Meet You Again

Meet You Again
Lembaran baru



Mey menutup telepon dengan wajah kesal. Berkali-kali gadis ini menghela napas. Seolah dadanya penuh sesak terbakar amarah.


"Nih, ayo pulang!!" tubuh Fatur sedikit terdorong ketika dia menyerahkan kembali ponsel pria, yang baru saja dia bela habis-habisan.


Fatur malah cengengesan, menikmati perhatian dari gadis pujaan hati. Baru diketahui ternyata selama ini Mey terpaksa menjauhi Fatur. Benar kan dugaannya, ada campur tangan sang Mamah atas kepergian Mey. Menyadari dirinya takkan pernah terganti di hati sang gadis pujaan, seketika relung hati Fatur berbunga-bunga.


Di sudut lain, Ayah dan Bunda Vino berbincang sebentar sebelum akhirnya berpisah dengan anak dan menantunya"Ingat!!jangan boros. Ayah nggak bisa bantu kalian, apapun masalahnya kalian harus atasi sendiri" dengan tegas Hermanto mewanti-wanti mereka berdua.


"Terus, Bunda....jangan sering-sering ke tempat mereka!."


"lho, enggak sering kok" Bunda membela diri.


Ayah tersenyum miring" enggak sering, tapi setiap hari."


Wajah cemberut Bunda membuat Jova tertawa. Ayah Hermanto memang paling bisa memojokan Bunda.


Rupanya Ayah selalu memperhatikan gerak-gerik Bunda, dan kemana saja Bunda pergi.


"Kode masuk flat kamu di ganti ya Jova, jangan biarkan orang lain se-enaknya keluar masuk di kediaman kalian." Jova mengangguk menjawab perkataan Ayah.


"Orang lain??" Bunda menatap Ayah dengan kedua mata memicing.


"Ini Bunda lho Yah, kok di bilang orang asing??" alisnya menyerngit menatap Ayah.


"Mereka punya privasi Bund, jangan kelewatan" sahut Ayah. Vino cuma manggut-manggut mendengar perkataan Ayah.


Brondong yang sudah beristri ini masih memikirkan mobil yang di sita Ayah. Itu mobil udah bertahun-tahun menemaninya ke mana-mana. Tiba-tiba si sita Ayah, Vino merasa sangat kehilangan.


"Jangan judes ya sama Vino!. Awas kalau dia kenapa-kenapa!!" ancam Bunda kepada Jova.


"Vino nggak bisa makan yang pedas...."


"Dia nggak tahan cuaca panas.."


"Ingat!! AC juga harus selalu on..."


"Dia alergi kacang kedelai.."


"Terussss..." kedia manik Bunda berlarian, mengingat-ingat lagi.


"Bunda cerewet, nanti Jova tau sendiri kok" ujar Ayah.


"Ya sudah, kalian pulang sana. Jaga diri baik-baik ya" tanpa kado, tanpa ucapan selamat Ayah bersiap meninggalkan mereka.


"Ayah!!" panggil Vino. Suaranya menghentikan langkah Ayah yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Heemm, mobil Vino??"


"Ayah simpen!" jawabnya singkat.


"Kapan di balikin?."


"Kan barang sitaan, nggak harus di balikin kan" Ayah cuek masuk ke dalam mobil. Sedangkan Vino hanya bisa menunduk pasrah.


Wajah sedih Bunda mengintip dari dalam mobil"Jaga diri baik-baik, Vin!!.x


"Ya ampun, aku beneran menikahi anak ingusan. Anak Mamah banget kamu Vin!!" keluh Jova menatap nanar mobil yang membawa Ayah dan Bunda pergi dari hadapan mereka.


"Kan aku anak tunggal, Sayang" Vino membela diri.


"Fatur juga anak tunggal, Lian juga."


Saat itu perlahan mobil Lian menghampiri mereka.


"Itu si panci belum ketahuan aja Mamahnya kaya gimana. Sama aku aja sayang banget, gimana sama dia" Lian yang tak tau menahu bengong di tunjuk-tunjuk Vino.


"Ember!! kira-kira dong. Baru juga sah menikah kalian udah ngeributin aku. Jangan bikin aku salah tingkah dong" besar kepala deh Lian ini.


"Ge-er!!...lagian yang ribut juga siapa. Kaila, kamu siapkan menatak kalau menikah sama ni orang ya, Mamah nya lebih galak dari Bunda ku lho" Vino menuntun Jova masuk ke mobil Lian.


Kaila yang duduk di kursi depan berbalik menghadap pengantin baru di kursi belakang"Yang mau nikah siapa?, aku belum ada niatan mau nikah."


Mendengar ucapan Kaila, Lian menggigit bibirnya. Kaila memang sudah sering bilang belum mau menikah, tapi sampai kapan dia harus menunggu?, usia nya sudah cukup matang untuk berumah tangga.


