
...Happy reading...
Aku sudah tiba ditoko cat, bersama dengan Tania aku memilih beberapa warna cat spray yang akan kami gunakan untuk coret-coret nanti. Aku mengenakan seragam putih abu-abu dan berniat membuat lukisan abstrak nantinya diatas kain baju yang aku kenakan.
Tania memilih lima warna yang berbeda yang mana nantinya menjadi pembeda setiap ukiran karyaku, Tania, Riris, Sania dan Siska. Aku dan Tania melangkah menuju sepeda motor Tania yang terparkir didepan toko dan melaju ketitik aksi yang mana nantinya semua sekolah akan berkumpul dialun-alun kota untuk merayakan kelulusan bersama.
Aku telah tiba dialun-alun kota aku mencari sosok Sania ditengah keramaian dengan seragam yang serupa, Tania turun dari sepeda motorku dan merogoh kantong roknya. Ia menemukan ponselnya dan mencari kontak Sania untuk dihubungi, Tania menunggu cukup lama barulah ada jawaban dari Sania yang memberikan petunjuk bahwa dia sedang berada dibawah pohon besar rindang.
Aku dan Tania mengedarkan pandangan sejauh mungkin mencari sosok Sania dengan segenap petunjuk yang ia berikan. Dan kami menemukannya sendirian terduduk diatas sepeda motornya sambil menggulir jarinya diatas ponsel.
Disisi lain aku mencoba menghubungi Riris dan Siska yang katanya membeli beberapa spidol permanen yang nantinya juga akan digunakan saat coret-coret.
Aku meraih botol airku yang berada didasbor motor, menegaknya beberapa kali dan kembali menunggu Riris dan Siska tiba dengan spidolnya. Aku manatap arlojiku sudah menunjukan pukul empat lewat yang artinya kurang dari satu jam lagi kelulusan akan segera diumumkan.
Tampak dari kejauhan Riris mengendarai sepeda motornya bersama dengan Siska yang duduk dijok penumpang mendekat kearah kami.
"Ku pikir kalian ga akan liat kami" cemooh Tania sambil menyunggingkan senyuman mengejek.
"Enak aja mataku masih berfungsi dengan sangat baik ya, emangnya kamu Tan pakai kaca mata" sindir Riris tak mau kalah sambil memutar bola matanya menatap jengah kearah Tania.
"Aku baru minus satu, jangan berlebihan Ris. Aku cuma pakai kacamata kalo udah kepepet aja" jawab Tania membela diri dari sindiran Riris.
"Aaiisshh sudahlah tiada hari tanpa bertengkar, aku pusing ni" ucap Sania yang tiba-tiba bersuara yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya berdebat.
"Ayolah kita udah mau pisah loh jangan suka ribut-ributlah" bujuk Siska menenangkan keduanya.
Lama kami terdiam dan sibuk dengan ponsel masing-masing membuat suasana seperti anak milenial masa kini.
"Mana spidolnya?" Tanyaku berusaha membuka topik pembicaraan.
"Oh ini" ucap Riris sambil mengulurkan sebuah kantong plastik bening yang berisikan spidol permanen.
Aku, Riris, Tania, Sania dan Siska mendapatkan spidol dengan warna yang berbeda-beda untuk menghidari perdebatan karena memiliki warna yang sama.
"Catnya mana?" Tanya Riris sambil melangkah kearah sepeda motorku dan merogoh kantong plastik hitam yang aku dan Tania bawa dari toko cat tadi.
"Ran aku nanti minta ditulisin namaku besar-besar ya dipunggung pakai cat" permintaan Riris sambil memegangi kaleng cat tersebut.
"Aku juga mau Ran" sahut Tania tak mau kalah dan menatapku dengan senyuman manjanya.
"Sekalian aja semuanya" sindirku kepada mereka berempat, dan disambut dengan tawaan hangat dari mereka. Aku hanya tersenyum kecut membalas tawaan mereka dan kembali duduk diatas sepeda motorku.
Aku menopang dagu menatap arloji yang menunjukan bahwa sepuluh menit lagi baru jam lima tepat. Teman-temanku sudah login di website resmi sekolah menanti nama-namanya muncul didaftar kelulusan sekolah pada tahun ini.
Aku masih saja termenung menatap segerombolan siswa laki-laki yang entah berasal dari sekolah mana tengah menjahili salah satu temannya. Aku tertawa saat yang dijahili terpeleset diantara rumput-rumput yang tumbuh menghijau.
