
Mey sedang duduk di sudut balkon, menikmati udara sejuk di sana. Saat itu netranya terfokus pada sesuatu"Eh, udah seger aja kalian. Udah sering di mandiin ya" jari telunjuknya memainkan helai daun tanaman hias milik Fatur, yang beberapa hari lalu layu.
Kakinya berjuntai di kursi balkon yang nampak besar dan tinggi untuknya"Hup!!" dia meloncat turun dan menyapukan pandangan ke suasana malam di bawah sana.
Lampu-lampu bangunan terlihat seperti lautan bintang. Beginilah lukisan malam yang di ciptakan sang illahi. Tangannya menjulur ke atas, mengukur bentuk-bentuk bintang di atas langit.
Gadis ini membentuk lingkaran kecil dengan menyatukan jari telunjuk bersama jari tengah, membuat lingkaran kecil bersama jempol nya, menjadikan jari manis dan jari kelingking sebagai telinga makhluk yang sedang dia bayangkan.
"Di cariin, ternyata di sini. Kamu ngapain?"
Fatur mendapati gadis mininya sedang berdiri di tepi balkon.
"Aku hampir nyariin kamu lewat gugel lho" sambung Fatur berkelakar.
"Mmang bisa nyariin aku di gugel?" tanya Mey.
"Halo gugel, dia mana Mey berada??" Fatur seolah-olah bertanya keberadaan Mey pada mbah gugel di ponselnya.
"Di hatimu!" kedua mata Mey menyipit seolah menjawab pertanyaan Fatur.
"Oho! itu jawaban yang sangat bagus" Fatur memeluk Mey dari belakang"Nggak nyangka kamu yang kecil ini sangat berpengaruh dalam hidup ku."
"Fatur! aku nggak mini" Mey memukul lengan pria yang memeluknya erat.
"Iya deh iyaaa!!, katakan ngapain kamu sini?" Fatur mengulangi pertanyaannya.
"Langitnya cerah" gadis itu berbicara seraya memicingkan kedua matanya. Tatapannya kembali ke atas langit dengan jemari seperti tadi.
"Ngapain sih??" rasa penasaran membuat Fatur ikut memicingkan mata ke atas langit.
"Coba tebak, ini bentuk apa?."
Fatur memperhatikan jemari Mey"Musang?."
"Salah!."
"Kucing?."
"No no no!!"..
"Perhatiin deh!" selagi Mey bicara pandangannya beralih kepada Fatur. Sudah lama dia tak menatap wajah lelaki ini lekat-lekat. Fatur semakin dewasa namun rambutnya tetap sama seperti dulu. Dia tak banyak merubah penampilannya.
Kalau Vino dan Lian sempat merubah warna rambut mereka, Fatur tetap setia dengan warna rambut hitam legamnya.
"Jadi ini binatang apa sih, Yang" ucapan Fatur menyadarkan nya dari lamunan.
"Di sana ada bulan kecil kan?" tunjuk Mey pada langit tinggi.
"Oh, itu bulan?. Aku pikir kami sedang melingkar bintang dengan jarimu."
"Lihat deh" lengan Mey menarik tubuh Fatur untuk melihat lebih dekat, hingga pria itu dapat menerka binatang yang di maksud Mey..
"Kelinci??" jawab Fatur menyadari dua jari gadis ini, terlihat seperti telinga kelinci dengan bulan sengaja matanya.
"Sip, itu betul!!" dengan dua jari jempol mey memberikan selamat kepada Fatur"Selamat pak Fatur, anda mendapatkan satu set piring cantik."
Jari telunjuk Fatur menekan ujung hidung Mey"Dasar mbak jualan piring." Mey tertawa, membuat kedua matanya semakin menyipit.
"Aku nggak mau piring, hadiahnya boleh kasih sun aja?" suguhan pipi sudah siap Fatur berikan kepada Mey. Namun Mey hanya memberikan sun dengan jemarinya.
Malam ini Fatur harus bersyukur kepada sang pencipta, yang telah menciptakan bulan dan bintang. Cahaya cerah mereka membuat suasana hati Mey ikut cerah dan ceria. Gadis itu berbalik menghadap Fatur, balas memeluk nya dengan erat.
"Terimakasih sudah tetap setia menungguku" ucapannya pelan.
"Kamu ngomong apa??" bukan lelaki namanya kalau nggak menyelam sambil minum air. Fatur mendengar ucapan Mey, tapi berpura-pura nggak mendengar nya.
Tentu saja modus Fatur yang pura-pura nggak mendengar ini membuat Mey mendongak, menatap kedua matanya hingga tatapan mereka bertemu.
