
Ben senyum senyum melihat tingkah anak lelakinya.nSepertinya Enda sedang menjalankan misi rahasia. Dia duduk di meja samping jendela kaca, terus menatap lurus ke kedai cepat saji yang berada di depan Cafe.
Terlihat Enda melambaikan tangan ke arah seberang. Beberapa kali dia melambaikan tangan, namun hasilnya nihil. Sepertinya dia hendak berinteraksi dengan seseorang di seberang sana.
"Ayah, apa Enda nggak kelihatan dari seberang sana?" dia mendekati Ben dan menanyakan hal itu.
"Bisa jadi sih, kan sudah malam. Penglihatan orang kadang berkurang karena terhalang gelap malam. Memangnya kenapa?." Ben balik bertanya.
Dengan usaha keras Enda ingin duduk di kursi Bar"Ini tentang misi rahasianya ya??" tanya Ben lagi.
"Hup!" dia mengangkat tubuh kecil Enda, dan mendudukannya di kursi Bar.
"Hu-um" jawab Enda dengan anggukan pula.
"Hihihihi" Ben terkekeh geli. Di acak-acaknya rambut Enda, karena gemas.
"Ah Ayah, kan berantakan rambutnya!" wajah sewot Enda malah membuat sebagian pelanggan juga gemes melihatnya. Bocah tampan ini ahkan langsung merapikan kembali tatan rambutnya, dengan menyisirkan jemarinya.
"Anaknya ya Bang!" tanya seorang pelanggan Pria.
Ben melempar senyum"Mirip nggak?" Ben menyandingkan wajahnya dengan Enda.
"HAHAHA!, iya deh Bang. Enggak usah di jelasin deh" sahut pelanggan tersebut. Kemiripan Ben dan Enda sudah nggak di ragukan, pake nanya pula pelanggan ini.
Ben kembali fokus kepada Enda"Temenin Ayah ke sana yuk, Enda mau beli kentang goreng."
Seraya memegangi perut"Enda masih kenyang Ayah!!".
"Hemm, kita beli minuman soda deh."
"Emang di sini nggak ada minuman bersoda, Yah?." Kedua matanya berkedip-kedip, memahami apa yang di katakan sang Ayah.
"Akh, Enda nggak asik nih. Ayah kan niatnya bantuin Enda menjalankan misi" Ben bermaksud ikut menjalankan misi sang putra.
Bocah itu mencoba memahami maksud sang Ayah.
"Sini deh, Ayah kasih tau" Ben semakin mendekati Enda"Kalau Enda naksir, kenapa nggak langsung di ajak kenalan aja."
"Naksir itu apa?" sebuah kata baru bagi Enda, sejauh ini dia memang belum mengerti dengan makna kata tersebut.
Ben mencoba mencari cara halus untuk menjelaskannya, meletakan jemarinya di bawah dagu seraya bergumam"Heem."
"Tiba-tiba bocah ini berbicara lagi"Enda mau berteman Yah."
"Nah itu dia, kalau mau berteman berarti harus kenalan dulu. Besok sore aja kita beli makanan di sana, gimana?." Sungguh Ayah yang baik hati, menyadari percikan rasa suka berkecambah di dalam hati Enda, dia pun langsung mendukung hal itu. Agak lain ya Ayah yang satu ini.
"Emang kalau beli makan di sana bakal dapat teman??" bocah sepintar dan secerdik Enda, dia tetaplah anak yang duduk di bangku sekolah dasar. Trik ngedektin cewek yang akan Ayahnya gunakan, jelas nggak mudah untuk dia pahami.
"Nanti Ayah kenalin sama anak gadis di sana" singkat dan jelas, dan ini lebih di pahami Enda.
"Oke deh Yah, kalau begitu turunin Enda dong" tangannya menjulur kepada Ben. Biasanya dia akan meloncat, tapi kalau ada Ayah untuk apa dia mengambil resiko terjatuh.
"Cepat besar ya, Nak" ujar Ben membantu sang putra turun.
Sebisa mungkin Ben berusaha menjadi Ayah yang serba bisa untuk Enda. Benar kata Kaila, kasihan kalau dia keseringan bermain sendiri.
