Meet You Again

Meet You Again
Benci dan Rindu



Betapa kaget dan kesalnya Mey dengan pemandangan penuh maha karya di hadapannya.


Banyak pakaian berserakan di lantai. Meja makan di penuhi sisa-sisa makanan instan. Belum lagi bak cuci piring yang sudah sangat penuh bagaikan kapal yang hampir tenggelam.


"Jadi, kamu memaksa aku ke sini untuk beresin ini semua??" Mey kembali jadi banteng yang siap menyeruduk tubuh Fatur, dan menghempaskan nya ke bumi.


"Hehehe, aku nggak bisa kalau tempat tinggal ku berantakan seperti ini" wajah polos itu mengejek harga diri Mey. Memangnya dia pembantu?. Lagian kok masalah kebersihan begini malah meminta Mey yang membereskan nya, apa hubungannya dengan dirinya?.


"Aku harus pulang!" tanpa berpikir panjang Mey berbalik dan menyambar tas laptop nya dari tangan Fatur.


"Nggak bisa dong, Sayang. Kekacauan ini karena kamu" tangannya memegang tas laptop erat-erat.


Mata sipit gadis dengan surai panjang ini memandangnya garang"Kamu belum puas dari pagi buta bikin masalah buat aku?."


"Kamu diemin aku selama dua minggu. Selama itu aku kepikiran kamu terus."


"Makan nggak enak."


"Tidur nggak nyenyak."


"Hidupku nggak karuan, lempar barang ke sana kemari."


"Mau memakai baju ini, tapi nggak nyaman. Memakai baju itu, juga nggak nyaman. Hidupku jadi serba salah sayang" panjang lebar Fatur menjelaskan situasinya.


Ingin rasanya Mey menghempaskan tubuh Fatur ke bumi, mencabik-cabik tubuhnya dengan kedua tangan Mey. Otaknya terasa panas, sudah seperti cerobong kereta api yang mengeluarkan asap mengepul-ngepul"Kamuuu!!!!."


"Heemm" senyum Fatur membuat Mey semakin kesal.


"Mau kamu apa sih, Tur?. Kepalaku sudah pusing dengan urusan kantor. Pulang ke rumah malah kamu suruh membereskan kekacauan gila ini" matanya berkaca-kaca memandang Fatur.


"Pulang ke rumah??" Fatur mengulum senyum. Melihat Mey kesal seperti ini kok ada rasa  greget di hatinya. Di tambah Mey bilangnya pulang ke rumah, berarti mey mengangap mereka tinggal serumah dong!. Akh!! karena cinta, Fatur jadi berpikiran aneh seperti ini. Ckckckck.


"Kepala kamu eror nih, kebanyakan nonton Drakor. Jadi nge-halu nya kelewatan."


"Pokoknya aku mau pulang. Naik taksi juga bisa kok. Itu laptopnya ambil deh. suka-suka kamu!!" Mey berbalik hendak keluar apartemen.


"Jangan dong, Sayang!. Aku bantuin deh beres-beresnya" Fatur memelas.


"Ini kan kediaman kamu!. kamun beresin aja sendiri."


"Terus, jangan jadiin aku kambing hitam ya. Dasar kamunya aja yang baperan. Kalau banyak pikiran tuh di bawa olah raga, di bawa piknik. Jangan bikin rumah berantakan kayak gini" omelan Mey bergema di ruangan itu.


"Oke, aku beresin sendiri. Tapi kamu jangan pulang.Pleasee!!"


"Hadeh~~kasihan juga liat anak tante Mega ini" batin Mey.


"Dari ujung kiri sampai ujung kanan semuanya berantakan, terus aku istriahat dimana?."


"Di kamar aku. Di jamin bersih" Fatur menarik Mey ke depan kamar dan membukakan pintu"Tuh, kamu bisa istirahat di sini. Terserah mau ngapain aja."


"Aku perlu baju ganti, aku juga mau mandi" suara Mey datar. Gadis ini sengaja mencari-cari cara biar ngerepotin Fatur.


"Kita ke Market aja dulu. Beli semua keperluan kamu" lagi-lagi tersenyum. Rasanya hampir seharian ini kerjaan Fatur senyum melulu.


"Baiklah. Tapi nanti malam anterin pulang ya" ujar Mey akhirnya.


Semilir angin segar terasa menyejukkan hati, hal apapun itu akan selalu Fatur lakukan, asalkan Mey merasa nyaman di kediaman itu.


Berbelanjalah pasangan kadang galau kadang ceria ini. Fatur sekalian membeli bahan makanan dan minuman. Sedangkan Mey memilih kebutuhan onderdilnya sendiri. Sesomplak-somplak nya Mey sekarang, dia masih punya rasa malu kalau harus belanja pakaian dalam bersama Fatur.


Setelah selesai berbelanja mereka pun bersiap pulang.


"Eh, ada yang kelupaan, kamu tunggu di mobil aja" setengah berlari Mey kembali ke dalam.


"Jangan kabur ya!!" teriak Fatur. Segitu takutnya pria ini, Mey tertawa geli mendengar teriakan Fatur..


Lima menit berlalu, Mey belum jua muncul.


