Meet You Again

Meet You Again
Pengorbanan Mey



"Mey akan baik baik saja ayah!" ujar Mey sebelum menutup panggilan. Gadis ini menonaktifkan ponsel dan meletakannya di atas nakas ranjang pesakitan.


"Akhh!!, apa aku bertindak terlalu jauh??" gumamnya pada diri sendiri.


"Santai, santaikan dirimu Mey!" berusaha mengatur napas. Seperti kata dokter, dia nggak boleh banyak pikiran sebelum operasi.


Di raihnya remot televisi dan mencari-cari saluran yang menyajikan hal-hal lucu dan kocak. Untuk beberapa saat kedepan, dia telah terkekeh menatap layar datar televisi.


...........


"Sayang, are you ok??" pesannya kepada Mey hanya centang satu. Perasaan takut kehilangan mulai menghantuinya.


"Dia nggak akan ninggalin aku lagi kan?"


raut wajahnya sungguh sangat kacau!. Pikirannya bercampur aduk bersama masalah sang Baskoro.


Dan dia juga masih harus menunggu hasil operasi yang akan di lakukan kepada papahnya sore nanti.


Trtrt!!, Mamah Calling.


"Iya Mah."


"Kamu kapan ke sini?. Nanti sore Papah akan di operasi."


"Bentar lagi Fatur ke sana Mah" sahutnya dan panggilan pun selesai. Fatur nggak mau terlalu lama berbicara dengan Mega. Dia pasti akan mengungkit masalah Mey lagi, nggak absen di saat Baskoro terbaring lemah tak berdaya. Otak Fatur sudah sangat penuh dengan berbagai macam persoalan, dia nggak mau ocehan Mega semakin mengacaukan diri.


Di sudut pedesaan yang Damai dan tentram. Si kecil Miya sedang repot mempersiapkan keberangkatan mereka ke kota.


"Mah, jalan-jalan?" ujarnya bertanya pada Juwita.


"He-em, kita nengokin Kakek dulu ya" dengan terampil Juwita memasang kerudung di kepala Miya. Mereka sangat serasi hari ini, kerudung mereka berwarna senada. Setelah berpesan kepada para pelayan di rumah, Wita pun berangkat bersama Miya menuju kota.


Melewati perkampungan dan persawahan nan hijau, sesekali dia membunyikan klakson  untuk menyapa para tetangga di jalanan. Keramahan Juwita mengundang decak kagum para warga.


"Orang berduit tapi nggak sombong. Dia juga ikut pengajian sama kita di Mushola" ujar Netizen 1.


''Sayang udah menjanda ya" sahut Netizen 2.


"Eh tau nggak kemarin ustadz Wahab saya liat mandangin dia lho, cocok kan yang satu ganteng yang satu cantik". Netizen 3 juga ikut nimbrung.


"Ibu-ibu, beli sayur apa ngerumpi??" ujar Abang sayur.


"Dua&duanya" sahut para Netizen maha benar. Ckckckckc..


...****...


"Lian, kok nggak jogging pagi lagi?" pesan dari Rani sudah terbaca oleh Lian.


"Lagi banyak kerjaan di kantor. Begadang mulu jadi nggak sempat jogging" balas Lian


"Makan siang bareng yuk" ajak Rani.


Entah angin dari mana Lian setuju makan siang bareng Rani. Mereka janjian di sebuah restoran pinggir jalan. Lian dan Rani tenggelam dalam obrolan ringan dan bercanda. Pribadi Lian yang mudah bergaul dan ramah, membuat Rani sangat merasa cocok kalau sudah ketemu Lian.


"Pusing ya harus ketemu klien di luaran terus" ujar Rani di sela makan siangnya.


"Yah gitu deh. Tapi aku nggak bisa mengeluh, aku harus memajukan perusahaan Ran" sahutnya masih sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Hm" Rani hendak bertanya, tapi takut Lian menjauh..


''Kenapa??" ujar Lian lagi.


"Kamu ngapain sih, sibuk amat sama ponselnya" Rani mengalihkan pembicaraan. Mengurungkan niat untuk melontarkan tanya.


"Pacar aku lagi salah paham, lagi ngambek dia" jawaban Lian menghentikan lengan Rani yang hendak menyeruput es lemon nya. Ada raut kecewa di wajah manisnya.


Sementara itu, Cekrek!!, cekrek!!.


Di luar restoran seorang wanita mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah foto. Tangannya bergetar, dia berbalik dan masuk kedalam mobil. Air mata mengalir deras di kedua pipinya. Kaila, semakin salah paham dengan hubungan Lian dan Rani.


Hari berangsur sore, operasi pun akan segera di laksanakan.


"Pendonornya mana dok?" tanya Fatur yang sedang menggiring sang Papah ke ruang operasi bersama perawat.


