
...Happy reading...
"Ran bangun Ran" Yuli menggoyangkan bahuku pelan.
"Jam berapa?" tanyaku masih memejamkan mataku.
"Udah jam 05.30, mandi geh siap-siap" ucap Yuli lagi.
Aku bangkit dari kasur dengan langkah lunglai, menarik handuk dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"aaaaa" teriakku dari dalam kamar mandi.
"Ran kenapa?" tanya Yuli sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Di dingin Yul" ucapku gagap menahan dinginnya air yang mengguyur tubuhku, bibirku bergetar nyaris biru karena sumber air dari kaki gunung memang benar-benar dingin dari pada air sumur yang biasa kugunakan.
"Astoge ku kira kenapa-kenapa tadi, wajarlah Ran kan airnya dari pegunungan" jawab Yuli terkekeh geli.
***
Aku duduk ditepi pendopo menatap peserta yang sudah mulai berbaris menyusun barisan, aku memanggu daguku dengan kedua lututku yang ku peluk erat.
"Rani ayok panitia yang lain udah pada mau senam" ucap Yuli sambil menarik tanganku, aku yang terlihat malas untuk ngapa-ngapain dipagi ini karena jiwa rebahan sudah menguasaiku, belum lagi udara pagi ini benar-benar dingin hingga menusuk ke tulang.
"Rani ngapain pakai hoodie nanti dimarahin" ucap kak Nanda menghampiriku.
"Dingin begini masak ga boleh pakai hoodie gitu" jawabku tak mau kalah.
"Buka buruan sebelum yang lain lihat nanti malah kamu yang dipermalukan didepan peserta" ucap kak Nanda memperingati.
"Iya iya" jawabku kesal.
"Astaga kita lagi di kulkas kah kok dingin banget" ucapku lagi, sambil melepas hoodieku.
"Kulkas pala lu, udah ayok ikutan baris orang udah mau senam ini" sergah Yuli sambil menarik tanganku dan mengeretkan kearah barisan.
Aku mengikuti senam pagi ini dengan tampang ogah-ogahan, aku bergerak antara menggoyangkan tubuhku dengan diam ditempat, kemudian mengikut games dan sarapan pagi.
"Ran, snack buat bekal peserta hiking udah belum?" Tanya kak Nanda mengingatkan.
"Oh iya belum kak" ucapku sambil menepuk jidatku.
"Ya udah ayok buruan mereka udah mau siap-siap berangkat tu" ucap kak Nanda buru-buru kebelakang pendopo mempersiapkan segala halnya, aku dan Eka mengikuti dari belakang.
Bergegas aku ketumpukan trashbag, mengelompokan makanan tersebut dibagi rata agar semua peserta kebagian. Kemudian memberikan snack tersebut kepada setiap ketua kelompok agar dimasukkan kedalam ransel yang nantinya akan digunakan sebagai ransel perlengkapan mereka.
***
"Siapa yang belum kebagian nasinya?" tanyaku sambil melihat satu persatu peserta yang belum mendapat makan siangnya.
"Aku kak" jawab Tiwi salah satu peserta.
"Ada lagi?" tanyaku sekali lagi.
"Udah kak udah" sahut beberapa peserta yang lainnya.
Setelah mengurus makanan peserta kemudian aku mengurus makanan untuk para panitia agar semuanya kebagian makanan. Sedangkan untuk air minum kami dipersilahkan untuk mengambil sendiri didalam dus yang telah tersedia.
Selesai makan siang dan beristirahat peserta diminta untuk berbaris karena akan dilaksanakannya pelantikan kader untuk pengurus diperiode berikutnya.
***
"Aaduh" berbarengan dengan suara orang jatuh, aku menoleh dan tersenyum sejenak ketika menemukan seseorang terpeleset di sekitar gazebo.
"Gimana Ran Lapinsar kemarin?" Tanya Ratna sambil cengengesan.
"Yah gitulah, lebih banyak capeknya tidurku kurang belakangan sibuk rapat melulu, waktu rebahanku juga berkurang" ucapku menjelaskan.
"Kau si rebahan mulu yang dipikir" sanggah Ratna yang memang paham kebiasaanku saat tak memiliki kegiatan.
"Hai Ran" sapa kak Nanda ramah.
"Hai kak" jawabku kemudian bersalaman seperti biasa.
"Ga kelas?" tanya kak Nanda lagi.
"Nanti jam 13.00" jawabku seadanya.
"Oh, oh iya Ran jangan lupa ya nyicil proposal buat Olim dan cari sekretaris sama bendahara panitia" ucap kak Nanda kembali mengingatkan.
"Oh iya aku lupa kak seriusan" ucapku sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahku membentu tanda V.
