Meet You Again

Meet You Again
Legenda benang merah



...***"Bahkan sapatu tua pun punya pasangannya....


...Jadi bagaimana mungkin seorang manusia tak kan punya pasangan??"***...


...⚘⚘⚘...


Kaila dan Lian memutuskan makan siang di apartemen Kaila. Namun suasana hangat itu mendadak dingin karena perkataan Lian.


"Mamah minta kita nikah!!."


Kaila terhenyak, burger full keju kesukaannya seakan sulit untuk di kunyah. Siang yang indah ini menjadi siang yang pahit baginya.


"Lian, kamu tau kan kalau aku nggak tertarik dengan pernikahan."


Pria yang begitu menyayanginya itu mengangguk di hadapannya"Mekalipun itu bersamaku??" dan Lian balik bertanya.


Gadis berambut sebahu itu nggak berani mengangguk. Jauh di lubuk hati yang terdalam, dia nggak ingin berjauhan dengan kekasihnya, dan untuk mewujudkan keinginannya itu adalah dengan melakukan pernikahan bukan??.


"Aku-----takut gagal, Lian" sahutnya pelan.


"Kamu meragukan perasaanku?."


"Enggak!" jawabnya pasti.


"Aku menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, bersama Ibu dan Kakak laki-lakiku."


"Ayah yang seharusnya memberi contoh baik untuk kami, tak segan-segan menghajar Ibu di hadapan kami."


"Bahkan kematian Ibu ku tak lepas dari derita yang selalu di berikan Ayah kandungku!!."


Lian terperangah mendengar cerita masa kecil Kaila yang pedih. Bertahun-tahun mengenal Kaila, yang dia tahu Kaila di asuh oleh seorang nenek, yang sekarang sudah bertemu sang maha pencipta.


"Aku baru tau kamu punya kakak laki-laki" sahut Lian. Memang, nggak sekalipun dia pernah bertemu dengan saudara kekasihnya itu.


"Dia menikah dengan seorang gadis, anak orang terpandang. Pernikahan itu di dasari cinta yang tulus."


"Namun, ketika seseorang yang lebih baik dari Kakakku hadir dalam kehidupan mereka, pernikahan itu harus hancur. Wanita itu selingkuh, dengan lelaki yang lebih segala-galanya dari Kakakku."


Lian diam mendengarkan cerita hidup Kaila.


"Di tengah kabar duka rumah tangga Kakakku, Ayah yang begitu kejam kepada kami di kabarkan meninggal, dalam kecelakaan bersama teman kencannya. Entah, aku harus bahagia atau menangis." Sepasang manik cantik itu nampak ber-embun.


Lian menarik tubuh Kaila kedalam pelukannya"Dan baru sekarang kamu menceritakannya kepadaku."


"Untuk apa aku membaginya bersamamu. Asal kamu tau, kepindahan ku bersama Nenek adalah akhir dari pertemuan ku dengan Kakak laki-lakiku" lanjut Kaila lagi.


"Dia menghilang dari kehidupanku, sampai detik ini aku nggak pernah tau di mana dia sekarang. Wanita sialan itu sudah menikah dengan selingkuhannya, dia membuang Kakakku begitu saja." Air mata itu akhirnya luruh, membasahi kedua pipi Kaila. Mengingat hal itu sungguh menyayat hati, sebab kehilangan orang-orang terkasih.


Tangisan itu pecah dalam dekapan Lian, bahunya bergetar, sesekali menumpahkan rasa sesak di dada, nggak apa apa kan?!.


"Sudahlah, sekarang aku mengerti. Jangan kamu ceritakan lagi. Kita jalani saja hubungan ini seperti biasanya, kamu percaya dengan adanya benang merah yang mengikat jari manis seseorang dengan jodohnya?."


Kaila menggeleng.


"Aku pernah mendengar cerita dari negeri Cina, yang mengatakan bahwa setiap pasangan sudah memiliki ikatan dengan jodohnya sejak mereka di lahirkan." Lian mulai bercerita.


"Benang berwarna merah itu akan saling mengikat jari kelingking mereka di manapun mereka berada. Dan kalau sudah saatnya mereka menikah, seorang Kakek tua yang membaca buku di bawah sinar rembulan, akan mengganti benang merah pengikat mereka dengan benang merah yang baru. Dan akan di ikatkan kembali di kaki mereka masing-masing."


Tangisan Kaila terhenti, legenda dari Cina yang di ceritakan Lian menggelitik hati kecilnya.


"Kamu----ngarang!?."


"Enggak kok. Ini beneran cerita cinta dari negeri Cina" sahut Lian menepis air mata di pipi Kaila, dengan ujung jemarinya.


"Dan kamu percaya??" Kaila sekarang menahan tawa di bibirnya. Inilah Lian, selalu ada untuknya di saat seperti apapun.


