
Kepulangan Mey di sambut suka cita oleh Ayah dan ibu. Segala rasa syukur mereka ucapkan atas pulihnya putri kesayangan mereka.
Wulan mengadakan acara makan bersama untuk merayakan kebahagiaan itu. Berbagai makanan telah terhidang di meja makan, untungnya meja makan di kediaman Mey lumayan besar. Setidaknya dapat menampung beberapa menu masakan andalan Ibu.
"Sini bu Mey bantuin." Si anak gadis merasa nggak enak hati kalau hanya duduk manis di kamar atau teras. Sedangkan sang Ibu terkasih repot menyiapkan hidangan tambahan lainnya, demi menyambut para sahabat Mey sebentar lagi.
"Kamu mau bantu Ibu?."
"Iya dong bu. Masa diam aja di pojokan mantengin Ibu yang mondar mandir seperti setrikaan rusak" sahut Mey.
"Ya emang bagusnya begitu. Kamu diam aja di kamar, atau santai di teras nungguin mereka datang" nggak letih-letihnya Wulan mengulangi kata-kata itu.
"Ini udah ke sekian puluh kalinya Ibu ngomong kayak gitu. Meja makan kita sudah penuh lho Bu. Dan semua masakan ini Ibu sendiri yang masak. Belum para cemilan-cemilan ini" Mey menunjuk jajanan ringan yang sudah Ibu siapkan di dalam piring.
"Itu kan Ibu nggak bikin sendiri, Mey. Ibu beli kok" elak sang Ibu. Memang betul deh yang di kata orang, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Keras kepala si Ibu ini jelas-jelas turun kepada Mey.
"Spadaaa!" suara akrab itu terdengar jelas dari teras rumah.
"Nah, bantuan Ibu udah datang" penuh semangat Ibu berjalan keluar dan balik lagi ke dapur bersama Lian.
Lian??
Rupanya sedari tadi pagi Lian toh yang bantuin Ibu belanja-belanja. Kali ini dia datang dengan bantun Ibu yang lainnya, jelas dong itu si eneng Kaila.
"Oooo, jadi Kalian berdua pendukung di balik layar ini. Dan Ibu bertindak sebagai sutradarannya, begitu??" ujar Mey berkacak pinggang.
"Oh Tuhan! bilang makasih dong Say. Jangan senga kagak gini" sahut Lian sambil membawa Kue-kue ke arah meja makan.
''Kita kehabisan tempat Bu, gimana nih??" ujarnya lagi.
"Di sini aja dulu, entar kan bakal di bawa kemana-kemana juga itu jajanan" mengingat Ibu menyiapkan seluruh area rumah bagaikan taman bermain, untuk Mey dan kawan-kawannya nanti.
Ruang tamu Ibu perluas area lesehannya. Ruang keluarga juga Ibu gelar karpet empuk yang siap buat mereka rebahan, bahkan beruling-guling manja.Di teras juga Ibu sudah menggelar tempat bersantai untuk mereka. Pokoknya rumah Mey sekarang udah kayak suasana menyambut lebaran.
"Mey, tante Mega di undang juga?."
Gadis itu melirik ke arah Ibu, mulutnya monyong ke arah wanita yang melahirkannya itu.
Lian mengerti maksud Mey. Melihat bagaimana ramah dan humblenya sikap Ibu kepada Mega, sudah jelas kalau Ibu juga sudah mengundang Mega ke acara hari ini.
"Jangan pandang-pandangan, ibu jadi grogi nih" sindir Wulan.
"Emak kamu matanya kiri kanan depan belakang Mey" celetuk Kaila
"Dua doang kok La, cuman telinganya berfungsi sebagai spion juga" Mey balas gibahin si Ibu.
"Yang kayak begini di gilain Nak Fatur, Ibu heran deh. Seleranya Nak Fatur nggak sebanding sama wajah tampannya!" si Ibu balas nyinyirin anak gadisnya.
"Ibu emang the best deh. Lian kasih empat jempol deh bu!."
Kaila mengerling kesal kepada Lian. Ini cowok kalai sama emak-emak cepet banget akrabnya, heran deh. Tiba-tiba jadi partner aja sama Ibunya Mey.
"Ibu nggak ngundang dia kok" ujarnya lagi.
"Beneran bu?, kirain Ibu bakal ngundang camernya Mey. Cabenya Ibu tuh" timpal Kaila, secara Ibukan ramah, seramah-ramahnya jadi orang.