"Ya udah nanti aku saranin beberapa orang buat jadi panitia intimu, nanti kamu hubungi mereka minta ketersediaannya" ucap kak Nanda lagi mengarahkanku.
"Ok, makasih banyak kak" ucapku, sedangkan Ratna hanya duduk diam disebelahku.
"Kamu temannya Rani?" Tanya kak Nanda pada Ratna.
"Oh iya eeemm kak" jawab Ratna bingung harus memanggil dengan sebutan apa.
"Ran bukannya ini tu orang yang distand BEM waktu pendaftaran dulu" bisik Ratna.
"Oh ya Ratna kenalin ini namanya kak Nanda dia ketua devisiku" ucapku memperkenalkan kak Nanda ke Ratna, karena aku tak enak membahas kejadian distand waktu itu.
"Oh gitu, aku Ratna" ucap Ratna ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Nanda" ucap kak Nanda menjabat tangan Ratna.
Ratna menyikutku, aku menoleh kearahnya dan kuliat sepertinya Ratna tertarik dengan kak Nanda.
Drrttt
- Sania
Ran, Doni sekarat sekarang lagi dirumah sakit.
Deg deg deg.
Aku bangkit dari dudukku menatap nanar pada layar ponselku, kugeser layar ponselku mencari nama Sania dan segera menghubunginya
"Halo San" ucapku saat telepon telah tersambung.
"Halo Ran" ucap Sania dari seberang sana.
"Sekarat gimana maksudmu?"
"Aku juga ga tau tadi tiba-tiba ditelpon sama kevin katanya Doni sekarat" jawab Sani kedengaran panik.
"Terus sekarang gimana keadaannya?" tanyaku penasaran.
"Dia masih belum sadarkan diri, nanti aku hubungin lagi tenang ya ga usah panik, Doni baik-baik aja kok" telpon terputus.
"Hei apa yang ku khawatirkan, bukankah aku sudah mulai menyukai kak Nanda? apa peduliku? dia mati sekalipun sudah bukan urusanku lagi" batinku sambil termenung.
"Kenapa Ran?" Tanya Ratna ikutan panik.
"Doni kritis" jawabku singkat, wajahku tampak datar tanpa ekspresi.
"Doni? Siapa Doni?" Tanya kak Nanda.
"Mantan pacarnya" jawab Ratna singkat.
kak Nanda hanya manggut-manggut mendapati jawaban yang tidak diharapkannya dari Ratna.
"Ayok Ran kekelas aja" ucap Ratna menarik lenganku.
"Emm" anggukku pelan.
"Kak kita duluan ya" ucap Ratna dan aku melangkah tanpa tenaga, aku sendiri bahkan bingung dengan tubuhku yang tak terima dengan keadaan ini.
"Oh iya iya" jawab kak Nanda.
Kami berlalu meninggalkan gazebo berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas berikutnya. Selama perkuliahan berlangsung hatiku benar-benar tidak tenang, aku bertanya tanya mengapa Sania mengabariku mengenai keadaan Doni padahal Sania sendiri tau bahwa aku dan Doni telah usai.
Aku terus berfikir keras sampai otakku tak bisa menerima materi yang disampaikan dosen seakan materi tersebut hanya masuk kelinga kanan dan keluar telinga kiri.
"Udah ga usah dipikir cuma mantan kok" ucap Ratna mencoba menenangkanku.
"Iya" jawabku sambil tersenyum kecut.
***
Drrttt.
Kuraih hpku yang terletak diatas meja dengan buru-buru berhadap mendapat kabar baik kalau Doni sudah siuman atau semacamnya, namun yang didapatinya hanya pesan dari kak Nanda.
- kak Nanda
Ran ini orang yang aku rekomendasikan buat jadi sekretaris sama bendahara semoga salah satu dari mereka bersedia dan bisa menjadi patner kerja yang baik ya.
1. Eka
2. Dina
3. Icha
4. Erni
5. Reva
"Kupikir chat dari Sania atau kevin" ucapku berdecak kesal.
Drrttt.
Malas-malasan aku kembali meraih hpku, menggeser layarnya tersebut dan langsung bangkit dari kasur.
- Sania
Ran, Doni udah sadar.
Tanpa berfikir panjang langsung saja kembali kutelpon Sania untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
"San gimana?" tanyaku.
"Doni udah sadar kok kau tenang ya, tapi dia belum boleh banyak bicara, nanti aku hubungi kalo kondisinya udah agak mendingan ya. Kau yang tenang ya jangan panik" ucap sania mengingatkan.
"Iya, tapi San Aku.." tut tut tut, telepon di tutup.
"halah udah dimatikan" ucapku membanting ponselku ke kasur.
"Apalagi yang dilakukan si brengsek itu? selalu aja berhasil berantakin isi otakku" aku berdecak kesal sambil mengacak-ngacak rambutku frustasi.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca.***...