Dia pacarku mantan ketua osis ganteng dan pintar dari SMAnya, aku berpacaran dengannya secara diam-diam dari sepengetahuan ibu. Karena kalo pemegang kunci penjara tanpa jeruji itu tahu aku tidak yakin akan bisa lanjut kuliah, kemungkinan dia akan segera menikahkan aku dengan Doni.
Ibuku benar-benar protektif terhadapku yang membuatku merasa sesak setiap kali mendengar larangan ini dan itu darinya. Berbeda dengan Ayah yang selalu menuruti kemauanku dan membebaskan aku dalam memilih kemauanku, tapi tidak untuk pacaran karena ayah bilang aku masih terlalu muda untuk itu.
"Sama siapa?" Tanyaku sambil menyunggingkan senyumanku kepadanya, dan Doni menunjukan segerombolan anak laki-laki yang aku perhatikan beberapa waktu lalu, yang aku tertawakan tadi ternyata Satria sahabatnya dari SD. Aku merasa tidak enak karenanya aku hanya menunduk malu mengingat tawaanku.
"Kenapa?" Tanya Doni lagi mengerutkan dahinya dan menatapku bingung.
"Gak" jawabku singkat dan kami mengobrol ringan, dia menanyakan aku kesini dengan izin ibu atau tidak karena dia yakin ibuku akan marah jika aku tidak mengatakan apapun kepadanya, dan aku sudah berpamitan kepada beliau.
"Ran aku kesana dulu ya" pamit Doni dan aku mengangguk ringan, dia melangkah menjauhiku dan hilang dibalik kerumunan siswa berseragam putih abu-abu di sebrang sana.
Aku menggulir layar hpku mengecek beranda sepertinya tidak ada yang menarik hari ini dan mematikan ponselku memasukannya kembali ke saku rokku.
"Woy kita lulus!" teriak Riris mengejutkan kami yang tengah sibuk dengan fikiran masing-masing. Kami merapat ke Riris mencari nama-nama kami memastikan bahwa kami memang lulus bersama tahun ini.
Aku menemukan nama kami berlima dilayar ponsel Riris yang menyatakan bahwa kami lulus. Riris langsung saja meraih spidolnya dan mengapit tutup spidol tersebut diantara giginya.
"Ran sini aku tanda tangan duluan" ucap Riris seraya meraih pundakku agar punggungku menghadap ke wajahnya. Riris mengukir tanda tangannya dibalik kain seragamku terasa geli namun pasti Riris mengukir tanda tangannya sebagus mungkin agar aku dapat mengenangnya sebagai pentolan geng kami yang sering membuat onar.
Aku telah menandatangani kain seragam sahabat-sahabatku lalu berkeliling menyapa-beberapa teman lamaku dan mendaratkan tanda tangan diseragamnya sebagai kenang-kenangan. Dan aku mengemukan Doni ditengah keramaian tersebut, dia tersenyum manis menatapku dan akupun sebaliknya.
"Boleh aku tanda tangan diseragammu?" Tanyanya ramah sambil membuka tutup spidol berwarna merah disela jarinya.
"Tentu, aku milikmu" ucapku berbalik memunggunginya agar dia mengukir tanda tangannya disana.
"Aku ga mau disini" ucapnya membalikkan tubuhku, aku mengangkat alisku menatapnya bingung namun dia malah melontarkan senyuman menggoda kearahku.
"Disana" ucapnya sambil menunjuk kearah perutku sambil mengernyitkan dahinya aku hanya menatap tak percaya kepadanya. Selang beberapa waktu aku mengangguk menyetujui permintaannya dan dia mulai mengukir tanda tangannya dikain seragamku.
Aku terkekeh geli karena ukiran tangannya membuatku merasa digelitik, dia mengadah keatas menatapku dengan sorotan mata bahagia, senyumnya mengembang dengan begitu sempurna aku menyukainya.
"Aku antar pulang ya?" Ucap Doni mulai meluruskan punggungnya dihadapanku, aku mulai membuka tutup spidol dan mendekat ke hadapannya.
"Aku mungkin pulang malam, ibu jarang memberikan aku izin untuk bisa keluar malam seperti sekarang" ucapku sambil menandatangi seragam Doni tepat di dada sebelah kanannya.
Nafasku tercekat saat aku menghirup bau parfumnya yang khas, aku hanya tersenyum sendiri menjelaskan betapa bahagianya perasaanku saat berada didekatnya.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca***...