
Entah karena sudah terbiasa tanpa Andara, atau memang sudah terbiasa sendiri. Setelah Andara berbicara cukup lama dengan Ben, anak kecil itu melambaikan tangan kepada sang Mamah yang akan pergi meninggalkannya.
Wajah polosnya terlihat biasa saja. Tak ada tangisan dan rengekan seperti kebanyakan anak kecil ketika di tinggal orang tuanya.
"Kata Mamah manggilnya Ayah" pemilik mata bulat berbinar itu berkata kepada Ben, dengan mendongakan kepalanya. Tubuhnya memang sangat kecil kalau di bandingkan dengan perawakan Ben yang tinggi besar.
"Enda tau arti kata Ayah??"
Malaikat kecil itu mengangguk"Sama kayak Papah."
"Enda mau tinggal sama Ayah?, tanpa Mamah di sini?"
"Iya Enda mau. Kata Mamah, Ayah sangat baik. Ayah juga nggak bisa marah marah kayak Papah."
Ben melongo dengan apa yang dia lihat dan di dengarnya sekarang. Dengan lancar anak kecil itu berbicara layaknya orang yang sudah dewasa dan berakal.
"Terus kalau tinggal sama Ayah sekolahnya gimana?, kata Mamah Enda udah sekolah kan?."
"Udah lama Enda nggak ke sekolah Yah. Mamah nggak mau jauh-jauh. Temennya Papah pernah mengajak Enda jalan-jalan sepulang sekolah. Sampai malam sekali Enda baru di antarkan pulang ke rumah."
"Terus Papah bikin Mamah nangis." Hati kecil Ben terasa nyeri. Berarti dia melihat Andara dan Frans bertengkar.
"Kalau di sini Enda nggak akan di suruh main petak umpet di dalam lemari kan Yah?, Enda takut, di dalam lemari tu gelap."
Genggaman Ben seketika mengepal. Pantas saja anak ini begitu dewasa, kehidupannya di rumah mewah itu sangat pahit ternyata.
...***...
Kabar duka tegah melanda Fatur dan keluarga. Ternyata selama ini Baskoro merahasiakan penyakitnya. Selama ini dia menderita kanker hati, dan perlahan pengakitnya itu semakin parah. Secepatnya dia harus mendapatkan donor hati yang cocok agar dapat pulih kembali.
Namun mencari solusi itu bukanlah hal yang mudah. Selain terkendala dengan kesediaan seseorang menjadi pendonor, nggak semua orang bisa melakukannya. Bahkan Fatur sekalipun nggak mendapat kecocokan dengan sang Ayah.
Mey menekan pin kode apartemen Fatur. Berkali-kali dia menekan bel namun sepertinya nggak ada orang di dalam sana.
"Omo!!" Mey meloncat kaget. Fatur nampak duduk termenung di depan pintu masuk kediamannya. Dia hanya sedikit melempar tawa ketika Mey terhenyak kaget mendapatinya di sana.
"Kamu nggak dengar aku pencet-pencet bel dari tadi?."
"Dengar sih...tapi..---"
Cowok itu malah termenung lagi. Mey tau tentang kabar Baskor, dan wajar kalau Fatur sampai melongo seperti orang bingung begini.
Meskipun Mega sangat galak dan garang, Papah Baskoro sangat berbeda dengannya. Dia Papah yang tegas menurut Fatur, juga nggak terlalu mencampuri kehidupan pribadinya. Dia adalah Papah yang sangat mengerti Fatur.
Mey duduk di sebelah Fatur dan memandangi wajah termenung itu, sambil menopang kepalanya di lutut yang dia tekuk.
"Jangan risau, Papah kamu lelaki yang jauh lebih kuat dari kamu."
Dia menyisir rambut tebal Fatur dengan jemari-jemari kecilnya"Berpikirlah yang baik-baik. Dan kamu nggak seharusnya diam termenung di sini sekarang. Sudah dua hari ini kan kamu nggak ngantor?."
Fatur mengangguk, pria ini nampak hidup segan mati pun nggak mau.
"Memang kamu sakit??" tanya Mey.
"Enggak" jawab pria di hadapan Mey itu.
"Lalu, kenapa nggak ngantor?, malah diam melamun di sini. Kalau khawatir bukannya kamu harus nemenin Papah kamu di rumah sakit."
Fatur malah menekuk wajahnya di pundak Mey"Pendonor yang cocok buat Papah belum ketemu. Kalau terlau lama Papah bisa----."
