Meet You Again

Meet You Again
Malaikat kecil



Anak lelaki Ben sangat antusias bermain bersama para teman barunya di sekolah. Pagi ini Ben bukan hanya mengantarnya, dia juga memperhatikan tingkal laku Enda dari luar pagar sekolahan.


"Ayahhh pulang saja." Si kecil itu berseru dan melambaikan tangan kepada Ben, yang sedang berbaris di luar kelas.


Sebuah anggukan dari sang Ayah memberi isyarat bahwa Ben akan segera pulang ke rumah. Dia juga melambaikan tangan kepada anak lelakinya itu.


"Duh, senangnya di anterin Ayah" ujar bu guru Sena.


"Hihihi, Ayah Enda keren lho bu guru. Masakannya enak banget" celoteh Enda gemas.


"Benarkah?, wah Enda pasti banyak makan nih, perutnya besar begini. Pasti sarapannya banyak" gurau sang Ibu guru muda itu.


"Hohoho, iya dong Ibu guru. Kalau Enda makannya banyak Ayah senang banget" ujar Enda lagi menepuk-nepuk perut buncitnya.


"Heheheh, dia ceria banget ya" ujar bu Nana.


"Iya bu, dia juga mudah bergaul" sahut bu Sena.


Enda merasa sangat senang hidup bersama Ayah Ben. Nggak sekalipun dia terpikir untuk kembali bersama sang Mamah, Andara.


Dan Ben juga sudah sangat terbiasa hidup bersama Enda. Namun langkahnya menuju rumah harus terhenti, sebuah mobil mewah dengan sengaja menghadang langkahnya.


"Frans" bisik hatinya lirih.


Dengan tampang datar dia berdiri tegap di hadapan Frans, orang yang merebut istrinya, juga orang yang menyiksa anaknya.


Ingin rasanya dia melayangkan tinju ke wajah Frans, namun dia harus berpikir waras. Kekerasan nggak akan bisa menyelesaikan masalah.


"Lama nggak bertemu" ujar Frans yang kini berdiri tepat di hadapannya.


"Hemm" sahut Ben datar.


"Mana Enda?."


"Ada urusan apa kamu mencari Enda?."


"Dia anak ku!" ujar Frans. Tatapnya begitu tajam kepada Ben.


"Dia anak kandungku!!" Ben nggak kalah tajam menatap Frans.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Enda, aku ingin tau bagaimana kabarnya."


Dengan sinis Ben tertawa kepada Frans"Bukan untuk kamu kirim ke panti asuhan kan??."


"Nggak usah sok perhatian. Aku sudah tau semuanya, aku hanya masih bersabar buat nggak ngelaporin kamu ke Polisi."


Wajah Frans merah padam.


"Kamu bukan hanya akan berurusan dengan Polisi, kamu juga akan berurusan dengan komnas perlindungan anak" tekan Ben lagi.


"Aku sudah bilang sama Andara kan agar kamu jangan menampakan diri di hadapan ku!" tangan Ben mengepal menahan amarah, dia sangat kecewa kepada Frans.


"Andara sangat kesepian tanpa Enda----."


"Itu urusan kalian!, jangan bawa-bawa Enda lagi!!" hardik Ben. Benar kata Enda, dia Ayah yang keren.


"Aku hanya ingin mempertemukannya sekali lagi saja" ujar Frans lagi, nampak awan mendung menaungi wajahnya.


"Cih!! kamu sayang banget sama dia, tapi kamu sangat benci sama anaknya. Di mana kebesaran hati kamu Frans??" hujat Ben lagi. Banyak cacian yang hendak dia lontarkan kepada lelaki yang sok berkuasa itu, namun tingkat kesadarannya masih mampu menahannya agar nggak bertindak gegabah.


"Wajahmu tercetak jelas pada dirinya, aku sangat membencimu. Andara bersamaku karena kekayaanku, setahun pertama kami bersama, hampir setiap malam dia mengigau memanggil namamu."


"Nggak usah membahas masa lalu. Berikan nomor ponselmu, nanti Enda akan bicara dengan Andara melalui Video Call. Aku sudah mengikhlas kan wanitakuuintukmu, dan terimakasih sudah bersedia menampung anak ku sebelumnya."


Bibir Frans bergetar"Maafkan aku Ben, kamu memiliki hati yang sangat besar."


"Cukup jauhi anak ku, dan biarkan kami hidup bersama dengan damai. Maka aku akan memaafkan semua kesalahanmu" sahut Ben lagi.


