
Kehidupan yang tenang, aman dan damai. Begitulah yang Vino rasakan sebelumnya. Sebelumnya?? ya!. Ketenangan itu terusik setelah hubungan percintaan terkuak. Mengetahui sang putra telah memiliki kekasih, Hermanto mendesak Vino untuk membawa wanita itu bertemu dengannya, juga sang istri.
Desakan dari Ayah dan Bunda membuat Vino hampir terpojok. Terlebih ketika Bunda tau bahwa gadis yang di cintai anak nya seorang Bartender, yang notabenya bekerja di malam hari, bahkan sampai larut malam. Hati wanita itu seketika resah, wanita seperti apa yang sedang menjalin hubungan dengan sang putra? apakah dia wanita baik-baik? atau....akh! dugaan demi dugaan membuat Bunda resah sendiri.
Takut mendapatkan calon menantu yang nggak sesuai dengan keinginan, Bunda meragukan wanita pilih sang putra. Dan kegigihan Vino meyakinkan kedua orang tuanya pun nggak berbuah manis. Sejatinya jalan cinta mereka bukan hanya berliku-liku, juga di penuhi kerikil tajam.
"Bunda tau kamu orangnya penyayang dan setia, tapi wanita lain kan banyak, Nak" Bunda mencoba memberikan pengertian kepada Vino. Berharap bocah ini mengerti dirinya. Bunda ingin Vino mengerti seperti apa menantu yang dia inginkan, lantas bagaimana dengan Vino? apakah Bunda nggak berniat untuk memahami perasaan Vino?. Dia hanya ingin hidup bersama wanita yang dia cinta, bukan?.
"Apa masalahnya sih kalau dia Bartender?, dia kerjanya nggak macem-macem kok."
"Apa tanggapan orang-orang, Vino?!. Kita keluarga terpandang!."
Vino memicingkan kedua mata menatap lekat-lekat wajah sang Bunda"Maksud Bunda apa?."
"Seorang wanita bekerja di Bar, mendengar tepatnya bekerja saja sudah membuat orang berpikir yang bukan-bukan." Tatap Bunda yang biasanya sayu dan lembut hari ini terlihat sangat berbeda.
"Tapi Bunda, dia wanita baik-baik!."
"Pilih Bunda atau wanita itu" matanya melotot seakan hendak melompat keluar. Memberikan pilihan secara mendadak, membuat kepala Vino berdenyut. Rasanya pusing tujuh keliling.
"Bunda! jangan mikirin orang terus dong. Ini hubungan Vino, kenapa harus repot mikirin pasangan orang?. Lagipula, kami hanya berpacaran, menjalani semuanya dengan perlahan. Memangnya Bunda mau Vino jadi seperti Fatur?."
Ocehan Vino membuat Bunda naik pitam"Heh!! pake ngancam Bunda!!, mau jadi batu kamu??" si Bunda mulai nggak bisa mengontrol omongannya.
Keras kepala Bunda, lebih keras kepala pula sang putra"Pokoknya Vino Nggak akan lepasin Jova!!. Susah lho Bun meyakinkan Jova buat nerima Vino. Dia tu orangnya tegas, disiplin" Vino masuk kekamarnya dan mengambil koper dari kolong tempat tidur.
"Mau kemana kamu?, bunda samperin Jova nya nanti. Kalau dia nggak bisa ke sini biar Bunda yang temuin dia" begitulah pertengkaran anak dan Ibu yang sama-sama keras kepala.
Vino melepaskan koper, tampangnya suram sekali"Lihat kan! Bunda ngikutin cara tante Mega kan?!. Vino udah gede Bun, bahkan udah dewasa. Ayolah, kasih Vino waktu buat berpikir. Please!"
Bunda melengos, membuang muka saat Vino berusaha beradu pandang dengannya.
"Bunda nggak mau Vino sengsara kayak Fatur kan??...kan??" tambahnya.
"Vino......, Bunda cuman mau kamu dapat gadis yang baik, Nak. Bunda nggak bermaksud terlalu ikut campur urusan kamu. Kamu mau minggat? jangan dong!. Nanti kita omongin lagi sama Ayah" dengan pelan Bunda ngusap pundak Vino. Baru menyadari dirinya harus bersikap lunak terhadap Vino.