Kebetulan Enda menunjukan ketertarikan pada seseorang, dalam artian berteman. Dia tentu harus mendekatkan Enda dengan anak pemilik kedai seberang, agar mereka bisa bermain bersama. Anak itu juga sama seperti Enda, waktunya banyak di habiskan bersama sang Ibu, yang mengelola usaha makanan cepat sajinya.
Kembali terjadi, sebuah Bmw hitam terparkir di tempat yang sama, dan dengan penumpang yang sama pula.
"Makasih sayang!!!" jerit gadis berpakaian seksi, yang sedang menerima tas ber-merek dari kekasihnya. Pelukan dan ciuman dia berikan kepada sang kekasih, sebagai ucapan terimakasih.
"Sama-sama Sayang" sahut lelaki itu, seraya mengusap dagu sang wanita.
"Kapan kita jalan-jalan ke luar negeri lagi??" tanya sang gadis manja, dengan menyandarkan diri di dada sang kekasih. Sungguh posisi yang langsung menaikan tekanan di bawah sana.
"Nanti Sayang, aku belum ada jadwal perjalanan keluar negeri. Enggak mungkin kan tanpa alasan yang jelas aku tiba-tiba keluar negeri" dan sebuah kecupan dia sematkan di kening gadis manjanya.
"Hmmm, terus kapan bisa nemenin bobo lagi??" jemari gadis itu menari nakal, menyusuri dada sang kekasih. Dia sengaja membuka sebagian kancing kemeja itu, agar dapar leluasa menyentuh perut rata lelaki pujaannya.
"Emphh~~~, andai saja kita bisa leluasa bersama" suara bergetar si pria. Sepertinya dia sangat menyukai si gadis manja.
"Aku sih oke-oke aja, sejauh ini aku nggak ada masalah. Asalkan bisa berduaan begini setiap kali kamu pulang bekerja, itu sudah cukup kok buat aku."
Belaian lembut sang pria seakan memahami keinginan sang kekasih"Kamu nggak keberatan kalau kita harus lebih lama lagi menjalani hubungan seperti ini??."
Anggukan lembut si gadis menjadi jawaban atas pertanyaan pria bersuara berat itu. Sejurus kemudian suara berisik dari aktivitas pertukaran saliva di antara mereka, memenuhi setiap sudut mobil itu. Andai ada seseorang yang lewat, suara yang mereka ciptakan dapat terdengar dengan jelas.
Mereka terus tenggelam dalam kemesraan, menikmati sedikit waktu untuk bersama.
"Sayang, aku pulang sekarang ya" di liriknya jam di tangan, sudah waktunya untuk pulang ke rumah.
"Hmmmh!" pelukan si gadis semakin erat, dia membenamkan wajah ke dada bidang si pria dan menghirup aroma khas sang pria. Sangat berat rasanya untuk melepas kepergiannya.
"Hati-hati di jalan ya, emmuach!!" lagi-lagi ciuman mesra mendarat di bibir sang kekasih. Beberapa detik mereka kembali hanyut dalam nikmatnya cinta terlarang. Rasanya sangat enggan untuk berpisah, sebab cinta yang teramat mendalam.
Si pria melempar senyum dan memandangi sang gadis yang melangkah menjauhi mobilnya. Perhatiannya masih tertuju sampai akhirnya bayang sang gadis benar-benar berlalu, dari pandangannya.
Dia bercermin, memeriksa keadaan wajahnya. Mengambil tisyu basah dan melap seluruh wajahnya. Parfume aroma kopi dia semprotkan ke seluruh sudut mobil. Membenahi kembali setelan suit yang dia kenakan, setelah semua di rasa cukup rapi dia pun menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan gang kecil, yang hampir setiap hari menjadi saksi kencan singkatnya bersama sang kekasih.
...*****...
...Ketika engkau menduakan cinta pasanganmu,...
...Berselingkuh mengejar kebahagiaan yang hina bersama orang lain,...
...Dan meninggalkan yang tak sempurna,...
...untuk yang lebih tak sempurna,...
...Menyebabkan Sakit hati yang begitu dalam,...
...hingga mungkin tak kan pernah termaafkan,...
...Sejatinya engkau sedang memelihara bom waktu!....
To be continued...
~~♡♡ Happy reading jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.