Perlahan wajah mereka semakin mendekat, hingga keinginan Fatur tersampaikan. Bibir mereka akhirnya bertemu, kali ini Mey nggak hanya diam. Menahan rindu itu sakit, nggak salah kan kalau kali ini dia bermain dengan sedikit hasrat.
Di sela ciuman itu Mey menggigit bibir Fatur pelan, membuat sensari gemetar di dada lelaki itu"Sayang, kamu harus tanggung jawab!!" bisiknya di telinga Mey.
Bibirnya mulai bermain di telinga dan turun ke ceruk leher. Jemarinya bergerilya menjelajahi tubuh gadis itu.
Mey mulai merasa sensasi panas di seluruh tubuh. Jantungnya berdetak abnormal
napas hangat Fatur terasa menyapa kulit Mey.
Fatur kembali ke bibir manis itu, menciuminya dengan cukup lama. Jemarinya bermain ke punggung Mey. Perlahan menggiring wanita ini masuk ke kamar. Merebahkan tubuh kecil itu di tempat tidurnya.
Sementara Mey menarik kerah baju Fatur, hingga membuat wajah mereka kembali mendekat"Kamu membawaku ke sini, kamu mau mati??" bisiknya di hadapan Fatur.
"Selama ini aku nggak ada bedanya dengan orang mati. Tapi sekarang bersamamu aku akan tetap bertahan hidup, selamanya" Fatur balas berbisik kepada Mey.
"Selain kecelakaan dengan Juwita kamu beneran nggak pernah ngelakuin itu lagi??" Mey bertanya sambil memainkan helai rambut Fatur, yang menggungkungnya.
"Iya, aku berani bersumpah. Berpacaran dengan gadis lain pun nggak pernah."
"Jadi waktu itu kamu beneran mabuk??" tanya Mey lagi.
"Iya Sayang, aku nggak sadar melakukannya."
"Jadi kamu nggak tau rasanya gimana??" Mey semakin mendalam bertanya kepada Fatur.
Jemari Fatur juga nggak hanya diam. Dengan lembut menyusuri rambut-rambut kecil pada alis Mey. Sungguh, gadis di bawahnya ini benar-benar membuatnya menggila"Aku nggak ingat, aku sedang mabuk." Ujarnya.
"Kamu tau kan aku masih menjaga keperawanan ku" ujar Mey lagi.
"Jadi, mau coba??" bisik Fatur sambil menggigit kecil daun telinga Mey.
Spontan Mey mendesah pelan, jemarinya memegang kuat lengan Fatur. Mereka semakin tenggelam dalam hasrat, getaran dan debaran semakin mendorong keinginan mereka untuk bercinta. Satu persatu pakaian yang mereka kenakan terlempar berserakan di lantai.
Fatur terus menghujani Mey dengan ciuman dan kecupan, hingga sampai ketika Fatur hendak menarik helai terakhir yang tersisa di tubuh Mey.
"Fatur!!" sentak Mey dengan napas beradu.
"A---aku...." Tangannya gemetar memegangi lengan Fatur. Sumpah! dia menginginkannya, namun bayangan kedua orang tuanya melintas di pikirannya saat itu.
"Akh!!" Fatur mengacak rambut frustasi.
"Maaf Sayang!!" gegas pria ini memeluk Mey dengan erat. Jantungnya masih berdetak sangat kencang. Nggak seharusnya dirinya melakukan kesalah yang sama itu.
Fatur menarik selimut untuk menutupi tubuh Mey yang nyaris telanjang. Di ciuminya kening gadis ini berkali-kali"Maaf Sayang, maafkan aku!!" lagi, dicium nya jemari Mey. Di rapikannya rambut Mey yang berantakan karena terbawa suasana barusan.
Mey hanya menatap lurus kedua mata Fatur.
"Aku akan urus Mamah ku. Aku harus bisa meyakinkannya" pria itu memeluk Mey lagi. Jemarinya merasakan pungguh mulus sang kekasih.
"Kata orang-orang kalau ertama kali ngelakuin itu tuh sakit, Tur?."
"Nanti kita cari jawabannya. Di malam pertama kita!" di pandanginya wajah Mey lekat-lekat. Kembali memilikinya saja Fatur sudah dapat bernapas dengan lega. Setidaknya dia harus berjuang lebih kuat agar gadis ini di terima sang Mamah.
"Aku mandi duluan ya, setelah ini kita ke pesta perayaan Vino."
Ah!!, Mey hampir melupakan mereka, senyum manis mengembang di wajahnya"Oke, habis dari sama anterin aku pulang ya."
"Iyaaaa Sayang. Bahaya juga kalau kamu tidur di sini malam ini" Fatur mencium Mey sekilas sebelum akhirnya ke kamar mandi.
To be continued...
~~♡♡ happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.