Meet You Again

Meet You Again
[S1] 17. Gara-gara bocah



...Happy reading...


*tiga tahun yang lalu


Aku berjalan menyusuri lorong untuk menaruh buku-buku yang berada diatas troli yang tengah ku dorong, aku berhenti dilorong bagian buku anak-anak. Terdengar diseberang sana ada seseorang mengomeli pembaca buku yang tak merapikan kembali buku yang dibaca seperti semula.


"Cih dasar kutil badak, ga bisa kah kalo selesai baca tu ditaruh lagi gitu biar rapi" ucapnya berdecak kesal. Laki-laki itu menarik buku tersebut dan menyadari sepasang mataku yang tengah memperhatikan gerak geriknya.


"Emm?" Ia menaikan alis kearahku, dari seberang rak buku tersebut, namun aku tak ingin memberikan respon apapun kepada orang yang tak kukenal.


Aku berlalu meninggalkan rak dan berjalan kelorong buku yang lainnya, terdengar langkahnya berderap seakan menyusul kearahku namun sepertinya ia tak melihatku pindah kelorong yang sebelahnya.


"Jangan jangan bukan manusia lagi iii" suaranya terdengar menjengkelkan ditelingaku, ku turunkan tanganku dari gagang troli dan ingin menampar mulut kurang ajarnya.


"Tapi seorang bidadari jatuh dari rak buku" ucap Laki-laki itu lagi membuat langkahku terhenti dan mengurungkan niatku. Aku tersipu malu mendengar pujian yang kurasa terlalu berlebihan entah mengapa tapi aku suka.


...***...


Seperti biasa aku menginjakkan kembali kakiku digedung yang menyimpan segala ilmu didalamnya. Kususurinya lorong bagian komik dan memilih bahan bacaan yang terlihat menarik, ku ambil komik doraemon dan mencari tempat duduk yang paling nyaman untukku menyendiri.


"Astoge, bocah bocah masih bau kencur aja mau pacaran!" Teriak seseorang yang membuatku merasa terganggu karenanya, kututup buku bacaanku dan beranjak untuk mencari sumber suara kebisingan tersebut.


"Kalian berdua ya bener-bener ya, perpus buat baca buku, buat belajar bukan buat pacaran. Dasar bocil!" Sergah laki-laki dan mulai menyeret kedua bocah tersebut, aku membalikkan tubuhku dan bersembunyi dibalik rak buku.


"Aduh kak sakit jangan tarik-tarik" ucap bocah perempuan tersebut, aku mengintip dari celah-celah buku dan tampak bocam perempuan itu meringis karena laki-laki itu menarik pergelangan tangannya.


"Kak jangan tarik tangan pacarku kak, tarik aku aja jangan dia kak, kasian kak dia kesakitan" ucap bocah lelaki itu memohon kepada laki-laki yang menjadi pengamatanku, ia melepaskan tangan bocah bocah tersebut, aku memutar bola mataku menatap jengah dengan keromantisan bocah-bocah yang membuat perutku mual.


"Astoge astoge, mau jadi pahlawan kesorean apa em?" Tanya laki-laki itu dengan suara menggelegar membuat perhatian pengunjung perpus sontak tertuju padanya. Aku melangkah keluar dari persembunyianku, aku melangkah kearahnya dan dua bocah ingusan yang sedang bersamanya.


"Ada apa ni?" Tanyaku pura-pura tak mengetahui situasi dan cengengesan menatap dua bocah yang terlihat ketakutan.


"Orang jomblo ni iri liat kita pacaran" jawab bocah lelaki tersebut yang membuatku tertawa geli karenanya, jawaban yang baru saja dilontarkannya benar-benar menggelitik perutku.


"Eh kamu ya sembarangan aja kalo ngomong" ucap laki-laki menggaruk tengkuknya yang sepertinya salah tingkah dan ku lihat pipinya bersemu merah.


"Ya udah bawa mereka kak Lara aja" Ucapku mengusulkan dan mulai menggandeng bocah perempuan yang berada disampingnya.


"Siapa kak Lara?" Tanyanya yang tampak bingung dan tak tahu apa-apa, bagaimana mungkin ia sering ke sini tak kenal dengan kak Lara.


"Kepala perpus" jawabku singkat, aku malas banyak bicara dengan orang baru, aku tak mau terlihat mudah bagi orang baru untuk mendekatiku.


"Oh, Ayok" sanggahnya sambil manggut-manggut dan menarik bocah laki-laki yang juga disampingnya.


"Apasih kakak pegang-pegang jijik tau, nanti kita malah dibilang homo" protes bocah laki-laki itu melenggang santai mengikuti langkahku. Laki-laki itu hanya geleng-gelengkan kepala melihat tingkah bocah milenial jaman sekarang.


Aku mengetuk pintu ruangan kak Lara beberapa kali barulah dibukakannya, dan kami dipersilahkan masuk. Aku duduk disofa disamping meja kerjanya dan mereka bertiga mengikutiku.


"Ran, tutup pintunya" ucap kak Lara mengambil posisi untuk duduk kemudian menyilangkan kakinya, aku berjalan untuk menutup pintu menuruti sesuai perintah kak Lara.


"Sekolah dimana kalian?" Tanya kak Lara dengan nada bicara yang dingin namun menakutkan, kedua bocah dihadapannya hanya mematung dan tertunduk lesu.


"Eh, saya nanya ini kok ga dijawab" ucap kak Lara lagi, raut wajahnya mulai berubah, kak Lara memang orang yang mudah terbawa emosi dan mudah pula meredamkannya.


