Meet You Again

Meet You Again
Meet u



Kaila terhenyak. Gelas di genggamannya nyaris terhempas ke lantai. Dia tak percaya dengan apa yang di tangkap indra penglihatannya.


Seseorang yang sangat dia kenal, sedang bersenda gurau, mesra dengan seorang gadis belia. Bahkan bisa jadi gadis itu tak lebih tua dari Kaila .


Kaila sedang berada di kota sebelah. Iya mendapat info bahwa sang Abang berada di kota tersebut, namun dalam keadaan yang menyedihkan. Tanpa bercerita kepada siapapun dia mencoba mencari tau keberadaan sang Abang.


Sedari pagi-pagi sekali Kaila sudah bergegas melakukan perjalanan jauh, sendrian. Hari ini dia meminta libur untuk tiga hari kedepan.


Ketika jam makan siang telah tiba, Kaila menepikan kendaraannnya pada sebuah restoran yang berdiri di pinggiran ruas jalan antar kota. Pengunjung di sana memang kebanyakan orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh, sama sepertinya.


"Terimakasih Sayang sudah bersedia nemeniku ke rumah Nenek."


"Kamu sampai harus nggak masuk kerja hari ini kan" gelayut manja sang gadis membuat Kaila jijik. Dengan dandanan yang heboh, gadis itu berlagak seperti wanita berkelas. Dia pun menatap rendah kepada para pelayan yang dengan baik dan sopan menghidangkan makanan di atas mejanya .


"Duh, piringnya belepotan tuh. Dapurnya steril nggak sih?!."


Sang pelayan memohon maaf dengan ke-tidak nyamanan yang terjadi itu.


"Akan kami ganti hidangannya nona" ucap sang kepala pelayan.


"Ouch, berarti kami harus menunggu lagi dong" lenguhnya kesal .


"Sudahlah Sayang. Dengan begitu waktu istirahat kita akan bertambah kan" ucap sang lelaki bersuara berat itu .


"Heem, baiklah. Tapi cepet ya" nampaknya sang lelaki memiliki pengaruh kuat terhadap gadis jalan9 itu. Sekali ucapannya saja sudah mampu meredakan amarah sang gadis.


Gadis jalan9?!. Iya!!, dia memang gadis jalan9 di mata Kaila. Kelakuannya sangat nggak mungkin di perankan oleh gadis baik-baik. Menjalin hubungan dengan seseorang yang telah beristri, ouwhhh!!!. Kaila benar-benar geram dan jijik melihat drama romance yang mereka suguhkan di hadapan Kaila .


"Pelayan!" Kaila sengaja menyaringkan suaranya memanggil sang pelayan .


Sontak panggilannya mengundang perhatian sang pria, dan membuatnya berpaling mencari sumber suara yang tak asing baginya .


Senyum sinis terukir naik di wajah manis Kaila. Sangat berbeda dengan wajah sang pria yang kini menatap tegang kepadanya.


"Cih!!" berdecih Kaila membuang muka .


Sang pria melepaskan genggaman tangan sang gadis berpakaian serba minim dan sesak itu.


"Aku tinggal sebentar ya Sayang. Nampaknya kita mendapat sedikit masalah" ucapnya kepada sang gadis .


"Riley Sayang" panggilnya manja


"Sebentar Sayang. Tunangan Anakku ada di meja sana" ia menunjuk ke sudut lain dari restoran itu. Nampak seorang gadis berambut sebahu melambaikan tangan dengan senyum lebar


"Dia nggak lebih cantik dari aku" ketusnya .


"Sayang, aku menghampirinya untuk menjinakannya. Bukan mengencaninya." Ucapan Riley mengundang senyum kepuasan di wajah sang gadis. Dia mengangguk dan Riley pun melangkah mendekati Kaila.


Melinda. Gadis itu bernama Melinda. Seorang sekertaris di Trifam Company. Sudah dua tahun ini menjalin cinta terlarang bersama Riley Gulzar Wijaya, salah satu pendiri dari Trifam itu sendiri, yang tak lain adalah Papah Lian Gulzar.


..........


Di kediaman Juwita.


Wanita ini masih menyesuaikan diri menjalani hidup bersama Ustadz Wahab .


Ngomong-ngomong ini hari ke lima selepas pernikahan mereka lho. Si Wita kan kemarin kedatangan tamu bulanan tuh, nyatanya sampai sekarang si Ustadz belum membobol gawang Juwita lho. Kasian banget kan si Ustadz .


