
Mobil Fatur akhirnya tiba di halaman rumah Mey. Lian dan Ben sudah hadir duluan ke acara itu. Mengingat Ben dan Jova harus bergiliran memegang kendali di Bar.
"Cieee, yang di tunggu udah nongol nih!!". Goda Lian.
"Ehem, ehem. Aku mah langsung sah aja dah." Ben ikut menggoda Fatur.
Rasa penasaran menggelitik Fatur untuk segera masuk ke dalam"Tur, sini dulu deh. Kamu udah kasih tau Wita?."
Fatur melirik Ben"Kasih tau apaan?."
"Hmm, aku mau ngomong apa ya??" Ben malah berpura-pura kehilangan ingatan.
"Anu----Tur" Lian diam sejenak.
"Anu apaan?..Wah, pasti ada yang nggak beres nih" dengan bengongnya Lian dan Ben, Fatur semakin yakin telah terjadi masalah di sini.
"Enda cakep, uncle mau nanya nih" di dekatinya anak lelaki yang sedang asik menikmati cemilan, di samping sang Ayah.
"Iya uncle" jawabnya manis.
"Ayah sama uncle Lian kenapa nih..??"
"Nggak tau uncle" jawab Enda lagi.
Fatur merasa dia harus segera masuk ke dalam. Pria tegap itu baru saja melangkah ke ruang tamu, ketika tepuk tangan riuh terdengar begitu meriah menyambut kedatangannya.
"Meriah amat, kayak mau lamaran aja!" ujarnya sembari salim tangan Ayah dan Ibu Mey.
"Lihatkan, sudah ada feeling dia. Pasti udah konfirmasi juga sama Mamahnya."
Fatur semakin bingung dengan perkataan Kaila.
"Apaan sih La, jangan bikin penasaran deh."
"Mamah kamu mengirim hadiah untuk Mey" jelas khoiril.
"Tadi katanya titip salam aja pak, nggak taunya ngirim hadiah" sahut Fatur polos. Dia nggak menunjukan prilaku aneh yang menjurus kerjasama dengan Mega.
"Nak Fatur berarti nggak tau tentang hadiah ini?" selidik Khoiril lagi.
Dengan polos lagi Fatur menggeleng menjawab pertanyaan Ayah Mey.
"Wah, kamu kalah gercep sama Mamah kamu. Mey sampai nggak mau keluar kamar gegara hadiahnya ini!."
Fatur terlihat panik"Mamah mulai lagi pak??" ujarnya penuh kekhawatiran.
Kaila nyengir-nyengir di samping Wulan"Bener kata Ibu, memang nggak cocok sama tampangnya!!."
"Ibu udah tau waktu pertama ketemu Nak Fatur La, udah kebaca!." Mereka berbisik namun nada bicaranya jelas-jelas dapat di dengar seluruh orang, yang ada di sana. Tak terkecuali si Fatur.
"Maaf Pak, Bu. Saya balik ke rumah dulu. Saya harus menyelesaikan masalah ini sama Mamah" jika harus bertarung lagi melawan sang Mamah, mungkin Fatur harus rela berjuang kembali mempertahankan Mey.
"Eh udah!.di sini aja" Ayah juga doyan godain Fatur nih. Dia mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya
"Ini yang Mamah kamu kirim sebagai hadiah untuk Mey" sebuah kotak berwarna merah.
"Kotak perhiasan!!" bisik hati Fatur.
"Kamu mau protes sama Mamah kamu, karena mengirimkan ini sebagai hadiah untuk Mey?" Ayah membuka kotak itu, dan benar saja ada sepasang cincin di dalamnya.
Pria itu panas dingin. Di saat seperti ini dia malah datang tanpa kedua orang tuanya.
"Cincin nikah Pak?."
"Iya" bahkan nama kalian sudah terukir di sini" pembawaan santai Ayah menambah grogi dalam diri Fatur.
"Ayahnya Mey marah atau gimana sih??" pikir Fatur.
