Meet You Again

Meet You Again
Morning Kiss



Lian menggeliat di tempat tidur. Suara berisik alarm sukses membuatnya terbangun. Setelah melakukan beberapa peregangan tangan, Lian berjalan ke kamar mandi.


Sepertinya dia masih belum sepenuhnya bangun dari tidur, namun hidup sehat harus selalu dia terapkan. Dengan sigap dia memasang topi berwarna hitam dan mengalungkan selembar handuk kecil di lehernya. Waktunya lari pagi!!.


Beberapa gadis melirik kagum kepada Lian,


sesekali roti sobek di perut mengintip ketika dia lari berkeliling taman. Dan tanpa malu-malu seorang gadis mengejarnya dan menyamakan ritme lari mereka.


"Hai, kita ketemu lagi" sapa si gadis.


Lian menoleh pada sang gadis, seraya memperlambat larinya


"Lagi?. Aku rasa ini pertemuan pertama kita."


"Aku udah sering liat kamu lari pagi di sini. Kemarin kamu juga ke sini, bukan?."


"Iya" sahut Lian.


"Kenalin, aku Rani" gadis itu berhenti berlari.


Lian yang awalnya masih berlari pun ikut menghentikan langkahnya"Aku Lian" sahutnya menyambut uluran tangan Rani.


"Lain kali lari sama-sama lagi boleh??" nampaknya Rani memiliki ketertarikan pada Lian. Sedangkan Lian sepertinya nggak menyadari hal itu. Lantas, dia pun mengangguk, menerima ajakan Rani.


Setelah pertemuan singkat itu Lian pun pamit pulang. Rasanya olah raga pagi ini sudah cukup. Aktivitas selanjutnya iyalah pergi bekerja.


Sinar mentari pagi menyilaukan kedua indra penglihatan Fatur, duda muda yang nampaknya sudah terbangun. Entah mengapa beberapa hari ini Dewi kebahagian sedang lengket-lengketnya pada si duda muda. Setelah tidur lelap dengan memeluk gadis tercintanya, pagi ini pelukannya di balas hangat oleh gadis itu. Lebihnya tepatnya nggak sengaja di balas.


Saat tertidur lelap Mey berbalik dan membenamkan wajah ke pelukan Fatur. Dinginnya udara pagi membuatnya mencari kehangatan, dan spontan memeluk merangsek dalam dekapannya. Sungguh, pelukan itu mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.


Sebuah aktivitas yang menyenangkan di pagi hari, memandangi garis wajah sang kekasih, memandangi hidung kecil meskipun nggak tajam, di iringi senyuman di wajah Fatur.


Hal indah seperti ini nggak bisa hanya sekedar ditatap saja, jemarinya mulai gatal ingin segera menyentuh kulit wajah gadis itu. Membelai nya dengan lembut"Pagi datang terlalu cepat. Seandainya waktu bisa ku hentikan!" gumam Fatur.


Sentuhan lembut itu mengusik ketenangan sang gadis. Mey pun bergerak pelan, tangannya mengelus pundak kekar Fatur.


Menyadari gadis ini akan segera bangun, Fatur bergegas memejamkan kedua mata, pura-pura masih tertidur.


Sepasang mata sipit itu berkedip-kedip. Menatap dalam wajah rupawan ciptaan Tuhan di hadapannya. Beberapa helai rambut menutupi kening dan mata Fatur.


"Morning, Sayang" ucap Mey spontan dan pelan.


Deg!!. Jantung Fatur berdetak abnormal. Rasanya ingin segera membalas pelukan gadis itu. Memeluknya lebih erat dan lama. Namun...semua itu harus Fatur tahan. Dia masih ingin mengetahui apa yang akan Mey lakukan kepadanya, yang sedang berpura-pura tertidur ini.


Mey membelai rambut yang menjuntai ke kening Fatur, seraya berucap"Hiduplah dengan baik, jangan memakan makanan instan terus. Jaga kesehatanmu, bertahanlah selagi kamu masih bisa bertahan. Aku akan melihatmu dari kejauhan, menjaga mu selama yang aku bisa."


Fatur bereaksi, dia bergerak telentang namun nggak membuka kedua mata. Membuat Mey membeku di sampingnya. Aroma tubuh pria ini benar-benar merasuk jiwa Mey, andai saja pria ini boleh di jamah!?.


Melihat Fatur nampak masih tertidur, jemari Mey kembali menjelajahi wajah Fatur. Jemari itu berjalan menelusuri lekuk hidung mancungnya, dan perlahan sampai pada bibirnya. Saat itu terdengar helaan napas yang sangat berat.


"Susah banget ya bernapas di dekat aku?."


Bergegas untuk bangun, bergegas untuk membangun jarak diantara dirinya dan Fatur. Namun sayang lengan gadis ini berhasil ditahan oleh sang pria, membuatnya jatuh di atas tubuh Fatur.