Mey merasakan sesuatu yang hangat di pundaknya. Pria gagahnya itu menangis. Dengan pelan Mey menepuk punggung lebar Fatur"Jangan putus asa dong, cari terus sampi ketemu. Tuhan hanya ingin kamu berusaha sedikit lagi. Yakin deh pasti ada jalan keluarnya."
Trtt!!!...Trttt!, Ponsel Mey berdering dari dalam tas. Dia menggapai tas dan mendapati panggilan dari Mr.Arata.
"Moshi-moshi" sahut Mey. Beberapa menit dia berbicara dengan bos besarnya.
Sayup-sayup Fatur mendengar suara Mr.Arata di ujung telpon, namun karena berbahasa Jepang, dia nggak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Hai!!. Shuppatsu no junbi o shimasu." Fatur hanya tau bahwa Mey meng-iya kan ucapan Mr.Arata, sebab dia mengangguk dan mengatakan hai!!.
Setelah panggilan selesai Fatur menatap Mey penuh tanda tanya. Sedangkan Mey menunduk dan memutar kedua bola matanya. Dia sedang berpikir bagaimana cara menyampaikannya kepada Fatur.
Lelaki itu mengangkat wajah tertunduk kekasihnya"Ada yang mau di omongin nggak??"
"I---iya, ada" tiba-tiba Mey cengengesan, matanya berkedip-kedip seperti bola lampu yang sudah soak.
"Ngomong!, jangan ketawa-ketiwi"Fatur mengunyel-unyel hidung kecil Mey, dan mengacak acak rambut kekasih cantiknya.
"Anu, aku harus kembali ke Jepang" Mey bicara dalam satu tarikan nafas.
Fatur melepaskan pegangannya di kedua pipi Mey, wajahnya kaku. Dia berbalik membelakangi Mey.
"Sayang" Mey mengejar pandangan Fatur, namun lelaki itu kembali berpaling dari hadapan Mey.
"Yang, jangan ngambek dong. Nggak lama kok, cuman tiga hari doang."
Sang kekasih yang memang lagi galau itu jadi kesal dengan rencana kepergian Mey, dia beranjak dari hadapan Mey dan melangkah ke dalam kamar.
BRAAKK!!, pintu kamar tertutup rapat.
Kini giliran Mey lagi yang termenung di depan pintu kamat Fatur"Ngomong dong" hardik Mey menendang pintu kamar di hadapannya.
"Jahat!!" seru Fatur dari balik pintu.
Gadis itu menyandarkan diri"Jangan marah dong, aku janji pasti kembali kok."
"Nenek Haruka meninggal" ucap Mey lagi. Dia udah kayak Nenek aku, Fatur. Aku hanya ingin memberikan penghormatan terakhir untuknya. Ada kerjaan juga yang harus ku selesaikan di sana, aku nggak bisa mengabaikan Mr.Arata dan keluarga. Mereka keluarga keduaku."
Cekrek!!, Fatur membuka pintu dan berdiri tepat di hadapan Mey.
"Maaf, aku kekanak-kanakan" ujarnya mendekati Mey dan memeluk tubuh kekasihnya.
"Aku yang harusnya minta maaf, di saat kamu terpuruk seperti ini aku harus pergi" sahut Mey.
"Kapan berangkatnya?."
"Besok" sahut Mey dari dalam dekapannya.
"Berarti malam ini kamu harus menginap di sini."
Mey berontak dari dalam pelukan, dia menggeleng menatap Fatur.
Dengan wajah bingung dan kening yang menyerngit Fatur balik menatap Mey.
"Kamu..."
"Kenapa??" sahut Fatur langsung.
Bibir Mey terkulum ke dalam"Kita nggak boleh melangkah terlalu jauh, kita belum sah!."
"Ahahahha, mesum nih pikirannya. Orang aku cuman mau tidur sambil peluk kamu kayak kemaren" lengannya menjulur hendak menarik Mey kembali dalam pelukan.
Namun dengan sigap Mey menghindarinya"Nggak boleh!!. Aku nggak akan menginap di sini lagi. Kamu pikir yang tertarik cuman kamu aja, aku juga punya nafsu kali Tur!."
Fatur kembali terkekeh"Aku lamar aja ya. Nanti malam aku langsung ngomong sama Ibu sama Ayah."
"Mamah kamu bakal shok nanti. Sudah jangan mikir yang muluk-muluk, pokoknya aku nggak boleh menginap di sini lagi. TITIK!!."
To be continued
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.