"Nanti kalau udah ubanan baru mau nikah dia mber" sahut Lian judes.


"Tuh denger, jangan di ulur terus entar di ambil orang" Jova balik menyahut pertakataan Kaila.


Lian semakin kesal mendengar ucapan Kaila. Kayak nggak ada sayang-sayangnya sama Lian.


Terdengar klakson dari mobil lain, Fatur memberi isyarat kepada mereka, dia lebih dulu meninggakan kantor urusan Agama.


"Nanti malam kan??" seru Mey.


"Yoiii!" sahut Jova.


Perayaan pernikahan Vino dan Jova akan di adakan di kediaman mereka nanti malam. Sekedar makan-makan dan ngumpul bareng. Anggap saja pesta pernikahan merek. Kasihan amat sih, tapi sudahlah. Seperti kata Fatur, yang penting sah!!.


Beberapa waktu kemudian, Fatur memarkir kendaraanya di basemen apartemen. Mey mengambil tasnya dan bergegas mengikuti Fatur yang lebih dulu berjalan.


"Ih, kok di tinggalin!. Aku salah ngomong??" batin Mey.


"Oiiii" hardik Mey.


"Yaaa!!" Fatur balas menghardik. Dia berbalik menghampiri Mey.


"Nggak niat ngajak ke tempat kamu?, main tinggal aja. Kaki aku pendek tau, kalah langkah sama kaki kamu yang panjang itu!!" Mey menatap sinis dengan bibir manyun-manyun.


"Salah sendiri kenapa pendek!!" jawaban Fatur membuat mey terhenyak..


"Hahhh!! udah mulai berani ngata-ngatain!!" jerit Mey.


"Oh may god" jemarinya menutup mulutnya yang terbuka karena kaget"Jadi sekarang udah mulai kelihatan wajah aslinya!!."


"Waahhh....hebat!!. Aku tertipu!!" desis Mey kesal, matanya melotot ke arah Fatur.


"Oke Tuan Fatur Baskoro!!, anda memang tinggi, tegap, gagah, nggak seimbang sama aku yang kecilnya segini!!" dia memamerkan jari kelingkingnya yang kecil mini.


"Hehhe..bukan begitu sayang!!" Fatur mulai panik.


"Wahhh, untung Tuhan sangat sayang kepadaku. Baru mulai lagi tapi topeng kamu udah mulai terbuka!!" celoteh Mey dengan kepala menggeleng ke kiri dan ke kanan.


Dia memang kecil sih, hanya sebatas pundak Fatur. Di tambah hari ini dia nggak memakai high heels, semakin mini dong.


"Apaan sih, nggak usah ngomel. Harusnya aku yang ngomel sama kamu, hup!!" dengan enteng Fatur menggendong ala bridal Mey, dengan kedua tangannya.


"Haha, ringan banget!!" dia terus mengejek. Mey dengan kesal meronta dalam gendongan Fatur. Dan...


"Awwww!!" gigitan itu sukses membuat bahu Fatur tersengat ngilu.l


"Owwhh!!" Fatur menurunkan Mey, meringis memegangi bahunya.


"Huh!" Mey melengus dan masuk ke dalam gedung meninggalkan Fatur. Dengan cuek dia masuk ke apartemen Fatur, melepas blazernya dan menghempaskan tubuh di sofa.Matanya berkedip-kedip menatap langit langit.


"Sayang, luka nih!!" Fatur datang masih memegangi bahunya.


"Ng!!" Mey hanya menoleh sekilas, kakiknya bermain-main di ujung lengan sofa"Huppffhh!!..


"Huppffh!" gadis ini meniup-niup poni, memainkan mainkan rambutnya seperti bocah TK. Dia yakin itu hanya gurauan Fatur.


Namun dia langsung beringsut ketika Fatur membuka baju di hadapannya. Mey memiliki gigi taring, dan Fatur memang terluka.


"Hah!!" matanya kembali melotot"Sorry!!, padahal gigitnya pelan kok."


"Mamu Vampir ya?, lukanya berbekas dua begini!."


"Hiiiiii" Mey memaerkan gigi taringnya.


"Oh, taringmu dari atas sampai ke bawah yang, pantas saja bahu aku cidera."


"Makanya jangan bilang aku pendek. Aku tahu diri kok, nggak usah di ingetin" Mey mengambil kotak P3k dan membersihkan luka tak berdarah Fatur.


"Ih, nggak usah di obatin deh. Lecet dikit doang" Mey memasang kembali kemeja Fatur. Sumpah, roti sobeknya membuat Mey deg-deg an.


"Sayang, jelasin yang tadi kamu omongin sama Mamah!" tiba tiba Fatur mengingat perkataan Mey dan mamahnya di telpon.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.