
"Miya sama Mamah aja malam ini" ujar Santi pada Juwita.
Wita hanya diam, rasanya semua terjadi begitu cepat. Semoga keputusannya nggak salah.
Tak terasa Adzan isya telah di kumandangkan. Semua terasa begitu cepat. Beberapa waktu yang lalu Wita dan Wahab telah sah menjadi suami istri. Banyak jamaah yang terkejut dengan pengumunan mendadak Kyai Ismail setelah selesai meng-imami sholat Maghrib.
"Mendadak sekali. Bahkan kabar kedekatan mereka nggak tercium warga sini Pak Kyai" ucap seorang Warga.
"Ya bagus. Mereka memang mendadak saya jodohkan. Dari pada keduluan syaiton menyesatkan mereka. Saya nggak mau kalah cepat dong" jawab Kyai Ismail santai.
"Iya betul Pak Kyai" seru beberapa Warga.
"Ayo kita sholat Isya dulu. Habis ini kita makan bersama ya" tambah Pak Kyai.
Sementara Juwita masih nampak bingung. Dalam sekejap status janda itu telah tanggal dari dirinya.
"Nak" tegur Bu Nyai.
"I--Iya Bu Nyai" sahutnya tergagap.
"Ummi, panggil saya seperti Wahab memanggil saya" ucapnya pelan.
Juwita mengangguk pelan dan tersenyum kepada Bu Nyai.
"Akh, ini seperti mimpi. Nggak ada undangan spesial. Nggak ada kamar pengantin. Se-sederhana ini kah pernikahan ku" gumam hatinya .
Setelah sholat Isya mereka makan bersama dan perlahan kabar pernikahan itu pun tersiar di seluruh kampung.
"Saya, merasa ini seperti mimpi" ujarnya lirih ketika Wahab sekarang berada di hadapannya. Juwita menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Sebuah kamar yang sederhana. Juga sebuah ranjang besar dengan dua buah lemari dan satu meja rias. Dindingnya bercat putih polos. Aroma parfume arab yang lembut tercium oleh Wita.
"Hmmm, wangi apa ini?. Seperti aroma jahe tapi---."
"Bercampur aroma jeruk" sahut Wahab.
"Ya" sahut Wita pula.
"Ini parfume dari kuwait" sahut Wahab lagi dan suasana kembali tenang. Untuk beberapa menit mereka terdiam di tepi ranjang, kehabisan bahan untuk di bahas.
"Maaf tentang pernikahan yang mendadak ini" ucap wahab memecah kesunyian.
"Nggak pa-pa. Lagian Papah yang minta kan."
"Kamu nggak keberatan?."
Wanita itu menggeleng pelan"Hanya saja, kita hampir nggak pernah ngobrol kan."
Wahab tersenyum kecil"Aku nggak berani bertegur sapa denganmu."
"Kenapa?" kali ini Wita memfokuskan pandangan kepada Wahab. Sekarang dapat memandang dengan jelas lelaki yang baru saja menikahinya.
Wahab memiliki alis tebal dan hidung yang tajam, meskipun tak setajam hidung Fatur. Entah kenapa dengan memandangnya begitu saja Wita sudah merasa cocok dengannya.
Matanya sedikit sipit, sepertinya keturunan dari Ummi. Dia juga memiliki senyum menawan seperti Abah. Seperti kata Jovana, dia cakep kok. Cakep banget malah.
"Pandangan kamu yang seperti ini yang membuatku takut bertegur sapa denganmu" ujar Wahab bersuara.
"Astaghfirullah. Maaf Ustadz" kepergok sedang memandangi lelaki di hadapannya, Juwita tertunduk malu.
"Jangan meminta Maaf. Kita sudah halal kan" ujarnya lagi. Seolah memberanikan diri bicara santai kepada Wita, nyatanya dia sendiri beranjak dari tepi ranjang dan duduk di kursi kerjanya di depan jendela. Membangun jarak di antara mereka berdua.
