
...Happy reading...
"Mana sih kok lama banget" gumamku yang sedang duduk didepan kamar.
"Ran ayok" teriak kak Nanda dari dalam mobil.
"Ehh pakai mobil?" tanyaku heran sambil berjalan mendekatinya.
"Iya" jawabnya sambil membukakan pintu mobil dari dalam.
"Ga takut macet?" tanyaku lagi.
"Aku lebih takut kamu kedinginan dari pada kejebak macet" ucap kak Nanda menggoda, pipiku mendadak merona karena ulah kak Nanda.
"Ayok buruan nanti malah keburu macet lagi" kata kak Nanda saat aku membenarkan posisi dudukku.
"Lah tadi katanya ga takut macet" jawabku saat ucapannya tidak konsisten.
"Ya malas aja nanti kemalaman nyampenya" sanggahnya membela diri.
"Hilih, ya udah ayok jalan" ajakku.
Mobil yang dikendarai kak Nanda melesat menuju kearah tempat tujuan kami sore ini.
"Tumben akhir-akhir ini pakai mobil?" tanyaku menyelidiki.
"Oh ini mobil tanteku, dia lagi gak dirumah jadi aku sama Dinda disuruh nginep disana nemenin anaknya yang masih SMP, soalnya anaknya ga mau ikut." jelas kak Nanda panjang lebar.
"Emang tante kakak kemana?" tanyaku lagi.
"Lagi liburan tahun baru ke Bali sama keluarganya" jawabnya.
"Kakak ga diajak?" tanyaku menggodanya.
"Ya gak lah" sanggahnya tak mau kalah.
"Emang kakak bukan keluarganya?" tanyaku lagi.
"Ya keluarganya" jawabnya bingung.
"Trus kenapa ga diajak?" tanyaku lagi membuatnya bingung.
"Yah itu lah pokoknya" jawab kak Nanda pasrah.
Aku merkekeh melihat wajahnya yang tampak bingung dengan semua pertanyaanku.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Kami turun dari mobil, memesan coffe latte dan americano kemudian memilih tempat duduk paling pojok yang langsung menghadap kearah kota, kebetulan letak caffe ini ditepi tebing sehingga semua pemandangan terlihat semua dari tempat kami duduk.
Kami mengobrol menghabiskan waktu berdua ditengah kerlap kerlip lampu malam dan dibawah sinar bulan dan bintang.
Drrtt
- Nomor tidak diketahui
Selamat tahun baru Rani
^^^- Rani^^^
^^^Tolong jangan ganggu aku lagi!!!^^^
Blok kontak? \=> Ya.
Aku memblokir nomor yang selalu mengganggu hari-hariku dan membuatku tak bisa move on dari masa lalu, sekarang saatnya aku harus berhenti menoleh kebelakang dan menatap siapa yang saat ini ada bersamaku.
"Eh udah ada kembang apinya Ran liat" ucap kak Nanda menunjuk kearah Langit yang begitu indah pada malam ini.
"Iya kak" jawabku benar-benar pemandangan indah yang pernah terlupakan bagiku.
kelap-kelip bintang bersama cahaya rembulan serta kembang api yang menyala dilangit malam, benar-benar moment yang romantis untuk insan yang sedah jatuh cinta.
Tiba-tiba saja kak Nanda mendaratkan ciuman di pipiku, pipiku kembali merona dan kusentuh bekas kecupan kak Nanda dan tersenyum melihat pria yang ada dihadapanku.
"Disebelah sana juga udah ada kembang apinya Ran" tunjuk kak Nanda lagi.
Aku tersenyum lebar tak bisa menahan betapa bahagianya aku pada malam ini, semua lelahku, gangguan mantan, tugas kuliah, kegiatan olim sejenak lenyap dari otakku. Suasana malam ini menghipnotisku untuk lupa dengan segala permasalahan yang sedang menyulitkanku.
***
Semua panitia sibuk mondar-mandir menyelesaikan jobdesknya masing-masing, sedangkan aku hanya mengecek apa-apa saja yang kurang dan belum disiapkan.
