
...Happy reading...
Sabtu pagi Aku, Lesi dan Diana mengikuti ospek, namun ospek kampus kami memiliki sistem ospek yang berbeda dari kampus yang lainnya. Kami mengenakan baju kaos dari kampus, celana berwarna hitam dan sepatu berwarna gelap, serta membawa ransel hitam yang ku ambil di kampus tempo hari.
Ospek bagi kampus kami biasa disebut dengan Outbond, dan kegiatan tersebut bisa dibilang semacam pelatihan militer, karena kami dinaungi langsung oleh para kopasus Indonesia, walaupun demikian tetap memiliki standar kekerasan kepada mahasiswa agar tidak terjadi hal yang tidam diinginkan.
Outbond berlangsung dari pukul 05.30 pagi sampai dengan pukul 18.00 petang, kegiatan tersebut meliputi senam, sarapan bersama, bermain sambil mengasah konsentrasi dan yang tidak melakukan sesuai intruksi akan diceburkan kekolam yang berada disekitaran lapangan tersebut. Selain itu ada juga game yang melatih kekompakan, adu yel-yel, makan siang bersama dan makannya harus dihabiskan dalam waktu lima menit jika tidak habis lagi-lagi kami akan diceburkan kekolam.
Ada juga kegiatan turun tebing, latihan LKBB, nobar mengenai sejarah dan cara kerja kopasus, dan juga adu kekompakan perkelompok. Kelompok yang menjadi juara diberikan hadiah, sedangkan kelompok yang kalah akan disiram menggunakan air yang disalurkan dari kolam.
Tentu saja kelompokku dari datang sampai pulang tetap kering, kelompokku dipimpin oleh Diana. Aku, Lesi dan Diani kami berada pada kelompok yang sama dan setiap makan juga berdekatan jadi apabila makananku tidak habis Diana yang membantu menghabiskannya. Aku dan Lesi kaget juga dia bisa makan sebanyak itu.
Sekarang aku sudah duduk dibis dan kami akan segera pulang, Diana duduk berdua dengan Lesi yang berada dibangku didepanku, sedangkan aku sendirian mungkin saja nanti aku akan punya teman baru lagi.
"Permisi, kursinya kosong?" Tanya perempuan yang tengah berdiri disamping kursi tersebut. Aku menatapnya sejenak, ia juga kering mungkin kami tadi satu kelompok tapi aku tak mengingatnya karena selalu bertiga dengan Diani dan Lesi.
"Oh iya kosong duduk aja" sanggahku mempersilahkannya dan ia memposisikan untuk duduk dikursi tersebut. Kami saling bertatapan dan tersenyum ramah, aku bingung bagaimana harus memulainya, padahal waktu mulai berteman dengan Lesi aku tidak secanggung ini.
"Aku Rani, dari prodi S1 Akuntansi" ucapku memberanikan diri dan mengulurkan tanganku kearahnya, ia menatapku sejenak dan kemudian tersenyum lagi.
"Aku Ratna, aku juga dari prodi S1 Akuntasi, kamu kelas apa?" Jawabnya sambil menjabat tanganku sejenak, percakapan ternyata tidak habis disana sehingga aku tidak perlu memutar otak untuk bertanya kepada orang baru disampingku.
"Aku R.03, kamu?" Sanggahku sambil memiringkan tubuhku kearahnya, aku takut terkesan tidak sopan berbicara padanya tapi tubuhku tetap lurus kedepan.
"Ah sama, kita sekelas ternyata. Boleh dong minta nomor WAmu" jawabnya tampak riang seperti menemukan mainan baru, aku cukup kaget juga dengan reaksinya ternyata dia humble.
"Boleh, 08xxx" aku menyebutkan nomorku dan kami mengobrol mengenai outbond yang baru saja berlalu. Saat itu juga kurasakan bisnya mulai melaju dan mengantarkan kami kembali ke kampus.
...***...
- Doni
Ran, lagi dimana?
^^^- Rani^^^
^^^Aku lagi diluar kota,^^^
^^^Aku juga kuliah milih kuliah disini.^^^
- Doni
Kok kamu ga bilang-bilang kalo kamu
bakal kuliah diluar kota?
^^^- Rani^^^
^^^Sorry, aku ga sempat menghubungimu.^^^
^^^Lagi pula kamu juga sepertinya sibuk,^^^
^^^kamu gak pernah menghubungiku sejak malam itu.^^^
- Doni
Oh, maaf aku juga ga sempat
mengabarimu ran.
- Doni
Sejujurnya aku ga setuju kamu kuliah
dikampus itu Ran.
^^^- Rani^^^
^^^Lah kenapa?^^^
^^^Disini juga ga kalah bagus kok sama^^^
^^^kampus dikota kita,^^^
^^^Tenang aja tahun depan aku pulang.^^^
- Doni
Bukan itu Ran pokoknya aku ga setuju.
