Meet You Again

Meet You Again
[S1] 14. Didekati kating



...Happy reading...


Aku kaget setengah mati, aku tak berifikir kalau moment itu akan diabadikan oleh para panitia. Rasanya aku ingin pura-pura mati saja, aku menahan malu tubuhku terasa panas dan lututku terasa lemah.


"Ciieeeee ciieee" sorak para kader membuatku malah melayang tinggi membayang jika memang aku akan jadian dengan Nanda. Ucapan Lesi waktu itu benar, aku dan berakhir pada sebuah rasa kepada Nanda, aku merasa gila dan ingin hilang ingatan saja.


"Ran kamu ga papa?" Tanya Uci melenyapkan semua lamunanku, dia meletakkan punggung tangannya pada dahiku, aku mematung sejenak dan akhirnya tersadar bahwa aku tengah menjadi topik pembicaraan para kader dan pengurus.


Aku mengedarkan pandanganku, dan berhenti pada sosok Kusuma yang menatap lekat foto yang tengah terpajang secara jelas pada layar proyektor. Wajahnya kesal membuatku bingung ada apa dengannya, mana mungkin dia menaruh hati padaku.


"Ntahlah, bukan urusanku" gumamku kembali memfokuskan diri pada layar proyektor.


Selanjutnya yaitu pembagian hadiah untuk kelompok terheboh, pensi terbaik, putra putri peseta terbaik, dan foto terunik. Nah dipapan nama tersebut akan ada foto pemilik papan nama seorang kakak pendamping dan seorang pengurus dimana foto tersebut terletak di sebelah kiri nama.


Dan kelompokku memenangkan Pentas seni terbaik karena sampai membuat beberapa penonton menangis karenanya, aku tak menyangka akan demikian padahal persiapan kami dalam waktu yang benar-benar singkat dan jauh dari kata sempurna. Mungkin karena menghayatan kami saat menampilkannya membuat penonton merasa tersentuh.


...***...


Hari-hari berlalu seperti biasa aku masih berstatus sebagai kader BEM sehingga hanya dilibat didua acara saja untuk pembelajaran dalam berorganisasi agar apabila aku terpilih menjadi pengurus priode mendatang aku sudah tau apa saja yang harus dilakukan oleh seorang pengurus organisasi.


Aku masih menjadi mahasiswa kupu-kupu, dan keseharianku hanya kuliah, makan, tidur, rebahan, sesekali main ke tempat wisata terdekat atau hanya sekedar ngumpul-ngumpul dengan teman kos atau teman kelasku.


Mata kuliah ini baru saja selesai dan aku telah melangkah meninggalkan kelas seperti biasa aku melewati hall. Aku berjalan lurus saja kedepan tanpa menghiraukan orang-orang disekelilingku.


"RANI" teriak kak Kusuma kearahku, langkahku terhenti karena sapaannya. Dia melangkah kearahku dan berhenti tepat dihadapamku dia tersenyum manis kearahku, aku merasa ia tampak aneh dengan senyum itu padahal senyum tersebut sudah berulang kali ia lontarkan kepadaku.


"Ran, aku boleh minta nomormu ga?" Ucapnya tiba-tiba, aku kaget karenanya mana mungkin sosok sepertinya menyukai perempuan sepertiku.


"Buat apa?" Tanyaku iseng mencari tahu, setidaknya bukan untuk modus atau mengganggu hari-hariku.


"Aku mungkin ga berminat untuk lanjut menjadi pengurus" lanjutku menolak permintaannya secara halus, sejujurnya aku merasa risih dengan tingkahnya akhir-akhir ini.


"Ga bukan mengenai BEM tapi cuma pengen deket aja" jawabnya masih dengan senyuman yang bertengger dibibirnya. Dia memang manis dengan alis tebal dan kulit putihnya namun gerak-geriknya membuatku ngeri bila ia berkeliaran disekitarku.


"Oh ya boleh" ucapku, ia menyerahkan ponselnya dan aku mengetik digit nomor hpku, kuserahkan kembali ponselnya dan ia mengambilnya kembali dari genggamanku.


"Oke makasih Ran, kamu ga kelas?" Tanyanya tampak basa-basi dan masih setia berdiri dihadapanku.


"Udah selesai, aku udah mau pulang" jawabku berusaha seramah mungkin, aku hanya tak ingin dicap adik tingkat sombong karena kejadian malam api unggun itu aku mengabaikannya.


"Kebetetulan aku juga udah selesai kelas mau dianterin ga?" Tanyanya aku kaget atas penawarannya, aku tersenyum tipis membuat kesan agar terlihat ramah.


