Meet You Again

Meet You Again
[S1] 31. Lampu hijau



...Happy reading...


- kak Nanda


Ran weekend ada acara ga?


^^^- Rani^^^


^^^Ga tau.^^^


- kak Nanda


Lah si aku serius nanya ni.


^^^-Rani^^^


^^^Ga ada kayaknya. Kenapa?^^^


- kak Nanda


Pengen mantai, mau ikut ga?


^^^- Rani^^^


^^^Boleh-boleh.^^^


- kak Nanda


Ok sampai jumpa weekend Rani ❤


"Eh?" Aku langsung bangkin dari kasur memfokuskan ke satu tanda dilayar ponselku.


"Woaaa" teriakku sambil mengacak-ngacak rambutku kegirangan.


^^^- Rani^^^


^^^Ok kak sampai jumpa ❤^^^


Aku berguling kesana kemari karena isi chat tersebut terus terngiang di kepalaku, rasanya seperti mimipi dan kutampar pipiku beberapa kali


"auuh sakit" gumamku memegang pipiku.


aku melompat-lompat diatas kasur karena aku baru saja mendapatkan lampu hijau untuk mendekati kak Nanda.


***


Drrttt drrrtt drrrtt


"Ran aku di gazebo ni, kamu dimana?" tanya Yuli diseberang sana.


"Otw, aku baru keluar kelas ini sama Eka, tunggu ya" jawabku kepada Yuli.


"Buruan ya" pinta Yuli.


Aku dan Eka tiba digazebo, aku melihat kak Nanda sedang tertawa bersama Yuli membuat salah satu bagian tubuhku terasa nyeri.


"Padahal semalam dia ngirimin emoticon love ke aku" gumamku pelan.


"Hah? Siapa yang ngirim Ran" sanggah Eka yang tak sengaja mendengarkan gumamanku.


Menyadari keberadaan Eka bersamaku aku bersikap berpura-pura tak terjadi apa-apa.


"Ga, bukan siapa-siapa, ayok" Ajakku sambil menggenggam tangan Eka. Aku nyelonong langsung duduk di samping Yuli tanpa bersalaman dan mau menoleh ke arah kak Nanda sedetik pun.


"Mana laptopnya sini" ucapku meraih meraih laptop yang berada di meja dan tanganku langsung menari diatas keyboard tersebut membuat orang disekitarku bingung.


"Ran, ada apa?" Tanya Yuli penasaran, karena tidak biasanya aku menghindari kontak mata dengan kak Nanda.


"Apa?" tanyaku cuek.


"Wajahmu kayak lagi bete gitu" jawab Yuli meyakinkan ucapannya tersebut.


"Ya aku bete sama kau" ucapku kesal.


"Emang aku ngapain kok bete sama aku?" Tanya Yuli mulai bingung.


"Karena kau bikin aku bete" ucapku jengah dan berteriak.


"Eh lu tu ya ga malu apa diliatin orang" ucap Yuli tangan Yuli membungkam mulutku. aku melihat disekelilingku banyak pasang mata tertuju padaku membuatnya risih akan hal tersebut.


"Udah Yul biarin aja dia tenang dulu" ucap kak Nanda.


"Dasar gak peka" gumamku langsung bangkit dari dudukku dan melengos pergi menjauh dari gazebo.


"Kak dia kenapa?" tanya Yuli heran.


"Ga tau tapi tadi dia bilang 'semalem dia ngirim emoticon love' trus habis itu kayak langsung bete ga tau kenapa" ucap Eka sambil melihatku hingga menghilang dibalik gedung kampus tersebut.


***


- kak Nanda


Ran aku didepan?


Aku keluar dari kamarku, berjalan mendekati kak Nanda, apakah gerangan lelaki itu datang menemuinya malam begini padahal tidak ada jadwal Rapat malam ini.


"Kenapa?" Tanyaku kesal akibat kejadian digazebo tadi sore.


"Keluar yuk?" Ajak Nanda.


"Kemana?" tanyaku cuek.


"Main aja kemana gitu" ucap Nanda mulai memelas.


"Atas apa ni tiba-tiba ngajakin main?" Tanyaku curiga.


"Udah jangan banyak nanya sono buruan siap-siap, nanti malah kemalaman lagi" perintahnya memegang kedua pundakku dan membalikkan tubuku dan menyuruhku kembali ke kamar.


Aku diam sejenak, aku masih dongkol dengannya namun aku juga mau jalan-jalan dengan.


"Ya udah, tunggu bentar aku siap-siap dulu" ucapku menghela napas panjang.


Aku kembali kekamar bersiap-siap sebentar, setelah setelah semuanya selesau barulah aku keluar dari kamarnya.


"Kayaknya keburu kalo aku ngambil S2" ejek kak Nanda.


"Ya udah ayok" ajakku.


Aku naik ke atas sepeda motor kak Nanda kulirik arloji milik kak Nanda menunjukan pukul 19.30. Masih sangat ramai untuk kota ini yang dikenal dengan sebutan kota yang tak pernah tidur. Bagaimana tidak pukul 4 pagi pun masih ada yang berdagang dipinggir jalan hanya untuk sekedar ngopi atau nongkrong.


"Kita mau kemana kak?" Tanyaku mulai penasaran disela-sela perjalanan.


"Ke mana ya enaknya?" jawab kak Nanda balik bertanya.