^^^- Rani^^^
^^^Aku kuliah disini atas kemauanku,^^^
^^^ayahku ga kenapa-kenapa kok malah^^^
^^^kamu yang sewot sih Don?^^^
- Doni
Ya udah gini aja.
Kamu pilih aku atau kuliah disana?
Deg deg deg
Jantungku berdugup dua kali lebih cepat, napasku terengah-engah, entah apa maksud Doni memintaku memilih diantara kedua pilihan yang pelik ini.
^^^- Rani^^^
^^^Aku milih buat tetap kuliah disini^^^
- Doni
Ya udah kita putus
Aku kaget dengan jawabannya, semudah itu ia memutuskan hubungan yang sudah dipertahankan selama tiga tahun ini. Dan ia mengakhirinya hanya karena aku memilih kuliah disini, miris sekali rasanya aku mempertahankan orang macam dia.
^^^- Rani^^^
^^^Kamu yakin?^^^
- Doni
Iya aku udah yakin.
^^^- Rani^^^
^^^Baik, tapi jangan pernah berharap untuk^^^
^^^kembali kepadaku, karena bagiku apa^^^
^^^yang diakhiri benar-benar telah Usai.^^^
Aku membanting ponselku ke kasur tak kuhiraukan lagi chat dari siapa pun yang masuk ke hpku, aku benar-benar jengah. Tubuhku capek hatiku perih dan otakku sakit, rasanya aku ingin menangis dan berteriak sekuat mungkin. Tapi aku masih waras untuk menangisi laki-laki sepertinya hanya akan membuang tenagaku saja.
Aku merebahkam tubuhku dikasur dan memeluk boneka panda kesayanganku, ku pejamkan mataku berharap waktu segera berlalu dan aku bisa melupakannya secepat mungkin.
...***...
"Lesi beli makan ga? Aku ga masak ni" teriakku di depan pintu Lesi dan sesekali mengetuknya.
"Bentar" teriak Lesi dari dalam, aku berdiri didepan kamarnya sembari menunggu Lesi keluar dari sarangnya.
Aku dan Lesi berjalan ke pengkolan dekat kosan disana ada penjual sate dan roti bakar yang biasanya berjualan di tanah kosong. Kami memesan dua porsi sate dan menyantapnya disana, kami duduk-duduk sebentar baru akhirnya memutuskan untuk kembali ke kosan.
Setelah membayar sate yang sudah kami santap, Lesi berhenti sejenak di dekat gerobak sate tersebut. Aku menoleh kebelakang menatapa Lesi sepertinya ia menginginkan hal lain selain sate.
"Aku pengen roti bakar juga" ucap Lesi menatap gerobak roti bakar disamping gerobak sate, aku pun mendekatinya dan menggandeng tangannya.
"Ayok beli aku temenin" ucapku tersenyum kearah dan kami melangkah kearah gerobak roti bakar. Lesi memesan rasa coklat dan kacang, sembari menunggu pesanan Lesi selesai aku menggulir hpku.
Aku menemukan seratus lebih pesan yang masuk dari Doni aku tak berniat untuk membacanya, langsung saja ku hapus tanpa harus membacanya, terkesan kejam namun ini salah satu caranya agar aku tak kembali menoleh kebelakang.
Kugulir layar ponselku tak ada yang spesial grup Riris CS juga sepi, tak ada yang menarik membuatku kembali memasukan ponselku ke saku celana.
"Ayok Ran" ajak Lesi bersama dengan kantong plastik yang dijinjingnya. Kami mulai melangkah kembali ke kosan diperjalanan kembali ada dua orang laki-laki melintas menggunakan sepeda motor.
"Cewek" goda salah satu diantara keduanya, aku tak tahu suara itu miliki siapa, namun aku hanya bergidik ngeri. Akhirnya memutuskan mempercepat langkahku dan menarik lengan Lesi untuk ikut bersamaku.
"Ran kamu kenal?" Tanya Lesi bertanya kearahku, aku menggeleng cepat, kemudian menatap Lesi lekat. Lesi yang sepertinya paham akan maksudku langsung saja berlari kocar-kacir seperti dikejar anjing gila.
Karena takut aku pun juga ikut berlari karenanya, kupikir dua orang itu akan terus mengejarku, tapi ternyata mereka malah belok ke gang sebelum kosku. Aku menarik napas lega dan melangkah gontai memasuki pekarangan kos.
Ku tatap Lesi tertawa puas menertawakanku, ia berdiri didepan pintu kamarku, ingin rasanya kumaki dia hari itu kesal sekali rasanya ia malah berlari duluan meninggalkanku.
...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...
...Terimakasih sudah membaca***...