Sepuluh menit berlalu gadis itu belum juga muncul. Fatur keluar dari mobil, berniat menyusul wanitanya. Jangan-jangan beneran kabur, akh! Fatur jadi resah memikirkan hal itu.


Belum sempat dia melangkahkan kaki, Mey keluar dari Market.


"Ya ampun!! ini cewek udah kayak bunglon, emosinya warna-warni. Nggak terduga" entah kenapa Fatur malah tersenyum memandangi  kelakuan Mey.


Nggak lama kemudian merekapun meninggalkan market"Aku ngutang dulu ya, entar di rumah aku ganti. Gara-gara telat tadi pagi aku cuma bawa uang tunai. Sudah abis juga beli onderdil sama baju ganti" cuek bebek Mey meninggalkan Fatur di ruang tengah. Tanpa menoleh ke belakang dia masuk ke kamar fatur dengan seplastik besar belanjaannya.


Fatur menghela napas pelan, melihat tingkah random sang gadis.


...****************...


Di sebuah Flat yang sekarang di tinggali pasangan unik lainnya. Vino mondar-mandir dengan segelas es kopi di tangan.


"Sayang, lihat laptop ku nggak??" dia ngomong sama Jova di telepon.


"Enggak!!" sahut Jova singkat.


"Aduh, gimana dong. Aku ada kerjaan nih."


"Tau!" sahut Jova semakin irit bicara.


"Kamu ngapain sih??" Vino mulai kesal. Nyariin laptop udah hampir satu jam. Barang-barangnya udah di pindahkan semua ke kediaman Jova. Di kediaman Ayah Hermanto hanya menyisakan tirai berwarna biru, untuk menutupi jendela kamar yang dia tinggalkan.


Si Bunda hampir tiap hari nangis bombay mengenang Vino. Seolah Vino pergi jauh dan nggak balik-balik aja. Dan setiap hari pula Bunda bertamu ke kediaman Jova, dengan bermacam buah tangan. Dari cemilan, sayuran, buah-buahan, daging. Sampai minuman mineral pun Bunda bawakan untuk Vino. Kulkas Jova yang berukuran sedang sampai nggak bisa lagi menampung barang bawaan Bunda.


Kembali lagi pada Jovana. Saat itu dia sedang meracik minuman ketika Vino menelponnya.


"Aku lagi kerja Vin, bukan main-main. Kamu cari sendiri sana, ini ponsel aku selipin di bahu tau. Leher aku sakit."


"Iya deh, aku cari lagi" ujar Vino dan panggilan di tutup.


"Siapa mbak?" kalian ingat Daniel? brondong super krispi yang lebih muda dari pada Vino. Hingga detik ini dia masih berjuang buat deketin Jova lho.


"Suami aku!!" jawab Jova sekenanya. Mereka memang belum menikah, tapi tinggal hitungan hari mereka akan segera sah menjadi suami istri. Sekalian aja Jova bilang kalau Vino adalah suaminya.


Raut wajah Daniel berubah"Kapan kawinnya mbak?, aku hampir tiap malem ke sini tapi nggak denger kabar tentang perwakinan mbak."


"Memang kalau aku mau kawin kudu lapor kamu?, ya malu lah, masa kawin di liatin orang" jawab Jova santai.


Ben mengulum tawa, arah perkataan Jova membuat otak traveling.


"Sama siapa mbak, aku pernah liat nggak" Daniel semakin kepo. Jelas harus tau dong dia. Secara dia kan ganteng dan tajir abis. Perawakan juga tinggi tegap, masa Jova nggak naksir sedikit pun sama dia!.


"Suaminya brondong jiga kayak kamu" Ben mulai memanasi Daniel.


"Katanya nggak mau sama brondong!. Mbak nggak kasih aku kesempatan nih, main kawin aja..!!"


"Sudah jodoh, mmau di gimanain lagi" Ben lagi yang menyahut.


"Udah deh mas, aku ngomong sama mbak Jova kok" kesabaran Daniel mulai menipis.


Jova menghela napas"Kamu tau abang-abang yang sering ke sini sama abang yang itu?" menunjuk Lian yang lagi ngintilin Kaila. Nampaknya mereka sedang ada konflik juga nih.


"Yang tinggi putih?."


"Yang rambutnya coklat?" sahut Daniel"Jadi itu suami mbak Jova?."


Jova na mengangguk"Sudah jelas kan?. Sekarang kamu nggak usah buang-buang waktu lagi, cari gadis yang seumuran sama kamu aja. Biar imbang."


"Enggak!. Mbak kan masih bisa cerai!!" Daniel kelewatan nih, belum sah menikah udah keduluan di doa in cerai.


"Daniel!!" hardik Jova.


Wajah Daniel benar-benar kesal, dia membayar minumannya dan"Kalau mbaknya udah cerai, hubungin aku ya. Aku bakal balik lagi mengejar cinta mbak Jova" dia memberikan kartu nama kepada Jova dan pergi meninggalkan bar.


"Ckckckckc, jiwa muda sungguh menggebu-gebu. Baru lulus sekolah udah sombong" mulut Ben komat kamit mencibir Daniel.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.