"Morning, cantik." Seringai tawa itu sangat menjengkelkan! sebab membuat sang hati semakin porak poranda!.


Fatur tersenyum lebar, gadis ini sangat menggemaskan saat sedang merona malu. Posisi mereka begitu dekat, tubuh mini wanita itu  tersungkur di atas tubuhnya ketika menahannya agar tak melarikan diri.


"Berangkat kekantornya aku yang antar ya" tatap hangat ini sangat memabukan, hampir saja Mey nggak bisa mengendalikan diri.


"Aku---, aku barus kembali ke rumah. Ibu sama Ayah pasri nyariin aku" balas Mey. Napas mereka terasa hangat di wajah masing-masing.


"Aku anterin, terus aku tungguin lagi. Biar besok kamu tidur sama aku lagi" mereka semakin dekat, Fatur bahkan nyaris mencium gadis ini. Desiran aneh muncul dalam diri mereka. Rasa harus perlahan mengharu biru.


Nggak rerasa air mata menetes di wajah Fatur, Mey menangis. Pagi yang seperti ini yang Mey inginkan, menjalani hari-hari bersama orang yang dia cintai. Alih-alih bertahan dalam topeng kepalsuan, dan menghindari Fatur.


"Jangan menangis, awali setiap pagimu dengan senyuman, Sayang" ujung jempol Fatur mengusap air mata Mey. Dia tau selama ini Mey melawan perasaan itu. Dia juga tau dirinya tak kan tergantikan di hati gadis ini.


Dan dengan pelan pula Mey mengusap air matanya di wajah Fatur.


"Jangan menjauh lagi ya, Sayang. Aku mohon. Semua ini terasa berat bagi kita, akan lebih baik kalau kita saling menguatkan, bukan dengan menjaga jarak di antara kita."


Mey kehabisan kata-kata, apa yang di katakan Fatur memang seharusnya seperti itu, bersama dan saling menjaga. Akhirnya dia hanya bisa mengangguk dan membenamkan wajah di ceruk leher Fatur. Sungguh, cintanya nggak akan mampu berpaling lagi.


Perasaan bahagia menguasai diri Fatur, sebab gadisnya sudah kembali"Terimakasih Tuhan" lirihnya memeluk Mey semakin erat.


mey memutuskan untuk mandi di apartemen ini. Fatur mempersilahkan Mey untuk beraktivitas semaunya, baginya kediaman ini sudah seperti kediaman dirinya dan sang kekasih.


Setelah selasai mandi, Mey mengenakan pakaian yang kemarin dia kenakan ke kantor. Dengan rambut yang masih sedikit basah, dia mencoba mengeringkan nya dengan handuk di depan cermin.


Fatur yang baru keluar dari kamar mandi langsung memeluk Mey lagi"Kamu izin aja, nanti aku yang ngomong sama kak Rio."


"Kamu mau aku di tarik ke Jepang?" ujar Mey. Dia masih menggosok rambutnya dengan handuk.


"Jangan!. Gimana kalau kamu bergabung dengan perusahaan ku saja" benar-benar menggila terhadap gadis itu. Fatur terus menggelayut manja di pundak gadis pujaan dan menikmati aroma tubuhnya.


"Enak aja!. Pikirin Mamah kamu tiht. Ini juga kalau dia tau kita baikan, bakal kena semprot lagi aku nya" seraya melepaskan pelukan Fatur.


"Sudahlah, lebih baik kamu cepat bersiap. Aku nggak mau terlambat ke kantor."


Nggak berapa lama Fatur pun selesai bersiap. Seperti biasa, dia mengenakan setelan suit, rambutnya di atur rapi dan aroma Parfume khas fatur menyeruak dari dalam kamar. Mey kembali harus menahan diri, sebisa mungkin bersikap biasa saja. Gasis ini baru menyadari, menyerah dari pertahanan itu sulit juga. Secara nggak langgsung Mey mengakui semua pesona dan godaan Fatur yang selama ini dia tepis.


"Kita berangkat" seru Mey sambil melangkah ke pintu apartemen.


Fatur dengan cepat menarik lengannya, membuat Mey menghadapnya dan ciuman hangat kali ini di mulai oleh Fatur.


"Lipstikkkk..." Fatur nggak memberi kesempatan untuknya bicara. Tangan kekar itu menarik tengkuknya, hingga ciuman mereka semakin dalam.


Pagi kebersamaan mereka sudah di mulai, namun Mey nggak boleh lengah. Dia harus selalu siap menghadapi amukan dan amarah Mega yang pasti akan menyerangnya. Mungkin besok...??


Atau lusa..???


Atau lusa nya lagi..???.


To be continued...


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo.