Meet You Again

Meet You Again
[S1] 34. Siapa dia?



...Happy reading...


"Mana kalo cemberut imut banget lagi, tatapannya tu kayak minta dinafkahi" gumam kak Nanda pelan.


"Gak, kucing dikosan belum dinafkahin, dikasih makan maksudnya" Ucap kak Nanda tampak mengalihkan pembicaraan.


"Kak" panggilku lembut.


"Iya?" Jawab kak Nanda masih fokus dengan piringnya.


"Aku suka... lupakan" ucapku ragu.


"Apa sih Ran, kau itu cewek masak nembak cowok" batinku.


"Suka apa?" ucap kak Nanda membeo.


"Gak kok, lupain aja" ucapku tak ingin larut dalam perbincangan yang agak sensitif.


"Oh ya minggu depan kita udah UAS ni, bakal ga ada rapat dan kita juga mungkin bakal jarang ketemu" ucap kak Nanda mencari topik pembicaraan.


"Eh iya kak" aku mengangguk pelan.


"Dasar ga peka banget dah malah ngalihkan pembicaraan" gumamku pelan, agar tak terdengar oleh telinga kak Nanda.


"Emm?" kak Nanda mengangkat alisnya tampak bingung melihat mulutku komat-kamit namun tak terdengar suara apapun, seperti sedang membacakan mantra agar kak Nanda jatuh hati padaku.


"Oh ya kak aku mau nanyain materi akuntansi biaya ni ada yang belum paham" sanggahku.


"Boleh mau diajarin kapan?" tanya kak Nanda.


"Weekend nanti boleh ga?" tanyaku lagi.


"Weekend ya?" kak Nanda berfikir sejenak, dan aku menunggu jawaban.


"Bisa kok bisa, mau di mana?" Tanya kak Nanda lagi.


"Diburjo samping kampus aja" ucapku menyarankan.


"Oke, ketemu disana aja ya soalnya aku ada janjian buat nemenin Uncum beli sesuatu katanya" jelaskan kak Nanda.


"Oke" aku menyetujui.


***


"Oke, selesai. Yok ke Rektorat" ajak Yuli.


"Sama Eka atau sama aku?" Tanyaku.


"Sama Eka aja, kau tunggu disini sama kak Nanda aja" ucap Yuli menyarankan dan berlalu bersama Eka meninggalkan gazebo.


Suasana tampak canggung karena kehadiran kak Uncum membuatku dan kak Nanda merasa tak enak jika harus terlihat akrab seperti biasa. Belum lagi anak-anak bilang kak Uncum menaruh hati padaku yang membuat suasana semakin mencengkram.


"Huuuhh" aku menghela napas panjang, udara terasa tercekat ditenggorokanku melihat dua lelaki didekatku hanya saling berdiam diri tanpa mau mencari topik pembicaraan.


"Kenapa Ran?" "Kenapa Ran?" Ucap kak Nanda dan kak Uncum bersamaan.


"Cih" "Cih" ucap keduanya bersamaan lagi.


Aku tertawa geli melihat kedua kadiv yang terlihat mempesona saat di mimbar dan menyampaikan pendapat namun mendadak menjadi lucu saat dikehidupan sehari-hari.


"Kalian romantis" ucapku sambil cekikikan.


"Enak aja" sanggah kak Uncum.


"Emangnya aku homo?" balas kak Nanda juga tak mau kalah.


Suasana tampak mulai mencair dan kami mengobrol ria sambil menunggu perkembangan proposal yang tengah diajukan oleh Yuli dan Eka. Cukup lama kami berdiam bertiga duduk menunggu dan tampak dari kejauhan senyum Yuli mengembang.


"Biar aku tebak, bau-baunya di ACC ni" tebak kak Nanda.


"Gimana gimana?" Tanyaku saat Yuli meletakan pantatnya kekursi merebahkan punggung dan senyum-senyum seperti orang habis jadian.


"ACC!!" teriak Yuli di iringi dengan teriakanku dan Eka yang memekakan telinga.


"Aduh-aduh telingaku bisa buta ni" ucap kak Nanda.


"Sekalian aja hidungmu ikutan budek" sanggah kak Uncum.


"Jadi kapan Semnasnya?" Tanya kak Nanda meleraikan teriakan trio cempreng namun tak ada satupun dari kami yang menggubrisnya.


"Kacang, kacangin aja teros" protes kak Nanda.


"Haha rasain makanya jangan sensian jadi laki" ejekan kak Uncum membuat kak Nanda tambah murka.


"Tolong ya ni ada yang nanya ni kok dianggap kayak kaleng rombeng aja ni, dikit lagi ketendang ni kaleng" ucap kak Nanda lagi.


