
...Happy reading...
"Ran, mau kemana?"
"Pulang" jawabku singkat, kak Nanda menatapku heran.
"Lah kok pulang, kakak udah disini loh" bujuk kak Nanda.
"Lama" ucapku cuek.
"Ya udah maaf tadi macet trus tadi singgah di ATM kampus dan liat Tiwi berdiri di pinggir jalan sendirian katanya nunggu temennya jemput" tutur kak Nanda meyakinkan.
"Siapa Tiwi?" gumamku pelan.
"Ya udah yok duduk dulu Rani, Tiw" ajak kak Nanda dan melenggang duduk, aku dan perempuan itu mengekori dari belakang.
"Kenalin kak aku Pratiwi Mutia Dewi, panggil aja Tiwi" ucap Tiwi ramah sambil mengulurkan tangan dan tersenyum manis kepadaku.
"Rani" jawabku singkat dan menyambut tangan Tiwi sekenanya.
"Oh ya Ran, Tiwi ini kader kita juga makanya aku ajak aja dia ke sini karena kasian liat dia sendirian tadi dan juga kampus udah mulai sepi" tutur kak Nanda namun tak kugubris.
"Tiw, ayo balik!" Teriak perempuan dari pinggir jalan sana.
"Kak Ran aku duluan ya, kak Nan makasih tumpangannya tadi" ucap Tiwi dan berlalu pergi.
"Hati-hati" ucap kak Nanda.
kemudian aku dan kak Nanda hanya terdiam menunggu salah satu dari kami angkat suara, dan akhirnya kak Nanda mengalah untuk mengakhiri sesi diam-diaman tesebut.
"Katanya ada yang mau ditanya kok malah diam aja?" Tanya kak Nanda.
"Ga jadi" jawabku singkat dengan bibir mengerucut.
"Kok ga jadi, lusa hari senin loh, yakin mau nyuekin aku terus?" Goda kak Nanda dengan melontarkan senyum termanisnya.
"Duh manisnya" batinku.
"Tahan Ran jangan cepat tergoda" batinku lagi.
"Trus?" Tanyaku sesingkat mungkin.
"Ya, kita bakal jarang ketemu, nanti malah kangen" goda kak Nanda lagi dengan bertopang dagu menatapku.
"Udah lah aku mau balik" ucapku kesal.
"Eehh jangan gitu lah. Kakak minta maaf ga akan telat lagi kakak usahain buat kamu Ran" bujuk kak Nanda hingga akhirnya dinding pertahananku runtuh senyumanku lepas menatap kak Nanda.
"Nah kan manis kalo senyum gitu, dari pada yang tadi kayak bebek" ejek kak Nanda.
"Mana yang mau ditanyain?" Tanya kak Nanda mengulangi.
"Ga jadi kak jadi malas aku belajar" ucapku sambil merebahkan kepalaku diatas meja.
"Eh ga boleh gitu, emm.." kak Nanda menggantung ucapannya menatap layar hpnya sejenak.
"Udah sore Ran" ucap kak Nanda.
"Kakak sih janji jam 15.00 malah nonggol jam 17.15 sama cewek lagi" omelku jengah dan mengungkit hal yang baru saja tersejadi.
"Ran, kakak kan udah minta maaf. Ga dimaafin ni ceritanya?" Tanya kak Nanda.
"Dimaafin" jawabku dengan bibir masih mengurucut.
"Ga usah dimonyong-monyongin ih bibirnya bikin games dah" ucap kak Nanda meraih pipi tembemku dan mencubitnya pelan.
"Kaakk" tolakku sambil menyingkirkan tangan kak Nanda dari wajahku.
"Ya udah gini aja, kakak antar kamu pulang kita mandi sama bersih-bersih dikosan lagian badan kakak udah lengket banget, terus nanti kita belajar" ucap kak Nanda menyarankan.
"Kita mandi sama bersih-bersih?" Ulangku menegakan kepalaku dengan mata yang membulat menatap kak Nanda sinis.
"Gak bukan gitu maksudnya, kakak anterin kamu terus kakak balik, nanti kakak jemput lagi. Bukannya mau numpang mandi dikosanmu" jelas kak Nanda.
"Oh gitu" aku menghela nafas lega.
"Kalo dibolehin juga ga papa sih" gumam kak Nanda namun terdengar ketelingaku.
"Aduuh aduuhh, ga ga cuma bercanda. Ayok pulang" ajak kak Nanda melenggang keluar dari burjo dan akj mengekor dibelakangnya.