"Nih, ada surat cintanya juga." Lanjut Ayah memperlihatkan secarik kertas berbubuhkan tulisan tangan Mega.
"Baca aja" Ibu menyodorkan surat itu kepada Fatur.
"Jahat kamu Tur, kok kamu gitu. Kasian lho tante Mega'' celetuk Lian.
"Kalo dia ngomong terus terang aku nggak bakal melarang dia ke sini Lian" Fatur membela diri.
Tatapan kedua orang tua Mey kini terpaku kepadanya.
"Maafkan saya" ujarnya lirih menunduk di hadapan mereka.
"Mey ngambek lho Nak."
Perkataan Wulan semakin membuat Fatur merasa bersalah.
"Terus Meynya kemana Bu?."
"Udah pergi, kabur ke tempat Nida" ucap Ayah tegas.
Lelaki itu terkesigap"Ya elah, kabur lagi deh" gumamnya putus asa.
Mereka semua menahan tawa melihat penderitaan Fatur"Sini'' Kaila memberi kode kepada Mey untuk mendekat. Rupanya Mey sedang berada di dapur. Dia hendak keluar ketika mendengar suara mobil Fatur. Namun Kaila mengatur rencana untuk mengerjai sang sahabat.
"Di kasih restu buat nikah, malah belagu. Pake ngelarang Mamahnya ke sini. Seharus di kasih pelajaran ni cowok" ujar Kaila sebelum Fatur sampai ke dalam rumah.
Di tengah kegelisahan Fatur, Mey muncul dari belakang Kaila. Tanpa di sadarinya gadis yang di bilang Ayahnya kabur, nyatanya sedang menahan tawa menatapnya.
"La, minta nomor Nida dong" ujarnya fokus ke layar Ponsel.
"Kamu mau nyusulin Mey??" tanya Ayah lagi.
"Iya Pak" Kali ini dia mengangkat kepala dan menatap Khiril.
Mey buru-buru menarik diri dari pandangan Fatur.
"Nnggak usah Nak, jauh" Ibu ikutan manasin kompor nih.
"Iya Nak, jauh. Mending makan aja dulu" sahut Ayah lagi.
"Udah deh Yah, Bu. Kasihan anak orang!!" seru Mey dari balik Kaila.
HHAHAHA!!! Tawa mereka pecah. Lian paling kenceng nih ketawanya. Apalagi kalai lihat ekspresi wajah Fatur sekarang. Kesel tapi nggak berani protes, orang Ibu sama Bapak negara yang bertindak.
"Mau kemana kamu?, nyamperin Nida?, orang Nida juga nanti ke sini kok" Mey menghampirinya.
Dari dekat nampak jelas wajanya bersemu, bibirnya menggigit geram menatap Mey.
"Eh, jangan di gigit. Belum juga sah udah mau di gigit anak Ibu" ternyata candaan mereka belum berhenti.
"Enggak Bu" Fatur cepat-cepat menggeleng, salah tingkah. Tingkahnya semakin membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
Jadi begini rasanya di kerjain. Di bikin hatinya cemas nggak ketulungan, abis itu baru deh di bikin senang lagi. Fatur memendam dendam kepada mereka semua kecuali Ayah dan Ibu.
"Tunggu aja pembalasan aku. Khusunya kamu Sayang" ujarnya dalam hati. Kedua matanya menatap Mey dengan tajam, sambil senyum-senyum sih, tapi Mey dapat merasakan aura membunuh di dalamnya.
"Sorry" bisik Mey di tengah candaan mereka.
"Its ok" sahut Fatur terus ikut tertawa melihatnya. Sekarang giliran Kaila dan Lian lagi yang di goda Ayah sama Ibu.
"Kaila yang rencanain" bisik Mey lagi.
"Nggak ngaruh, kan kamu juga ikutan" Fatur terus tergelak di sela-sela bisikannya bersama Mey.
"Siapin, hati, pikiran sama fisik kamu ya!." Mey panas dingin mendengar bisikan terakhir Fatur. Alamak!!.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.