Braakk, aku dan yang berada diruangan tersebut kaget dengan tepukan meja yang dilakukan oleh kak Lara, dua bocah yang dihadapan kak Lara diam seribu bahasa seperti dalam persidangan yang dijatuhi hukuman mati.


"Tadi aja kayak jagoan ngomong denganku, sekarang kayak ayam kehilangan induk" ucap laki-laki itu kemudian menyikut bocah laki-laki yang duduk disampingnya. Bocah laki-laki itu melemparkan tatapan sinis, dan ia hanya mengangkat alisnya mengartikan bahwa ia tak perduli.


Cukup lama kami berada diruangan kak Lara menunggu kedua bocah tersebut selesai diinterogasi, aku merasa bosan menunggu perkara ini selesai, aku ingin segera keluar dan menyelesaikan bahan bacaanku.


"Mau ku nikahkan kalian haa? Udah gatal ya sampai-sampai pacaran pun didalam perpus" ucap kak Lara murka yang membuat seisi ruangan ikut kaget.


"Ga kak ga" ucap bocah perempuan itu cepat, dan bocah laki-laki membeo ucapan bocah perempuan tersebut.


"Ih serem cantik cantik kok galak ya" ucap laki-laki itu bergidik ngeri, aku terkikik menahan tawa, dia baru tau aja kalo kak Lara galak, itu sih belum seberapa dibandingkan waktu dulu dia memarahiku main pasir bersama adiknya.


"Kayaknya masih gadis deh" ucapnya lagi menatap kak Lara yang tengah menatap jengah kearah sepasang bocah ingusan dihadapannya.


"Iya, dia masih gadis" jawabku tanpa mengalihkan pandanganku darinya, dia memanggut ber-oh ria.


"Kamu kenal kak Lara sejak kapan?" Tanyanya lagi tampak penasaran, sebenarnya aku tak suka seseorang mengorek informasi pribadiku, namun entah mengapa aku tertarik dengan apapun yang dibicarakannya.


"Entahlah aku saja lupa, aku kenal dia karena hampir setiap hari aku kesini cuma sekedar baca komik atau menghindari penjara tanpa jeruji, ditambah lagi rumah kami berdekatan" aku menjelaskan panjang lebar, dan dia tampaknya tertarik dengan topik pembahasan tersebut.


"Penjara tanpa jeruji?" Ulangnya membeo tampak bingung dengan maksud perkataanku barusan.


"Emm" gumamku diselingi dengan anggukan pelan. Kami terdiam sejenak mengamati sepasang bocah dengan air mata berderai karena baru saja menjadi sasaran kemarahan kak Lara.


"Aku..." ucap laki-laki itu tanpa bermaksud memotongnya, aku bangkit dudukku karena melihat kak Lara menyudari kemarahannya. Kedua bocah tersebut dipersilahkan meninggalkan ruangan kak Lara sambil terus memperingatinya agar tak mengulangi kejadian yang sama dikemudian hari.


Dilihat dari wajahnya seperti anak baru tamat dari SD, bagaimana mungkin kami membiarkan penerus bangsa rusak karena hal yang tidak seharusnya dilakukan.


"Ran, kemarin kok ga ke sini" tanya kak Lara Santai, aku mengalihkan pandanganku kearah kak Lara.


"Penjaraku lagi dikunci, yang bawak kunci ga tau kemana" jawabku seadanya, laki-laki itu menaikan alisnya berulang kali seperti meminta penjelasan lebih lanjut dariku.


"Hahahaa kebiasaan" tawa kak Lara lepas saat menuturkan alasanku, biasanya aku memang sering ke sini untuk sekedar bantu-bantu ataupun untuk bersantai menghindari omelan ibu.


"Habisnya ibu bener-bener ga ngizinin aku kemana pun selain kesini" ucapku mulai jengah, dan terlihat laki-laki itu sedang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa hubungannya penjara, pemegang kunci sama ibumu?" Tanya laki-laki tersebut menyela ditengah pembicaraan kami.


"Eh, kamu siapa? Sejak kapan disini?" Tanya kak Lara kaget, sepertinya ia tak menyedari keberadaan laki-laki itu sejak keluarnya sepasang bocah bau kencur tadi.


"Oh ya kak dia ini yang nemuin bocah berdua tadi" ucapku menjelaskan ke kak Lara, padahal aku sendiri saja tak tahu namanya siapa.


"Emm, aku Doni kak" ucap Doni mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan kak Lara.


"Oh, aku Lara" jawab kak Lara memperkenalkan diri sambil menyalaminya.


"Oh ya kita belum kenalan" ucap Doni kearahku dan aku mematung dengan senyuman kaku, terpaku karena pesonanya.


"Aku doni" ucapnya mengulurkan tangan kearahku, akupun menyambutnya dengan senang hati.


"Eh iya, aku Rani" ucapku sambil melontarkan senyuman termanisku membuat pipi Doni merona karenanya.


"Kamu kenapa kok mukanya merah? Demam ya?" Ucapku berlaga tak tahu dan meletakan punggung tanganku didahinya yang membuat pipi Doni tambah bersemu merah.


"Jangan pacaran diruanganku" hardik kak Lara pada kami berdua, aku dan Doni tersentak kaget mendengar ucapannya.


"Eh, maaf" ucapku dengan buru-buru kutarik tanganku dari dahinya, untung saja ada kak Lara jika tak ada mungkin hal lain akan terjadi antara kami berdua.


"Kak aku keluar dulu mau lanjut baca buku" ucapku dan buru-buru keluar dari ruang kak Lara, Doni mengekoriku dari belakang.


...***Jangan lupa vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...