"Presensi peserta udah?" Tanyaku ke seksi adm.
"Udah" jawab salah satu bagian adm.
"Form penilaian juri udah?" tanyaku lagi.
"Udah juga" jawabnya, aku mengacungkan kedua jempolku dan berjalan keluar ruangan mengecek keadaan diluar apakah kondusif.
"Snack gimana?" tanyaku kepada Eka sebagai seksi konsumsi.
"Nanti jam 8 kita ambil" jawab Eka.
"Okeh makan siang nanti juga jangan lupa" ucapku mengingatkan.
"Oke" jawab Eka lagi.
Para peserta mulai berdatangan suasana terlihat mulai tegang dari pada sebelumnya, beberapa panitia terlihat sudah mulai bersantai karena sudah mempersiapkan acara dari subuh tadi.
"Ran, Udah lengkap semua?" tanya kak Nanda mengampiriku.
"Kayaknya udah semua kak" jawabku, kak Nanda hanya manggut-manggut.
"Ran jangan terlalu tegang ya, semangat" ucap Alfa selaku ketua BEM.
"Iya" jawanku aku menghela napas sejenak, karena aku harus berdiri didepan para peserta untuk menyampaikan kata sambutan.
Acara berlangsung selama satu hari penuh membuat panitia maupun peserta kewalahan, benar-benar hari yang panjang untuk dijalani mulai dari babak penyisihan, semi final hingga babak final membuatku mondar mandir untuk mengecek segala sesuatu agar acara berjalan dengan lancar.
Sore itu pukul 5 sore acara Olimpiade Akuntansi selesai. Para panitia sibuk membersihkan ruangan, membereskan semua peralatan dan perlengkapan.
"Akhirnya" ucapku menghela napas panjang dan meluruhkan diriku disalah satu kursi.
"Et dah belum wey proposal Semnas noh nunggu" sahut Yuli yang tak kusadari duduk mengisi kursi disebelahku.
"Aduhh hari ini aja lupain dulu Semnas Yul besok kita mulai cicil Proposalnya sekalian LPJ (laporan pertanggungjawaban) Olim" ucapku frustasi.
"Ran, LPJ Olim dicicil yah" ucap kak Nanda datang berkacak pinggang.
kak Nanda tampak menahan tawa dan tawanya lepas setelah Yuli ngakak sejadi-jadinya disampingku.
"Yeeh pada gila apa ya?" ucapku kemudian melengos meninggalkan dua manusia tak berprikeorganisasian.
Setelah semuanya selesai aku mengumpulkan panitia untuk diarahkan ke Sekre karena akan mengadakan rapat evaluasi, yang menyampaikan kritik dan saran dilakukan oleh perwakilan seksi saja mengingan waktu dan kondisi yang tak memungkinkan untuk melaksanakan rapat berlama-lama.
Pukul 18.00 rapat selesai semua panitia dipersilahkan meninggalkan sekre, aku mengendus-endus disamping ketekku, aku tak nyaman seharian ini aku bekerja ekstra dan keringat bercucuran dimana-mana, wajahku juga sudah bulukan.
"Yul balik yuk" ajakku.
"Males, tidur di sekre aja" ucap Yuli cekikikan.
"Yeh kan ditanyain baik-baik malah ngajak gelut" gerutuku kesal.
Kak Uncum dan kak Nanda sepertinya hanya jadi penonton saja, mungkin mereka kehabisan tenaga untuk berdebat seperti biasanya.
"Ya kali tidur disini ya balik lah, ngapain bayar kos mahal-mahal kalo tidurnya disekre, mending aku pindah ke sekre aja" oceh Yuli panjang kali lebar.
"Eeh bahlul, gundulmu pindah ke sekre, emangnya sekre punya bapak lu" teriakku mulai jengah.
"Lah elu udah tau pada capek udah malam nanyain hal yang gak berbobot gitu" ucap Yuli tak kalah kesal.