Kepahitan di masa lalu dan kerasnya kehidupan, menempanya menjadi sosok lelaki yang kuat dan tangguh dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.


Sementara Frans, dia menundukkan wajah. Sangat malu terhadap Ben, pria yang telah menjadi korban ke-egoisan dirinya.


...***...


Di sebuah ruangan pada rumah sakit tempat Baskoro di rawat.


"Anda adalah kejaiban untuk pasien kami, tanpa mengharap balasan atau pun bayaran" ujar sang dokter.


"Hem, tapi dok, apakah ada resiko yang bisa membahayakan tubuh saya?."


"Tidak, selama anda tidak alergi anastesi."


Sang pendonor mengerutkan kening, dia meletakan kedua lengannya di meja kerja sang dokter, mencoba bicara lebih dekat dan mencoba lebih memahami pembicaraan mereka.


"Dan, kalau saya alergi anastesi, apa yang akan terjadi dok?."


"Anda akan kejang-kejang saat menjalani operasi."


wanita itu menyandarkan diri, bibirnya mengantup ke dalam. Tapi keadaan Baskoro sudah sangat kritis.


"Anda masih bisa memikirkannya lagi, Nona Meysa" ujar dokter.


Ya!!pendonor itu adalah Mey. Ketika dia mendapati Fatur duduk termenung di depan  pintu apartemennya, saat baru pulang dari rumah sakit, hari itulah kesepakatan Mey dan dokter terjadi.


Melihat keresahan Fatur, hati kecil Mey tergerak untuk memeriksakan diri ke pihak rumah sakit. Dan hasilnya di luar dugaan, Mey memiliki kecocokan untuk menjadi pendonor Baskoro, meskipun nggak memiliki hubungan darah.


Sebenarnya dia pulang tepat waktu dari Jepang, hanya saja dia langsung pulang ke rumah dan membicarakan masalah Baskoro kepada ayah dan ibu.


"TIDAK!!". Itulah perkataan pertama Ibu ketika mengetahui Mey akan menolong papah Fatur.


"Tapi bu, niat Mey baik kan" bela Ayah.


Setelah melalui perdebatan yang panjang dan panas akhirnya sang Ibu luluh juga. Namun tentang alergi anastesi itu"Arrgghh!, Ibu akan sangat menentang ini" jerit hati Mey.


"Tapi dok kemungkinan terjadinya alergi itu sangat sedikit kan??"


"Tergantung tubuh anda, kalau ragu hal ini masih bisa di batalkan. Kalau anda yakin maka sejak hari ini anda harus mulai menginap di rumah sakit ini.


...****************...


Kaila bagaikan mayat hidup, pucat pasi kayak kehabisan darah.


"Kamu sakit, La??" tanya Jovana. Yang di tanya cuman geleng-geleng kepala.


"Lha terus? kayak nggak ada semangat begini!!" Jova merasa keadaan Kaila semakin terpuruk setelah kepergian Lian.


"Lian beneran pergi, Va. Aku bikin status di Whattsapp aja dia nggak ngintip."


"Naaaaahhh, ini nih yang di bilang bang haji Roma irama. Kalau sudah tiadaaaa baru terasaaa 🎵🎵🎵🎶🎶.."


"Jova!!!, makin hari racun nya Vino semakin meresap ke tubuh dan prilaku kamu" Ben bergidik melihat Jova mendendangkan lagu bang haji.


"Vino kan suami aku Ben" nggak malu-malu Jova lanjut berdendang di hadapan Kaila.


"Somplak, otak kamu di geser Vino nih" seru Kaila.


"Hal ini nih yang bikin aku nggak niat menikah, bisa merubah kepribadian seseorang!."


"Eh, itu pandangan kamu aja. Otak kamu cetek nih, ayolah teman, open your mind!" ternyata cara pandang Kaila dan Jova tentang pernikahan sangat bertolak belakang.


"Kamu tu pinter lho La, kok bisa punya pikiran aneh begitu tentang pernikahan!" timpal Ben pula.


"Aku aja yang pernah gagal nggak kapok pengen menikah lagi."


"Kwkwkkw, sayangnya udah nggak ada yang mau kan sama kamu!" sahut Jova lagi.


"Bukan begitu Jova, aku mau fokus merawat Enda. Kalau sudah jodoh bakal ketemu kok nanti."


"Tumben pikiran kamu lebih oke dari si Kaila" Jova melempar senyum mengejek kepada Ayah satu anak itu.


"Heh, Ben gitu loh!!" ujar Ben berbangga diri.


To be continued..


~~♡♡happy reading jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.