Meet You Again

Meet You Again
[S1] 21. Asdos pribadi



...Happy reading...


"Ga boleh" "Ga boleh"


"Yeeeh dia berangkat bareng gua ya pulang juga harus bareng gua lah" sunggut Yuli mulai jengah menghadapi tingkah kekanak-kanakan kedua kating dihadapannya.


"Em udah ya dari pada ribut mending aku jalan aja" ucapku yang juga ikut malas menanggapi pertengkaran ketiga orang bocah disekitarku.


"Ga" "Ga" "Ga" ucap Yuli, kak Nanda dan kak Kusuma secara bersamaan, aku bingung dan menatap mereka satu persatu, padahal perkara aku pulang dengan siapa bukanlah suatu hal yang harus diperdebatkan. Akupun mulai melangkah meninggalkan mereka bertiga yang masih mematung didepan sekre.


"Kau sih" seru kak Nanda sambil menyikut kak Kusuma dan berlari mengejarku.


"Kok aku" ucap kak Kusuma juga tak mau kalah ikut membuntutiku, begitupun dengan Yuli yang juga tak mau kalah.


"Sudah sudah ga usah berantem" lerai Yuli ditengah perdebatan kedua kating yang bersifat kekanak-kanakan yang berjalan beriringan denganku.


"Loh sepeda motor kalian gimana?" Tanyaku, menatap ketiga orang tersebut yang ikut berjalan kaki denganku.


"Udah dikunci stangnya, besok aja gua jemput" ucap Yuli dengan santainya, kak Nanda dan kak Kusuma saling berpandangan memikirkan sepeda motornya.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali kesekre karena mengingat motornya belum dikunci stang, kak Kusuma melihat kak Nanda yang mengikuti langkahnya.


"Apa lu ikut-ikutan?" Tanya kak Kusuma jengah, kak Nanda memberhentikan langkahnya dan berbalik mengikutiku dan Yuli.


"Aku balik ke kos Putra ajalah nanti minta dianterin dia aja buat ngambil motor" ucap kak Nanda memberitahu, aku hanya manggut-maggut meng-ohkan.


"Ga nanya" celetuk Yuli jengah, menatap kadivnya dengan tatapan tajam namun kak Nanda tak menanggapinya. Aku hanya geleng-geleng melihat keduanya, untung saja yang dikatakan demikian kak Nanda, coba kalau kak Kusuma ku yakin kedua orang itu sudah gelut dijalanan.


...***...


Aku bangkit dari dudukku kembali menyandangkan ransel kebahuku melangkah meninggalkan kelas yang telah usai siang itu, dan berjalan menuju gazebo tempat dimana ia berkenalan dengan kak Nanda malam itu.


Kembali kukeluarkannya buku dan alat tulis dan kuamati soal-soal tersebut, aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal. Hal itu menandakan bahwa aku sedang bingung harus mengerjakan soal yang mana dulu, karena kulihat semua soalnya memusingkan kepala.


"Rani, Boleh aku gabung?" Sapa seorang laki-laki berdiri dihadapanku yang tengah membawa beberapa makanan ringan dan air mineral. Kuamati ranselnya memang benar-benar mirip dengan punyaku yang tertukar pada waktu wawancara BEM dulu.


Aku mengamati disekitar gazebo terlihat sepi, sepertinya perkuliah pada pukul 13.00 telah dimulai, sehingga membuat beberapa mahasiswa saja yang terlihat duduk santai disekitar taman gazebo.


"Oh iya silahkan kak" sahutku sambil menggeser buku-bukuku agar bisa berbagi meja dengan kak Nanda. Sebagian buku yang tidak digunakan kumasukkan kembali kedalam ransel agar tak terlalu banyak yang berserakan diatas meja.


"Kamu ga kelas?" Tanyanya tiba-tiba sambil melepaskan ransel dari punggungnya, aku tak sanggup jika harus duduk berdampingan lagi dengannya mengingat tragedi lapinsar dulu saja membuatku mabuk kepayang karena malu.


"Nanti kelasnya yang jam 15.00 kak" jawabku, aku merasa canggung duduk berdua dengannya ditaman dan dibawah terik matahari dipadukan dengan tiupan angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin canggung.


Kak Nanda manggut-manggut mengerti dengan jawaban yang kumaksud, ia mulai mencomot makan yang dibawanya tadi tanpa menawariku.


"Kakak sendiri ga kelas?" Tanyaku ikut berbasa-basi agar kami tak saling diam-diaman seperti orang yang sedang bertengkar.


"Sama aku juga kelas nanti" jawabnya, kemudian menegak beberapa air mineralnya. Aku menelan liur beberapa kali mengapa dia terlihat menggoda hanya karena menegak air minum saja.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku menyadarkan diriku untuk melanjutkan tugas kuliahku. Suasana kembali hening kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing.


Aku kembali meraih bukuku dan mulai mengamati soal-soal yang berada dihadapanku, aku pusing karena tak kunjung menemukan jawabannya. Aku mulai muak dengan persetanan tugas-tugas yang kemungkinan akan membuatku botak diumur yang masih muda.