"Udah Ran biar aku anter" ucap kak Uncum tiba-tiba menarik lenganku.
"Eeehhh" "eeehhh" sahut kak Nanda dan Yuli bersamaan.
"Rani pulang bareng aku aja dah" sahut kak Nanda.
"Enak aja bareng aku lah" ucap kak Uncum ga mau kalah.
"Tolong ya ini bukan saatnya buat debatin aku balik sama siapa, nanti aku bikin jurus seribu bayangan biar kalian bawak bayangan ku satu per satu" omelku mulai kesal.
"Aku ga mau bayanganmu Ran" jawab kak Nanda.
"Trus? tanyaku cuek.
"Aku maunya kamu karena membuatku terus terbayang-bayang" goda kak Nanda.
"Eh bolot malah ngegombal" sahut kak Alfa dari ambang pintu.
"Sumpah aku mual" ucap kak Uncum menimpali.
Yuli hanya tertawa ngakak, pipiku merona akibat kata yang keluar dari mulut kak Nanda tersebut, kak Nanda hanya membuang muka sambil menahan senyumnya.
***
^^^- Rani^^^
^^^Yul aku sama Eka udah di gazebo nih.^^^
Eka merupakan sekretaris Semnas sedangkan aku menepati janjinku dengan Yuli untuk menjadi bendahara Semnas karena Yuli sudah mau menjadi bendahara di Olim.
Yuli datang menenteng sekantong plastik berisikan gorengan beserta air mineral.
"Nih buat kalian" ucap Yuli mengambil posisi duduk.
"Makasih Eyul" sahutku manja.
"Makasih yul" Eka menimpali.
Dari kejauhan kak Nanda datang sambil sibuk merapikan rambutnya.
"Eh ada makanan nih" ucap kak Nanda mengambil goreng pisang dan langsung melahapnya.
"Ngambil ga bilang-bilang, enak aja main comot sembarangab" cerocos Eka yang membuatku dan Yuli tertawa, sedangkan kak Nanda hanya tersenyum malu-malu.
"Kok ketua Devisiku gini amat dah" ucap Eka lagi.
Eka merupakan salah satu staff litbang ia satu kelas denganku namun kami tidak begitu akrab kalau dikelas.
"Udah udah ayok lajutin Proposal minggu depan dah harus masuk kampus" ucap kak Nanda sambil mencomot gorengannya.
"Yeh ni kadiv ngebet amat dah" bantah Yuli.
"Harus, pokoknya minggu depan" kata kak Nanda kembali mencomot gorengannya.
"Iya iya, astoge ga yakin banget dah sama anak anak lu" ucap Yuli mulai jengah.
"Siapa juga punya anak kayak lu" ucap kak Nanda tak mau kalah.
"Anak buah devisi maksud ku sensi amat dah, udah sini-sini gorengan ku jangan dimakan" ucap Yuli kesal.
"Udah ketelen, mau dikeluarin lagi?" tanya kak Nanda dengan gerak-gerik ingin memuntahkan makanannya.
"Ga ga ga usah, kalo aku sampai mual ku tampol kau ya" ucap Yuli lagi mulai kesal.
"Idih ga sudi gua ngamilin lu" jawab kak Nanda.
"Bukan mual yang itu" teriak Yuli kesal.
Aku, Eka dan kak Nanda tertawa melihat ekspresi Yuli seperti orang lapar yang ingin makan orang.
"Ran weekend ada acara ga?" Tanya kak Nanda tiba tiba.
"Aku ga ditanya gitu?" Sanggah Yuli.
"Males" ucap kak Nanda cuek.
"Kan pilih kasih banget dah jadi kadiv" sunggut Yuli sambil mencomot gorengannya.
"Bodo amat" jawab kak Nanda.
"Udah udah ga selesai ni proposal kalo kalian debat teros, ayolah" ucap Eka menenangkan, membuat Yuli dan kak Nanda saling menatap sinis.
***
Drrttt.
- kak Nanda
Ran weekend ada acara ga?
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...