"Cabe??cabe giling??!" seloro Wulan.
"Calon besan Buu" jelas Kaila lagi dan di sahut"Ooooo" oleh Wulan.
"Setenang dan sesabar Ibu, ada dong sedikit rasa gondok di hati kecil ini. Jelek-jelek begini si Mey kan anak Ibu satu-satunya. Barang antik ini mah" perkataan Ibu di sambut gelak tawa Lian dan Kaila.
"Ada gitu masih muda udah jadi barang antik" seloro Lian.
"Seneng banget Kalian bedua, mau langsung di kawinin di acara ini. Sekalian gitu, biar nggak kelamaan nunggu" sindiran Mey di balas ejekan juga oleh Kaila.
"Lah kamu memang barang antik kok, jangan bawa-bawa masalah kawin deh. Situ juga masih bujangan kok, kita kan 11 12, Mey" celoteh Kaila.
Lian lega mendengar Kaila dengan santai menanggapi perihal perkawinan itu. Kirain ceweknya bakal mendadak merajuk kalau denger masalah kawin me-ngawin.
Mey mencibir kepada Lian" hilih! di kira sunat masal."
"Bikinkan aku 1000 candi" celetuk Kaila. Sontak Lian menarik lengan kekasihnya dan di balas kedipan mata oleh Kaila.
"Wah, ini lampu hijau atau lampu soak?" pikir Lian.
"Bu, beneran lho. Kawinin masal kami dong" Lian semakin mengulurkan pancingnya ke laut nan luas, di dasar hati Kaila.
"Kawin sama nikah beda lho Lian."
Eh!!Lian menatap Ibu, dan Ibu juga menatap Lian
Kwkwkkwkkw!!!!, Lian tergelak tawa, Ibu juga. Seperti inilah Ibu dan Lian, memang sangat sinkron ternyata.
"Emak kamu mengerti masalah nge-teh Mey" bisik Lian pelan di antara Mey dan Kaila.
"Emak kamu gaul abis sayyy!!" bisiknya lagi.
"Bakal rame nih kalau gabung sama Vino" tambah Kaila pula.
"Nggak bakal, Ibu kalau ada Ayah kalem banget guyss, jaim dia" sahut Mey.
Sementara mereka bergibah ria, Wulan terus asik tenggelam dalam pekerjaannya.
Di tempat lain.
"Ayah, memangnya kita mau kemana??" Ben junior bersemangat memilih pakaian yang akan dia kenakan ke kediaman Mey.
"Ke tempat onty Mey" jawab Ben.
Setelah mendengar jawaban Ben, Enda kembali sibuk dengan aktivitasnya. Diam-diam Ben memperhatikan tingkah sang anak. Kala itu Enda yang baru selesai mandi menggelar beberapa pakaiannya di lantai, beberapa celana juga dia gelar di sana. Dia sedang mencocokan pakaian yang akan dia kenakan nanti.
"Sifat teliti Andara rupanya meturun kepadanya" gumanya pelan.
..........
Di kediaman Fatur.
"Nggak usah ikutan deh Mah, ini acara anak muda!!."
"Mamah mau ikut!!" suara Mega terdengar melengking dari ujung telepon Fatur.
Wulan memang nggak mengundang Mega secara langsung. Namun sebelum Mega pamit pulang di rumah sakit, Wulan menceritakan niatnya mengadakan pesta makan-makan bersama para sahabat sahabat Mey.
"Boleh aku ikut bergabung??" Mega meminta di perbolehkan datang ke acara itu.
"Aku nggak melarang orang ingin bertamu ke kediaman ku kok" sahut Wulan dengan senyum ramahnya saat itu."
"Kirim hadiah aja deh, ribet kalau ada Mamah. Fatur yakin deh."
"Emang Mamah trouble maker!!" nada suaranya terdengar sendu.
Fatur jadi merasa nggak enak hati jadinya"Bukan begitu Mah, gimana ya...susah ngejelasin nya!!" pekik Fatur.
"Oke deh, Mamah titip salam aja. Padahal Mamah udah minta ijin mau datang kemarin sama Ibunya Mey." Demi hubungannya yang sudah membaik dengan sang putra, Mega memilih untuk mengalah saat ini.
"Nah, gitu dong. Mamah kalau kalem begini bikin adem deh" goda Fatur.
Mega tersenyum mendengar guyonan dan godaan sang putra. Sudah lama sekali mereka nggak ngobrol sedekat sekarang ini.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.