"Lah sih kan tadi kakak yang ngajak" jawabku menimpali.


"Ke pusat kota aja mau?" Tanya Nanda lagi.


"Boleh, udah lama juga aku ga main kesana" ucapku mulai kegirangan.


Tiba ditempat parkir kak Nanda memarkirkan sepeda motornya, dan berjalan menyusuri jalanan kota, kami berjalan ditengah kerumunan orang banyak dan berpegangan tangan tanpa menghiraukan orang disekeliling kami.


"Kak beli lumpia yuk" tunjukku kesalah satu gerobak yang terparkir dipinggiran jalan tersebut.


"Boleh" setujui Nanda.


"Mas lumpianya 2, sama onde ondenya 2 ya" ucapku.


"Siap mbak" ucap penjual sambil menyiapkan pesananku.


Setelah cukup lama menunggu karena banyak pembeli yang juga mengantre untuk menunggu pesanannya.


"Tumben mbak ga sama yang biasanya" ucap penjual lumpia tersebut, yah ia memang tak asing dimataku karena kalo ke pusat kota aku sering membeli lumpia bersama Ani, Uci, Ratna dan yang lainnya.


"Oh, iya mas, kali ini sama yang lain" jawabku sambil menyodorkan uang untuk membayar jajanan tersebut.


"Yang lain biasanya siapa?" Tanya kak Nanda penasaran.


"Tenang mas, cewek kok" penjual lumpia menggoda kak Nanda.


"Owh" kak Nanda tersenyum kecut.


"Ya udah yok cari bangku kosong" ajakku menoleh kesana kemari dan akhirnya ditemukannya bangku kosong disekitar kami.


"Ke sana" tunjukku ke arah yang dimaksud.


Yah pusat kota memang tak pernah sepi bahkan biasanya untuk bisa duduk pun susah karena terlalu ramai. Untuk berjalan saja kadang berdesak-desakan ditengah orang banyak yang membuat napas kadang terasa sesak karena terlalu ramai.


"Cobain nih" ucapku menyodorkan kantong plastik yang berisi lumpia dan onde-onde tersebut.


"Emm, kamu kenal sama penjualnya tadi?" Tanya kak Nanda menyelidik.


"Gak si, cuma aku biasanya sering beli jajanan di sana kalo main ke sini" jawabku menjelaskan.


"Oh gitu" timpal Nanda sambil mencomot lumpia.


"Kalo kesini biasanya sama siapa?" tanyanya lagi.


"Sama temen-temen kelas kak" jawabku seadanya.


Cukup lama kami duduk sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang sesekali mengobrol dan tertawa, berasa dunia milik berdua, yang lain sih ngontrak.


Namun tiba-tiba hujan turun membuat para pejalan kaki berlarian dan yang duduk di bangku berhamburan untuk mencari tempat berteduh. Kak Nanda membuka jaket yang digunakannya ditariknya tangan ku kearah sebuah gedung memayungi tubuhnya dan aku menggunakan jaketnya agar tidak basah karena air hujan.


Kami berteduh didepan penjual pakaian dan menatap ke arah jalanan yang sepi, begitu enak dipandang dan suara hujan yang mengguyur kota juga terdengar menenangkan.


"Setiap sudut kota ini memang romantis" gumamku.


"Iya" ucap kak Nanda menyanggah.


"Hah?" Tanyaku bingung.


"Iya kita ini memang istimewa, setiap sudutnya sangat Romantis"


"Emm" gumamku.


Cukup lama kami bertatapan dan akhirnya saling mengalihkan pandangan, setelah cukup lama menunggu hujan pun mereda.


"Udah jam 10, mau pulang belum?" tanya kak Nanda.


"Aku pengen beli permen kapas dulu kak" jawabku.


"Eh?" kak Nanda menatapku bingung.


"Kamu itu udah tua Ran kok suka yang begituan, malu sama umurlah" sindir kak Nanda menggodaku.


"Yang penting bahagia" jawabku kemudian menjulurkan lidahku.


"Ya udah ayok dimana belinya?" Tanya kak Nanda lagi.


"Didepan taman disana ada yang jual biasanya" jawabku.


"Ayok" ajak kak Nanda.


Kami berjalan menyusuri keramaian orang tersebut mencari sepeda motor yang terparkir dan berlalu ke taman yang kumaksud. Singgahlah kami sejenak hanya untuk membeli permen kapas yang di maksud olehku, setelah itu kami melanjutkan perjalan pulang.


"Tau ga kak kenapa aku suka permen kapas?" Tanyaku disela perjalanan.


"Gak tau, kan kamu ga pernah cerita juga" kak Nanda menjawab enteng.


"Iisshh males dah" ucapku kesal.


"Iya iya, kenapa kamu suka?" tanya kak Nanda.


"Karena dia memberikan rasa manis, namun..." aku menggantung ucapanku.


"Namun apa?" Tanya kak Nanda penasaran.


"Namun setelah itu dia menghilang begitu saja" ucapku sambil menghela napas.


"Tapi setidaknya dia meninggalkan kenangan yang baik kan?" sanggah kak Nanda.


"Iya, dan aku harap kakak kayak permen kapas" ucapku mengeratkan tanganku dipinggang kak Nanda dan menyembunyikan wajahku dipunggung kak Nanda.


kak Nanda terus melajukan sepeda motornya berlalu menyusuri kota.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...