Meet You Again

Meet You Again
Hadiah untuk kesayangan



"Bu Nana bisa tolongin Enda nggak? Tanya malaikat kecil Ben pada guru idolanya.


Nana lebih dekat kepada Enda dan ikut duduk di samping Enda yang sedang melipat kertas origami.


"Enda mau apa nih?" Nana balik bertanya .


"Ayah Ben ulang tahun hari ini, Enda mau kasih hadiah."


"Terus?."


"Tapi Enda nggak tau harus ngasih apa. Enda kan belum kerja, jadi belum punya uang buat beliin Ayah sesuatu" celotehnya lesu.


"Kasih Ibu guru aja deh buat Ayahnya" canda Nana. Dia tersenyum kecil dengan pandangan menggoda kepada Enda. Bukan tanpa alasan dia berani bercanda seperti itu, sebab Enda sudah sering memintanya menjadi Bunda yang mendampingi sang Ayah. Bisa aja si Enda ih!!.


"Beneran Bu?" dan ternyata candaan Nana di anggap serius oleh Enda.


"Yeiyyy Enda bakal punya Bunda!" pekiknya kegirangan.


Nana buru-buru menarik Enda dan membekap mulutnya"Hehehe, Ibu bercanda."


"Yah. Ibu jangan bercanda. Beneran juga nggak pa-pa Bu. Enda nanti kasih tau Ayah ya."


Jelas saja hal itu membuat Nana nggak enak hati"Ni anak biasanya nyambung kalau di recehin. Tumben sekarang seriusan" gumam hati Nana.


Lagian salah sendiri, ngapain coba mancing di air keruh. Di kira kaga ada ikannya apa?. Ckckckckc bakal mumet sendiri nih si Ibu Nana.


"Ibu becanda kok End, bggak usah cerita sama Ayah ya!" pintanya membujuk Enda.


Namun nasi telah menjadi bubur, tinggal kasih suiran ayam sama kerupuk bawang, jadi sedap tuh bubur ayam.


"Bohong!!" seru Enda dengan nada kecewa.


Di peluknya Alanak lelaki menggemaskan itu. Nggak bisa di pungkiri selama ini kedekatannya dengan Enda secara tidak langsung mendekatkan dia dengan sang Ayah juga. Dan benih-benih cinta mulai berkecambah di hati kecilnya. Namun, luka hati Ben seakan membutakan pandangannya, dari sosok Nana yang selama ini selalu perhatian dan begitu menyayangi Enda.


"Enda kasih surat aja buat Ayah. Nanti Ibu ajarin deh" Nana mencoba mengalihkan perhatian Enda. Berabe kalau candaannya tadi sampai kepada Ben. Malu dong sayyy!!.


Dan nampaknya saran Nana mengundang keingin tahuan Enda.


"Ibu ejain buat Enda ya!" pinta si kecil.


"Siap cakeppp" sahut Nana lagi"Semoga ucapan ku tadi segera menghilang dari pikiran ni anak" batin Nana.


Mereka mulai terhanyut dalam kesibukan merangkai kata buat sang Ayah. Sesekali Nana membantu Enda menyesuaikan susunan kata ungkapan rasa cinta dan sayang Enda kepada Sang Ayah.


...🍙🍙🍙...


Seorang gadis terpaku menerima email dari atasannya. Dia akan di pindahkan ke Jepang . Mengingat kerja sama Trifam telah berjalan bersama perusahaan Mr. Hideyoshi.


"Mereka pasti mau ngejauhin aku sama Riley!" Melinda meremas lengan kusinya.


"Aku nggak akan tinggal diam!!" dia bergegas keluar ruangan dan mencari-cari seseorang di bagian pemasaran.


"His, semoga kamu nggak istirahat di luar " gumamnya sembari melirik jam tangan. Sekarang sudah masuk jam makan siang, dia yakin kalau nggak makan di luar orang yang dia cari-cari pasti sedang berada si kantin, dengan dalgona coffeenya.


"Kangen Sayang" Lian sedang bergoda ria dengan Kaila si teltpon.


"Jangan sok manja. Kamu udah makan siang belum?" tanya Kaila.


"Udah doang Sayang. Aku kan harus jaga diri baik-baik demi masa depan kita yang cerah."


Kaila mencoba memahami maksud kata-kata Lian. Namun bahasa Lian nggak dipahami, juga di luar jangkauan otak ceteknya. Bahasa Lian terlalu berat buatnya.


"Lian Sayang, kalau ngomong tuh yang jelas please!. Otak aku nggak ngerti bahasa cinta kamu yang lebay ini" protes Kaila.


"Maksud aku---. Akh intinya mah aku udah makan. Sudah gitu aja deh Yang" sahutnya singkat. Percuma juga ngejelasin panjang lebar ke Kaila, dia nggak akan mengerti.


"Pak Lian."


Kaila mendengar seseorang memanggil Lian di ujung telepon sana.


