Meet You Again

Meet You Again
[S1] 33. Lipstik patah



...Happy reading...


"Ga jadi deh lain kali aja Ran" ucap kak Uncum dan berlalu dari gazebo, setelah kak Uncum tak terlihat lagi dari gazebo aku berfikir sejenak dengan pernyataan kak Nanda sebelumnya.


"Kak waktu kapan kakak bilang mau ngjakin aku nonton?" Tanyaku bingung sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Kemarin pagi waktu di peng..." ucapan kak Nanda terpotong, kubungkaman mulutnya sekuat tenagaku, aku bukan tak mau mengakuinya hanya saja aku tak ingin orang-orang berfikir kami telah melakukan itu.


"Di mana?" tanya Yuli mengangkat alisnya.


"Peng.. peng.. pengisian bensin" aku tergagap dan kak Nanda melepaskan bungkaman tanganku dimulutnya.


"POM maksudmu?" Tanya Yuli lagi.


"Iyah, iya kan kak?" aku menghela napas, dan melirik tajam kearah kak Nanda.


"Kalian ke POM pagi-pagi, berarti kalian kesuatu tempat kemarin" tebak Eka.


"Iya kita kepantai" jawab kak Nanda santai.


"Pagi?" Yuli meyakinkan.


"Sore sabtu, trus kita gak bisa pulang dan terpaksa nginap" kak Nanda menjelaskan dan aku menatapnya dengan tatapan mematikan.


"Oh nginap" ucap Eka melemah.


"hah nginap?" Ulang Eka.


"Wah kalian berdua bener-bener ya" ucap Yuli sambil menggelengkan kepalanya.


"Sekamar? Ngapain aja?" Tanya Yuli pelan.


"Wey enak aja, ga mungkin lah, iya kan kak" belaku dan mataku kuplototkan kearah kak Nanda.


"I i iyah beda kamar kok" jawab kak Nanda tersenyum geli.


"Sudah-sudah lanjutin ni proposal nanti ga kelar kelar lagi" ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Eh bentar dulu, aku belum puas sama jawaban kalian" ucap Yuli memastikan.


"Seriusan kita gak sekamar" ucapku menahan napas.


"Oh ya udah kalo gitu" ucap Yuli melemah.


***


^^^- kak Nanda^^^


^^^Ran aku udah didepan^^^


"Bentar ya kak" teriakku dari depan pintu kamar dan masih memegang lipstik dan memeloskankan ke bibirku.


"Halah lama" sergah kak Nanda menggodaku.


"Uwah angan anyak acot nanti alah eleootan (Udah jangan banyak bacot nanti malah belepotan)" ucapku tak jelas, dan entah kenapa lipstikku terjatuh dan patah.


"Aaaa tu kan kakak ngoceh terus, kan jatuh, mana patah lagi" rengekku.


"Kok aku?" Ucap kak Nanda bingung.


"Ayok buruan" ajak kak Nanda.


Aku berjalan sambil menendang-nendang batu didekat kakinya membuat celanaku yang berwarna hitam terkena debu dan terlihat kotor.


"Tukan liat celananya kotor, sini di bersihin" ucap kak Nanda berjongkok membersihkan debu yang menempel tersebut.


Aku menaiki sepeda motor dan melaju ke tempat tujuan kami. Saat di pintu masuk wajahku masih saja cemberut, perasaan kesal dan marah karena lipstikku yang patah tadi membuat moodku tiba-tiba memburuk.


"Udah dong jangan cemberut mulu sih, makin imut tau kalo wajahnya di tekuk begitu" goda kak Nanda yang membuatku semakin kesal.


"Tau ah" jawabku cuek.


"Ya udah kita beli yang baru kakak bayarin deh" bujuk kak Nanda.


"Seriusan?" Jawabku tiba-tiba mengembangkan senyuman.


"Cih giliran dibeliin aja mendadak jadi manis" gumam kak Nanda.


"Em? Ngomongin aku kan? Tau dah bete aku sama kakak" ucapku berjalan mendahui kak Nanda.


"Ga ga, nanti kita beli setelah selesai nonton" bujuk kak Nanda menggandeng tanganku namun tak kugubris.


"Rani jangan ngambek dong tambah imut tau" goda kak Nanda lagi.


Aku melepas gandengan tangan kak Nanda dan berjalan cepat meninggalkan kak Nanda.


"Cih dasar" ucapku sambil memegang pipi yang terasa panas, kak Nanda terus mengejarku dan merangkulkan lengannya kebahuku.


"Rani jangan ngambek dong, imut banget si" lagi-lagi kak Nanda menggodaku sambil mencubit pipiku.


Kami berjalan menyusuri eskalator dan tiba ditempat antrean tiket, dan disini perdebatan terjadi lagi.


"Aku mau nonton I'm not perfect" ucapku.


"Habibi Ainun aja dah" bujuk kak Nanda.


"Ga mau" Aku kekeh dengan keinginanku.


Bla bla bla, setelah perdebatan panjang akhirnya mencapai kesepakatan kami memilih untuk menonton film Habibi dan Ainun.


***


"Tadi aja dibilangin ga percaya banget" sanggah kak Nanda sambil memutar bola matanya, dan aku tersenyum kecut menatapnya.


