Meet You Again

Meet You Again
Say goodbye to money



Suasana tegang masih menyelimuti kediaman Vino, tempatnya di ruang keluarga. Jovana yang memang nggak ingin menyembunyikan kebenaran tentang dirinya, dengan gamblang membuka diri, menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Ayah atau Bunda Vino. Entah itu tentang pekerjaan, tempat tinggal, juga keluarga.


Masih dalam keterkejutan, Bunda hanya dapat menatap Jova turun dan naik, masih setengah hati merelakan putranya kalau harus menikahi wanita ini.


"Kamu tentu sudah mengetahui hal ini, mengetahui semua tentangnya dari pada kami. Lantas, kamu masih ingin bersamanya?" tanya Hermanto memecah kesunyian.


Vino mengangguk yakin"Iya Yah. Seperti apapun latar belakang Jovana, Vino akan tetap bersamanya."


Ayah Hermanto meletakkan jari di bawah dagu, seraya berkata"Lantas, apa kamu siap menanggung resiko kalau masih ingin menjalin hubungan dengannya?."


"Iya Ayah, tentu saja" sahut Vino seraya menggenggam erat jemari Jovana di bawah sana.


Terlihat Hermanto mengangguk pelan"Ayah salut sama kamu yang berani bertanggung jawab. Meskipun Jova nggak sampai mengandung, tapi ayah yakin kalian sudah melakukan hal yang enggak seharusnya kalian lakukan. Iya kan?" kali ini tatapan dingin Ayah seolah menghujam jantung Vino.


Bibirnya tiba-tiba kelu, nggak bisa menjawab pertanyaan Ayah yang sudah pasti benar terjadi.


"Jawab Vino" Bunda ikut menyudutkan Vino.


"Jadi ini alasan ayah berniat menikahkan kami??" perlu keberanian bagi Vino hingga berani menjawab perkataan kedua orang tuanya. Tentu mereka pasti akan berdebat panjang.


"Ya, ayah mengaku. Dan kamu juga harus mengaku sama Ayah, kalian memang sudah kumpul kebo kan?!."


jleb!!! bener banget dugaan Ayah. Tapi kok kebenaran ini menusuk sekali di hati Jova.


"Vino khilaf" jawab sang putra yang sontak membuat Bunda gemas"Khilaf kok sampai nagih tinggal di rumah perempuan yang bukan istri kamu??" pandangan Bunda beralih kepada Jova.


"kamu...!! bisa-bisanya membukakan pintu pada lelaki yang bukan keluarga atau suami kamu. Masih anak kecil pula!."


"Jangan nyalahin Jova Bun. Vino yang ngintilin Jova terus, Vino yang ngebet deketin Jova terus!." Vino nggak rela sang kekasih dijadikan kambing hitam oleh sang Bunda, lantas dia pun langsung membelanya.


"Vino, kamu berani terang-terangan membelanya di hadapan Bunda?, punya tabungan berapa kamu untuk bertanggung jawab??" Sikap Bunda kali ini sedikit mengejutkan Vino, sebab sangat berbanding terbalik dengan Bunda yang biasanya lemah dan lembut kepadanya. Bunda sedikit galak kali ini. Oh enggak!! rasanya sangat galak kali ini, dan ini adalah kali pertama Vino mendapati sang Bunda seperti itu.


"Maaf tante, saya yang salah. Saya akan menerima keputusan kalian" terdengar pasrah Jova akhirnya angkat bicara.


"Kalian harus menikah!!" keputusan Ayah membuat mereka bertiga menatap Ayah.


"Ayah, nggak harus menikah kan?, Jova nggak hamil. Bunda rasa Vino nggak harus menikahinya" keputusan sepihak ayah memukul perasaan Bunda.


"Aku yang melahirkan Vino, aku juga berhak menentukan pilihan pendamping untuknya. Pokoknya aku nggak bisa menerima gadis ini!!" tegas Bunda mengungkapkan kekesalan hati. Dia memang ingin agar Vino segera menikah tapi tidak seperti ini caranya.


Vino masih menggenggam jemari Jova di bawah meja, kata-kata bunda pasti sangat menyakiti perasaan kekasihnya. Wanita berparas cantik ini hanya bisa menunduk lesu, sungguh dirinya nggak bisa berbuat apa-apa saat ini.


"Bunda harus terima!!. Vino sudah melanggar batasan sebagai lelaki, dia sudah gagal. Dan dia akan semakin mengecewakan kalau melepas tanggung jawab terhadap Jova" tukas Hermanto.


"Dan...Ayah malu dengan perbuatan kamu, Vin!!" Ayah menarik selembar kertas putih dan menyodorkannya kepada Vino"Kita akan membuat perjanjian dia atas kertas."


Kekesalan membuat Bunda nggak bisa menahan air matanya. Hal ini bukanlah nggak dia ketahui, tapi mendapati sang calon menantu adalah Jovana, sungguh sulit hatinya untuk merestui. Latar belakang Jovana juga begitu kacau. Bagaimana pandangan orang kepada keluarga mereka nanti.