"Gimana gimana?" Tanya Yuli pada kedua kakak-kakak kadiv.


"Halah males" jawab kak Nanda dengan tatapan malas.


"Dia nanya sama kau, Semnas jadinya dilaksanakan kapan?" ulang kak Uncum memperjelas pertanyaan kak Nanda yang tampak tak ingin mengulangi pertanyaan yang sama.


"Oh itu, tiga minggu habis libur semester ganjil" jawab Yuli namun tak digubris oleh kak Nanda sedangkan kak Uncum hanya manggut-manggut paham dengan ucapan Yuli.


"Wah bakalan bisa fokus liburan dulu ni" sahutku yang tiba-tiba mengubah suasana hati kak Nanda menjadi lebih baik.


"Kita mendaki gunung terus sekalian ngecamp mau ga?" Ucap Eka menyarankan.


"Wah boleh juga tu" sanggah kak Uncum.


"Eh eh eh apaan yang boleh, kau kan devisi jarkom sana-sana ajak staff devisimu" ucap kak Nanda memotong pembicaraan.


"Cih, ya udah aku ngajakin orang-orang di devisiku aja" jawab Uncum tak mau kalah.


"Lagian ngapain sih suka banget ngikut ngumpul sama devisi litbang?" Tanya kak Nanda sewot.


"Karena dia emang karena apa lagi?" kak Uncum menjawab pertanyaan kak Nanda dan melontarkan senyum yang tak bisa kuartikan secara jelas.


"Dia? Siapa?" Tanya Eka mengulangi.


"Aku? Eka? Erni? Rani? Lilis? Kak putra gak mungkin, atau jangan-jangan..." Yuli menggantung ucapannya.


"Lu kira kita homo" "Lu kira kita homo" jawab keduanya berbarengan yang menarik merhatian beberapa mahasiswa yang sedang duduk disana.


kak Nanda dan kak Uncum sontak menundukan kepalanya tak kuasa menahan malu dan tatapan mengejek dari mahasiswa yang menertawakannya.


"Oh ya kita mau mendaki kemana ni, Andong? Sumbing?" Tanya kak Nanda.


"Andong aja yang ga terlalu tinggi, nanti dedek malah mintak gendong karena ga kuad jalan" ucap Eka dengan gaya imutnya yang membuat mereka tercengang menatap Eka.


"Heooll" ucapku dan diikuti oleh tawa yang lainnya.


"Waktu weekend aja gimana?" Yuli menyarankan.


"Boleh, kan kita juga udah yudisium" sanggahku.


"Oke fix Nanti kabar-kabarin staff litbang yang lain" ucap kak Nanda menyetujui.


***


- kak Nanda


Ran, aku nanti agak telat soalnya macet banget.


Aku menghela nafas panjang menatap nanar dari chat yang baru saja kubaca. Kutatapnya orang disekitarku sibuk sendiri dengan laptop dan beberapa ada yang cuma sekedar nongkrong, yah biasanya kalau mau ujian banyak deadline beterbangan. Baik kuis, paper, tugas mingguan yang harus disetor sebelum ujian membuat beberapa mahasis2a terlihat menggaruk kepala, membolak balikkan halaman buku, dan orang-orang yang santuy sibuk bernyanyi dan memetik gitar membuat suasana semakin panas.


Kurebahkan kepalaku diatas meja menunggu kedatangan kak Nanda namun tak kunjung tiba juga, bosan dengan posisi ini aku menopang daguku sambil menyedot minumanku.


"Kalo lima belas menit lagi dia ga dateng aku pulang ni" Ancamku sambil menatap ke layar hpku.


Waktu terus berjalan beberapa orang sudah mulai meninggalkan burjo tersebut namun kak Nanda belum juga datang. Layar hp menunjukan pukul 17.15 sudah lima belas menit sejak aku mengatakan bahwa aku akan pulang bila kak Nanda tak kunjung datang juga.


Aku meraih tasku beranjak dari kursi dan memutuskan untuk pulang karena sudah terlalu lama menunggu. Tak biasanya kak Nanda sangat terlambat walaupun ia mengatakan sedang macet kak Nanda pasti akan memilih melewati jalan tikus agar lebih cepat sampai ke tujuan.


Saat tiba diambang pintu aku tertegun melihat kak Nanda datang bersama perempuan lain yang pernah kulihat namun lupa entah dimana.


"Ran, mau kemana?" Ucap kak Nanda dan diiringi senyum manis dari perempuan yang mengekorinya.


Ada sesuatu yang terasa sakit didalam diriku dan membuat mataku berembun padal aku saja belum tahu siapa perempuan itu.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...