"Oh ya aku nagih janji kakak yang katanya mau nemenin aku beli lipstik tadi" ocehku.


"Ya udah ayok" ajak kak Nanda dan kami menyusuri koridor sepanjang mall tersebut, hingga akhirnya menemukan tempat yang kumaksud.


Aku melihat tumpukan teaster lipstik tersebut dan mencoba beberapa warna, rasanya aku berada disurganya perempuan.


"Gimana kak?" Tanyaku dengan warna peach dibibirku.


"Bagus kok" jawab kak Nanda singkat.


Aku memilih warna orange dan memoleskan lagi ke bibirku.


"Kalo yang ini gimana?" Tanyaku lagi meminta pendapat kak Nanda.


"Bagus" jawab Nanda singkat lagi.


Kembali aku memilih lipstik tersebut memilih warna coral dan memoleskan lagi ke bibirku.


"Kalo ini? Tanyanya lagi.


"Iya bagus" jawab kak Nanda tampak tak tertarik.


"Cih nyebelin" aku memutarkan bola mataku dan bibirku mengerucut tanganku kembali menari di antara teaster tersebut dan memilih warna merah gelap.


"Gimana?" Tanyaku sambil cengengesan.


"Bagg.." kalimat kak Nanda tergantung saat menoleh kearahku.


"Gaaak, kayak mak lampir tau, ga gak" buru-buru kak Nanda mengambil tisu yang terletak atas Rak teaster tersebut, sedangkan aku tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kak Nanda.


"Lah malah ketawa" ucap kak Nanda tampak bingung.


"Ku pikir kakak bakal bilang bagus juga tadi" tawaku makin pecah bahkan sampai berjongkok karena tak tahan dengan raut wajah kak Nanda dan beberapa pembeli tampak menatap kearah kami.


"Ran udah sih malu aku jangan ngakak gitu, diliatih noh" ucap kak Nanda sambil memintaku agar berdiri, aku pun berdiri karena kak Nanda terus menarik lenganku memaksaku untuk berdiri.


"Udah ketawanya? Sini" kak Nanda menarik tengkukku dan membersihkan lipstik yang katanya mirip mak lampir tersebut. Aku mematung karena perlakuan kak Nanda, sesekali pandangan kami beradu yang membuat kami tampak canggung.


"Ehemm" ucap kak Nanda tiba-tiba membuatku jadi salah tingkah.


"Habis ini mau kemana?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Makan? Mau?" Tanya kak Nanda.


"Boleh, tapi diluar aja ya kak" jawabku ragu


"Mahal ya? Sayang uangnya?" tanya kak Nanda mencoba menebak.


"Emm" Rani mengangguk pelan.


"Ya udah aku pengen pecel lele diseberang jalan, gimana?" Tanya kak Nanda meyakinkan.


"Ayok" ucapku menarik tangan kak Nanda.


***


Aku tersenyum menyuapkan nasi kemulutku sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang dihadapanku.


"Kenapa Ran?" Tanya kak Nanda.


"Gak, rasanya bahagia aja bisa bareng kakak kayak gini, gak harus mewah yang penting bareng aja dulu" ucapku sambil mengembangkan senyum.


"Bahagia ga harus mewah Ran, Aku suka sama cewek yang sederhana kayak kamu" jelas kak Nanda.


"Emm?" aku menoleh dan mengangkat alisku meminta penjelasan atas kalimat yang barusan keluar dari mulut seorang Nanda.


"Iya, cewek sederhana itu dimataku manis banget soalnya dia gak banyak nuntut aku harus ini lah harus itu lah, dia mau ini lah mau itu lah, ribet." Jelas kak Nanda.


Aku terkekeh medengar penjelasan kak Nanda, memang terkadang menjadi sederhana bukanlah keinginan namun sebuah tuntutan. Aku memang lahir dari keluarga kaya yang mana Ayahku merupakan pemilik perusahaan investasi dan ibuku memiliki restoran yang sudah membuka beberapa cabang dibeberapa kota. Walaupun demikian aku menuntut diriku agar menjadi orang yang bisa berhemat agar uang tersebut bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari pada membeli keinginan.


"Tapi Ran, Lipstik tadi termasuk kebutuhan atau keinginan?" Tanya kak Nanda tiba-tiba disela pembicaraan.


"Kebutuhan" jawabku singkat sambil menyuap kembali nasi kemulutku.


"Keinginan lah" tegas kak Nanda.


"Lah kok keinginan" bantahku.


"Lah emang kalo ga pakek lipstik kamu bisa mati gitu?" Tanya kak Nanda sambil menaikan sebelah alisnya.


"Ya kali, auto viral aku kak 'Seorang mahasiswa meninggal karena tidak menggunakan lipstik' ada-ada aja." Cibirku.


"Lah kalo bukan kebutuhan ngapain sampai badmood segala?" Tanya kak Nanda, aku termenung sejenak mencerna ucapan kak Nanda yang kelihatannya ada benarnya juga.


"Mana kalo cemberut imut banget lagi, tatapannya tu kayak minta dinafkahi" gumam kak Nanda pelan.


"Emm?" Aku memberhentikan aktivitas dimulutku membuatnku termenung mendengar penuturan kak Nanda tersebut.


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...