"Sudah menunggu di dalam" jawab dokter.


"Apakah kami bisa melihat proses operasinya dok??."


"Kalau boleh tau siapa nama pendonornya dok" Mega juga penasaran dengan sang pendonor.


"Dia meminta merahasiakan identitasnya."


"Kami berhak tau kan dok" tegas Mega lagi.


Dokter terlihat bingung. Kemudian berucap""Dia seorang perempuan berusia 30 tahunan."


"Hah, masih muda dok" sahut Mega.


"Sebenarnya dia sendiri yang menawarkan diri untuk di periksa kecocokannya dengan Tuan Baskoro."


"Berarti dari awal dia sudah tau tentang Papah saya dok" mengangguk, dokter meng- iya kan pertanyaan Fatur.


"Awalnya operasi ini akan di lakukan empat hari yang lalu, namun perempuan itu mendadak mendapat panggilan untuk kembali ke Jepang selama tiga hari."


DEG!!!"


"Balik ke Jepang dok??" tanya Fatur sangat khawatir. Nggak mungkin kan!! pekiknya dalam hati.


"Ya, kemarin siang dia kembali dari Jepang dan langsung menginap di rumah sakit ini, untuk persiapan operasi hari ini" sahut dokter lagi.


"Mey, apakah namanya Mey?."


"Owh, ternyata kalian saling kenal. Pantas saja dia bersikeras bendak melakukan operasi ini meski dia tau resikonya" sahut dokter itu.


"Sudah waktunya, saya permisi ke dalam. Berdoalah untuk kesembuhan tuan Baskoro dan Nona Mey." Begitu pesan sang dokter sebelum pergi dari hadapan mereka.


Tatapan nanar Fatur menghujam diri Mega. Matanya merah berkaca-kaca"Mamah lihat!!itu Mey, Mah. Orang yang sangat Mamah benci!!." Dia sangat frustasi. Ingin rasanya dia masuk ke dalam dan melihat langsung proses operasi tersebut.


Kalau gagal, dia akan kehilangan dua orang yang sangat berarti untuknya.


Mega terduduk kaku, bayangan Mey terus menghantuinya"Kenapa harus anak itu??!" pekiknya.


"Kenapa?, Mamah tanya kenapa?, sebab dia perduli sama keluarga kita Mah!" Fatur menahan emosi terhadap Mega. Di saat seperti ini dia masih mempertanyakan Mey. Jelas-jelas nyawa gadis itu sedang di pertaruhkan di dalam sana.


"Ya Tuhan, ampuni segala dosa-dosa ku. Tolong jaga Mey dan Papah ku!!" batin Fatur meronta-meronta kepada sang maha pencipta. Dia nggak tau harus berbuat apa lagi sekarang.


Trtrt!!..Trttt!! Vino calling"Aku on the way Tur."


"Ajak Kaila, Vin please!!" pinta Fatur.


"Kenapa??" dengan nada bingung Vino seakan meminta penjelasan Fatur.


"Pendonornya adalah Mey " kedua mata lelaki itu mengeluarkan air mata.


Vino sempat terdiam"Bukannya dia masih di Jepang?."


"Dia merahasiakan hal ini dariku. Dia sudah balik Indo kemarin."


Secepatnya Vino menghubungi Kaila dan juga Lian. Sementara Jova dan Ben harus mengurus Cafe, menggantikan Kaila.


Pertemuan Lian dan Kaila pun terjadi, namun Kaila masih bersikap dingin kepada Lian. Apalagi setelah apa yang dia lihat tadi siang, dia semakin berusaha menjaga jarak dengan Lian. Bukan marah, dia hanya terlalu takut dengan perasaannya sendiri yang sangat cemburu kepada Rani.


Cukup lama mereka menunggu di depan ruang operasi. Hingga kedua orang tua Mey datang pun, operasinya belum selesai.


"Bu, kalau saya tau Mey yang menjadi pendonor itu, saya nggak akan membiarkan Mey melakukan ini. Maafkan saya bu."


"Sudahlah nakal Fatur, ini kehendak Mey. Semoga saja semuanya akan baik-baik saja" dengan tenang Ibu nya Mey menerima keinginan sang putri.


Pandangan Mega masih saja tertunduk, dia sangat tertampar dengan keberanian Mey hari ini. Kalau dia berada di posisi Mey, belum tentu dia akan melakukan hal ini. Dia terlalu malu untuk menatap dan menyapa kedua orang tua Mey.


Tit!! lampu di ruang operasi berubah hijau. Mereka semua siaga. Dokter membawa kabar baik untuk keluarga Baskoro, namun tidak pada keluarga Mey.


"Nona Mey mengalami kejang ketika operasi berlangsung, dia alergi anastesi di tengah operasi."


Kedua kaki Fatur tak mampu menopang tubuhnya yang lemas.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.