"Pak Ustadz mau kopi?" tanya Wita. Dia berdiri di samping suaminya yang sibuk menatap berkas-berkas di meja halaman depan.


"Terimakasih. Tapi saya nggak begitu suka minum kopi Zaujati."


Entah kenapa Wita selalu tersipu malu jika Wahab memanggilnya seperti itu.


"Ya sudah. Saya tinggal ke dalam ya" ujarnya hendak pamit diri.


"Sebentar" wajah teduhnya berpaling dari berkas-berkas itu dan kini menatap Wita lekat.


"Ada kerjaan lagi?."


Wita menggeleng


"Miya?."


"Sedang bermain dengan Bi Isal."


"Ada yang bisa saya bantu Ustadz?."


"Tolong di ganti panggilan kamu itu. Saya ingin lebih dekat sama kamu, istriku" Wahab menarik lengan Wita yang kini telah duduk tepat di sampingnya.


"Mas?."


"Heemm, yang lain aja" pinta Wahab.


"Abang?."


"Abang ketemu gede?" goda Wahab.


"Saya nggak tau harus memanggil anda siapa" senyum manis terurai di wajah Wita.


"Subhanallah" guman Wahab. Genggaman tangannya semakin erat. Wita merasakan kehangatan dari jemari-jemari Wahab.


"Kalau boleh tau kenapa saya di panggil Zaujati.."


"Kerena kamu istriku" jawab Wahab singkat .


"Iya tau. Tapi adakah makna di dalam nama itu?."


"Heemm, istriku. Itu artinya."


Wita mengangguk. Seakan mengerti dengan penjelasan Wahab.


"Jadi, haruskah saya memanggil Pak Ustadz dengan sebutan Suamiku?."


Wahab terkekeh"Terasa geli di telinga saya" senyumnya menular kepada Wita .


"Iya sih. Seperti sedang menonton drama jaman dahulu." Mereka tertawa bersama.


"Panggil saya Habibi" pinta Wahab.


"Kekasihku, itu maknanya" tambahnya.


"Dengan begitu Miya bisa memanggilku Abi" tambahnya lagi.


Wita mengangguk. Dia menundukan pandangan. Inikah yang di namakan orang berpacaran setelah menikah. Juwita sering merasa kalah jika sedang bertatap wajah seperti sekarang ini . dia selalu berujung tertunduk dan tersipu malu hanya karena Wahab menatapnya dengan senyuman .


" Bisakah jangan menatap saya seperti itu ??" Ujarnya dalam pandangan tertunduknya .


" Lho...kenapa ?? Saya sudah terlalu lama menjaga agar tak terus menatap kamu diam diam , Sekarang kamu sudah halal untukku pandangi kok " Celetuk Wahab . dan kini dia memegangi pipi merona Wita .


" Akh..apa sebaiknya aku memanggilmu humaira saja ".


" Humaira ??".


Wita nampak bingung , dia baru saja mengetahui arti panggilan Wahab selama ini kepadanya . dan sekarang dia hendak memanggilnya dengan sebutan humaira . apalagi arti makna di balik nama itu ?.


" Wahai engkau yang memiliki pipi kemerah merahan". Wahab seakan mengerti dengan tatapan penuh tanya Wita .


" Tolong jangan membuat wajah saya semakin memerah ___Habibi " Ujar Wita malu malu dengan panggilan habibi nya .


Wahab tertawa kecil dan menarik Wita ke dalam pelukannya . dia juga menahan malu mendengar Wita memanggilnya Habibi .


" Duh..manggilnya sambil ngajarin Miya aja ya . wajah saya terasa panas kalau memanggil anda seperti itu ".


Wahab kembali tertawa . Tingkah malu malu Wita begitu lucu baginya .


" Iya deh , Umi sama Abi juga boleh deh " Ucapnya lagi .


Wita mencium aroma khas lelaki yang kini menjadi suami nya itu .aroma itu terasa begitu hangat .


" Semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan kepada rumah tangga kita"


Bisik Wahab . dia mengelus lembut kepala Wita . kerudung berwarna peach itu senada dengan warna rona malu di pipi Wita .


Anggukannya membuat Wahab semakin bahagia .


~~♡♡Happy reading . jangan lupa like vote dan komen ya teman ^,^