"Bunda jangan nangis dong, Vino mau menikah, bukan mau berangkat perang" usapan lembut Vino di pipi sang Bunda membuat tangisnya semakin menjadi.


"hick hick, kamu harus melepas semua aset yang kamu punya nak" ucap Bunda di iringi isak tangis.


Jova terkaget, dalam diam mencoba memahami perkataan Bunda.


Vino berbalik menatap sang Ayah"Ayah, maksudnya apa?."


"Kamu keluar dari penerima harta warisan kalau Ayah tiada. Ayah dan Bunda juga nggak akan memberikan kamu tambahan uang selain gaji di perusahaan" berkata santai seraya menuliskan janji itu di atas kertas.


"Kamu nggak bisa mundur. Kamu juga harus bertanggung jawab, kamu sudah menodai akan perjaka Om!" tanpa memandang pada Jova, Ayah tetap melanjutkan menulis perjanjian.


"Mulai sekarang Vino hanya akan mendapat gaji penuh di perusahaan. Sama seperti karyawan lainnya. Tanpa uang jajan tambahan yang rutin Ayah berikan sama kamu."


"Mobil kamu juga Ayah sita."


"Dan secepatnya kalian harus segera menikah, tanpa perayaan!."


Vino benar-benar shok dengan keputusan ayah"Mobil Vino Ayah sita?."


"Iya, mobil kamu Ayah sita..Syukur-syukur kamu nggak Ayah pecat dari perusahaan." Seperti itulah ketika ayah Hermanto bertindak. Dalam sekejap dia mampu membuat sang putra jatuh miskin.


"Terus deposit tabungan kamu----."


"Jangaaannn!!" jerit Vino"Ampun Ayah!!. Jangan di ambil juga, Vino sudah cukup miskin."


Ayah Hermanto tersenyum smirk, sangat puas memberikan pelajaran pada sang putra"Dan kamu Jova, jangan sekalipun berniat meninggalkan Vino. Ingat!! ini adalah kesalahan kalian berdua."


"Kalau salah satu dari kalian berniat berpisah, Ayah nggak akan tinggal diam. Silahkan nikmati cinta kalian sepuasnya, dalam susah dan senang." Ayah pun menyodorkan surat perjanjian yang sudah selesai dia buat kepada Vino.


"Cepat tanda tangani"


Vino menggelengkan kepala.


"Ayo Bund, tuntun Vino sama Jova!!"


Bunda malah semakin sedih dan menangis lagi. Dirinya sungguh nggak sanggup mendukung sang suami menjatuhkan hukuman itu kepada Vino.


"Kenapa kalian berdua ketakutan!!. Ayah hanya akan membuat kalian berdua bersatu, bukan akan memisahkan kalian" ujar Hermanto menatap Jovana dan Vino secara bergantian.


"Bunda juga, katanya pengen menantu. Ini sudah di depan mata, malah nangis bombay..!!" ujar Ayah berpindah pada Bunda.


"Tapi nggak yang seperti ini Ayah----" sahut Bunda terisak.


"Bunda! sudahlah" Ayah memotong perkataan Bunda"Bersyukurlah, Vino nggak ayah keluarkan dari kartu keluarga."


"Ayaahhhh!!!" tangis Bunda semakin deras.


"Jovana, kenapa kamu terdiam. Sudah Terlambat untuk menyesalinya, kamu harus menerima Vino apa adanya, dalam suka mau pun duka, saat kaya ataupun miskin seperti sekarang ini."


Dengan perasaan yang sulit diartikan, Jovana menuntun Vino untuk membubuhkan tanda tangan di atas kertas, yang disodorkan ayah Hermanto. Dirinya pun membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu. Dan setelah kedua anak muda ini menandatangani surat perjanjian, Ayah Hermanto pun berucap"Kemasi barang-barangmu. Silahkan pergi dari rumah ini. Ayah akan menunggu kabar pernikahan kalian. Ayah pasti akan datang memberikan restu" dunia Vino seakan runtuh, dalam sekejap dirinya ditendang dari keluarganya.


Puk puk!! tepukan tangan Ayah di pundak Vino menenangkan hati, mengusir resah hatinya"Kamu cowok Nak, Ayah akan mendukungmu, asalkan jangan minta duit aja" Ayah Hermanto menyeringai dan Vino merasa kesal saat melihat senyuman itu.


"Ingat, kunci mobilnya besok serahkan sama Ayah di kantor ya. Untuk malam ini Ayah pinjamkan mobil itu" masih dengan senyuman yang menyebalkan.


Akh!!, Ayah bermain-main dengan keresahan Vino. Bukannya sedih, beliau malah terus tersenyum kepada Vino dan Jova. Hanya Bunda yang masih menangisi keputusan Ayah terhadap anaknya.


To be continued..


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen.


Salam anak Borneo.