"Belum ketemu udah kasih tanggapan macem-macem, nggak asik tau Bun!!" dengus Vino.
"Oke, Bunda akan mencoba mengerti kalian. Sekarang bilang hal apalagi yang harus bunda tau tentang Jova."
"Dia lebih tua dari Vino lima tahun"Ujar Vino pelan.
Bunda kembali memelotot. Nggak habis pikir dengan jalan pikiran sang putra dalam mencari pasangan. Mana ini bocah udah nginep di rumah wanita itu!. Sebagai orang dewasa Bunda sudah dapat menduga hal apa yang telah mereka lakukan di kediaman itu. Kepala Bunda terasa mau pecah!!.
Di Cafe, Kaila mengawasi gerak-gerik Jova dari tadi sore. Beberapa kali mendapati sang rekan kerja melamun. Begitu pula dengan Ben, dia juga merasakan ada hal yang nggak ak beres dengan Jovana.
"Jovana sepertinya ada beban, dari tadi kerjaannya buang napas melulu. Kerjanya juga nggak fokus, sering melamun gitu" ujar Ben berbicara pada Kaila.
"Gara-gara Fatur tuh, mulutnya lemes. Nggak bisa jaga rahasia" Lian menanggapi. Pemuda ini ngomong sambil mengelus-ngelus rambut Kaila. Hari ini Kaila sedikit merubah penampilannya, surai yang biasanya hitam legam kini berubah warna menjadi Maroon.
"Sayang, warnanya nggak cantik. Kayak orang nggak mandi."
"Lian! kok di bilang nggak mandi??"Kaila nggak terima"Mahal-mahal ke salon komentar kamu kok gitu!" seraya mengambil kaca kecil dari dalam tas, berkaca di sanan mematut diri.
"Beneran Sayang. Kayak orang abis bejemur, nggak sehat warna rambutnya. Kamu kayak Bule maksa itu mah" ini yang lemes si Fatur apa si Lian sih, lancar banget mengomentari rambut Kaila.
"Kita lagi ngomongin Jova, kok sekarang malah bahas rambut. Nggak asik!." Ben menyingkir dari perdebatan dua sejoli itu dan beralih ke sumber gosip yang lebih akurat.
"Sis Jova, kalau ada masalah cerita aja."
"Masalah apaan? nggak ada tuh" ketus Jova.
"Nggak usah ngeles Kayak Bajaj, cerita aja siapa tahu aku bisa bantu" Ben masih setia untuk menjadi pendengar Jovana. Itu juga kalau Jova mai cerita.
"Nggak ada yang mau di bicarakan, aku nggak ada masalah kok" ujarnya masih berusaha santai. Padahal, hatinya sedang gundah-gulana memikirkan masalah percintaan dengan si brondong.
"Kamu kok kayak meragukan kemampuan aku dalam urusan cinta? biar begini aku pengalam banget lho dalam urusan cinta" Ben bangga dengan dirinya sendiri.
"Pengalaman kawin dia bulan itu?" sebaris serangan Jova berhasil membuat semangat Ben merosot ke bumi.
"Duhai jovana!!, aku berniat membantumu tapi kamu malah memangkas semangatku" wajah si duda berubah masam.
"Hilih!! gitu doang udah mewek. Mana yang katanya kuat dalam menghadapi masalah? pengalaman dalam menghadapi masalah?. Ngomong doang mah enak!. Asal kamu tau ya Ben, beban aku ini sangat berat, kamu bakal terseok-seok kalau memikul beban deritaku!" cerocos Jova panjang lebar.
Mendapati Ben yang kini termenung"Sudahlah, aku masih bisa mengatasi masalah ku kok" sejatinya Jova nggak mau membagi kisah pahit ini. Dia sangat tau bagaimana pahitnya perjalanan cinta Ben, cukup dirinya saja yang kini merasakan hal itu.
"Biarlah kita menanggung beban dan masalah kita masing-masing. Kalau nggak mampu bertahan sendiri, barulah aku akan minta bantuan kalian" batin jova berkata
...****************...
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.