"Siapa itu?."


"Oh, sekertarisnya Om Baskoro Yang. Udahan dulu ya, entar aku telpon lagi."


"Ada apa ya?" tanya Lian setelah menutup panggilan teleponnya bersama Kaila.


"Boleh saya duduk Pak?, ada yang mau di omongin."


"Ya silahkan" tanpa curiga Lian mempersilahkan Melinda duduk bersamanya di meja makan kantin.


"Udah makan siang belum?. Biar sekalian di pesanin nih" tawar Lian lagi.


Melinda menggeleng, baru kali ini dia duduk berhadapan dengan Lian, putra lelaki yang sangat di cintainya.


"Oke deh, ada apa ya rekan Mel?" Lian langsung pada intinya. Terus terang penampilan Melinda saat ini membuat Lian sedikit risih. Dia mengenakan kemeja dengan dua kancing teratas yang di buka, hingga dua aset berharganya nampak mengintip keluar. Di padu padan dengan rok span berbelah samping rendah yang membuat paha ayamnya juga nampak mengintip dari dalam sana. Dia pikir penampilan begitu akan membuatnya nampak menarik?. Haisss !! nggak sayang badan nih cewek, ckckkckck .


"Hm..."


"Lian !! Bisa ke ruangan saya Sekarang?" Hermanto memanggil Lian dari depan stan kantin.


"Duh ada panggilan alam pula" ujar Lian . Pasti ada urusan penting nih kalau Ayahnya Vino ngajakin ke ruangan dia.


"Aku ke ruangan Pak Hermanto dulu deh ya , kerjaan berat nih" Lian bergegas mengekor Hermanto yang langsung melenggang keluar dari kantin.


"Oh, oke deh" sahut Melinda yang nyaris nggak terdengar Lian. Dia kan udah ngacir duluan nyusulin Om hermanto.


"Huh!!" Melinda mengeluh kesal. Dia hampir menggemparkan dunia barusan"Pake di selip sama Pak Hermanto pula" keluhnya lagi. Dia terus memikirkan cara agar skandalnya segera terkuak.


"Gimana kabar Vino?" eh? malah nanyain si Vino. Lian kira bakal bahas masalah pekerjaan Om nya ini.


"Kok tanya sama Lian Om?."


"Itu lho masalah kendaraanya. Dia masih bergilir kendaraan sama Jova?. Bukannya kata kamu kemarin dia bakal beli mobil?!."


Seperti janji Lian yang akan menggembar gemborkan perihal beli mobilnya Vino ke Om Hermanto, ternyata baru berdampak sekarang nih. Nama nya juga orang tua, dalam diam dia pasti selalu mikirin anak sebijinya itu.


Mendadak di suruh nikah dan mendadak pula di tarik aset aset penunjang kehidupannya. Dia khawatir sih, secara sekarang anak dan menantunya itu hidup dengan penghasilan mereka yang seadanya saja.


"Om kira Vino bakal ngadu sama Bundanya" ujarnya lagi angkat bicara.


"Jangankan sama Om tante, sama kami aja dia nggak pernah ngeluh Om. Yah ada sih dikit-dikit pas lagi becanda, tapi langsung di tepis Jova lho Om. Aku mah selama sama kamu oke-oke aja sih. Toh kita sama-sama bekerja kan. Kita pasti nggak akan kelaparan kok. Gitu kata Jova Om. Kalau Jova udah bilang gitu si Vino langsung ralat semua keluh kesahnya, terus lenjeh-lenjeh manja sama bininya" lapor Lian panjang lebar.


Hermanto manggut-manggut mendengar sekilas Info dari Lian.


"Bilangin, nggak usah beli mobil lagi."


"Bukan beli Om, ambil kredi!" tegas Lian memotong ucapan Om nya. Emang somplak kan ini anak, orang tua lagi ngomong juga pake di salip-salip.


"Nah apalagi ngredit Lian!!. Nggak usah" Hermanto menekankan lagi.


"Suruh dia jemput mobilnya di halaman rumah Om. Menuh-menuhin halaman aja."


"Hm, tipis bener Om alasannya" goda Lian. Orang tua mana sih yang tega lihat anaknya kesusahan. Apalagi si Vino yang biasa hidup serba berkecukupan, dan kemana-mana selalu naik mobil.


"Gimana kalau Om tau bahwa sekarang Vino sering berbagi tugas tumah tangga sama Jova ya, auto di utus ke kediaman mereka deh salah satu pembokat di rumahnya Om Hermanto" batin Lian menerka-nerka.


"Kenapa nggak Om aja yang bilang sih."


"Om sibuk !!."


"Jangan jual mahal Om. Entar gengsi lho kalau mau nyamperin cucu" goda Lian lagi.


Raut wajah Hermanto berubah"Jova udah isi??" tanyanya penuh semangat.


To be continued..


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like , vote , fav dan komen ya teman ^,^ .


Salam anak Borneo.