***
"Ran, ini malam minggu ya?" Tanya kak Nanda disela mengendarai sepeda motornya.
"Iya kak" jawabku.
"Waduh, bakal macet ni dimana-mana" sanggah kak Nanda, tampak bingung karena melupakan malam inj adalah malam minggu dimana para pasangan muda mudi memenuhi setiap sudut kota bahkan terkadang membuat macet jalanan.
"Apa mau ke rumahku aku aja?" Tanya kak Nanda tampak tak yakin aku akan mengiyakan.
"Emm?" aku terkejut dan reflek mencubit pinggangnya yang menandakan aku takut suatu hal akan terjadi.
"Tenang aja aku tinggal sama adekku kok, dan juga dia perempuan. Jadi ga bakal aku apa-apain" ucap kak Nanda lagi meyakinkanku.
"Emm, ya udah deh" jawabku setelah mempertimbangkan dari pada harus belajar dikosanku akan lebih membahayakan, karena biasanya kosan akan sepi kalo malam minggu. Anak kos pada pergi entah ngedate atau cuma sekedar ngumpul bareng teman-temannya.
***
"Din. Dinda" ucap kak Nanda mengetok pintu beberapa kali di sebuah rumah dimana kak Nanda tinggal.
"Iya" seorang perempuan menyahuti dan membuka pintu sambil mempersilahkan kami masuk.
"Duduk dulu Ran aku mau ganti baju dulu" ucap kak Nanda mempersilahkan dan melengos menghilang dari balik pintu. Aku duduk bersamaan dengan perempuan yang disebut Nanda bernama Dinda juga duduk disampingku.
"Kakak pacarnya kak Nanda ya?" Tanya Dinda tiba-tiba menyelidiki status kami orang yang tengah dekat tersebut.
"Eeh, gak kok cuma temen" jawabku mengelak.
"Yah sayang banget padahal aku pengen punya kakak perempuan biar ada yang nemenin, soalnya kak Nanda ga pernah betah dirumah pergi-pergi mulu" sanggah Dinda tampak kecewa dengan jawabanku.
"Din jangan nanya yang aneh ke kak Rani, sana ambilin minum" perintah kak Nanda mengusir adiknya secara halus, kak Nanda keluar dari kamar dengan kaos oblong yang masih dikenakan sebatas dadanya hingga membuat perutnya kotak kotaknya terlihat olehku. Aku menelan ludah kasar kemudian mengalihkan pandanganku dari kak Nanda namun hatiku menginginkan untuk melihatnya lagi, kak Nanda menarik kaosnya hingga menutupi seluruh bagian dada hingga perutnya.
"Yahh" gumamku pelan.
"Kenapa mau liat lagi?" Tawar kak Nanda.
"Gak kak gak" jawabku menolak padahal aku ingin melihatnya lagi.
"sayang sekali" batinku.
"Kalo mau lihat ya aku buka lagi kaosnya" goda kak Nanda hingga membuat pipiku merona.
"Ga kak jangan nanti kakak masuk angin" sanggahku malu-malu tapi mau.
"Silahkan dinikmati kak" ucap Dinda tiba dengan nampan yang berisi tiga gelas teh hangat dengan sepiring biskuit gandum.
"Jadi mau belajar ga ni?" Tanya kak Nanda mengingatkan tujuan utama kamu datang kesini.
"Oh iya bentar" Aku mengeluarkan buku serta pulpenku dan menggulir ke halaman buku yang ingin ia pelajari.
"Nah yang ini loh kak. Kok bisa gini tu jalannya dari mana dibuku ga ada penjelasannya" ucapku menunjuk ke satu halaman yang telah ditanda dengan stikynote.
"Oh ini tu dapatnya dari total ini dibagi ini. Terus udah dapat dibagi sama persentase yang ada disoal" jawab kak Nanda mulai menjelaskan.
***
Aku membereskan buku dan alat tuliskan ke dalam tas, kugeser layar hp sudah menunjukan pukul 22.05.
"Mau pulang sekarang Ran?" Tanya kak Nanda.
"Iya kak udah malem" jawabku sekenanya.
"Mau pulang apa nginep disini aja?" goda kak Nanda menatapku lekat.
"Ga kak pulang aja" ucapku tetap pada pendirian.
"Kalo mau nginep juga ga papa aku rela kok" goda kak Nanda mencubit pipi Rani pelan.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...