"Ga usah repot-repot kak" tolakku, mengapa seisi dunia ini sering kali menyusahkanku. Aku hanya ingin cepat pulang kekosan tanpa hambatan, aku ingin rebahan, tolonglah jangan menghalangi jalanku.


"Udah jangan sungkan santai aja ayok?" Ajaknya lagi, aku menggeleng cepat aku berfikir kerasa mencari alasan yang masuk akal agar ia berhenti memintaku untuk pulang bersamanya.


"Oh ya udah kalo gitu" ucapnya memasang wajah kecewa, aku sangat tau bahwa Kusuma menaruh hati padaku, tapi aku aku hanya ingin beristirahat dibagian percintaan aku, aku akan kembali menyukai seseorang ketika hatiku telah siap menerima semua risikonya.


"Aku duluan ya kak" ucapku dan mengkah kearah barat hall, aku menepuk dahiku aku teringat akan satu hal, perpus berada disisi timur hall, aku memang bukan penipu yang handal.


Langkahku terhenti dibalik tembok besar pembatas hall dan bersembunyi sejenak menunggu Kusuma pergi, setelah itu aku akan keluar dari persembunyianku.


Aku mengintip dari balik tembok besar dihadapanku, kulihat Kusuma sudah lenyap dari sana, aku bergegas melewati hall dan soal temen pulang aku sedang berbohong, Ratna saja tidak masuk karena sakit.


Langkahku kembali terhenti saat kutemukan Kusuma tengah berkacak pinggang didepan tangga keluar dari hall, aku panik dan merasa tak nyaman, apa yang harus aku katakan jika aku baru saja membohonginya.


"Eh ketemu lagi kak" sapaku tersenyum cengengesan kearahnya, kuharap ia luluh karena senyumku, aku menghindarinya bukan karena aku membencinya namun aku hanya ingin dia bersikap sewajarnya saja padaku.


"Eemm, sudah kuduga, pantas aja aku bingung sejak kapan perpus pindah kesisi barat hall" ucapnya dengan tatapan sinis dan mengerutkan dahinya. Aku merasa tidak enakan setelah apa yang terjadi, ayolah aku tidak ingin berdebat lagi dengannya.


"Aku minta maaf kak, gak bermaksud bohong atau gimana, tapi aku lagi butuh sendiri" ucapku memelas dan menundukkan kepalaku.


"Ya sudah pulang sana aku ga akan maksa kalo kamu ga mau" sanggahnya lembut, aku menganggkat kembali wajahku dan memandangnya lekat, ternyata dia tak seperti yang aku pikirkan, dia memiliki kepribadian yang lembut dan mudah memahami perasaan orang lain.


"Sadarlah Rani kamu sedang difase move on" gumamku sepelan mungkin agar tak terdengar oleh Kusuma. Dia masih saja berdiri dihadapanku sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Aduh manisnya" batinku, seandainya hatiku telah siap untuk menerima orang baru mungkin aku tidak akan menolak tawarannya untuk pulang bersama.


"Aku pulang dulu kak" pamitku dan ia mengangguk pelan, aku melangkah meninggalkan lingkungan kampus dan ku lihat tubuhnya hilang dibalik kerumunan mahasiswa.


...***...


Setumpuk buku berada dihadapanku membuat kepalaku hampir berasap karena pusing akibat tugas yang semakin banyak dari hari kehari.


"Mengapa aku harus memilih prodi Akuntansi untuk kuliah padahal sudah ku katakan aku sudah tak sanggup lagi, ini terlalu rumit" keluhku mengomel sendiri dihadapan buku-buku tebal seperti kamus.


Kuselesaikan beberapa tugasku, ku tatap jam diatas nakas sudah menunjukan pukul sepuluh malam, aku mulai mengantuk tapi tugasku masih banyak yang belum dikerjakan, sudahlah mungkin sebaiknya kulanjutkan besok saja.


Kumenghempaskan tubuhku dikasur kutatap langit-langit kamarku, aku merenung sejenak, mengapa tuhan memilih jalan yang rasanya tak mampu untuk kulalui. Tapi aku yakin pilihan tuhan adalah yang baik, seketika aku mengingat teman-temanku yang tidak bisa kuliah karena terkendala biaya, atau pun tidak mendapat kesempatan dari Universitas yang mereka pilih.


Drrrttt. Notifikasi muncul dari ponselku membuyarkan lamunanku, kiraihnya hpku dan membukan pesan terbaru.


- Doni


Hai Rani apa kabar?


...***Jangan lupa like, vote dan comment ya,...


...Terimakasih sudah membaca.***...