Meet You Again

Meet You Again
Nona Kaila



"Hai, aku Enda" Ben junior duduk manis di depan seorang anak cewek, yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Om Ben, katanya mau bantu mewarnai PR Viona" anak cewek itu nggak menggubris sapaan Enda. Dengan cemberut dia menatap PR mewarna yang belum selesai dia kerjakan.


Ya, cewek itu bernama Viona, anak pemilik kedai di seberang Cafe.


"Itu yang di depan kamu bisa bantu" ujar Ben menyodorkan Enda kepada Viona.


"Hihi, temenan yuk" senyum termanis Enda terpampang di depan Viona.


"Beneran kamu bisa bantu?."


"Iya dong, aku paling jago menggambar dan mewarna." jawab Enda gembira.


Mengulurkan tangan hingga mereka berjabat"Aku viona, kamu bisa memanggilku Vio atau pun Nana. Tapi Ibuku bilang Nama panggilan Nanalah yang dia suka."


"Kalau begitu aku panggil kamu Nana aja." Sang gadis kecil mengangguk, pertanda setuju dengan ucapan Enda.


Sejak hari itu pertemenan mereka pun di mulai.


"Nana, nama kamu manis, kita beneran berteman ya"


"Baiklah Enda, ingat ya sekarang kita adalah teman. Teman yang setia, jangan sampai kamu bohong kepadaku ya!" tegas Nana.


"Aku memang di larang berbohong" lirik Enda kepada Nana.


"Pasti orang dewasa yang melarangmu berbohong."


"Ngem!!" perkataan Nana langsung di benarkan Enda.


"Aku punya rahasia, aku akan membagi rahasia pertamaku bersamamu, sini!!" gadis itu meletakan pensil warnanya dan meminta Enda mendekat.


"Ayah melarangku berbohong.tapi dia mengingkarinya" bisik Nana.


"Ah, bohong apa Ayah kamu?" nampaknya mereka mulai cocok, meskipun baru kali ini bertemu langsung.


"Ayahku berbohong kepada Ibu, dia berhenti berteman dengan Ibuku dan pergi jalan-jalan dengan teman barunya. Sekarang Ibuku sangat marah kepada Ayah" cerita Nana.


"Ih, Ayah kamu nakal. Kalau Ayah aku baik lho, hanya Papah yang selalu jahat kepadaku sampai Ibu harus memberikanku kepada Ayah" perkenalan mereka cukup menarik bukan.


"Kalau begitu kita sama dong. Aku punya Ibu dan kamu punya Ayah. Kita jadikan mereka berteman saja seperti kita" usul Nana.


"Jadi itu adalah misi pertama kita" Enda berseru.


"Oke!!. Kita lakukan secara rahasia ya" Nana berseru juga.


Tawa Ben pecah melihat keakraban mereka dari meja Bar"Semudah itu kah mereka berteman. Hah!!, seandainya orang dewasa juga bisa seperti itu."


...****...


Di taman kota...


"Jadi mau sampai kapan kita nongkrong di sini??" tanya Kaila.


"Lihat deh gayamu, santai banget duduknya."


"Aku mah di mana aja selalu santai sayang" sahut Lian yang memang selalu santai.


Kaila mengerti maksud Lian, dia pasti mau ngomongin masalah nikah lagi"Ugh!!" Kaila berdiri, kelamaan duduk begitu membuat kakinya ngilu..Lian mah enak ada dudukannya, sedangkan dirinya hanya berjongkok.


"Kemana?, kan aku belum selesai ngomong" Lian menyerngitkan keningnya ketika mendongak mengejar tatapan Kaila.


"Ngomong di tempat ku aja!!, aku harus bersiap ke Cafe."


"Hehehehhe, kamu berniat menculik aku??".


"Ada gitu orang nyulik pake ngajakin baik-baik. Yang ada kamu aku kardusin!!."


"HAHAHAHH, dapat jiwa receh dari mana kamu La?."


"Emak milenia yang kemarin. Dah ah, yuk buruan. Kita bisa lanjut ngobrol sambil aku bersiap bekerja."


Lengan Lian di sambar Kaila, dia menggiring Lian masuk ke mobilnya.


"Awhhh, don't touch me!. Kita bukan mahrom!!" pekik Lian berlagak lemes melambai.


"Aku tabok nih, jejeritan kayak anak perawan aja kamu" tarikannya semakin kencang. Lian hampir terjerembap mengejar langkahnya.


"Ini kaya di Film-Film nggak La?" celoteh Lian di sela-sela penculikannya.