"Heii, kenapa aku jadi jinak seperti ini?!" hati Juwita meronta dengan keadaan sekarang. Sumpah, ini sangat nggak nyaman.
Tok tok!!"Assalamualaikum" panggil Ummi.
"Waalaikumsalam" sahut Wahab sembari membukakan pintu kamar.
"Lho, Nak Wita masih memakai mukena" tegur Ummi. Juwita hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Ummi.
"Ini ponsel Nak Wita ketinggalan di Masjid tadi."
"Makasih Ummi. Saya kelupaan tadi" kecanggungan mereka terlihat jelas di mata Bu Nyai.
Selepas mengantar Ponsel Wita Ummi kembali gelisah"Bah, alasan apalagi dong biar tau perkembangan mereka."
"Ummi ummi ummi!!" hardik Abah gemas"Biarkan mereka berkenalan lebih dalam, jangan di gangguin."
"Ini sudah larut juga Ummi?. Ayo kita tidur" ajak Abah menarik lengan sang istri.
Meskipun masih sangat penasaran, Ummi tetap menuruti perkataan Abah.
Kembali ke dalam kamar pengantin.
"Saya bingung harus ngapain" Juwta nggak bisa menahan kegelisahannya lagi.
"Ya santai saja. Sekarang kan ini juga kamar kamu, berbuatlah semau kamu" sahut wahab pelan. Sebenarnya dia nggak enak juga terperangap dalam kecanggungan ini.
"Saya lepas kerudung ya."
Wahab menjauhi Wita, spontan.
"Hehe, saya lepas kerudung doang. Bukan lepas baju" gabis sudah batas jinak Juwita. Dia juga sudah sangat mengantuk. Ingin segera tidur, dan tidur dengan memakai mukena rasanya nggak nyaman. Tapi kalau untuk Author, tidur memakai mukena itu rasanya nyaman sekali.
"Katanya tadi terserah saya mau ngapain aja. Saya sudah benar-benar mengantuk Ustadz" tanpa malu-malu dia naik ke tempat tidur dan menata bantal guling mereka.
"Ustadz di sebelah kiri apa kanan nih?" ia bersikap seperti biasa di hadapan Wahab.
Senyum melengkung di wajah Wahab"Kamu nggak canggung lagi?" seraya meletakan pecinya di meja kerja dan mendekati Wita yang sudah siap hendak berangkat ke pulau kapuk.
"Ustadz nggak bisa makan orang kan??"
Terrawa, Wahab menggeleng.
"Ya sudah ayo tidur. Seperti pernikahan sederhana kita, bersikaplah biasa-biasa saja dengan satu sama lain" ujarnya menarik ujung kerudungnya. Membiarkan rambut hitam legamnya yang panjang tergerai cantik.
"Kamu marah dengan pernikahan kita?, dengan perjodohan kita?" tanya wahab lagi. Hatinya berdecak kagum akan pemandangan di depan mata. Sudah lama dia nggak melihat Wita tanpa kerudung seperti sekarang, wajah cantiknya semakin menawan dengan rambut yang bergerai.
"Enggak kok. Saya kan sudah pernah merasakan perayaan pernikahan. Kasihan Ustadz aja, sudah dapat yang berpaket seperti saya, eh malah di minta nikah minimalis."
"Nanti saya akan minta Papah membuat pesta pernikahan untuk kita lagi di kediaman Papah."
Wita terperangah, dia baru belajar menutup aurat. Untuk masalah lain belum terlalu mengerti. Sedari kecil dirinya hidup di tengah keluarga yang nggak menekankan pendidikan agama.
"Maksudnya gimana?. Saya nggak ngerti sama sekali" dia duduk lagi setelah sempat merebahkan diri.
"Harusnya sekarang kita sholat dua rakaat secara berjamaah."
Wita mendengarkan"Terus?."
"Terus----" Wahab bingung cara menyampaikannya.
"Hemm?, terus apalagi Ustadz?" lirik Wita mengejar pandangan Wahab.
