuhi nafsu bi*ahi yang terus memuncak setiap hari.
Namun siapa sangka, istri sang kekasih memiliki otak yang jauh lebih pintar dari sang suami. Hubungan mereka terbongkar, dan dengan tegas sang istri sah akan menceraikan suaminya jika masih berhubungan dengan Mira.
Semua kekuasaan ada di tangan sang istri, karena suami itu sejatinya adalah gembel yang di angkat derajatnya oleh sang istri.
Dengan terpaksa Mira di tinggalkan. Seluruh aset yang dia miliki di ambil kembali. Kebutuhan hidup membuatnya kembali ke pekerjaan awal, menjajakan kembali cinta dan tubuhnya. Berganti pasangan setiap hari, bercinta setiap nafsu b*rahinya menggebu-gebu. Hingga akhirnya dia pun mengandung.
Dengan profesi itu siapa yang bisa mengungkap Ayah dari janin yang di kandungnya?, sedangkan bermacam rupa pria telah puas mencicipi kenikmatan tubuhnya.
Dengan putus asa dia menenggak bermacam obat penggugur kandungan. Bermacam cara dia lakukan agar sang janin berhenti berkembang dan mati. Namun Tuhan berkehendak lain. Dia jadikan janin itu kuat dan sehat.
"Rosa, aku nggak bisa menerima anak ini. Aku sudah melakukan bermacam cara, apa yang harus aku lakukan?. Aku nggak bisa bekerja dalam keadaan hamil begini. Mira merasa sangat terbebani, wanita penghibur ini benar-benar menolak anak itu.
"Kakak, Tuhan punya rencana lain. Anak ini harus lahir, kamu harus menerimanya" Rosa membujuk Mira agar nggak menambah dosa-dosanya lagi.
Namun sang kakak berkeras akan tetap membuang janin itu. Rosa yang saat itu sedang mempersiapkan pernikahannya juga bingung apa yang harus dia lakukan.
Dan waktu terus berjalan, kandungan Mira semakin membesar. Hari-harinya di penuhi dengan kebencian. Selalu mengumpat dan mencaci maki anak dalam rahimnya. Hingga tiba saatnya melahirkan, tanpa rasa iba sedikitpun dia meninggalkan bayi perempuan itu di klinik bersalin.
"Untuk makanku saja susah, bagaimana aku bisa mengasuhmu!!" ujarnya.
"Aku harus segera bekerja lagi, aku sudah cukup bersabar menunggu kelahiranmu" usai mengucapkan itu dia pergi tanpa menoleh lagi pada bayi malang nggak berdosa itu.
Saat itu Rosa sedang berada di luar kota, dia nggak mengetahui Kakanya Mira telah melahirkan. Dan lebih malangnya lagi nggak ada yang mau mengasuh bayi yang Mira tinggalkan.
Seorang warga menghubungi Rosa, namun karena tugas suami mengharuskan mereka menetap di kota lain dengan terpaksa bayi itu di titipkan ke panti asuhan. Rosa bersedia mengirim dana setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan si bayi.
Bertahun-tahun bayi itu menjadi bagian dari panti asuhan. Nggak sekalipun dia bertemu dengan Ibu yang melahirkannya. Yang dia tau, dia hanya memiliki seorang tante yang rutin menelpon dan mengiriminya uang.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 15, sang tante hadir di hadapannya. Ini juga kali pertama mereka bertemu, penuh kasih sayang Rosa memeluk gadis malang yang di tinggalkan sang Kakak.
"Kamu ikut tante aja ya" ujar Rosa lirih.
Hari demi hari, gadis itu tumbuh semakin dewasa, dia menjadi pribadi yang tegar dan kuat mental. Banyaknya cemoohan yang dia terima sedari kecil, membuatnya jarang bergaul dengan masyarakat luas. Gadis ini cenderung menyendiri dan jarang berbicara. Sikapnya dingin, wajahnya selalu datar tanpa ekspresi. Bahkan ketika Rosa membawa Mira berkunjung ke panti asuhan dia nggak bereaksi sedikitpun. Apalagi sikap Mira yang acuh tak acuh kepadanya, membuat mereka seperti bukan Ibu dan anak.
Flashdisk off.
Trrtrr!!..trttt!!, Jova tersadar dari lamunannya.
"Ya?" ujarnya memberikan jawaban kepada sang penelpon yang ternyata adalah Vino.
"Sayang, kamu sudah siap?. Aku akan menjemputmu sekarang, ya?."
"Sebentar, sejujurnya aku belum bersiap-siap. Ini aku juga baru mau mandi, lebih baik kamu sambil jalan aja ke sini." Ujarnya Seraya mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi.
"Oke cantik. Dandan yang cantik ya, sebentar lagi aku akan sampai."
Entah kenapa waktu terasa sangat lambat berlalu bagi Jovana. Setelah berkali-kali mengatur napas demi menenangkan diri, akhirnya Jova telah berada di kediaman Vino. Berhadapan langsung dengan kedua orang tua si brondong kinyis-kinyis.
Dirinya bagaikan dikuliti, sebab Bunda sampai tak berkedip menatap dirinya. Seorang wanita berambut pirang dengan tampilan jauh dari kata feminim. Terlihat meskipun samar, wanita paruh baya itu menggelengkan kepala.
Saat itu Jova mengenakan celana jeans hitam dengan atasan abu-abu berlengan pendek. Dia memegang jaket denim di pangkuannya.
Mata Bunda juga mendapati Jovana mengenakan sneakers, sangat berbeda dengan cewek-cewek di luaran sana yang sangat suka berdandan dan mengenakan sepatu hak tinggi
"Penampilannya sangat nggak feminim" bisik hati bunda.
Sementara Hermanto, pria paruh baya ini nggak mempermasalahkan penampilan Jovana, dirinya lebih fokus pada Informasi pribadi sang calon menantu.
Usai berbasa-basi sedikit, sampailah pada pertanyaan kedua orang tua ini. Tubuh Jova mendadak panas dan dingin secara bersamaan, andai saja dia bisa kabur dari tempat ini sekarang juga.
Melihat itu, Vino menggenggam jemari kekasihnya dan membantu menjawab pertanyaan Ayah.
"Mamahnya single parents" jawab Vino.
"Bagaimana bisa?" cerewetnya Bunda kambuh. Ada begitu banyak hal mengejutkan tentang Jovana, yang membuat Bunda nggak bisa menahan diri.
Seraya maremat jemarinya di dalam pangkuan"Saya di besarkan di panti asuhan, tante. Mamah saya nggak menikah" ucapnya pelan.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.