"Hm, di bilang percaya, enggak juga sih. Tapi kalau masalah jodoh aku percaya bahwa manusia tidak di ciptakan untuk menjalani kehidupan dengan sendirian."


"Owwww, otaknya sekarang lagi encer bener yaaa" tawa Kaila mengundang tawa pula di wajah Lian.


"Iya juga sih" kata-kata itu spontan keluar dari mulut Kaila.


"Nah kan, itu juga kamu tau. Aku tungguin deh, sampai kamu yang ngelamar aku."


"Idih, sehebat apa sih kamu sampai harus aku yang melamar kamu!!" mereka mulai melupakan kesedihan dan kekhawatiran yang sempat membuat Kaila menangis.


"Aku ganteng tau!" Lian membanggakan diri.


"Ganteng doang nggak kenyang!!'' pekik kaila. Candaan mereka mengundang gelak tawa. Dalam hati Lian yang terdalam, dia nggak akan menyerah, sedikit lagi mereka akan bersama selamanya.


...***...


Vino melenggang membawa kotak makan siang untuk sang istri tercinta, Jovana.


"Wuuuuu, memang jago masak kamu sayang!!" acungan jempol Jovana membuat Vino tersenyum lebar.


Semenjak menikah, Jova lebih sering memakan masakan Vino ketimbang dia yang memasak untuk Vino. Ternyata anak Bunda itu hobi berkreasi dalam memasak hidangan.


"Sayang, sampai kapan kita harus gantian bawa mobil begini. Tabungan aku kan sudah cukup buat beli mobil. Meskipun nggak se-mewah mobil aku kemarin."


"Nggak usah" sahut Jovana.


"Terus gimana dong, kamu juga nggak harus kerja dari siang sampai malam kayak sekarang kan" Vino merasa kasihan melihat Jova. Semenjak di nikahinya, wanita itu memilih bekerja full time dari siang sampai malam. Namun dalam satu minggu dia akan punya satu hari libur untuknya beristirahat.


"Nggak pa-pa Sayang. Mumpung belum ada dedenya nih'' ujar Jova menepuk perutnya.


Vino tersenyum malu"Kalau sudah ada dedenya kamu aku karungin di rumah aja. Nggak boleh kerja. Cukup diam di rumah. Biarkanlah abang Vino yang bekerja lebih keras lagi" ujarnya menepuk dada.


''Oi oi!!, ngomongin dede segala. Ini masih siang, urusan bikin dede kan malam bro" Lian muncul dan langsung gabung di meja halaman.


"Wah sepertinya enak, kamu yang masak?" ujarnya lagi fokus pada hidangan di depan Vino.


"Aku kerja kali, suami tercinta dong yang masak" Jova memuji kinerja Vino kali ini.


Melihat dan mendengar kebersamaan Jova dan Vino membuat Kaila sedikit tersentuh"Nggak takut keracunan kamu?" Kaila menimpali.


"Mati demi cintapun aku rela deh" sahutan jova membuat Vino semakin pecicilan.


"Ugh~~~ istri aku memang the best. Enggak sia-sia aku masak buat dia. Di masak dengan cinta dan kasih sayang, di jamin hidup kamu makmur Sayang" kerlingan nakal Vino lemparkan kepada Jova.


"Aigooo, jangan bilang mbak Jova ikutan lebay kayak Vino ya. Aku udah mulai terbiasa sih dengan kamu yang cekikikan, tapi kalau kamu ikutan lebay kayak dia....oh tidak!!" pekik Kaila.


"Jangan salah La, inilah indahnya pernikahan. Bisa merubah duka menjadi tawa. Aku yang dingin bisa jadi hangat, bahkan panas kalau lagi ehem-ehem, iya kan Sayang'' kedipnya nakal ke arah Vino.


"Awwwsshh, aku mendadak merinding. Aku pamit kerja deh" Lian bersiap melarikan diri.


''Tau nih, arah obrolannya berbau mesum mulu" Kaila juga udah nggak tahan dengan pasangan aneh ini.


"Hemmm, belum tau aja kamu. Sini deh aku ceritain gimana rasanya nge-teh."


"Jova!!di siang bolong begini mau nyeritain rasanya begituan. Otak kamu geser??" gadis itu menjaga jarak.


Lian tergelak tawa, nggak kebayang kalau Kaila segila ini juga, kalau udah ngerasain nge-teh.


"Eh, ketawa kamu. Sini dulu dong!. Jam makan siang masih panjang" giliran Vino yang hendak meracuni pikiran Lian dengan nikmatnya bercinta.


"Nggak!!, aku nggak bisa tidur nanti. Kamu banyak hipernya dari pada fakta" tolak Lian.


"Sayang!!." Lian melambaikan tangan, isyarat keberangkatannya. Lian buru-buru ngacir dari godaan pasangan mesum.


Gelak tawa mereka mengiringi kepergian Lian dari area Cafe.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.