"Te---terus---" wahab tergagap lagi.
Rasa penasaran membawa Juwita mendekati Wahab. Kini dia duduk di tengah ranjang mendekati sang suami yang duduk di tepi ranjang.
"Jelasinnya jangan sepotong-sepotong Pak Ustadz" seraya memiringkan kepalanya melirik kedua mata Wahab.
Pandangan mereka akhirnya beradu"Kamu nggak takut aku terkam?. Apa kamu lupa ini adalah malam pengantin kita kan."
Perkataan Wahab membuat Wita perlahan mundur"Hehe, ternyata Ustadz bisa bercanda juga ya."
"Saya juga manusia Juwita" ternyata senyum Ustadz satu ini lumayan membuat Wita tersipu malu.
Wahab hendak melangkah ke kamar mandi dan berganti pakaian. Dan tiba-tiba...
"Ustad!!. Bisa cepat sedikit nggak?" serunya di depan pintu.
"Udah kok, kenap---" pintu toilet baru di buka sedikit. Namun Juwita menorobos masuk dengan segera.
Brak!!...
"Kebelet amat" bisik hati Wahab. Dia merebahkan diri di tempat tidur. Rasa kantuk mulai menghinggapinya, namun panggilan Wita dari dalam toilet membuyarkan rasa kantuknya.
"Kenapa??" tanyanya.
krek!, kepala Juwita nongol dari balik pintu.
"Hemm, boleh minta tolong?."
"Ya" sahutnya dengan anggukan.
"Saya----PMS."
Alis Wahab menukik naik, dia nggak memahami perkataan Wita"PMS apaan?."
"Datang bulan."
Wahab menepuk keningnya.
"Saya nggak bawa pembalut" ucap Wita lagi.
"Terus?" Wahab ketar-ketir menunggu permintaan Wita.
"Jangan bilang-----" sempat ragu melirik kepada Wita yang tersenyum nakal menatapnya.
Pleaseee!!, wanita yang baru di nikahinya ini sangat meminta bantuan.
pria itu menarik nafas berat dan berbalik, keluar kamar dan berjalan ke kamar Khadijah.
"Dek..!!" panggilnya.
"Dek...!!"
"Hem?" nampak wajah kelelahan Khadijah dari balik pintu.
"Tolongin dong. Minta itu---."
"Itu apa??" kedua mata Khadijah seakan berat untuk terbuka.
"Pembalut" ucapnya cepat.
"Hufpt!, untuk mbak Wita Bang?."
Wahab mengangguk menahan malu"Buruan, keburu Ummi bangun!!."
Masih tertawa, Khadijah mengambil dua lembar pembalut dan menyerahkannya kepada Wahab.
"Satu aja Dek?."
"Baru dapet kan??" tanya si bungsu, dan di jawab wahab dengan anggukan.
"Bawa aja deh Bang. Persiapan kalau langsung deras."
Dengan bingung Wahab kembali ke kamar dan menyerahkannya kepada Wita yang masih berada di kamar mandi.
"Terimakasih. Jadi pak Ustadz, apa kelanjutan abad yang tadi?."
"Di dalem toilet nggak boleh ngomong" celetuk wahab.
"Oh" Juwita segera menyelesaikan pekerjaannya di toilet dan kembali ke tempat tidur.
"Jadi, apa lanjutannya" dia masih sangat penasaran dengan keterangan Wahab yang terputus karena kedatangan Ummi tadi.
"Nggak bisa di laksanakan juga" Wahab merebahkan diri dan bersiap tidur.
"Maksudnya apa sih?" gumam Wita ikut merebahkan diri.
"Kamu datang bulan. Adab malam pengantinya setelah sholat dua rakaat nggak bisa di laksanakan" sahut Wahab sembari menutup wajahnya dengan selimut. Wajahnya merona di balik selimut.
Wita terdiam memahami dan menatap Wahab yang sudah masuk ke dalam selimut.
To be continued...
~~♡♡Happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
Salam anak Borneo.