Kuletakkan buku berada digenggamanku dan mencoba menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar, aku berusaha untuk dengan posisiku sekarang. Aku pusing dengan tugasku namun kak Nanda yang berada disebelahku seakan menggodaku untuk diajak ngobrol.


"Kenapa?" Tanya kak Nanda menatapku sejenak, aku kembali meraih buku yang tadi kuletakkan diatas meja. Mungkin dengan aku bercerita kepadanya, ia mau memberikanku jalan keluar.


"Mata kuliah apa?" Tanya kak Nanda masih setia mencomot cemilannya.


"Akuntansi biaya" jawabku gusar sambil menghembuskan kembali nafasku dengan kasar.


"Mana sini aku liat" ucapnya meraih buku yang ada digenggamanku, aku menatap jengah kearah buku itu belum lagi tebalnya yang seperti kamus membuat lenganku terasa ingin patah setiap membawanya.


"Oh ini aku bisa bantu kok aku kemarin akuntansi biaya dapat A loh" ucap kak Nanda sedikit pamer dan tersenyum kearahku, aku membalas senyumannya.


"Wah, ajarin dong kak" bujukku mana tau ia mau berbagi ilmu, berhubung matakuliah tersebut juga sudah ditempuh olehnya dan nilainya juga memuaskan.


"Sini, nah untuk soal yang ini tu ditambah trus kalo udah dapat hasilnya nanti dikali sama ini, bla bla bla bla" kak Nanda menjelaskan panjang kali lebar kepadaku aku mengangguk-nganggung mencoba memahami penjelasannya.


Aku menyimak setiap penjelasan dari kak Nanda yang rasanya lebih mudah untuk dipahami dari pada penjelasan dosen saat dikelas. Caranya menjelaskan cukup simple dan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga membuatku tak perlu berpikir keras untuk paham tentang penjelasannya.


"Nah kira-kira gitu caranya" ucap Nanda mengakhiri ocehannya, aku mencoba mengerjakan soal yang sudah dijelakannya  panjang lebar dan mengaplikasikannya kedalam lembaran jawabanku.


"Makasih banyak kak" ucapku kepadanya dan tersenyum simpul, dan ia membalaskan dengan masih mencomot cemilannya yang kulihat tak kunjung habis sedari tadi.


"Santai aja, lain kalo ada materi yang kurang kamu ngerti tinggal tanyain aja ke aku" tawarnya, aku mematung sejenak mendengar penuturannya barusan seperti ada janggal, biasanya dia menyebut namaku namun kali ini berbeda.


"Kamu?" Ucapku membeo perkataannya barusan, aku merasa diperlakukan lebih istimewa dari pada biasanya.


"Em?" Tanyanya sambil mengangkat alisnya, ekspresi wajahnya benar-benar lucu dengan sumpalan cemilah dimulutnya membuatku ingin tertawa.


"Oh, ga kak" jawabku membungkam mulutku sambil menahan tawa agar ia tidak tersinggung dengan sikapku.


Aku meraih ponselku kulihat baru menunjukan pukul 14.00, kemudian kulihat disekelilingku hanya kami berdua yang duduk di gazebo tersebut. Aku menatap kak Nanda sesaat kulihat ia meletakan tangannya diatas meja dan  kepalanya diatas tangannya, matanya terpejam terlihat damai sekali saat aku memperhatikannya, padahal cuaca siang ini cukup panas tapi ia bisa tidur ditempat terbuka.


"Manis" gumamku dan melengkungkan bibirku membentuk senyuman. Aku mengalihkan pandanganku dan kuraihnya ponselku hanya untuk scroll media sosial atau hanya mengecek notifikasi.


- Doni


Hai Ran, apa kabar?


Lagi lagi aku menatap ponselku jengah, rasanya kepalamu masih pusing karena tugas dan lagi makhluk laknat ini muncul lagi menambah beban fikiranku. Aku mengabaikan chat tersebut yang berasal dari orang yang pernah mengukir pelangi di masa laluku.


Lama aku termenung menikmati udara panas dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang membuat suasana siang ini tampak ceria. Belum lagi ditambah dengan keberadaan orang sedang tidur disampingku menambah kesan bahagiaku pada hari ini.


Aku melirik kembali ponselku sudah menunjukan pukul 14.45, lima belas menit lagi kelas selanjutnya akan dimulai. Aku bergegas memberskan semua barang-barangku yang berserakan diatas meja.


"Kak" aku menepuk bahu kak Nanda lembut, berusaha membangunkan kebetulan waktu kelas kami bersamaan, jika kubiarkan dia tetap tertidur kemungkinan dia akan bolos kelas nanti.


"Em?" Gumamnya membuka matanya dan mengangkat tangannya keatas, kemudian sesekali menguap dan menutup mulutnya.


"Kakak ga mau ke kelas? Aku mau kelas ni" sahutku memberitahunya, aku meraih buku-buku tebal diatas meja dan menggemnya.


"Em iya" gumamnya lagi sembari mengucek matanya, aku memeriksa kembali barang bawakanku memastikan semuanya tak ada yang tertinggal.


"Aku duluan ya kak" pamitku berlalu meninggalkan gazebo dan melambaikan tangan kearah kak Nanda dan dibalas senyuman darinya.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...