"Film apaan??".


"Kejar daku kau ku tangkap" sahut Lian.


"Ahahaha ketahuan banget tuanya. Itu mah Film jaman aku masih ingusan" ejek Kaila.


Tit tit tit, Kaila menekan kode Pin. Sesampainya di dalam Kaila meninggalkan Lian untuk mandi.


"Suka suka deh mau ngapain. Tiga puluh menit doang aku mandinya."


"Itu mandi apa pingsan!!".


"Ya mandi lah, ngawur deh!!."


"Ah sebentar, aku lapar. Tolong bikinin aku makanan ya" ujar Kaila sebelum benarHbenar masuk ke kamar mandi.


Sementara itu Lian bengong. Dia mana bisa masak!. Kalau hanya bikin mie rebus masih oke sih.


"La!!!.Aku cuma bisa masak mie rebuusss!!" teriaknya pada kaila.


"Iya, nggak pa-pa!!" balas Kaila.


"Demi cintaku kepadamu La, ini masakan pertamaku untuk orang lain. Enak nggak enak bodo amatlah" gumam pemuda ini.


Sementara Kaila mandi, Lian mulai sibuk membuatkan mie rebus alakadarnya.


Set! set !!set!. Mie rebus ala Lian sudah siap.


"Sayang!! ini udah siap. Kamu makan dulu, entar mienya gendut." Sedangkan dirinya menikmati sajian di dalam televisi, seraya mengangkat kaki.


Dengan handuk yang masih membungkus rambutnya, Kaila buru-buru keluar kamar"Akh!! aku lupa bilang. Aku nggak suka telur setengah matang Yang. Kamu yang makan telurnya ya."


Dengan patuh menganggu Lian mendatangi Kaila"Aku aja yang suapin, entar kamu comot mie nya juga" celetuk Kaila.


"Heh!!, udah bosan aku makan ala-ala begitu" kini Lian nggak bisa melanjutkan omongannya. Sebab telur rebus yang masih panas itu telah Kaila suapkan kedalam mulutnya.


"Lain kali kalau masakin aku kamu harus ingat, aku nggak suka telur setengah matang."


"Aku nggak suka daun bawang."


"Nggak suka wortel, sayuran pahit seperti pare juga nggak suka."


"Makan deh, nanti aku ingat-ingat lagi" melihat Kaila yang cerewet Lian jadi gemes.


"Awas kalau lupa. Nanti kalay udah nikah kamu yang bakal sering masak, aku nggak suka masak sih."


!!!! nikah???. Lian terkejut"Kamu nggak lagi nge-prank aku kan sayang?."


"Ngapain prank prenk pronk. Kamu mau ngajak aku nikah kan, dari tadi ngajakin ngobrol di taman nggak abis-abis. Lelet banget sih kamu" ujar Kaila.


"Mumpung aku setuju nih!!''.


"Ehehe, aku kabarin Mamah sama Papah sekarangya" begitu bersemangat, Lian gegas mengambil sang gawai.


Kaila meletakan sumpitnya" Kita tunangan aja dulu. Ya." Sekarang giliran dia yang tegang.


Lian memasang wajah datar.


"Sayang~~~, kita tunangan aja dulu" rengek Kaila. Jarang-jarang dia manggil Lian dengan sebutan Sayang.


"Kirain bakal cepet ngerasain nge-teh".gumam Lian pelan.


Kaila yang berpendangaran setajam kucing ini, mendengar jelas gumaman Lian.


"Mau ini??." Enak banget dia menurunkan lengan handuk dressnya. Nampak pundak putih mulusnya terlihat di hadapan Lian.


kayak kucing mantengin ikan bakar Lian mendadak tegang.


"Atau mau ini?." Kali ini Kaila menurunkan bagian depan handuk dressnya.


"Aduh Sayang!!!. Jangan goda aku, entar kalau aku khilaf gimana?. Bahaya kan!" hardiknya.


"Benerin lagi handuknya" tambah Lian.


"Baru juga di liatin sedikit" dia berdiri dan hendak menyingkap bagian bawah handuknya.


"KAILAAA!!" sentak Lian.


"Nanti aku nggak mau pulang, gimana dong?" kecemasan terlihat di wajah Lian.


"Please kamu jangan yang aneh-aneh deh. Kamu sudah cukup gesrek buat aku, tolong jangan di tambahin dengan yang sexy-sexyan begitu."


Kaila terbahak, sungguh lucu kucing jantan di depannya ini.


To be continued...


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^.


Salam anak Borneo.